Benang Merah Takdir

Benang Merah Takdir
22. Bab 22


__ADS_3

"Ah.. Ternyata jauh ya ma?" kata Elvan sembari meregangkan otot-ototnya. Dia tak menyangka jika perjalanan ke tempat kelahiran mamanya memakan waktu berjam-jam.


"Emang.. Yuk bangunin mama!" pinta Alenka sembari mengeluarkan barang-barang dari bagasi mobil Andreas. Mereka tidak membawa barang banyak. Hanya pakaian dan beberapa barang berharga. Karena Andreas telah menyiapkan rumah beserta isinya untuk Alenka dan anaknya.


"Om, kapan om ajak aku main?" Elvan menarik-narik tangan Andreas.


"Kamu nggak capek? Kan habis perjalanan jauh."


"Nggak om. Tadi aku udah tidur di mobil kok." jawab Elvan dengan cepat.


"Om Andreas capek, El. Besok aja jalan-jalannya setelah mama pulang kerja." sahut Alenka. Dia tidak enak hati dengan Andreas karena rengekan anaknya.


"Kamu istirahat aja dulu! Nanti sore om ajak main di taman deket sini!" Andreas begitu sabar menghadapi rengekan Elvan. Ia menyentuh lembut kepala Elvan. Ia sudah terbiasa dengan rengekan anak itu.


"Janji?"


"Iya.."


Elvan kemudian langsung berlari menuju kamar yang tersedia. "Ma, kamar kita sini aja ya!" Elvan memilih salah satu dari dua kamar yang tersedia.


Alenka hanya tersenyum sembari menganggukan kepalanya. Setelah Elvan masuk ke kamar. Alenka kemudian membuatkan minum untuk Andreas. "Makasih ya pak, karena sudah begitu baik ke saya dan anak saya." kata Alenka.


Setelah sekian lama. Alenka masih saja begitu sopan kepada Andeas. Meskipun sudah sangat akrab.


"Nggak masalah. Aku suka sama Elvan, dia pintar dan lucu." jawab Andreas.


"Kalau gitu kamu juga istirahat aja dulu. Nanti sore aku kesini lagi!" Alenka menganggukan kepalanya.


Andreas kemudian pulang. Dia juga perlu istirahat.


****


Tok.. Tok.. Tok..


Pintu rumah Alenka diketuk oleh seseorang. "Al..." seru seseorang dari luar pintu.


Masih dengan setengah sadar Alenka berjalan menuju pintu utama. Dia membuka pintu dan melihat Maya berdiri di depannya.


"Kak Maya?" gumam Alenka dengan senang.


Dia langsung memeluk Maya dengan erat. Sudah enam tahun tak bertemu, rasa rindu itu begitu dalam. "Aku kangen.." katanya.


"Kamu jahat. Kenapa nggak pamit sama aku?" omel Maya tapi dia nampak bahagia bisa bertemu kembali dengan Alenka.


"Maaf.. Masuk yuk kak! Pak Andreas yang kasih tahu kalau aku tinggal disini?" Maya menganggukan kepalanya dengan cepat.


"Kenapa kamu nggak pernah hubungi aku? Kamu udah nggak anggep aku kakak kamu lagi?" omelnya lagi.

__ADS_1


"Aku minta nomer kamu dari pak Andreas nggak pernah dikasih. Tanya dimana kamu juga nggak pernah di kasih tahu." gerutu Maya dengan kesal.


Alenka hanya tersenyum kecil. Ia tersenyum bahagia karena Maya sama sekali tidak pernah melupakannya. "Kak Maya tambah cantik aja." puji Alenka.


"Ma.. Aku laper.." Elvan berjalan menuju ruang tamu sembari mengucek matanya.


"Dia??" Maya terkejut melihat sosok Elvan.


"Anak aku. El, sini kenalan sama tante dulu!" Alenka memanggil anaknya agar mendekat.


"Hallo tante.." sapa Elvan dengan sopan.


"Hallo ganteng.. Nama kamu siapa?" tanya Maya dengan gemas.


"Elvan tante." Maya yang suka langsung mencubit pipi Elvan dengan gemas.


"Ih.. Ganteng banget.."


"Elvan lapar?" Elvan menganggukan kepalanya. Dari siang dia memang belum makan.


"Makan sama tante yuk! Kamu suka es krim nggak?"


"Suka tante.."


"Nanti setelah makan, kita beli es krim. Tante juga suka yang rasa coklat.."


"Aku juga suka yang rasa coklat sama strawberri.."


Elvan dengan senang menyambut tangan Maya. Mereka segera berjalan menuju mobil Maya. "Ayo ma!" seru Elvan.


Alenka kemudian mengikuti mereka masuk ke dalam mobil. Maya membawa ibu dan anak itu pergi ke mall. Disana, Elvan merasa sangat bahagia. Sebelumnya dia tidak pernah main ke tempat seperti itu. Maya mengajak Elvan untuk mainan sepuasnya.


Pertama kali ketemu dengan Elvan. Maya sudah langsung menyayangi anak berusia lima tahun tersebut.


