
Alenka memaksa Samuel supaya pulang. Tapi Samuel keukeuh ingin tinggal. Dia di dukung oleh anaknya yang ingin papanya tinggal bersamanya.
"Ma, ijinin papa tidur sini ya! Aku.. Aku pengen tidur sama papa." pinta Elvan.
Karena mendapat bantuan dari anaknya. Samuel kemudian mengubah mimik wajahnya menjadi memelas. Ia menganggukan kepalanya pelan dengan raut wajah sedih. Berharap Alenka akan mengijinkannya tinggal.
"Nggak. Papa kamu punya rumah sendiri. Lagipula kasihan adik di rawat di rumah sakit." kata Alenka.
"Biarin papa pulang nemenin adik!" imbuh Alenka sembari memeluk anaknya.
"Emang adik sakit?" Alenka menganggukan kepalanya dengan cepat.
"Tadi di rawat di kamar sebelah kamu." jawab Alenka.
"Oh, kalau gitu papa pulang aja temenin adik!" kata Elvan tapi dengan wajah kecewa. Dia udah janji tidak akan kecewa kalau papanya punya anak lain. Tapi ternyata tidak semudah itu. Hati Elvan merasa sakit dan kecewa.
"Nggak mau. Papa mau sama kamu aja. Adik kan ada mamanya.." jawab Samuel. Ia tetap ingin tinggal bersama dengan anaknya.
"Gimana ma?"
"Terserah papa kamu aja. Tapi kamu sama papa kamu tidur di kamar sebelah." kata Alenka.
"Aku nggak bisa tidur kalau nggak deket mama." rengek Elvan.
"Kalau gitu kamu tidur sama mama, papa kamu tidur di kamar sebelah."
"Tapi.. Tapi.. Tapi aku juga pengen tidur sama papa.." Elvan merajuk.
"Kamu harus milih salah satu!" seru Alenka dengan kesal.
Elvan pun langsung menangis karena merasa dibentak oleh mamanya. Tentu saja itu membuat Alenka mau tidak mau harus mengalah.
Akhirnya, mereka tidur dalam satu kamar dan satu ranjang. Senyuman bahagia menghiasi wajah Elvan sebelum ia memejamkan matanya. Itu yang ia harapan selama ini. Bisa tidur bersama dengan papa dan mamanya.
Sama seperti Elvan. Samuel juga tersenyum bahagia. Momen seperti itu juga yang dia bayangkan selama ini. "Met bobok ya nak!" ucapnya dengan lembut sembari mengecup puncak kepala Elvan.
"Papa juga cepet bobok ya!" ucap Elvan. Sementara Alenka berpura-pura tidur. Ia tidak menghiraukan anak dan bapak yang saling melepas rindu tersebut.
Tak butuh waktu lama. Elvan mulai tertidur dengan nyenyak. Setelah mengetahui jika anaknya telah tidur. Alenka bersiap untuk pindah ke kamar sebelah. Dia tidak ingin tidur satu kamar dengan suami orang.
Pada saat itu, Samuel belum benar-benar tidur. Dia mengikuti Alenka sampai ke kamar sebelah. "Kenapa kamu kesini? Cepat keluar!" pinta Alenka.
"Al, mari kita bicara!" ajak Samuel.
__ADS_1
"Nggak ada yang perlu dibicarain. Aku ngantuk!" ucap Alenka.
Namun, tiba-tiba Samuel melompat dan langsung menerkam Alenka. Posisinya saat ini Alenka berada di bawah Samuel. Mata Samuel menatap Alenka dengan bahagia.
Sedangkan Alenka menggeliat meminta agar Samuel segera turun. "Berat pak Samuel." katanya.
Samuel terus menatap Alenka dengan penuh gairah. Dia mencium leher Alenka membuat Alenka semakin meronta. "Pak, kalau bapak berani macam-macam, aku akan teriak!" kata Alenka.
"Teriak saja! Elvan juga perlu belajar seperti ini mulai dini." jawab Samuel dengan santai.
"Tolong dong pak jangan kayak gini!" Alenka memohon.
"Jangan bikin aku seperti seorang pelakor!" imbuhnya. Namun, Samuel sepertinya tidak mengindahkan perkataan Alenka. Dia semakin menekan tubuhnya.
"Ah.." erang Alenka.
Dia benar-benar kesal dengan apa yang Samuel lakukan terhadapnya. Tapi, dia lebih kesal dengan dirinya sendiri yang harusnya menolak. Tapi kenapa ia malah seolah peduli dengan laki-laki itu.
"Aduh.. Sam..muel.."
Selama satu jam lebih mereka melepaskan kerinduan yang semakin menumpuk. Nafas keduanya semakin tak beraturan.
