
Setelah beristirahat cukup lama dari aktivitas panas mereka. Kini Yura terbangun lebih awal dari Erlangga, karena cacing dalam perutnya meronta ingin makan.
" Kak, ayo bangun! Aku lapar !"
" Hmmm ... sudah jam berapa yang ?"
" Jam 20.00 malam Kak, ayo bangun aku mau makan malam !"
Erlangga yang sudah membuka kedua kelopak matanya langsung kembali memeluk sang istri. Dan dengan cepat menindih tubuh Yura kembali.
" Kak, aku harus makan aku sudah tak punya tenaga lagi, dari tadi kamu menggempur ku tanpa henti."
Erlangga yang mendengar tak menghiraukan kekesalan Yura. Ia malah mengikis jarak dan dahi mereka pun saling bersentuhan.
" Beri aku 10 menit lagi yang, kau sungguh membuat aku gila dan candu dengan wangi tubuhmu ini."
" Tapi Kak ..."
Tidak menerima penolakan sang istri, Erlangga pun meraup dan ******* habis bibir Yura yang kian membengkak.
" Sayang aku mohon ", ucap Yura sambil membelai wajah tampan suaminya.
" Baiklah, sini aku gendong ke kamar mandi. Kita harus mandi sebelum makan malam ke bawah !"
Yura pun pasrah saja sama Erlangga. Yang jelas ia harus makan.
Melihat Erlangga yang turun dari tangga dengan menggendong Yura.
Bunda Anisa pun khawatir dengan kondisi menantunya.
" Erlangga, kamu apakan mantu kesayangan Bunda hah !"
" Apaan sih Bun, Erlangga nggak ngapain Yura kok."
" Terus kenapa Yura kamu gendong segala ?"
" Kayak Bunda nggak tau saja urusan ranjang kami."
" Ya Tuhan Erlangga, bicaramu itu lo di filter lah sedikit, kebablasan sekali. Perasaan Daddy mu nggak separah ini deh !"
" Ya itu kan Daddy bukan aku Bun."
" Yura apa ada yang sakit nak, sehingga kamu harus digendong ke bawah?"
" Nggak Bun, tapi aku masih capek dan lemas."
" Sudahlah Bunda jangan banyak berpidato malam ini, yang jelas aku akan bertanggung jawab atas apa yang aku perbuat sama istriku sendiri !"
__ADS_1
Langsung saja Erlangga berlalu memasuki ruang makan, diikuti oleh Bunda Anisa di belakang mereka.
" Ada apa ini?" tanya Daddy Alex dengan heran.
" Kau tanyakan saja pada putra mu, sehingga membuat menantuku tidak bisa berjalan !"
" Nak."
" Kita makan saja dulu Daddy, nanti aku siap menerima segala umpatan dan nasehat atau wejangan dari kalian berdua."
" Sayang", sela Yura.
" Kita mulai makan hmmm ... mau apa? Biar aku yang akan suapi kamu ! Kita sepiring berdua ya ?"
Dengan posisi duduk Erlangga yang masih memangku Yura di meja makan.
" Terserah kamu saja !"
Merasa kasihan pada Yura, Bunda pun membiarkan acara makan malam tersebut berjalan seperti biasa. Agar menantunya punya tenaga kembali.
Padahal dalam hati, ia merutuki sikap putranya sendiri.
" Kalau begini kok Daddy ingin bulan madu sama bundamu ", celetuk Daddy Alex setelah selesai makan.
" Bulan madu ! Hahaha ... Yang seharusnya bukan madu aku dan Yura Dad . Kalian sudah tua biarkan aku yang akan membuat banyak cucu untuk Daddy dan Bunda."
" Dari pada kita melihat mereka tebar bucin di ruang makan, Bunda setuju sama Daddy. Kapan kita mau pergi biar Bunda siapkan semua !"
" Sayang kau sungguh sangat mengerti suamimu ini."
" Tentu saja kita sudah 18 th menikah, luar dalam pun aku mengerti tentang kamu sayang."
" Sudahlah, aku dan Yura pergi ke atas dulu ."
Sedangkan Bunda Anisa dan Daddy Alex saling lirik satu , karena berhasil menggoda putra semata wayang mereka.
" Apa Kakak besok banyak membawa peralatan OSPEK?"
