Benang Merah Takdir

Benang Merah Takdir
Bab 68


__ADS_3

Setelah pertandingan selesai yang menjadi pemenang yaitu : Rangga & tim ( basket), Daddy Alex ( memancing), tim pengawal Pradipta ( kendo), serta tim pengawal Bramasta ( menembak). Karena mereka dalam empat pertandingan kedua belah pihak seri jadi hadiahnya didapatkan sesuai dengan jumlah kemenangan di tiap pertandingan.


Sebenarnya Daddy Alex dan Ayah Kevin ingin pertandingan penentuan, tapi karena instruksi dari sang Nyonya Besar Bramasta. Jadi hal itu urung dilaksanakan dan mereka sekeluarga serta para pengawal dan pelayanan melaksanakan makan malam bersama.


" Terima kasih banyak atas jamuan makan malamnya serta, pertandingan dadakannya . Lain kali kami akan menjamu kalian sekeluarga di kediaman Pradipta ! Kalau begitu kami pulang dulu !"


" Hati-hati ya kalian, sampai jumpa Ayah, Ibu, Kak Rangga dan Kak Kinara ."


" Pasti, lain kali kalian yang harus datang ke rumah", ucap Rangga sambil silih berganti memeluk Yura, Erlangga serta Daddy Alex dan Bunda Anisa.


Setelah mereka pergi, semua keluarga Bramasta pun kembali masuk ke dalam rumah dan menuju ke kamar mereka masing-masing.


" Apa kau senang sayang?"


" Tentu aku senang Kak, apalagi melihat hubungan Kak Rangga dan Kakak ipar baik, aku harap Kak Rangga mengerti atas perasaan cinta yang sudah mulai tumbuh di dalam hatinya buat Kak Kinara."


" Semoga saja ia cepat sadar dan tidak akan menyesal nantinya jika terlambat menyadari itu semua."


" Oh iya yang, bagaimana dengan seniormu di BEM yang katanya caper sama kamu di kampus waktu OSPEK ?"


" Itu bukan urusanku yang, aku juga risih sama kelakuannya, makanya tadi pagi dia mau cari gara-gara sama aku. Ya jangan salahkan jika aku membalas dia."


Sambil saling rebahan dan berhadapan di atas kasur. Yura pun tak lupa mengelus wajah suaminya yang berkali lipat tampan di matanya.


" Terima kasih atas kesetiaan mu kepada ku yang."


Erlangga pun mengambil tangan Yura yang ada di bawah selimut dan menciumnya.


Cup.


" Itu adalah bukti jika hatiku sudah kau kunci dengan rapat."


" Lock and key. Inilah yang dinamakan takdir ku sejak kecil sampai sekarang harus bersamamu selalu Kak."


" Takdirku yang tidak akan pernah lepas dari lilitan benang merah yang menghubungkan kita berdua."


" Bolehkah sayang?"


Yura pun mengangguk dan mengiyakan. Mereka berdua saling m****** , mengikis jarak.


Erlangga pun memberikan rangsangan ke setiap titik sensitif sang istri, hingga entah sejak kapan. Tubuh mereka berdua sudah polos tanpa sehelai baju pun yang melekat di tubuh.


Bulan purnama yang bersinar di malam pada hari itu, menjadi saksi bisu pergulatan panas mereka berdua.


Untung saja kamar mereka dilengkapi oleh sistem kedap suara. Jadi e****** dan lenguhan yang keluar beserta butiran keringat dari tubuh mereka tidak didengar dan dilihat oleh penghuni rumah yang lainnya.


Tidak cukup hanya disana, bahkan Erlangga menggempur Yura di segala sudut kamar dan tidak lupa sampai mereka mandi bersama pun tak lepas dari kuasa seorang Erlangga Bramasta yang sudah sah memiliki Yura Pradipta.

__ADS_1


                                     SKIP


Sementara itu di kamar pengantin baru Rangga dan Kinara. Sejak sampai di rumah muka Rangga sudah sangat kesal dan cemberut tidak jelas. Sampai Kinara pun heran dengan sikap Rangga.


" Kak, kamu kenapa?"


" Kalau sudah tau, kenapa kau bertanya lagi !"


" Alamak ini si singa jantan, cepat banget berubah moodnya, kan apapun yang aku katakan pasti di matanya akan salah", keluh Kinara dalam hati.


Melihat sang suami ingin menyendiri, tentu saja Kinara mencari aktivitas lain yang sekiranya bisa menyibukkan dirinya.


Kinara pun hendak berbalik dan menuju pintu, tapi dengan cepat Rangga memeluknya dari belakang dan mengungkung Kinara di tembok.


" Siapa yang mengizinkanmu pergi meninggalkan kamar ini hmmm ..?"


