Benang Merah Takdir

Benang Merah Takdir
18. Bab 18


__ADS_3

"Aku akan menikahi wanita lain. Jadi mulai sekarang kita putus!"


Dyarr.. Alenka membulatkan matanya. Dia seakan tak percaya dengan apa yang dia dengar dari mulut Samuel. "Mak..sud kamu apa? Aku belum ngerti?" Alenka masih berusaha meyakinkan hatinya bahwa apa yang ia dengar itu tidaklah benar.


"Hubungan antara aku dan kamu, sudah berakhir. Aku akan menikah dengan orang lain." kata Samuel tanpa beban sama sekali. Dia bahkan masih bisa menatap Alenka.


Jujur, saat itu hati Alenka bagai ditusuk ribuan duri. Dia merasakan tubuhnya lemas seketika. Namun, dia berusaha untuk tetap kuat.


"Oh, jadi selama ini kamu hanya berpura-pura bilang cinta sama aku? Semua kata cinta kamu itu palsu?" seru Alenka yang tak kuat menahan amarahnya.


"Kenapa kamu tega, Muel?" tanya Alenka sembari menatap Samuel tajam.


"Kenapa aku tega? Harus kamu bisa mikir sendiri. Bagaimana sakitnya hati aku saat kamu putusin aku tanpa penjelasan." seru Samuel juga marah.


"Oh, jadi kamu balas dendam. Semua janji dan kata cinta itu hanya bohongan?" Alenka menahan sakit hatinya sampai hatinya terasa sesak. Tanpa sadar air matanya jatuh tak terkendali.


Samuel membuang muka. Kini, apa yang menjadi tujuannya telah tercapai. Ia bisa membalaskan dendamnya. Sebenarnya, semua kata cinta yang ia katakan bukan sebuah kebohongan. Dia memang masih sangat mencintai Alenka. Dan berharap bisa hidup bersama selamanya dengan Alenka. Tapi tujuannya tetap ingin membalas dendam.


Harus diakui pada saat itu, hati Samuel juga merasakan sakit. Apalagi ketika melihat air mata Alenka yang mengalir tanpa kendali.


"Jika memang wanita itu yang bisa bahagiain kamu. Aku ikhlas. Selamat untuk pernikahan kamu. Aku juga akan segera keluar dari apartemen ini." kata Alenka sambil menahan sakit hatinya.


Air matanya terus mengalir. Tangannya juga meremas kertas hasil pemeriksaannya. Tidak ada gunanya lagi memberitahu Samuel mengenai kehamilannya. Dia akan merawat anak itu sendiri tanpa papanya.


Alenka kemudian teringat akan perkataan Andreas beberapa waktu lalu. Dia pun menyadari kesalahannya karena telah marah dengan bos-nya. Dan lebih percaya Samuel.


Setelah cukup lama terdiam. Samuel akhirnya membereskan barangnya dan kemudian meninggalkan Alenka tanpa rasa iba sama sekali.


"Jaga diri kamu!" katanya dengan dingin.


"Ya. Selamat atas pernikahan kamu. Mulai besok, aku tidak akan pernah muncul lagi di depan kamu. Terima kasih untuk semua hal indah yang pernah kamu beri. Aku harap ini pertemuan kita yang terakhir kalinya." tutur Alenka sambil mengusap air matanya.


Samuel hanya terdiam. Setelah kemudian dia keluar dari apartemen tersebut. Pada saat itu pecahlah tangisan Alenka kembali.

__ADS_1


Dadanya terasa sakit dan sesak. Alenka bahkan terjatuh sembari memegangi dadanya. Dia tak pernah menyangka bahwa akhir dari kisah cintanya akan seperti ini.


Semalaman Alenka terus menangis. Hatinya benar-benar terasa sakit. Kini ia baru sadar jika selama ini telah dibutakan oleh cintanya kepada Samuel.


"Mama akan tetap rawat kamu, nak. Apapun yang terjadi. Karena yang mama miliki hanya kamu." ucapnya sembari mengelus perutnya.


Keesokan paginya, Alenka menemui Andreas di ruangannya. Selain meminta maaf, Alenka juga berpamitan. Setelah berpikir lama, dia memutuskan untuk resign dan pindah dari kota tersebut.