" Tidak terlalu banyak yang, kau tenang saja semua sudah disiapkan jadi besok aku hanya mencari tanda tangan para anggota BEM yang belum lengkap."
" Sayang apa kau yakin akan mengambil 2 jurusan sekaligus ?"
" Kau tenang saja semua sudah aku atur di Universitas Y dan Universitas yang menerima ku di Jerman. Doakan ya semuanya lancar tanpa hambatan sehingga aku lulus nantinya."
" Tentu saja Kak, aku selalu berdoa demi kebaikanmu."
" Bagaimana tentang kegiatanmu sebagai kelas XII ?"
__ADS_1
" Kayaknya guru kelas XII sekarang sering memberikan pre tes sebelum memulai mata pelajarannya."
" Mungkin maksud guru itu ingin mengetahui seberapa jauh dan paham atas pengetahuan murid didiknya. Sehingga nanti kalau ada yang kurang bisa segera diajari lagi sebelum kamu dan yang lainnya seperti aku dulu. Ikut Ujian Nasional."
" Iya Kak, untung kemarin aku sempat baca buku di perpustakaan kecil di ruang kerjamu. Jadi lumayan aku bisa menjawabnya."
" Kau masih ingin belajar lagi? Kalau begitu aku akan ambil laptop dulu ingin memeriksa beberapa dokumen yang dikirim dari kantor."
" Iya Kak."
Entah sudah pukul berapa, Erlangga baru tersadar jika tidak mendengar suara dari sang istri.
Ia melihat Yura tertidur di atas meja belajar, sambil kepalanya ada di atas buku pelajaran.
Erlangga pun menyimpan file yang sudah ia periksa dan segera mematikan laptopnya. Ia segera menuju sang istri.
" Bahkan ketika kau tertidur pun, terlihat cantik dan menggemaskan, mana mungkin aku bisa berpaling ke lain hati yang" , ucap Erlangga sambil menyentuh pipi Yura.
Tidak ingin membuat Yura terganggu, ia segera memindahkan sang istri ke atas ranjang sedangkan buku yang masih berserakan di atas meja belajar. Erlangga rapikan dan memasukan ke dalam ransel Yura , menyesuaikan dengan jadwal mata pelajaran yang akan Yura dapatkan besok.
Setelah semuanya beres, ia pun menyusul sang istri untuk tidur.
Sementara itu, Rangga merutuki dirinya sendiri sehingga membuat sang istri menjadi marah hingga tidak mau berbicara kepadanya.
" Loh kenapa kalian pulang tidak bersama - sama?" tanya Ibu Hani.
Kinara yang mendengar pertanyaan sang ibu mertua, mendadak tidak punya alasan yang pasti.
Untung saja , Rangga datang di saat yang tepat.
" Itu karena Rangga harus menyelesaikan beberapa urusan di kampus Bu, jadi aku menyuruh Kinara agar pulang lebih dulu", jelas Rangga dengan santai.
" Bahkan dia bisa membuat alasan secepat itu dihadapan Ibu", gumam Kinara dalam hati.
" Kenapa kalian berdua saling terdiam, apa kalian bertengkar?"
" Tidak Bu, kami baik-baik saja."
" Kalau begitu, Rangga Ibu pinjam istrimu sebentar ke dapur ya? hari ini Ibu ingin membuat menu yang sering Kinara masak untuk makan malam kita."
Kinara pun langsung mengikuti sang mertua ke dapur. Sedangkan Rangga masih terpaku di tempatnya berdiri.
" Apa ada yang aku tidak tau? Sejak kapan dia sering memasak bersama Ibu ?" banyak pertanyaan yang bersarang di kepala Rangga.
Hal itu membuat Rangga semakin tertarik oleh sosok sang istri. Entah ini yang disebut cinta atau tidak tapi ia tidak ingin orang lain bisa menikmati dan merasakan masakan dari Kinara.
Bahkan sejak tadi, saat ia mengejar laju mobil yang dikendarai oleh sopir keluarganya. Ia sampai memerintahkan beberapa pengawal untuk menjaga sang istri, dan mengabari dimana lokasi Kinara berada. Karena dia sadar dan menyesal sudah mengatakan hal yang mungkin menyakiti hati Kinara.
__ADS_1
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...