
" Apa yang sedang kau lihat Meta ?"
" Tidak ada yang aku lihat."
" Kau jangan berbohong, pasti kau sedang melihat sesuatu disana, hingga kau berdiri di dekat jendela cukup lama", ucap Jino.
" Kau tidak punya urusan dengan apa yang aku lihat, kau juga bukan siapa-siapa dalam hidupku. Jadi kau tidak usah ikut campur dengan urusanku !" jawab Meta yang langsung pergi meninggalkan Jino sendiri dengan terpaku.
" Sekarang memang aku tidak berhak ikut campur dengan urusanmu, tapi dulu aku berhak dan aku ingin mengembalikan sosok Meta yang dulu tidak seperti sekarang. Sungguh aku menyesal ."
Sementara di SMA Tunas Bangsa. Yura, Mila dan Diah sedang menunggu jemputan mereka.
" Bagaimananya hari pertama OSPEK nya Kak Malik? Semoga nggak ada yang jahat sama dia disana. Kalau ada mereka bakalan berhadapan dengan gue."
" Mila tenanglah oke, kita berdoa saja semoga OSPEK hari pertama buat mereka lancar, tidak ada penindasan dari para senior", ucap Yura dengan tenang.
" Kalau ada apa-apa dengan mereka pasti yang paling cepat ngasih info ya ayang Hendra."
" Lo benar juga, mungkin gue terlalu khawatir ."
Akhirnya ketiga pria yang ditunggu sejak tadi hampir tiba berbarengan.
" Sayang ayo kita pulang !"
" Iya Kak."
" Dila, Mila ayo kita juga ikut pulang ", teriak Hendra.
" Loh Kak Malik dimana?"
" Pacar lo lagi nunggu di mobil, tadi gue nebeng sama dia. Jadi kalian ikut gue pulang !"
" Oke."
" Sampai jumpa besok Yura dan Kak Erlangga."
" Bro gue pulang dulu", ucap Hendra.
" Iya, hati-hati ya kalian di jalan." sahut Erlangga.
Erlangga pun memegang tangan Yura dan menuju mobilnya untuk pulang.
" Kinara, tolong bawakan map yang ada di kamar kita, tadi Kakak lupa membawanya ke kampus !" ucap Rangga di seberang telepon.
" Iya, sebentar aku ke atas dulu jangan dimatikan telponnya !"
" Apa kau sudah menemukannya?"
" Mapnya warna apa Kak, di meja ada banyak ?"
__ADS_1
" Map warna biru , apa sudah ketemu?"
" Sudah, sekarang akan aku bawakan ke kampus !"
" Makasih ya, kamu diantar sopir rumah saja, nanti akan Kakak tunggu di depan kampus, jangan lupa telpon Kakak lagi kalau sudah sampai disana !"
" Iya"
Klik.
Kinara pun dengan cepat mengganti pakaiannya dengan pakaian kasual dan stylish khas mahasiswa. Melihat penampilannya sudah bagus. Ia pun mengambil tas selempang dan turun ke bawah sekalian pamit dengan mertuanya.
" Bu, aku ijin keluar sebentar ya ."
" Mantu cantik Ibu, mau kemana nih rapi dan cantik banget lagi."
" Mau ke kampus Kak Rangga Bu."
" Ngapain kesana?"
" Bawain mapnya Kak Rangga, yang tertinggal dirumah. Kayaknya ini penting makanya tadi Kinara di telpon sama dia."
" Ya sudah, kamu sudah bilang sama Pak Rahmat buat antar kesana !"
" Sudah Bu, kayaknya sekarang aku sudah ditunggu di depan."
" Hati-hati ya nak, kalau perlu kamu ikutan juga sama Rangga di kampus sekalian kan kamu bisa melihat kampus suamimu."
"Hihihi ... Rangga pasti akan kelimpungan melihat penampilan istrinya. Dasar memang anak itu, kalau cinta ya bilang langsung, kok susah amat dikasih tau. Kalau telat bilang pasti akan keduluan pria lain yang bisa merebut hati menantuku itu ! Semoga anak itu bisa cepat bertindak."
" Wah non Kinara cantik sekali lagi ini", ucap Pak Rahmat sang sopir keluarga Pradipta.