"Pak, saya mau minta maaf karena tidak percaya dengan perkataan bapak. Sekalian saya mau ajukan surat pengunduran diri saya." kata Alenka.


Andreas tak menduga jika Alenka memilih untuk keluar dari pekerjaannya. "Kenapa harus resign?" tanya Andreas.


"Saya mau menenangkan diri pak. Saya ingin pindah ke tempat yang baru."


"Mau pergi kemana?" Alenka menggelengkan kepalanya. Dia belum memiliki tujuan yang pasti. Karena juga tidak mempunyai siapapun selain pamannya. Tapi, tidak mungkin dia akan kembali ke rumah pamannya. Apalagi dalam keadaan dia sedang hamil.


"Aku tahu kamu sedang kecewa. Aku tahu kamu saat ini sedang terluka. Tapi, kalau kamu nggak kerja kamu mau gimana? Sedangkan kamu tidak memiliki siapa-siapa." kata Andreas dengan penuh perhatian.


"Kenapa nggak disini aja lalu melupakan semuanya?" tanya Andreas lagi.


Andreas maju dan memberikan sapu tangannya. "Kamu beneran ingin pergi?" Alenka menganggukan kepalanya.


"Hah.. Oke kalau gitu, kamu tidak perlu resign. Aku akan mutasi kamu ke kantor cabang yang ada di kota A." tentu saja Andreas tidak mau melepaskan aset berharga seperti Alenka. Ia memiliki banyak talenta yang bisa memajukan perusahaan Andreas.


"Kantor cabang?" Alenka baru tahu mengenai kantor cabang itu.


"Ya. Tapi bukan kantor yang besar. Kamu harus berusaha membuat kantor cabang itu menjadi besar! Apa kamu sanggup?" Alenka dengan cepat menganggukan kepalanya.


"Tapi, saya mohon, pak Andreas jangan beri tahu siapapun tentang keberadaan saya. Siapapun." pinta Alenka.


"... Ya."


"Kalau gitu kamu mulai bersiap. Lusa aku antar kamu kesana!" kata Andreas.

__ADS_1


Sebenarnya, Andreas hanya tidak ingin berpisah dengan Alenka. Dia baru menyadari jika dia menyukai Alenka. Rasanya tidak rela jika harus jauh dari Alenka.


"Terima kasih pak." Alenka mulai menemukan secercah cahaya untuk dirinya.


"Kita akan pergi dan memulai kehidupan kita di tempat yang baru nak." gumamnya sembari mengelus perutnya. Mengelus perut, kini menjadi kebiasaan barunya. Itu adalah cara dia berkomunikasi dengan calon anaknya.


Karena tidak mau diketahui oleh teman-temannya jika dia akan pindah. Alenka sengaja mengajak mereka makan sebagai acara perpisahan untuk dirinya sendiri.


"Kak Maya, nanti siang makan bareng yuk! Aku traktir." ajaknya.


"Oke, boleh."


"Nanti siang aku tunggu di kafe biasa ya!"


Bukan hanya Maya. Ia juga mengajak Sisil untuk makan siang bersama. Ia ingin berpamitan secara tidak langsung.


"Tumben ngajak makan siang, menang taruhan lagi?" tanya Sisil.


"Hmm.." Alenka masih bisa tersenyum saat bersama dengan teman-temannya. Ia juga masih bisa bersendau gurau seperti biasa.


"Kamu udah periksa ke dokter?" tanya Maya.


"Periksa? Emang Alenka kenapa?" tanya Sisil penasaran dan juga khawatir.


"Nggak kenapa-napa, cuma kecapekan aja kok." jawab Alenka dengan santai.


"Jangan begadang terus! Jaga kesehatan kamu!" tutur Maya.


"Iya Al. Kamu keseringan begadang lihat bola. Jaga kesehatan kamu!" sahut Sisil juga memperingati Alenka agar menjaga tubuhnya.


Alenka pun tak kuasa menahan air matanya. Dia memeluk kedua sahabatnya itu. "Terima kasih, terima kasih." isaknya.


"Aku tidak akan pernah melupakan kalian. Aku akan selalu merindukan momen seperti ini." kata Alenka.

__ADS_1


Namun pada saat itu, baik Sisil maupun Maya tidak ngeh dengan apa yang Alenka katakan. Mereka menganggap perkataan itu wajar-wajar aja.


__ADS_2