Benang Merah Takdir

Benang Merah Takdir
24. Bab 24


__ADS_3

Karena Alenka sudah kembali. Tidak sulit untuk Samuel menemukan tempat tinggal Alenka. Dia telah memerintahkan seseorang untuk mencari tahu tempat tinggal Alenka.


"Arya sudah jalan pulang?" tanya Samuel kepada Rea.


"Kayaknya lagi naik pesawat kak, tadi udah bilang kalau segera pulang." jawab Rea.


"Kak Samuel tadi kayak ngejar seseorang, siapa kak?"


"Alenka dan anakku." jawab Samuel.


Tentu saja Rea kaget mendengar jawaban Samuel. Dia tahu nama Alenka, tapi belum pernah ketemu dengannya. Rea pun menjadi merasa bersalah. Dia tahu kakak iparnya itu sudah lama mencari wanita bernama Alenka tersebut. "Maaf kak.." katanya.


"Nggak apa, aku sudah minta orang untuk cari tahu tempat tinggalnya."


"Ketemu?"


"Ya." Samuel menganggukan kepalanya.


"Syukurlah.. Kenapa kak Samuel nggak kesana?" tanya Rea.


"Nanti aja. Tunggu Arya datang. Aku dan Alenka masih punya banyak waktu." jawab Samuel. Sebenarnya, dia juga ingin segera mendatangi Alenka dan anaknya. Namun, dia juga tidak tega meninggalkan Rea dan anaknya sendirian.


"Alenka marah sama kakak?" Samuel menganggukan kepalanya dengan cepat.


"Kak, aku mau jelasin semuanya ke Alenka. Aku mau bantuin kakak untuk jelasin semua ke Alenka." kata Rea.


Samuel menatap Rea dengan lekat. Dia tersenyum kecil sembari menyentuh kepala Rea. "Makasih ya.." katanya.


"Sama-sama kak. Makasih juga karena kak Samuel sudah jadi kakak, paman yang baik untuk aku dan Alexa." tutur Rea.


"Anak kak Samuel cowok atau cewek?"


"Cowok. Matanya, bibirnya, alisnya, hidungnya persis kayak aku." Samuel mengingat anaknya lagi. Dia benar-benar merasa bahagia hanya dengan membayangkan anaknya saja.


Dia benar-benar tidak sabar ingin bertemu dengan anaknya lagi. Dia ingin memeluk, mencium anaknya. Namun, ada sesuatu hal yang ia sesali. Dia tidak meminta nomer Alenka terlebih dulu tadi.


"Pasti ganteng kayak kak Samuel. Ah,, aku tidak sabar ingin ketemu anak kak Samul. Namanya siapa?" Samuel hanya tersenyum kecil.


"Elvan."


****


Di rumah, Andreas telah menunggu Alenka dan Elvan. Sebelumnya mereka sudah berjanji akan main bareng. Tapi ternyata Alenka dan Elvan sudah pergi duluan bersama dengan Maya.


"Om Andreas..." Elvan berlari mendekati Andreas.


"Katanya kamu jatuh? Gimana keadaan kamu?" tanya Andreas.


"Nggak apa-apa om. Cuma hidung aku berdarah tadi." jawab Elvan dengan tersenyum kecil.


"Om, tadi aku ketemu papa." Andreas membulatkan matanya.

__ADS_1


"Oh ya?" Elvan menganggukan kepalanya dengan cepat.


"Papa aku ganteng ya om, kayak om Andreas. Aku seneng banget ketemu papa. Papa ngajak aku pulang tapi mama nggak mau." kata Elvan. Tanpa sengaja mata Alenka berkaca-kaca.


"Kamu istirahat dulu aja! Kata dokter kamu harus banyak istirahat kan?" Elvan mengangguk dengan cepat.


Elvan dibawa Andreas ke kamar. Lalu Andreas keluar dan duduk bersama dengan Alenka dan Maya.


"Kalian ketemu pak Samuel?" tanya Andreas.


"Ya. Dia lagi antar anaknya ke rumah sakit." jawab Alenka yang belum tahu kebenarannya.


"Tapi Al, dia bukan-" Maya terhenti, karena Andreas memintanya untuk diam.


Dia tak tahu kenapa Andreas sengaja menyembunyikan kebenarannya dari Alenka. Apa maksud dan tujuan Andreas melakukan hal tersebut.


Maya menjadi kesal kepada bos-nya tersebut. Dia menduga jika Andreas menyukai Alenka dan sengaja menyembunyikan kebenaran dari Alenka.


"Cepat atau lambat, pak Samuel akan tahu kalau kamu tinggal disini. Mungkin dia akan ambil anak kamu." kata Andreas membuat Alenka takut.


"Aku akan perjuangkan Elvan, apapun yang terjadi." kata Alenka dengan yakin.


Maya membulatkan matanya. Dia kesal karena Andreas tidak menceritakan kejadian yang sebenarnya. Tapi malah memprovokasi Alenka agar membenci Samuel. Meskipun dia tidak suka dengan cara Samuel memperlakukan Alenka dulu. Tapi dia tidak suka dengan apa yang Andreas lakukan. Licik itu namanya.


