
" Sayang, ke-kenapa kita jadinya ke hotel ?" tanya Yura dengan raut muka memelas pada sang suami.
" Lagian siapa tadi hmmm ... yang mancing aku di dalam mobil."
" Nggak ada tuh mancing kamu, sikap ku kan biasa aja tadi ", ujar Yura sambil berpikir rencana apa yang akan dia gunakan untuk mengelabui Erlangga.
" Ayo kita turun !"
" Nggak mau, yang plis dirumah kan bisa atau lain kali bagaimana ? Ya ... ya !" balas Yura dengan cara tawar menawar.
Erlangga pun kemudian dengan gerakan cepat, menyandarkan kepalanya di dekat leher Yura.
" Ini sudah di ubun-ubun, jadi aku tidak bisa menahannya lagi!" bisik Erlangga yang langsung beranjak menciumi Yura.
" Tapi, hmmm ..."
Yura pun tidak bisa melawan karena sudah dibungkam oleh Erlangga.
" Aku akan menggendong mu ke dalam jadi nikmatilah dan terima hukuman dariku !" ucap Erlangga yang tak mau dibantah.
Alhasil kegiatan panas yang menjadi rutinitas mereka pun tak bisa terelakan. Bahkan hampir saja Yura terlambat datang ke arisan gara-gara Erlangga lupa, untung saja Bunda Anisa menelepon putranya.
Hal itulah yang membuat Yura kesal dan menahan marah pada sang suami. Bagaimana tidak di sore begini ia harus memakai sweater dengan leher tertutup, dan rambut yang masih basah demi menghormati sang mertua yang ingin mengajaknya ke acara arisan.
" Ini semua gara-gara Kakak ! kalau nggak Bunda telepon pasti aku nggak akan jadi kesana !" keluh Yura yang masih bersiap sebelum sang mertua menjemputnya.
" Sudah terlanjur soalnya, apalagi kamu menikmatinya juga kan sayang, sudahlah kamu nggak usah ngambek lagi nanti hilang lo cantiknya ! Ini Bunda lagi nunggu kita di lobby hotel. Sini Kakak gendong ke bawah biar kamu nggak capek !"
Bunda Anisa yang sudah melihat putra dan menantunya menghampiri ia di lobby hotel. Langsung saja ia menjewer telinga Erlangga.
" Bagus ya, kamu disini lagi asik, lah Bunda dari tadi khawatir sama Yura ! Erlangga bisa nggak di rem sebentar kamu nggak kasian apa sama istrimu itu, nanti kan bisa nak. Dasar !"
" Hehehe ... Sorry Bun habisnya candu bagiku sih."
" Yura, apa kamu baik-baik saja nak?"
" Tentu Bun, aku masih bisa mendampingi Bunda kesana."
" Ya sudah, Bunda sama Yura berangkat kesana dulu, kamu lebih baik pulang saja sana ! Entar kalau kami pulang baru gantian kamu yang jemput !"
" Iya Bun, sayang hati-hati !"
Sedangkan Kinara yang sedang memakai dress di kamarnya, tiba- tiba dikejutkan oleh Rangga yang membuka pintu kamar mereka
" Aaa ..." teriak Kinara.
Rangga pun segera membekap mulut istrinya sebelum orang rumah menjadi heboh mendengar teriakan Kinara.
" Mph ... Kak lepasin ! Kalau mau masuk jangan lupa ketok pintu dulu !"
" Ya maaf, aku pikir kamu nggak ada di kamar. Lagian pintu nggak kamu kunci ."
Melihat dress istrinya yang belum sempurna melekat di tubuh Kinara. Erlangga kemudian membalik tubuh Kinara ke depan cermin, biar dia bisa menutup resleting dress dari belakang.
Sret.
" Makasih Kak."
" Hmmm ... memangnya kamu mau kemana sih pakai dress segala ?"
" Ibu mau ngajak aku ke arisan Kak, oh iya kenapa Kakak tidak bilang sama aku tentang masalah kuliah?"
__ADS_1
" Darimana kamu tau akan hal itu?"
" Tadi Ibu yang ngasih tau, dikira sama Ibu, Kakak sudah memberitahu ku."
" Tentang masalah itu maunya Kakak bicarakan sama kamu, tapi kemarin belum ada waktu yang pas, kalau sekarang juga nggak bisa kamu kan mau menemani Ibu. Nanti malam saja kita lanjutkan sekarang kamu siap-siap, pasti kalau belum lihat kamu dibawah, pasti Ibu akan masuk ke kamar kita."
" Baiklah, ini tinggal pakai lip balm saja sih."
Sambil menunggu Kinara selesai berdandan. Rangga pun duduk diatas kasur sambil melepaskan sepatunya dan dari sana ia bisa melihat gerak-gerik istrinya. Hingga Kinara sudah berada di depannya.
" Kak aku berangkat dulu ya sama Ibu ."
" Hmmm ..."
Mendapatkan ijin secara singkat dari sang suami, Kinara pun segera pergi berjalan membuka pintu kamar. Saat hendak menyentuh handel pintu. Tiba-tiba dari belakang Rangga langsung memeluk Kinara.
Deg ... Deg.
Kinara yang tiba-tiba dipeluk menjadi kikuk dan berdebar nggak jelas.
" Rileks lah jangan tegang hmmm ... nanti setelah acara arisannya selesai akan Kakak jemput. Cup ."
Mata Kinara pun membelalak seketika, karena Rangga menciumnya di bagian leher. Sampai menengok ke belakang pun Kinara tak sanggup. Akhirnya setelah tangan Rangga terlepas. Kinara pun pergi.
" Ini baru permulaan istri kecilku, aku akan seutuhnya mendapatkan mu. Karena kau adalah milik ku seorang !"