Mendapatkan perlakuan dari sang suami yang mendadak dan berubah menjadi intim. Kinara pun berusaha rileks dan tidak gugup di depan Rangga.


" Kak Rangga."


" Sebutkan namaku dengan panggilan yang seharusnya kau ucapkan !"


" Panggilan seperti apa yang Kakak inginkan?"


Rangga pun mengeratkan tangannya di pinggang sang istri, dan berbisik di telinga Kinara. " Apa kau lupa dengan ucapan yang telah kau ucapkan saat aku bertanding basket tadi , hmmm ...?"


" Kau belum melakukannya, makanya dari tadi aku ingin kau mengingatnya. Ternyata kau lupa apa maksudnya. Sekarang coba panggil aku dengan sayang !"


Deg. " Apa ? Sayang ? Bahkan dia sama sekali belum pernah menyatakan cinta padaku !" gumam Kinara.


Kinara pun langsung berbalik menghadap Rangga. Bahkan posisinya sekarang Rangga memangku sang istri di pinggir ranjang.


" Sepertinya aku harus memancing dia agar mengerti ! Dengan memeluk leher sang suami, Kinara pun dengan perlahan meluruskan perkataannya.


" Kak Rangga."


Cup.


" Aku belum selesai bicara!" kesal Kinara.


" Kau lupa dengan panggilannya?"


Biarpun lidahnya kelu, tapi Kinara mengucapkan panggilan yang sangat diinginkan oleh Rangga.


" Sayang."


" Ya yang."

__ADS_1


Blush. Rona merah sangat terlihat di wajah Kinara.


" Tadi saat aku memberimu semangat waktu kau bertanding basket. Kan aku bilang aku akan memberimu hadiah jika kau menang , hadiah yang aku maksud hanyalah memberimu semangat dan ucapan terima kasih. Soalnya aku kan tidak punya uang, lagi pula aku belum tau hadiah apa yang kamu inginkan."


Cetak. Kening Kinara pun mendapatkan sentilan dari Rangga.


" Aduh, sakit yang."


" Makanya, aku yang jadi salah paham dengan perkataanmu. Aku kira kau akan memberikan dirimu kepada ku."


" Kak kamu ..." Kinara pun tersentak atas ucapan Rangga.


"Seharusnya aku mengatakan hal ini kepadamu lebih dulu. Jujur awalnya aku tidak merasakan cinta kepadamu. Tapi seiring kita bersama dan kau sudah sah menjadi istriku. Perasaan yang aku sangkal ternyata tak bisa berpaling ke lain hati. Dan hanya tertuju padamu."


" Kinara aku telah jatuh cinta kepadamu, apakah kau juga mencintai ku?"


Mendengar kalimat yang dari dulu ingin Kinara pastikan, akhirnya terucap dengan jelas oleh Rangga.


" Iya Kak, aku juga mencintaimu."


" Sejak kapan?" tanya Rangga sambil menyeka air mata dari pipi Kinara.


" Sejak pernikahan kita yang disaksikan oleh Almarhum Ayahku di rumah sakit."


" Jangan menangis, kau tidak sendiri hidup di dunia ini. Ada aku dan keluarga yang menjadi keluarga barumu."


" Terima kasih atas semuanya Kak, dari kau menolong ayah, hingga kau bersedia menjadi suami ku. Sungguh itu merupakan hadiah yang luar biasa dalam hidupku. Serta perasaan cintaku kepadamu yang akhirnya terbalas. Aku berpikir Kakak punya wanita lain yang Kakak cintai."


Cup.


" Mungkin aku juga salah, karena diriku tidak nampak berterus terang kepadamu, istri kecilku Kinara Pradipta."


Kinara pun tersenyum, segala hal mengganjal di dalam hatinya. Kini ia keluarkan semuanya pada sang suami.


Hal sama pun dirasakan oleh Rangga. Ternyata perasaan itu adalah perasaan cinta. Serta cintanya pun terbalas oleh istrinya. Kinara.


Akhirnya malam ini merupakan malam yang sangat bersejarah bagi pengantin baru, akhirnya mereka berdua melakukan malam pertama.


" Kak pelan-pelan."


" Aku akan pelan-pelan, ini juga pertama kalinya bagiku. Kau nikmati dan ikuti saja awalnya sakit tapi lama-lama juga nikmat."


E***** dan lenguhan menghiasi kamar tersebut. Bahkan noda merah tercetak jelas pada selimut.


Untuk meringakan sakit yang dirasakan oleh Kinara. Rangga pun ******* dan mencium istrinya. Hingga sudah berapa ronde mereka melakukan kegiatan panas tersebut. Sampai mereka tertidur saling berpelukan tanpa benang sehelai pun yang tertutup oleh selimut.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

__ADS_1


__ADS_2