"Makasih kak karena udah bikin Elvan seneng." kata Alenka.


"Nggak masalah. Aku suka sama dia. Lucu dan gemesin." Maya tak pernah mengalihkan pandangannya dari Elvan. Sementara Elvan terlihat begitu sangat bahagia.


"Dia anaknya pak Samuel kan?" Alenka membulatkan matanya. Dari mana Maya bisa tahu. Padahal dia tidak memberitahu siapapun kecuali Andreas. Dia juga batal memberitahu Samuel waktu itu.


"Bukan. Dia anak aku sendiri." jawab Alenka.


Seketika Maya menatap Alenka yang nampak marah. Ada sesuatu yang membuatnya marah ketika Maya menyebut nama Samuel. Seperti membuka luka lama dihati Alenka.


"Kak Maya masih sama pak Yoga?"


"Hem.. Kita putus nyambung. Rencananya bulan depan mau tunangan."

__ADS_1


"Ah.. Selamat kak Maya.." Alenka memeluk Maya dengan erat.


"Kamu dilarang kabur lagi! Harus nungguin aku waktu aku nikah!" ucap Maya sembari memukul pelan tangan Alenka yang mengalung di lehernya.


"Siap bos.."


Setelah puas main di mall. Alenka dan Maya membawa Elvan main di taman. Elvan benar-benar merasa sangat bahagia. Ia berlari kesana kemari dengan bahagia.


"Awas El, jangan lari-lari nanti jatuh!" Alenka memperingati anaknya agar tidak berlarian. Ia takut anaknya akan jatuh dan terluka.


Sebelumnya, Alenka menghubungi Andreas terlebih dahulu. Ia mengatakan jika dirinya sedang pergi bersama Maya untuk melepas kangen.


"Ma, aku mau naik ayunan.." Elvan segera berlari menuju ayunan yang kosong.


"Akh.." tiba-tiba Elvan berseru. Dia jatuh dari ayunan.


Tentu saja itu membuat Alenka dan juga Maya menjadi kaget. Mereka segera berlari setelah mendengar teriakan Elvan. "Nah, mama kan udah bilang, hati-hati!" dalam keadaan darurat Alenka masih sempat mengomel.


"Huaa... Maaf ma.. Sakit..." Elvan menangis.


Alenka dan Maya segera menolong Elvan. Mereka mengangkat Elvan dan segera membawanya ke rumah sakit. Pada saat itu darah segar mengalir dari hidung Elvan.


"Bawa ke rumah sakit Al!" pinta Maya segera berlari menuju mobilnya. Sementara Alenka menggendong anaknya dengan khawatir.


"El, kamu harus bertahan! Kita ke rumah sakit ya!" Elvan sudah tidak bisa menjawab. Badannya mulai lemah. Ia hanya menganggukan kepalanya saja.


"El, kamu harus tahan! Mama takut El, cuma kamu yang mama miliki." gumam Alenka sembari menangis.


"Tenang Alenka! Elvan pasti akan baik-baik saja." Maya menenangkan Alenka yang begitu sangat khawatir dengan keselamatan anaknya.


Tak lama, mereka sampai di rumah sakit. Segera Alenka membawa lari anaknya. "Dok, tolong anak saya!" serunya. Pada saat itu bajunya terkena noda darah yang terus mengalir dari hidung anaknya. Tapi, dia tidak peduli. Yang dia pedulikan anaknya segera ditolong.


"Ibu menunggu disini aja!" kata perawat.


Sementara dokter mencoba menolong Elvan. Alenka terus mondar mandir di depan Unit Gawat Darurat. Mulutnya berhenti memanjatkan doa untuk kesembuhan dan keselamatan anaknya.


"Yang tenang ya! Elvan pasti tidak akan kenapa-napa!" Maya kembali menguatkan Alenka. Ia memeluk Alenka dengan lembut.


"Semoga kak.." jawabnya.


Pada saat mereka menunggu Elvan di depan Unit Gawat Darurat. Tiba-tiba seorang lelaki berteriak-teriak memanggil dokter. Lelaki itu menggendong seorang anak kecil berumur sekitar dua tahun. Sepertinya anak itu mengalami kejang.


"Dokter! Suster! Tolong!" serunya.


Sementara ibu sang anak hanya terus menangis di sebelahnya. "Dokter tolong!" seru ibu sang anak tersebut.


Perawat segera berlari untuk memberikan pertolongan. Lelaki dewasa itu membawa anak kecil yang ia gendong untuk segera mendapatkan perawatan.

__ADS_1


Namun di sisi lain. Alenka salah fokus dengan lelaki itu. Ternyata tak lain dan bukan, lelaki itu adalah Samuel. Dia menggendong anak kecil itu dengan begitu cemas. Sampai dia tidak memperhatikan Alenka dan Maya yang ada di tempat itu juga.


Tanpa sadar Alenka memegangi dadanya. Ia mengira bahwa dia tidak peduli. Tapi masih ada sakit yang tak bisa dijelaskan ketika melihat pemandangan itu.


__ADS_2