Benang Merah Takdir

Benang Merah Takdir
29. Bab 29


__ADS_3

"Al, boleh bicara sebentar!" kata mamanya Samuel.


"Iya tante.."


Rosie dan Alenka melihat Samuel yang sedang bermain dengan Elvan. Ayah dan anak itu nampak sangat bahagia. "Elvan sakit?" tanya Rosie.


Alenka menganggukan kepalanya pelan. "Iya.. Maaf karena aku nggak bisa jadi ibu yang baik, aku nggak bisa jaga dia.." lirih Alenka.


"Nggak Alenka, kamu ibu yang luar biasa. Terima kasih karena telah merawat Elvan dengan baik. Kita bersama-sama berjuang untuk kesembuhan Elvan ya!" kata Rosie yang membuat Alenka merasa lega.


Dia tak pernah menyangka kata-kata itu keluar dari mulut Rosie. Dulu, dia orang yang menentang hubungannya dengan Samuel. Bahkan melakukan banyak hal untuk memisahkan mereka. Tapi kini, dia menjadi nenek yang baik untuk anaknya. Alenka sangat bersyukur.


"Tidak mudah merawat anak seorang diri. Mama pernah mengalaminya, merawat Samuel dan Arya seorang diri. Kamu termasuk ibu yang hebat.." kata Rosie lagi.


"Terima kasih tante.."


"Mulai sekarang panggil mama! Besok kamu dan Samuel akan menikah. Jadi kamu juga anakku." tutur Rosie.


"Maafin mama yang dulu jahat sama kamu. Ternyata cinta kamu dan Samuel begitu sangat kuat. Tolong jaga Samuel ya! Dia meskipun emosian dan posesif, tapi kalau dia sudah cinta sama orang, dia akan sangat setia." imbuh Rosie.


"Iya tan- ma." jawab Alenka.


"Ya udah kalau gitu. Istirahat gih!"


"Makasih ma." Rosie menatap Alenka dengan tersenyum kecil. Lalu dia meninggalkan Alenka bersama dengan Samuel dan Elvan.


"El, bobok yuk! Udah malam." seru Alenka.


"Bobok yuk!" ajak Samuel.


"Ayok.." Elvan menggandeng tangan papanya.


Mereka bertiga kemudian pergi ke kamar Samuel. Dengan penuh cinta Samuel menceritakan sebuah dongeng untuk anaknya.


"Pa, adik belum pulang dari rumah sakit?" tanya Elvan yang masih kepikiran adiknya. Dia masih mengira bahwa papanya memiliki anak lain selain dia.


"Iya. Besok kita jengukin adik mau?" Elvan menganggukan kepalanya dengan cepat.


"Pa, emang istri papa nggak marah kalau aku sama mama tidur disini?" tanya Elvan lagi.


Pertanyaan Elvan tersebut menggelitik bagi Samuel. Dia tersenyum kecil kemudian mencium kening Elvan dengan lembut. "Istri papa kan mama kamu. Jadi nggak mungkin marah dong.." jawab Samuel.


"Terus mamanya adik?" Samuel kembali tersenyum.


"Mamanya adik namanya tante Rea. Dia istri om Arya, adiknya papa.. Anak papa cuma kamu." kata Samuel kembali mengecup kening Elvan dengan penuh cinta.


"Jadi papa nggak punya keluarga lain?" jelas dari raut wajah Elvan jika dia sangat bahagia.


Samuel menggelengkan kepalanya. "Anak papa cuma kamu, dan istri papa juga hanya mama kamu. Papa sayang sama kalian.." kata Samuel.

__ADS_1


****


Maya membulatkan matanya saat mendengar kabar jika Alenka dan Samuel akan menikah. Dia tahu kabar tersebut dari Yoga. "Anj*r gercep amat.." katanya.


"Kamu mau ikut anter mereka ke biro catatan sipil?" tanya Yoga.


"Mau sih, tapi aku pamit bos aku dulu!" jawab Maya.


Maya segera menghubungi Andreas sekaligus memberitahu jika Alenka akan menikah hari ini. Tapi ternyata jawaban Andreas sungguh mengejutkan. Ternyata dia sudah tahu dari Alenka sendiri.


