
Keributan pun tidak bisa dielakkan. Hingga mereka semua di bawa ke ruang guru BK.
" Jelaskan kepada bapak, apa yang terjadi sehingga kalian membuat keributan di sekolah ?"
" Ini semua gara-gara anak baru itu pak guru ", tuduh Randi kepada Nolan.
" Apa yang telah ia lakukan kepadamu ? Bapak tau kau adalah anak anggota dewan, tapi tidak seharusnya kau bertindak seperti ini !"
" Nolan, coba kau katakan kepada bapak apa yang sebenarnya terjadi ! Tak usah takut, bapak ingin mendengar pembelaan dari dua sudut ."
Melihat kondisi Nolan yang sangat dirugikan dan memar di sekujur wajahnya. Tentu akan ada banyak tekanan dari pihak Randi.
Yura pun berinisiatif memberi solusi.
" Pak Ikbal, ijinkan saya berbicara sebentar mengingat saya adalah saksi yang telah melihat keributan tersebut di koridor sekolah."
" Silahkan Yura !"
" Saat itu saya berjalan sendiri di koridor sekolah mau menuju ke kelas XIi, tapi di tengah jalan saya sudah melihat Nolan dihajar oleh geng Randi. Saya hendak melerai tapi malah Randi juga mengancam saya, jika ikut campur urusan mereka. Hingga pihak Randi ingin berusaha menjambak rambut saya, tapi untunglah teman saya datang untuk menghalanginya. Jadi Pak Guru, Nolan sebaiknya dirawat luka di UKS terlebih dahulu, sedangkan kita menunggu keluarga mereka untuk datang ke sekolah !"
" Baik saya terima usul dari mu Yura, maaf ya kamu jadi ikut terlibat dalam hal ini. Silahkan kamu meninggalkan ruang BK ini, nanti kalau ada hal yang perlu dengan kesaksianmu, nanti bapak akan memanggilmu kembali."
" Baiklah kalau begitu saya permisi."
Melihat Yura dan kedua temannya itu keluar ruang BK, Randi merasa ketar ketir dengan nasibnya . Jika yang ia lawan mempunyai kekuasaan diatas kuasa ayahnya yang seorang anggota dewan.
Sedangkan Nolan, sekarang berada di UKS sedang dirawat luka oleh petugas disana.
" Auh ... sakit Kak ?'
" Bertahanlah sebentar, kenapa kamu bisa kayak gini ? Tinggal isi salep dan plester saja !"
" Apa kau mau bercerita kepadaku ?"
Hening menghiasi ruang UKS. Tak mendapatkan jawaban dari siswa baru yang ia rawat. Ringgo akhirnya pergi karena jadwal piket nya sudah selesai.
Sedangkan Nolan yang sendiri ditinggal, akhirnya merebahkan diri di ranjang UKS. Dan tentu saja ia mengabari orang tua angkatnya selama ia bersekolah di Jakarta.
" Paman segeralah ke sekolah, aku kena bullying disini !" titah Nolan yang sedang menelepon orang tua angkatnya.
" Apa Tuan Muda baik-baik saja? Kenapa anda tidak membela diri? Tunggulah paman akan segera kesana !"
" Iya "
Klik.
Yura pun terlambat memasuki kelasnya akibat kejadian tadi. Untung saja jam pelajaran pertama kosong sehingga ia tidak mendapatkan hukuman.
__ADS_1
" Ada apa Ra, kok lo bisa telat masuk kelas ?" tanya Mila.
" Tadi ada sedikit masalah saat gue hendak menuju ke kelas."
" Masalah apa Ra?" tanya Diah.
" Tadi ada keributan, di Randi anak kelas X I lagi melakukan bullying di koridor sekolah, yang jadi korbannya anak baru, namanya Nolan yang gue dengar. Sebetulnya gue sudah mencoba melerai mereka, tapi dasar si Randi masa ia juga mencoba melukai gue, untung para pengawal gue datang."
" Tu anak cari mati kayaknya, kalau lo sedikit saja lecet alamak bakal panjang ceritanya."
" Lo benar Mila, kalau sampai hal ini di dengar oleh Kak Erlangga, mungkin tu anak akan masuk ke rumah sakit."
" Terus sekarang lo nggak bilang sama Kak Erlangga?"
