
Setibanya di kediaman Bramasta, Erlangga langsung saja membawa Yura masuk ke dalam kamar mereka.
Tentu saja, rasa cemburu Erlangga, belum sepenuhnya mereda. Bahkan ia sekarang langsung mengungkung Yura.
" Jadi yang, hukuman apa yang sesuai untuk mu hmmm ...?" tanya Erlangga sambil mengelus pipi Yura.
Deg.
" Bodoh kamu Ra, sudah tau punya suami yang cemburuan, seharusnya tadi jangan mengijinkan lelaki lain duduk bareng disana", rutuk Yura dalam hati.
" Kenapa diam?"
" Kak, sepertinya kamu lupa membuatkan aku susu hamil?"
" Jangan mengalihkan pembicaraan kita, sayang."
Karena tidak kunjung mendapatkan jawaban dari Yura. Erlangga tentu saja menyiksa Yura dengan cara menyentuh tiap titik sensitif sang istri.
Bahkan Yura yang akan menahan sekuat tenaga agar tidak mengeluarkan ******* yang mengakibatkan dia akan luluh dengan suaminya.
Erlangga yang sudah melihat gerakan Yura yang tidak bisa bertahan lagi. Segera saja melakukan aksinya.
Dengan penuh senyum Erlangga pun berhasil membuat istrinya mengeluarkan kata yang ia inginkan.
"Cepat sentuh aku, sayang ! Ahh ... Ah !"
" Dengan senang hati yang."
Sudah mendapatkan lampu hijau, tentu saja Erlangga tidak akan menyia-nyiakan kesempatan di depan mata. Dan kegiatan ranjang yang panas pun terjadi berulang-ulang kali. Hingga mereka berdua tertidur.
SKIP
Satu bulan berlalu dengan cepat. Perkiraan dari dokter kandungan yang selama ini menangani Yura. Diperkirakan Yura akan melahirkan minggu depan.
Tentu saja Erlangga sebagai suami siaga. Lebih over protective, over posesif dan over segalanya kalau hal itu berkaitan dengan Yura dan calon bayi mereka.
" Sayang, hari ini ibu mertua dengan Kinara akan datang berkunjung."
" Kok kakak baru bilang pada ku?"
" Ya maaf, aku lupa karena kemarin sangat sibuk di kampus."
" Iya di maafkan, tapi permintaan aku kali ini kamu harus turutin !"
" Mau apa?"
" Nanti belikan aku dress hamil yang baru, terus belikan aku slice cake strawberry yang ada di bakery nya bunda ."
" Kalau itu gampang lah, kau tunggu saja di rumah, nanti akan aku belikan semuanya."
Setelah mengantarkan Erlangga ke depan rumah, sebelum Erlangga berangkat ke kampus.
Kini, Yura sedang menunggu ibu dan kakak iparnya di ruang tamu.
Ting ... Tong ... Ting ... Tong
" Bik, tolong bukakan pintunya!"
" Iya nyonya muda."
__ADS_1
Akhirnya, 2 tamu yang dari tadi ditunggu muncul. Siapa lagi kalau bukan Ibu Hani dengan Kinara.
" Yura", panggil Kinara.
" Kakak", seru Yura sambil berlari memeluk Kinara dan ibunya.
" Kok kalian bawa banyak barang, ini semua untuk siapa?"
" Ya ini untuk kita masaklah, kan dua hari lalu kamu ngidam nyuruh Ibu sama Kinara kesini masakin kamu."
" Hehehe, maafkan Yura Bu. Aku terkadang lupa."
" Hari sudah menginjak sore, lebih baik kita mulai masak sekarang !" ucap Kinara.
" Ayo !"
Suasana dapur pun kian bertambah ramai, saat Bunda Anisa juga ikut bergabung memasak.
Yura yang sedang mengaduk soto, sampai berkeringat dan terkadang meringis menahan sakit.
" Ra, kamu gapapa nak?" tanya Ibu Hani.
" Aku gapapa kok Bu, biasa ada sedikit kontraksi menjelang persalinan."
" Sudah, kamu istirahat saja dulu ! Biar kami bertiga yang akan melanjutkan."
Yura pun menyudahi kegiatan masaknya dan berjalan menuju sofa di ruang tamu. Disana ia duduk dan bersandar sambil mengelus lembut perutnya yang sudah membesar.
Yura berharap agar rasa nyeri yang ia dapat sedikit mereda. Namun 1 jam berlalu, ternyata rasa nyeri dan kontraksi yang ia dapat bertambah intensitasnya
Yura pun berusaha tenang dan mengatur nafasnya, dan tidak boleh panik.
Bunda Anisa, Ibu Hani dan Kinara pun telah selesai memasak dan tinggal menghidangkan semua masakannya saja di meja makan. Melihat Yura tidak datang ke dapur. Membuat Bunda Anisa ingin menengok menantunya ke dalam ruang tamu.