" Bapak bisa aja, tapi makasih Lo sudah memuji saja. Ayo Pak kita segera ke Kampus Kak Rangga !"
" Baik non Kinara."
40 menit berlalu, akhirnya Kinara sampai di kampus Rangga. Ia sebelumnya sudah mengabari sang suami terlebih dahulu ketika masih dalam perjalanan.
" Kinara" teriak Rangga dari lorong Fakultas Manajemen Bisnis.
" Kak"
" Pak Rahmat terima kasih sudah mendampingi istri saya."
" Sama-sama tuan muda, kalau begitu saya akan tunggu nona di parkiran ."
" Iya, biar dia bersamaku."
" Kak, ini mapnya" , sela Kinara sambil menyerahkan map kepada sang suami.
__ADS_1
Rangga pun berjalan semakin dekat ke arah sang istri, tak lupa ia mengikis jarak diantara mereka berdua.
" Siapa yang dandanin kamu kayak gini?"
" Aku, kenapa apa aneh jika aku seperti ini?" tanya Kinara dengan dahi mengkerut heran.
Rangga pun semakin maju memegang kedua tangan sang istri lalu menunduk dan berbisik kepada sang istri. " Karena aneh makanya aku bertanya dan aku ingin kau segera pulang ke rumah, nggak terlihat memukau sama sekali. Bahkan apa yang kau pakai tidak sesuai dengan yang seharusnya kau pakai jika ke kampus!"
Mendengar perkataan sang suami, senyuman yang awalnya selalu menghiasi wajah Kinara, berubah menjadi sedih dan murung bahkan terasa nyeri di hatinya. " Apa seburuk itukah aku di matamu Kak, bahkan kau tidak menghargai usahaku selama ini", jawab Kinara.
Rangga pun tersentak dan tersadar dengan ucapan sang istri, ia tidak bermaksud menyakiti istrinya. Tapi ia hanya tak ingin jika mata pria lain menatap lapar kepada Kinara.
Bagaimana tidak, penampilan istrinya yang tiba di kampus. Hampir membuat para pria lain yang melihat sang istri terpukau bahkan tertarik untuk melahap setiap jengkal lekuk tubuh istrinya.
Sungguh membuat Rangga marah dan emosi yang kian berkecamuk. Dia tidak mau pria lain mendekati atau bahkan melihat istri kecilnya itu. Ia istri kecil yang selalu bisa mengontak hati seorang Rangga Pradipta. Jika tak bertemu maka ada rasa kerinduan yang mendalam. Kadang Rangga mengingkari rasa cinta yang kian mendalam dihatinya yang sudah 100 persen milik sang istri.
Begitulah pria, egonya kadang selangit. Bahkan untuk mengucapkan cinta, sering membuat para wanita menerka dan sakit hati dengan maksud sebenarnya dari perlakuan pria.
" Maaf bukan maksud Kakak bicara seperti itu, itu karena ..."
" Cukup Kak, aku pulang dulu !"
Kinara pun berbalik meninggalkan sang suami. Ia berjalan sambil menahan air matanya yang akan keluar.
" Kinara tunggu ", teriak Rangga yang terus mengejar sang istri yang telah berlari.
Sedangkan di Kediaman Keluarga Bramasta. Yura dan Erlangga sedang mandi berdua. Mereka sedang berendam di dalam bathtub.
" Kak."
" Apa yang hmmm ..?"
" Jari tanganmu."
" Ada apa dengan jari tanganku."
" I-itu ..."
Suara Yura pun mendadak hilang. Ketika Erlangga ******p bibir sang istri dengan rakus. Bahkan ia tidak memberi celah bagi Yura untuk bernafas sejenak.
" Ah ... ah ... ahh"
Suara erangan penuh kenikmatan menggema di dalam kamar mandi. Bahkan kegiatan panas itu terulang beberapa ronde. Hingga Yura lemas dan pasrah kepada Erlangga.
" Kita bersama sayang, ah ... ahh ."
Byur.
" Kau selalu membuat aku puas yang, makasih ya ... Cup."
__ADS_1
Erlangga pun membasuh sang istri dan dirinya sendiri, lalu mengendong Yura yang telah kehabisan tenaga melayani sang suami. Membalut tubuh istrinya dengan handuk. Dan tentu saja membawa tubuh Yura ke ranjang panas mereka.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...