
" Kenapa kau ketakutan seperti itu, Tuan Hendrix ?" tanya Erlangga yang duduk sambil membawa samurai.
" Apa salahku tuan, sehingga kau mencegat bahkan menculik ku ke tempat seperti ini?"
" Salahmu ... Karena kau telah berani mengusik istriku ! Kau tidak tau siapa aku hmmm ...?"
" Tentu saja, aku tahu anda adalah pewaris Bramasta Grup."
Erlangga pun berdiri, dan melangkah menghampiri Hendrix yang sudah berlutut dengan tangan dan kaki diikat.
" Jangan sok polos dengan tampang tidak bersalah mu itu, kau kira aku akan tertipu dengan sikapmu? Tuan Hendrix kau mencari musuh yang salah. Kau mau mengaku akan kesalahan yang telah kau lakukan? Apa kau ingin aku siksa perlahan?"
" Jangan Tuan Erlangga, jangan menyiksaku. Tolong ampuni aku tuan, kemarin aku khilaf dengan mengirimi istri anda paket."
" Kau bilang itu hanya khilaf, hei ... Jangan bercanda kau itu psikopat, kau terobsesi dengan istriku sampai mengiriminya paket yang berisi bangkai anjing yang berlumuran darah."
" Aku bukan psikopat tuan", jawab Hendrix menyangkal.
" Apa perlu aku mendatangkan istri dan anakmu hah ?"
" Jangan sakiti mereka, ini murni karena kesalahanku."
" Jadi menurutmu, apa hukuman yang pantas dengan kesalahan yang telah kau perbuat?"
Hendrix pun mulai ketakutan dan badannya bergetar. Ia sungguh tidak percaya sekarang nyawanya sedang diujung tanduk. Salah sedikit saja konsekuensinya pasti adalah nyawa.
" Tolong ampuni aku , tuan. Kalau perlu aku akan bersujud di kakimu."
" Menurutku, melakukan hal itu tak akan cukup. Mikhael seret dan siksa dia sampai mati !"
" Tidak, lepaskan aku lepaskan ... " teriak Hendrix.
Sedangkan Erlangga langsung keluar dari ruang tahanan tersebut. Ia pun berpindah ke tempat latihan tembak. Disana dia latihan menembak sambil menunggu kabar bahwa Hendrix telah dihabisi oleh pengawal yang ia percayai.
Dor ... Dor ... Dor ...
Suara tembakan kian menggema, di ruangan latihan tembak. Bahkan ini sudah ke belasan kali papan tembak berganti.
" Tuan, tentang mayatnya dimana akan kita bawa?" tanya Mikhael.
" Bawa ke kandang Tiger, jual organnya dan lakukan tanpa meninggalkan jejak sedetik pun."
" Baik tuan."
Mendengar bahwa suaminya tidak menghadiri rapat perusahaan. Maka dengan terpaksa istri tuan Hendrix yang memimpin. Biarpun dia tidak secara lugas mengerti tentang apa yang dibahas, tapi ia yakin dengan kemampuan asisten sang suami yang membantunya menghadapi para kolega bisnis.
Dan setelah rapat usai. Kabar buruk pun ia dapat, dimana mobil dan anak buah suaminya di temukan tenggelam di laut, dengan kondisi mayat yang rusak bahkan sulit untuk dikenali.
Sedangkan suaminya menghilang tanpa jejak.
__ADS_1
" Bagaimana ini Steven, dimana suamiku? Apa sebelumnya ia punya musuh?"
" Apa nyonya mau mendengar apa yang terjadi?"
" Ada hal apa yang telah kalian sembunyikan dari ku?"
" Sebelumnya saya minta maaf nyonya, kemarin tuan mengirim paket pada salah satu kliennya. Dan isi paket tersebut adalah bangkai anjing yg masih berlumuran darah."
" Kenapa kau tidak memberitahuku Steven? Jika seperti itu maka jiwa psikopat nya akan kambuh lagi."
" Saya tidak bisa mencegahnya nyonya, apalagi tuan yang lebih dulu mengusik nyonya muda Yura."
" Yura, sepertinya namanya tidak asing di telingaku."
" Yang diusik oleh tuan adalah Nyonya muda Yura Bramasta, nyonya ."
" Apa? Benar-benar gila."
" Aku jadi sanksi, jika suamiku akan selamat !"
" Saya sepemikiran dengan anda, padahal kemarin saya sudah menghalangi tuan, jangan mengusik keluarga Bramasta."
" Aku tidak yakin, suamiku kali ini akan selamat."