'Alenka, kenapa kamu bodoh banget. Harusnya kamu menolak, tapi kenapa kamu justru tidak ingin melepaskannya' gumam Alenka dalam hatinya.
"Muel, kenapa kamu nggak mau lepasin aku? Bukankah kamu memperlakukan aku sebagai selingkuhan kamu?" tanya Alenka dengan nafas cepat.
"Cuma kamu wanita yang aku cintai di dunia ini." jawab Samuel.
"Muel, aku mohon lepasin aku!" pinta Alenka.
"Lepasin kamu, lalu aku akan kehilangan anak aku lagi? Ogah.." jawab Samuel dengan cepat.
"Jadi kamu seperti ini cuma mau ambil Elvan dari aku?"
"Salah. Aku seperti ini karena ingin dapatkan kamu lagi. Dengan begitu Elvan juga akan aku dapatkan."
"Dapatkan aku lagi untuk balas dendam karena aku udah bawa kabur anak kamu?" tanya Alenka dengan tersenyum sinis. Hatinya terasa sakit ketika teringat masa lalu itu. Dimana Samuel memutuskan dirinya dan mengatakan tujuannya mendekati Alenka lagi hanya untuk balas dendam.
"Aku minta maaf. Waktu itu aku tidak tahu kenyataan yang sebenarnya. Kenyataan bahwa aku tidak bisa hidup tanpa kamu."
"Tapi semua sudah terlambat. Kamu sudah menikah dan bahagia dengan keluarga kecil kamu. Jadi aku mohon lepasin aku dan Elvan. Aku janji tidak akan ganggu rumah tangga kamu!" kata Alenka.
Namun, pada saat itu Samuel sudah terlelap. Dia sudah mendengkur. Mungkin karena kecapekan.
__ADS_1
****
Samuel mengajak Elvan ikut ke kantornya. Dia ingin menunjukan anaknya kepada semua orang. Elvan berdandan dengan cukup modis. Memakai jas dan celana pendek, dan kacamata hitam. Dia berjalan dengan digandeng oleh papanya.
Kemunculan Elvan bersama dengan Samuel membuat karyawan Samuel menjadi heboh. Mereka menduga-duga siapa anak kecil yang bersama dengan bos-nya tersebut.
Dua orang yang terlihat begitu tampan dan menawan. Dua generasi yang berbeda memancarkan aura yang luar biasa.
"Selamat pagi pak.." sapa Ardilla yang masih menjadi sekretaris Samuel sampai sekarang.
"Pagi Ardilla..." jawab Samuel dengan wajah berseri-seri.
"El, ini tante Ardilla. Kalau kamu mau apa-apa, bilang ke tante Ardilla dan om Yoga aja." kata Samuel kepada anaknya.
"Iya pa." jawab Elvan.
Ardilla membulatkan matanya mendengar panggilan Elvan ke bos-nya. Ia ingin bertanya, tapi takut dimarahi bos-nya.
"Dill, ini Elvan anak aku. Kamu urusi semua kebutuhan dia!" perintah Samuel.
Ardilla kembali membulatkan matanya. "... Baik pak." ia juga sempat melongo saking kagetnya.
"Sekarang kamu pergi ke toko mainan, beliin Elvan semua mainan!" perintah Samuel lagi.
".. Baik pak.." Ardilla segera meninggalkan kantor.
"Ayokk kita masuk ke kantor papa!" kata Samuel dengan bersenandung.
Elvan merasa sangat senang berada di kantor papanya. Karena tempatnya yang luas dan juga semua mainan yang tersedia. Elvan berlari kesana kemari mengelilingi ruangan papanya. Dia terlihat begitu sangat bahagia. Dan Samuel sama sekali tidak merasa risih dengan keberadaan anaknya. Bahkan ketika melihat mainan yang berantakan.
"Kamu mau es krim?" tanya Samuel.
"Mau pa. Yang rasa coklat sama strawberri ya.."
"Dill, tolong belikan es krim untuk Elvan yang rasa coklat dan strawberri!" Samuel kembali meminta sekretarisnya untuk membelikan sesuatu untuk anaknya.
"Yoga belum datang?"
"Belum pak."
"Kalau gitu saya ke supermarket dulu!" pamit Ardilla.
"Ya.." jawab Samuel dengan lembut sembari tersenyum kecil saat melihat anaknya berlarian kesana kemari.
__ADS_1
Baru kali ini setelah enam tahun. Ardilla melihat Samuel bisa tersenyum bahagia. Selama enam tahun terakhir, wajah Samuel tidak bisa mengeluarkan ekspresi. Wajahnya hanya datar saja, dan tidak pernah tersenyum.