Benang Merah Takdir

Benang Merah Takdir
Bab 74


__ADS_3

" Bik, apa Yura dan suaminya sudah datang?" tanya Rangga yang sudah selesai sarapan pagi dengan istrinya.


" Sudah tuan muda."


" Baiklah, bibi boleh pergi !"


" Sayang apa kau sudah selesai?"


" Sudah Kak."


" Ayo kakak, akan mengantarmu ke depan dulu sebelum kakak pergi !"


" Biasanya kalau hari pertama ospek kita ngapain aja sih kak?"


" 1 tahun lalu, aku cuma perkenalan dengan teman baru di semua jurusan, karena kita dibagi menjadi beberapa kelompok, terus mendengarkan seminar dan mencari tanda tangan."


" Apa tahun sekarang akan sama dengan tahun lalu ya, awalnya sama sih mungkin akan berbeda di hari ke 2 sampai ke 4."


Rangga dan Kinara pun berada di depan Erlangga dan Yura.


" Kakak titip Kinara ya sama kalian berdua."


" Kakak tidak usah khawatir ada aku dan kak Erlangga yang akan menjaga kakak ipar."


" Kalau begitu kami berangkat dulu !"


" Hati-hati di jalan."


Sementara itu di Universitas Y, sedang ramai dengan kedatangan para maba baru.


" Mila", teriak Diah yang baru keluar dari mobil.


" Diah, untung saja lo datang, gue pikir akan menjadi kambing congek tanpa ada orang yang bisa gue ajak berkenalan."


" Mungkin nanti kali Mila, kita bisa berkenalan dengan yang lain. "


" Sayang tunggu, tas mu ketinggalan di mobil", ujar Hendra yang baru keluar dari dalam mobil.


" Ya Tuhan, hehehe ... makasih Kak untung ada kamu yang mengingatkan."


" Santai lah dulu, katanya mau menunggu Yura dan Kinara "


" Iya, tapi aku baru tau bahwa Aula di Universitas Y cukup luas dan besar."


" Mila, si Malik kemana?"


" Lagi beliin aku sarapan di kantin Kak."


" Ya sudah, mending kita duduk dulu di bangku taman sebelah sana, masih ada waktu lagi 25 menit sebelum kalian masuk untuk pembukaan ospek !"


Dari arah barat datanglah Malik yang sedang membawa minuman dan makanan untuk Mila.


" Ini yang makan dulu !"

__ADS_1


Tanpa banyak bicara, Mila pun makan dengan lahap bahkan sesekali Malik harus membersihkan sisa makanan di bibir Mila.


" Hem ... hem , kok kita kayak nyamuk disini Kak."


" Kalau lo iri, sana romantisan kayak kami", ucap Mila yang masih memakai makanannya.


" Sudahlah, sini sama kakak yang !"


Diah pun melakukan hal yang romantis juga dengan Hendra.


" Apa kami terlambat?" tanya Yura sambil berlari dengan Kinara.


Sedangkan perlengkapan yang lainnya sudah dibawa oleh para pengawal pribadinya, disusul oleh Erlangga yang berjalan dibelakang istri dan kakak iparnya.


" Tenanglah, nih ... minum dulu !" tadi kak Malik beli banyak.


" Mila Lo kok tumben pagi ini makan banyak?" tanya Kinara.


" Maklumlah kak gue tadi nggak sempat makan dirumah karena kemarin malam gue baru sampai dari Solo."


" Kalian cepat masuklah ke Aula, acara ospek akan segera dimulai", sela Erlangga.


Melihat sang istri dan temannya sudah masuk ke dalam Aula Kampus.


Erlangga pun mengajak Malik dan Hendra pergi ke kafe yang dekat dengan kampus mereka.


" Kalian pesanlah, biar gue yang bayar."


" Nah kalau sering begini, kamu sungguh seorang pewaris tahta Erlangga.


" Ngomong-ngomongin kalian berdua ada urusan ke kampus, kok kalian bersamaan datang."


" Lo tau kan ini hari Ospek pertamanya Mila, ya jelas gue harus standby sebelum ayah gue ngamuk nggak mengantar calon mantunya."


" Terus kalau Hendra alasan lo apa?"