" Mana mungkin ia tidak tau, tunggu saja habis dia selesai OSPEK, pasti aku akan diberi pidato di rumah."
" Hahaha ... Kau tau Ra, itu tandanya Kak Erlangga mengkhawatirkan lo. Lo adalah salah satu orang terpenting di hidupnya. Jadi dengar dan turuti saja itu juga demi kebaikan lo."
" Ya gue ngerti kok."
" Entah bagaimana kondisi mereka sekarang OSPEK ya ", imbuh Diah.
" Gue harap sih mereka bisa melaluinya dengan lancar."
Sementara itu di Universitas Y, sedang berlangsung kegiatan OSPEK hari ke-2.
" Hai bro, sepertinya hari ini kau semangat sekali."
" Eh kalian, ya harus semangat kan udah dapat jatah soalnya ", jawab Erlangga dengan senyum tipis.
" Ah gini dah kalau sudah halal banyak banget dapat untung", cibir Hendra.
" Sabar Hendra, nanti juga kita berdua juga akan berada diposisi itu."
" Gue curiga sama lo Lik, ngaku deh sama kita. Kau sudah pernah begituan ya?"
Plak. " Lo jangan ngomong sembarangan Hendra, bisa-bisa gue di cincang sama Daddy."
" Kan gue cuma nanya doang, siapa tau lo udah hol gawangnya si Mila."
" Sudahlah kalian berdua, sebaiknya kita segera ke lapangan mengikuti OSPEK !"
Saat mereka bertiga tiba disana, beberapa anggota BEM sudah memberikan hukuman pada Maba yang tidak bisa melakukan tugas dengan baik.
" Perhatian untuk semua Maba, hari ini kami anggota dari BEM bagian kemasyarakatan, diberi mandat untuk mengawali OSPEK hari ke-2. Perkenalkan saya Meta Evendi , sekretaris bagian kemasyarakatan, dan ketua bidang kami yang bernama Faizal Handoko, untuk waktu saya persilahkan sang ketua !"
Setelah Faizal memberikan arahan, maka dimulailah kegiatan OSPEK pada Maba, dari membawa perlengkapan sesuai dengan teka teki, hingga harus merayu para anggota BEM hingga membuat puisi dan surat cinta.
__ADS_1
Saat Meta berkeliling melihat para Maba di setiap kelompok, ia akhirnya bisa melihat Erlangga yang sedang asyik bercengkrama dengan teman kelompoknya saat mereka sedang istirahat.
" Bingo, akhirnya gue menemukan lo", senyum licik kian terpatri di wajah Meta.
" Yang pakai nametag atas nama Erlangga maju ke depan !" teriak Meta.
" Erlangga, Lo dipanggil tuh sama Kakak BEM !" tunjuk Rizal.
Seketika Erlangga pun menoleh ke belakang.
" Mau apa lagi tu wanita ulat bulu", ujar Erlangga dalam hati.
" Erlangga !"
Mendengar namanya dipanggil, akhirnya Erlangga pun berdiri dan maju ke depan.
" Nah coba kamu buat pantun untuk saya."
" Cie ... Cie uuuuuuuuuuu ." Sorakan dan teriakan dari kelompok Maba lain yang sangat tertarik dan terhibur jika ada Maba yang maju ke depan apalagi jika ada yang dapat hukuman.
" Maaf Kak, saya tidak bisa berpantun", jawab Erlangga dengan singkat.
" Loh Meta, ngapain lo ngambil alih wilayah gue", sela Sinta anggota BEM yang bertugas memberikan OSPEK di kelompok Erlangga.
" Gue ingin menguji si anak Maba ini, apa bisa apa nggak, masa berpantun saja nggak bisa", ejek Meta.
" Terserah lo dik, asalkan pantun buat sekretaris bagian kemasyarakatan BEM , tema apapun boleh !" teriak Sinta.
Akhirnya Erlangga pun berpantun, dan isi pantunnya membuat Meta jadi tersindir.
Bunga melati memang harum
Tumbuhnya jauh di perbukitan
Mulut besar pandai mengaum
Sekali disentak gemetaran.
Hahahaha ... hahahaha.
Prok prok prok.
"Kasian deh ... uuuuuuuu."
" Lo memang keren Erlangga", teriak Rizal.
Merasa dirinya tersindir, Meta pun pergi dari aula dengan wajah yang menahan marah.
__ADS_1
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...