" Setidaknya sudah sekian lama aku sudah siap dengan konsekuensi yang akan terjadi, dan hari ini sudah tiba."
" Inilah takdir Tuhan, yang harus aku jalani. Disepanjang pernikahanku dengannya, aku sudah mencoba untuk memperbaiki sikapnya tersebut, tapi seperti yang kau lihat. Trauma yang ia dapat sejak kecil membuat penyakit itu mendarah daging. Hingga menjadi psikopat."
" Cari terus dimana jejak suamiku, apapun kondisinya bawa dia pulang!"
" Baik nyonya besar."
Setelah urusannya selesai, kini Erlangga berencana menjemput istri dan bundanya di Star Cafe.
Secara bersamaan, Rangga pun bertemu dengan Erlangga di depan Star Cafe.
" Kak, apa kau juga akan menjemput Kinara dan ibu mertua?"
" Tentu saja aku menjemput mereka berdua."
" Kalau begitu, mari kita masuk ke dalam !" ajak Erlangga kepada Rangga.
Ternyata arisan yang telah dihadiri oleh Yura dan Kinara beserta mertua mereka. Merupakan ajang reuni semasa kuliah, bahkan setiap teman Bunda Anisa dan Ibu Hani membawa anak dan menantu mereka untuk dipamerkan dan diperkenalkan kepada teman yang lain. Tidak cuma itu, bahkan relasi bisnismu mereka lakukan langsung.
" Apa kau lihat dimana mereka, Erlangga?"
" Tidak lihat, mereka dimana ya? Aku tidak menyangka cafe ini di booking total, bahkan ini sudah seperti ajang reuni akbar menurutku."
" Kau benar, mending kita ke arah stand makanan, siapa tau dia bumil itu berada disana !"
__ADS_1
Perkiraan Rangga tepat sekali. Dan kedua istri merek sedang menyantap makanan di meja, tapi yang membuat Rangga dan Erlangga berhenti mendadak. Karena dimeja para istri merek ada dua orang lelaki yang, duduk berseberangan tapi kentara sekali dengan niat merek yang hendak mendekati Yura dan Kinara.
Tentu saja Rangga dan Erlangga langsung menghampiri istri mereka.
" Sayang, apa belum cukup makannya?" bisik Erlangga di telinga Yura.
Seketika Yura menoleh ke arah Erlangga. " Sayang, kapan kau dan Kak Rangga datang?"
" Kami baru saja sampai Ra", jawab Rangga yang sedang duduk disamping Kinara sambil memeluk pinggang istrinya.
" Oh iya, kalau boleh tau kalian berdua siapa?" tanya Erlangga kepada dua orang lelaki yang duduk diseberang istrinya.
" Salam kenal, namaku Hendra."
" Dan aku Sandi."
" Apa kalian masih jomblo atau sudah punya istri?" tanya Rangga.
" Kami masih jomblo, dan kami disini ingin berkenalan dengan wanita yang ada di acara ini, maklumlah para ibu kami berharap, siapa tau ada wanita yang bisa membuat kami terpikat", jelas Sandi.
" Oh begitu, tapi saya harap anda berdua jangan memandang istriku seperti itu ", sindir Erlangga yang sudah terbakar api cemburu.
" Maaf, kami kira kedua wanita ini tidak punya pasangan, tapi melihat mereka berdua hamil. Tentu saja kami tidak akan merebut milik orang lain."
" Kalau sudah tau, kenapa kalian berdua masih berada disini", usir Rangga.
" Tenang bro, kalau begitu kami akan pergi", jawab Hendra yang langsung menarik tangan Sandi.
" Sayang, jangan marah. Kau membuat anak kita berontak di dalam", ucap Kinara yang sedang mengelus perut besarnya.
" Maafkan ayah ya nak", jawab Rangga sambil mengelus perut istrinya. Agar anak mereka tenang didalam.
" Bisa kalian jelaskan, kenapa dia lelaki itu betah disini, bahkan dari awal sebelum kami datang sudah banyak rayuan yang mereka lakukan."
" Aku sudah menolak mereka dengan sopan, dasar mereka saja yang nggak ada jeranya mendekati kami", jelas Yura.
" Dimana ibu dan bunda?" tanya Erlangga.
" Mereka ada disana sedang bertemu rekan bisnis", tunjuk Kinara.
" Kalau begitu, kalian berdua selesaikan makanannya ! Aku akan pamit dengan ibu dan bunda. Kita pulang sekarang!" titah Rangga.
" Dan ingatlah sayang, nanti dirumah kau harus aku hukum !"
Deg.
" Apa salahku?" tanya Yura dalam hati.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
__ADS_1