" Astaga Yura, air ketuban mu sudah pecah", teriak Bunda Anisa.
Yura pun serta merta melihat ada cairan yang keluar dari pangkal pahanya.
Tentu saja kontraksi kian bertambah, dan menyebabkan Yura meringis mengerang kesakitan.
" Hani, Kinara, cepat kesini ! Bantu aku membawa Yura ke rumah sakit !" teriak Bunda Anisa.
Mendengar teriakan Bunda Anisa. Tentu saja Ibu Hani dan Kinara segera menghampiri. Dan mereka juga ikutan panik dengan kondisi Yura yang akan segera melahirkan.
Para pengawal dan pelayan pun sudah bersiap jika hari kelahiran anak majikannya akan tiba.
Bunda Anisa pun menghubungi Erlangga dan suaminya.
Tidak lupa sekarang ia memapah Yura masuk ke dalam mobil yang akan mengantarkan mereka ke rumah sakit.
Sedangkan Ibu Hani, Kinara dan dibantu oleh para pelayan. Menyiapkan keperluan Yura selama di rumah sakit. Tentu saja menyiapkan keperluan bayi yang sudah di tata rapi di dalam koper dan tas.
Mereka berdua pun menyusul Yura ke rumah sakit. Tidak lupa Kinara juga mengabari Rangga dan ayah mertuanya.
Di lorong fakultas kedokteran.
" Apa? Baiklah aku akan kesana Bun, titip Yura." jawab Erlangga sebelum mematikan handphone nya dan berlari ke arah parkiran mobil.
Saat ini Yura sudah berada di ruang VK. Dokter kandungan dan tim dokter yang lain sudah saling berdatangan memasuki ruang VK. Ketika dokter memeriksa kondisi Yura. Bukaan sudah sembilan tinggal satu bukaan lagi maka bayi tersebut akan lahir.
__ADS_1
" Nyonya apa anda mendengar saya?" tanya dokter.
" Iya dok saya dengar."
" Kalau begitu sambil menunggu suami anda datang. Coba tarik nafas perlahan dan tenang , ikuti instruksi saya !"
" Baik dok."
Yura yang sedang berjuang di ruang bersalin.
Dikejutkan dengan kedatangan Erlangga yang sudah berganti dengan pakaian steril.
" Tenanglah sayang, aku sudah datang", sahut Erlangga sambil memegang salah satu tangan Yura.
" Baiklah pembukaannya sudah lengkap, kita mulai proses persalinannya!"
Yura pun mengikuti instruksi dari dokter dan perawat yang berada di ruang bersalin. Hingga tangisan bayi pun terdengar.
Hoek ... Hoek ... Hoek.
" Bayi pertama berjenis kelamin laki-laki", ucap dokter.
Lalu bayi tersebut dibawa oleh perawat untuk di bersihkan.
" Nyonya , anda tidak boleh terpejam ! Berjuanglah sedikit lagi, bayi kedua anda akan segera keluar !"
Hoek ... Hoek ... Hoek
" Selamat nyonya dan tuan, bayi ke dua kalian juga berjenis kelamin laki-laki.
Erlangga pun berucap syukur kepada Tuhan, dan berterima kasih kepada istrinya, karena sudah memberikannya anak kembar.
" Sayang, i love you, terima kasih atas segalanya !"
Yura pun hanya bisa mengangguk dan tersenyum melihat suaminya.
Sedangkan di luar ruang bersalin. Bunda Anisa dan Daddy Alex saling berpelukan mendengar dua tangisan bayi. Begitupun dengan Ayah Kevin, Ibu Hani, Kinara beserta Rangga.
Mereka semua sangat bahagia dan bersyukur atas kelahiran bayi Yura dan Erlangga.
Pintu ruang bersalin pun terbuka. Erlangga langsung mengumumkan bahwa bayi mereka berdua kembar dan keduanya berjenis kelamin laki-laki.
Tangis kebahagiaan pun tak bisa terbendung.
Kini setelah Yura dipindahkan ke kamar rawat inap beserta kedua bayi kembar mereka.
Bunda Anisa dan Ibu Hani pun berebut ingin menggendong cucu mereka.
" Wah mereka berdua tampan sekali, bahkan hampir 80% semuanya mirip dengan Erlangga hanya 20 % mirip Yura", ucap Rangga.
" Iya kak, kenapa aku yang mengandungnya selama 9 bulan tapi hampir semua mirip dengan Daddy nya", jelas Yura.
" Oh iya, jadi siapa nama keponakan kembarku ini Ra?" tanya Kinara.
" Biar aku yang mengatakannya sayang", ucap Erlangga kepada Yura.
" Si kakak bernama Kenzo Bramasta dan adiknya bernama Kenzie Bramasta ."
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
__ADS_1