
"Hai pak, sudah lama?" tanya Alenka sembari menarik kursi kemudian dia duduk.
"Nggak." jawab Andreas.
Alenka dan Andreas bertemu di sebuah kafe yang dekat dengan perusahaan Andreas. Alenka sengaja mengajak Andreas bertemu karena ingin meminta maaf secara langsung.
Awalnya, tujuan dia kembali karena untuk bekerja di perusahaan Andreas lagi. Tapi ternyata rencana itu berantakan. Alenka harus berhenti bekerja dan bahkan menikah untuk menyelamatkan nyawa anaknya.
Andreas menatap Alenka yang seperti merasa tidak enak dengannya. Mungkin karena Alenka merasa bersalah. "Gimana kabar kamu? Gimana kabar Elvan?" tanya Andreas.
"Baik pak. Kami baik. Kabar pak Andreas sendiri gimana?" Alenka bertanya balik. Tapi, jelas jika dia merasa canggung dengan Andreas.
"Aku juga baik." jawab Andreas masih seperti dulu. Dia begitu lembut dengan Alenka.
Melihat Alenka yang gugup dan merasa canggung. Andreas mulai membahas topik yang ingin Alenka katakan. "Jadi Elvan sakit?" tanyanya.
Alenka menganggukan kepalanya dengan cepat. "Kanker darah." jawabnya pelan.
Nampak jelas jika dia sangat sedih ketika menceritakan apa yang terjadi dengan anaknya. "Maaf pak karena saya tidak bisa kembali ke perusahaan bapak." imbuhnya.
"Its ok. Jadi kamu nikah sama pak Samuel?"
"Ya. Karena kata dokter yang bisa menyelamatkan Elvan, hanya darah dari tali pusar adiknya Elvan." Alenka mencoba menjelaskan.
Meskipun sebenarnya Alenka tidak perlu menjelaskan apapun kepada Andreas. Mereka tidak memiliki hubungan apapun. Just friend. Pure hubungan antara atasan dan bawahan.
Namun, Alenka masih mengingat semua kebaikan Andreas terhadap dirinya dan anaknya. Saat dia melarikan diri, Andreas yang menolongnya dan anaknya.
"Oh, oke dimengerti." kata Andreas.
"Makasih pak.." Alenka tersenyum senang. Dia benar-benar bersyukur bertemu dengan Andreas di dalam kehidupannya.
"Aku akan menunggu kamu." ucap Andreas.
__ADS_1
Alenka membulatkan matanya. Dia tak mengerti dengan apa yang Andreas katakan. Namun, dia bersikap biasa dan tetap positif thinking. "Pak, boleh nggak saya bertanya?" tanyanya.
Ada sesuatu yang mengganjal dalam hati dan pikiran Alenka. Dia ingin menanyakan langsung kepada Andreas.
Andreas menganggukan kepalanya pelan. Matanya terus menatap Alenka membuat Alenka menjadi agak gugup.
"Kenapa bapak nggak pernah bilang kalau sebenarnya Samuel nggak jadi nikah?" tanya Alenka.
Andreas tersenyum kecil. Ia seolah tahu apa yang akan Alenka tanyakan. "Karena aku nggak mau kamu terluka lagi." jawabnya dengan santai.
"Bukan karena pak Andreas suka sama saya?" Alenka mulai berani bertanya lebih lagi.
"Itu salah satunya." Andreas tak mengelak. Dia mengatakan yang sebenarnya kepada Alenka.
Mata Alenka membulat. Tapi kemudian ia tersenyum sinis. Ya, dia sudah merasa dari dulu. Karena perlakuan Andreas ke dirinya sungguh sangat berbeda dengan karyawan Andreas yang lain.
Namun, Alenka tidak berani menaruh hati kepada Andreas karena status mereka yang berbeda. Juga karena Alenka yang memiliki anak di luar nikah dengan pria lain. Belum lagi perasaan Alenka yang hanya menganggap Andreas sebagai atasan dan juga kakak laki-lakinya.
"Tapi maaf pak-"
"Aku tidak memaksa kamu untuk suka sama aku." imbuhnya.
Alenka menatap Andreas dengan lekat. Sejak tiba, baru ini Alenka menatap Andreas secara langsung. Dia melihat tatapan kelembutan dari Andreas. Senyuman yang menghangatkan.