" Salah satunya ya itu, sama kayak Malik, tapi sebetulnya Diah terlalu merepotkan gue, karena hari ini gue juga ada meeting sore jadi gue sediakan waktu buat nemenin dia ke kampus."


" Kak Rangga kemana, kok nggak ngantar Kinara ke kampus?"


" Kakak ipar lagi sibuk, ad urusan ke luar kota, makanya Kinara ikut sama gue dan Yura."


" Nah hampir gue lupa, sebentar ya gue mau ambil berkas di mobil !"


Setelah Malik pergi ke mobil mengambil berkas. Hendra pun bertanya dengan Erlangga.


" Apa ada yang aku tidak tau Erlangga?"


" Tentang apa maksudmu?"


" Tentang berkas yang dibawa Malik."


" Aku juga tidak tau, apa yang ingin dia sampaikan kepada gue, yang jelas mungkin itu kabar penting."

__ADS_1


Setelah Malik datang, ia pun menyodorkan berkas-berkas yang terkumpul di dalam 1 buah map yang berisi informasi tentang Nolan dan Meta.


" Dimana kau mengambil foto ini?"


" Oh yang itu gue ambil saat teman gue ngajak gue minum sedikit di bar. Awalnya gue penasaran sama pertemuan mereka, tapi gue udah nombok salah satu pelayan disana. Agar semua obrolan mereka terekam disini. Jadi silahkan kau dengarkan !"


" Kurang ajar mereka, ternyata mereka sepupu jauh."


" Lo mending memperketat pengawalan Yura deh Erlangga. Kami juga akan membantu mu dari belakang, selain melindungi Yura juga menjaga Diah dan Mila !"


" Makasih banyak ya Malik, Lo tenang saja Hendra. Mereka mencari lawan yang salah."


" Apa lo nggak bilang sama Yura bahwa lo adalah Ketua BEM yang baru?"


" Belum, tapi nanti pasti dia akan tau kan jam 11.00 pagi ada pengenalan BEM."


" Terserah kamu sajalah Erlangga."


" Kan kalian juga termasuk anggota BEM juga, apa mereka juga nggak tau ?"


" Nggak tau, tapi Mila sangatlah peka dengan gue jadi biarpun gue berpura-pura nantinya dia nggak akan terkejut."


" Beda hal sih sama Diah, gue udah bilang duluan sebelumnya."


"Ya sudah, kita harus balik ke kampus. Gue harus berpidato sebentar ke Maba baru."


" Ospek kok lama banget ya, kapan kita istirahat coba", keluh Diah.


" Kau nggak lupakan, ada 2 agenda lagi sebelum kita pulang", jelas Kinara.


" Gue dengar ada Ketua BEM baru?"


" Maksud lo bagaimana nih, gue nggak ngerti bukannya jabatan BEM itu diganti tiap 4 tahun sekali ya?"


" Nggak Yura, gue dengar sih tiap 2 tahun diganti kalau di kampus ini, nggak tau juga mungkin di kampus lain diganti tiap 4 tahun sekali."


" Kalian 4 cewek maba yang lagi ngobrol di belakang ! Silahkan ke depan dan jelaskan apa saja isi materi yang disampaikan pada seminar hari ini !" ucap salah satu anggota BEM cewek yang sangat suka mengatur para Maba.


" Itu bukan kita kan maksudnya?"


" Sepertinya itu ditujukkan buat kita berempat Ra."


" Ayo gess kita ke depan saja dulu!"


Saat Yura, Kinara, Mila dan Diah berjalan ke depan podium. Bertepatan dengan kedatangan Erlangga, Hendra dan Malik yang sedang masuk bersama para tamu undangan dari rektor.


" Sani ! Hai ... batalkan dulu instruksi lo itu, para tamu rektor dan ketua BEM kita sudah datang, jangan sampai melakukan tekanan pada para maba dulu !"


Sani pun mengangguk dengan instruksi para teman BEM yang lainnya.


" Kepada 4 maba yang tadi dipanggil, dimohonkan untuk kembali duduk karena acara selanjutnya akan dimulai !"


Seketika langkah Yura, Kinara, Mila dan Diah pun terhenti di tengah jalan. Hingga saat berbalik ke belakang mata Yura beradu tatap dengan mata suaminya Erlangga.

__ADS_1


" Kenapa Kak Erlangga menemani tamu rektor ?"


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


__ADS_2