" Nak hati-hati kenapa kau sampai berlari seperti itu ?"
" Gapapa Bu, aku kira akan terlambat karena aku lama berdandan !"
" Jangan khawatir nak, masih ada sisa waktu lagi 40 menit sebelum kita sampai disana !"
" Apa kau sudah siap? Ayo kita berangkat sekarang !"
Setelah melihat istri dan ibunya pergi dari balkon kamar. Rangga kemudian mandi.
Sedangkan Ibu Hani dan Kinara sedang menuju restoran yang menjadi tempat arisan.
" Bunda, apa Ibu ku akan kesini juga ?"
" Tentu saja nak, dia bilang kemarin akan memamerkan kakak iparmu disana, Bunda nggak sabar melihat gengnya Bu Retno itu nutup mulutnya !"
" Kok bisa ada geng seperti itu Bun ?"
" Namanya aja arisan nak, ya gitu ada jenjang kelas sesuai kemampuan mereka, selain arisan mereka itu suka sekali urusi urusan orang lain."
" Wah ternyata disana juga sama kayak yang ada di lingkungan sekolah ."
" Dimana pun pasti ada hal yang seperti itu kok, aduh ... bunda nggak sabar buat menghajar mereka semua."
" Sabar Bun sabar, kita masih di mobil. Kalau sudah sampai sana, aku siap jadi pendukung bunda yang no.1, oke !"
" Kamu memang sehati sama bunda Ra, nggak kayak suamimu yang percis kayak Daddy Nya !"
Dalam hati Yura membatin. " Ya jelas lah orang Erlangga itu anak mereka , lebih banyak mirip sama gen orang tuanya yang lebih dominan."
" Kok kamu diam?"
" Kita sudah sampai Bun, ayo kita keluar !"
" Oh iya, ayo!"
__ADS_1
Bunda Anisa dan Yura yang sedang keluar dari mobil, berbarengan dengan kedatangan Ibu Hani dan Kinara.
" Anisa ", teriak Ibu Hani.
" Eh ... kebetulan sekali kalian juga datang."
" Apa kabar Kakak ipar ?"
" Baik Ra, bagaimana dengan mu?"
" Aku juga baik Kak."
Dan mereka berempat pun langsung masuk ke dalam restoran yang sudah di reservasi untuk tempat diadakannya arisan.
Setelah basa basi sebentar dengan beberapa teman Bunda Hani dan Ibu Anisa. Yura dan Kinara pun duduk di kursi disamping mertua masing-masing.
" Eh Ibu Hani, hari ini bawa siapa nih ?"
" Tentu saja bawa anak dan menantu idaman jeng."
" Oh ya, memangnya dari keluarga mana jeng menantunya? Good rekening nggak ? Asli Jakarta apa dari mana? Sudah kerja apa belum? Jangan-jangan kesini ngajak mantu bayaran lagi ?"
" Hahaha ..."
Dan masih banyak lagi pertanyaan dari geng Ibu Retno yang membuat kemarahan Ibu Hani dan Bunda Anisa.
Brak.
Terdengar meja yang di gebrak oleh Ibu Hani. Sehingga semua yang ada disana, melihat ke arah perdebatan tersebut.
" Cukup ya Bu Retno, byur ..." Dengan santainya Ibu Hani menyiram muka Bu Retno dengan jus yang ada disebelah tangannya.
" Memangnya apa urusannya dengan anda, yang seenak jidatnya menilai menantu saya. Yang jelas ya biar yang ada disini mendengar ! yang menjadi menantu saya adalah orang yang sudah dipilih oleh anak saya, dan sudah mendapatkan persetujuan dari keluarga besar saya. Dan kami sangat bahagia mendapatkan menantu, tidak penting latar belakang keluarganya seperti apa? yang jelas itu sama sekali nggak ada kaitannya dengan acara arisan dan itu adalah urusan pribadi jadi nggak perlu saya menjelaskan pada orang yang tidak ada kaitannya dengan keluarga kami."
Mendapatkan serangan mental, dan menjadi bahan pergunjingan di acara arisan dengan kelakuannya , akhirnya Bu Retno dan the geng pergi dari acara arisan.
" Wah Ibu Hani, saya nggak menyangka ya jeng kamu bisa men skakmat si Retno ! Saya aja dari dulu nggak suka sama dia, baru suaminya naik jabatan promosi di perusahaan periklanan, dia udah sok !"
" Makasih ya jeng, saya juga nggak tahan sama sikapnya selama ini ."
" Ibu gapapa? makasih sudah membela Kinara", ucap Kinara yang hampir meneteskan air mata karena dibela ibu mertuanya.
" Malahan Ibu senang bisa membabat orang kayak dia nak, berani macam-macam sama anak dan mantu ibu, jangan harap bisa tenang. Lihat saja apa akibatnya setelah ini sama keluarganya!"
" Maksud Ibu apa?"
" Gapapa, kita hanya tinggal beres aja."
" Bun, maksud nya akan ada hal seperti ini ya tadi di mobil ?"
" Iya nak, bahkan kalau Ibumu kewalahan, maka Bunda yang siap membantu!"
" Sebelum Bunda turun tangan sudah ada para pengawal kita yang akan membereskannya Bun."
" Pintar kamu, makanya jangan berani mengusik keluarga Bramasta dan Pradipta mereka akan tau akibatnya."
" Hani, sudah selesai kan?" Kita ke mall yuk, jugaan arisan sudah selesai !" ajak Bunda Anisa.
" Ide bagus, sekalian aku mau latihan."
" Loh ibu mau latihan apa?" tanya Kinara.
__ADS_1
" Kalian ikuti kami, sampai disana kalian pasti akan ketagihan !"
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...