"Kamu juga hanya anggap aku sebagai kakak laki-laki kamu kan?" kata Andreas lagi.
"No problem, I just like you not forcing you to be with me. I will still be your big brother." mata Alenka berkaca-kaca.
"Thankyou very much.." lirihnya.
"Jadi, kalau kamu butuh bantuan. Kamu hubungi aku aja!" Andreas menyentuh puncak kepala Alenka dengan lembut.
Alenka menganggukan kepalanya berulang sembari menahan air matanya. Tak ada yang bisa dia katakan lagi. Hanya air mata yang menumpuk dimata karena sangat bahagia.
__ADS_1
"Sudah selesai?" tiba-tiba Samuel muncul. Ternyata dia tahu rencana Alenka yang ingin menemui Andreas. Bahkan dia sendiri yang mengantar istrinya. Hanya saja dia menunggu di luar supaya Alenka dan Andreas bebas ngobrol. Tapi ternyata dia tidak sabar menunggu di luar.
Alenka dengan cepat mengusap air matanya. Dia tak ingin suaminya salah paham. Karena pamitnya hanya ingin minta maaf.
"Pak Samuel apa kabar?" tanya Andreas dengan sopan.
"Baik." jawab Samuel singkat.
"Sudah selesai ngobrolnya?" tanya Samuel ke Alenka.
"Udah kok.." jawab Alenka.
"Ya udah, kalau gitu yuk!" Samuel mengulurkan tangannya.
Alenka menyambut tangan suaminya sembari menganggukan kepalanya. "Saya pamit dulu ya pak.. Terima kasih untuk semuanya.." kata Alenka.
Andreas hanya tersenyum sembari menganggukan kepalanya.
Sementara Samuel tidak berpamitan kepada Andreas. Entah hanya feeling atau firasat, setiap kali melihat Andreas, dia sangat tidak suka. Seperti ada sesuatu hal yang membuatnya tak suka. Apalagi kalau dekat dengan istrinya.
"Oh ya pak Andreas. Terima kasih karena sudah merawat anak dan istri saya selama ini. Saya akan ganti rugi biaya yang anda keluarkan selama merawat anak dan istri saya. Sebut aja berapa nominalnya." Samuel menghentikan langkahnya. Dia berbalik badan menatap Andreas yang masih duduk di tempatnya.
Ia tersenyum kecil mendengar perkataan Samuel. Lalu kemudian berdiri dari tempat duduknya. "Saya nggak perlu uang bapak. Cukup bahagiakan Alenka dan anaknya, itu sudah lebih dari cukup." kata Andreas kemudian dia meninggalkan tempat tersebut terlebih dahulu.
Tanpa sadar tangan Samuel mengepal. Dia merasa kesal dengan ucapan Andreas. Karena ucapan tersebut seperti membuka luka lama dalam hatinya.
Alenka yang tahu jika suaminya mulai tak terkendali. Dia berusaha untuk menenangkan Samuel. Ia menggenggam erat tangan Samuel yang mengeras. "Makasih ya karena sudah berusaha memperbaiki diri demi aku dan Elvan." kata Alenka dengan lembut.
Perlahan-lahan tangan Samuel yang awalnya keras mulai melunak. Dia menatap istrinya dengan dalam. Ya, di dalam hatinya berkecambuk. Antara senang dan merasa bersalah. Dia kembali teringat akan masa lalu dimana dia begitu kejam terhadap Alenka dan anaknya.
"Kamu nggak nyesel nikah sama aku?" pertanyaan Samuel yang membuat Alenka tersenyum geli.
"Kalau bukan karena cinta, aku pasti nggak mau nikah sama kamu. Tapi, karena aku cinta sama kamu, jadi biarkanlah penyesalan itu dari bagian dari rasa cintaku. Tugas kamu hanya membuat aku agat tidak menyesal telah memilih kamu." kata Alenka.
__ADS_1
Alenka menggenggam erat tangan Samuel. Dia berjalan menuju mobil sembari menggandeng tangan suaminya. "Seperti kata kamu. Aku dan kamu telah terikat oleh benang merah takdir. Kita, tidak akan pernah terpisahkan." imbuh Alenka yang membuat Samuel tersenyum bahagia.
Kini, mereka hanya fokus untuk merawat dan menyembuhkan anak mereka.