****


Arya tiba di rumah sakit malam hari. Ia langsung segera menuju ruang rawat anaknya. Disana, ada mamanya, Samuel dan juga istrinya. "Yank, gimana keadaan Alexa?" tanyanya.


"Nggak apa-apa. Alexa pasti cepat sembuh.." Arya memeluk istrinya dengan erat.


Samuel pun mendekat. "Karena Arya udah disini, aku pamit cari Elvan dulu!" katanya. Dia sudah tak sabar ingin bertemu anaknya lagi.


"Elvan? Siapa Elvan?"


"Anak aku."


"Anak kakak?" Arya membulatkan matanya.


"A..nak kamu? Alenka kembali?" tanya mamanya yang juga terkejut mendengar jawaban Samuel.


"Hmm.." Samuel menganggukan kepalanya dengan cepat.


"Dimana dia sekarang? Dimana cucu mama?" tanya mamanya Samuel dengan bahagia. Dia juga tidak sabar ingin bertemu dengan cucu kandungnya.


"Aku lagi mau bujuk mereka supaya mau pulang sama aku. Tapi, aku mohon mama jangan pernah lakuin apapun tanpa sepengetahuan aku!" kata Samuel.


"... Iya, mama nggak akan ulangi lagi. Tolong bawa cucu mama pulang!" kata mamanya Samuel.


"Aku akan berusaha." setelah itu Samuel pamit pergi untuk mencari anak dan istrinya.


"Semangat kak!" seru Arya dan Rea bersamaan.

__ADS_1


Samuel pergi ke tempat dimana anak buahnya memberi petunjuk keberadaan anak dan istrinya. Hatinya sangat bersemangat. Dia akan bertemu lagi dengan anaknya.


Tok.. Tok.. Tok..


Samuel mengetuk pintu rumah yang di duga tempat tinggal Alenka dengan anaknya. Hatinya benar-benar merasa bahagia.


Sedangkan di dalam rumah. Alenka yang sedang sibuk memasak, meminta Elvan untuk membukakan pintu. "El, tolong bukain pintu! Kayaknya itu om Andreas, ada barang yang ketinggalan kayaknya." pinta Alenka. Dia berseru dari dapur.


"Oke ma.." Elvan segera berlari kecil menuju pintu untuk membukakan pintu orang yang mengetuk pintu rumahnya.


Kaki kecil itu melangkah dengan cepat. Dia juga mengira bahwa itu adalah Andreas. "Apa yang ketinggalan om? Eh.. Papa?" mata Elvan membulat. Dia tak menyangka jika orang yang bertamu itu adalah papanya.


"Hallo jagoan papa.." sapa Samuel sembari mengangkat sesuatu yang ia bawa untuk anaknya.


"Papa bawa apa?"


"Bawa mainan untuk kamu. Papa boleh masuk nggak?" Elvan menganggukan kepalanya kemudian membuka pintu rumahnya lebar-lebar.


Samuel masuk bersama dengan anaknya. "Nih untuk kamu." ia juga memberikan mainan robot pintar untuk anaknya.


"Makasih pa.." Elvan merasa sangat senang.


"Mama dimana?" tanyanya.


"Masak di dapur."


Samuel kemudian berjalan menuju dapur. Tidak sulit baginya menemukan tempat tersebut karena rumah Alenka yang terbilang kecil. Sementara Elvan sudah tidak peduli lagi. Dia lebih asyik mainan robot pintar yang dibelikan oleh papanya.


"Siapa yang datang El?" tanya Alenka tanpa menoleh.


Perlahan demi perlahan, Samuel mendekatinya kemudian memeluknya dari belakang. "Aku yang datang.. Sayank, aku kangen.." kata Samuel yang mengagetkan Alenka.


"Darimana kamu tahu aku tinggal disini?" tanya Alenka.


"Di kota ini, tidak ada yang tidak aku tahu." jawab Samuel masih dengan memeluk Alenka.


Alenka meronta serta mendorong Samuel menjauh. "Maaf, jangan ganggu aku lagi! Kamu boleh ketemu Elvan, tapi jangan ganggu aku lagi!" kata Alenka.


"Tapi aku suka ganggu kamu.." Samuel kembali mendekat.


"Pak Samuel jangan tidak sopan!" seru Alenka mendorong Samuel lagi.


"Lebih baik pak Samuel pulang, kasihan anak bapak pasti cariin bapak." Alenka mendorong Samuel agar meninggalkan rumahnya.


"Anak aku udah ketemu aku, dia sekarang lagi mainan di depan."


"Pak Samuel bawa anak pak Samuel kesini?" tanya Alenka dengan kaget.


"Nggak, justru aku kesini karena ingin ketemu anakku." jawab Samuel.


"Pak, kalau bapak ingin ketemu Elvan, aku akan ijinin, tapi jangan pernah berpikir untuk ambil Elvan dari aku! Cuma dia yang aku punya." kata Alenka dengan tegas.

__ADS_1


Demi anaknya, dia akan melawan semua orang, termasuk Samuel. Karena hanya Elvan-lah keluarga yang Alenka miliki. Karena anaknya, adalah kekuatan serta nyawanya. Tak pernah ia membayangkan jika Elvan harus jauh darinya. Alenka lebih baik mati daripada pisah dengan anaknya.


__ADS_2