"Kalau gitu aku minta ijin anter Alenka ya, bos?" tanyanya melalui panggilan telepon.


"Ya, tapi segera kembali setelah selesai!"


"Siap bos!" Maya mematikan teleponnya dengan tersenyum senang.


"Gimana?" tanya Yoga.


"Pak Andreas mengijinkan. Kalau gitu yuk!" Maya segera berangkat bersama dengan Yoga ke biro catatan sipil.


Sesampainya disana. Maya segera mendekati Alenka yang telah menerima buku nikahnya. Nampak dari wajahnya jika Alenka sangat bahagia. Gimana tidak, Samuel adalah lelaki pertama yang membuatnya jatuh cinta.


"Widih, gercep amat bu.." kata Maya sembari berjalan mendekat.


"Siapa ya? Emang kenal?" tanya Alenka dengan nyengir.


Alenka pun tertawa kecil. Dia kemudian memeluk Maya dengan erat. Dia ingin memberitahu jika saat ini dia merasa sangat bahagia.


"Kenapa tiba-tiba berubah pikiran?" tanya Maya berbisik.


"Nanti aku ceritain." jawab Alenka sembari berbisik pula.


"Selamat ya Al, aku ikut seneng.." kata Maya.


"Selamat pak Samuel, tolong jagain Alenka ya!" kata Maya kepada Samuel.


"Pasti. Kalian kapan nyusul? Nggak bosen berantem terus?"


"Sial*n.." Yoga meninju lengan Samuel pelan.


"Nanti pasti dikabari kalau kita nikah." jawab Maya.


"Ya kalau berjodoh kalau nggak?"


"Samuel!!" seru Yoga dengan kesal.


Namun, Samuel bukannya takut tapi dia malah tertawa kecil. Apalagi melihat ekspresi wajah Yoga yang ketakutan bercampur kesal.


"Rencana bulan madu kemana?" tanya Maya.

__ADS_1


"Bulan madu?" jujur, Alenka belum kepikiran mengenai bulan madu. Ia dan Samuel belum membahas masalah tersebut. Karena pernikahan mereka juga dadakan.


"Belum kepikiran." jawab Alenka sembari tersenyum.


"Aku udah punya tempat untuk bulan madu." kata Samuel yang membuat Alenka terkejut. Padahal, Samuel sama sekali tidak membicarakan mengenai bulan madu sebelumnya.


"Bulan madu apaan? Elvan gimana?"


"Tenang, ada aku. Elvan nanti aku yang jaga." sahut Maya.


"Kan ada mama, Arya sama Rea.. Kita harus segera memiliki bayi supaya Elvan segera sembuh." bisik Samuel.


Alenka terdiam. Benar apa yang Samuel katakan. Cepat memiliki bayi, cepat pula Elvan akan sembuh.


"Tenang aja, kita cuma akan bulan madu seminggu. Aku udah pesan pesawat dan hotelnya." kata Samuel lagi.


"Elvan juga sudah setuju. Kemarin aku udah bilang ke dia." imbuh Samuel yang membuat hati Alenka tenang.


Ya, seperti kata Samuel. Mereka harus segera memiliki bayi agar bisa cepat menyelamatkan anak pertama mereka.


Malam harinya.


Di rumah, Samuel mengadakan makan malam untuk merayakan pernikahannya. Seperti mau Alenka, mereka hanya merayakan secara sederhana dan hanya keluarga saja yang hadir.


Suasana makan malam itu terasa begitu hangat. Apalagi Alexa sudah diperbolehkan untuk pulang. "Hallo cantik.. Ih gemesnya.. Mau ikut tante?" tanya Alenka menyapa Alexa.


Alexa baru pertama kali melihat Alenka. Tapi dia tidak takut sama sekali dengan Alenka. Dia bahkan ingin ikut dengan Alenka.


"Mau ikut tante?" Alexa menganggukan kepala kecilnya.


Alenka pun mengangkat anak kecil berusia dua tahun tersebut. Dengan penuh kasih sayang Alenka memangku dan menyuapi balita tersebut. Sementara anaknya sendiri sedang bermanja dengan papanya.


"Cantiknya kayak mama ya El?" kata Alenka memuji dirinya sendiri.


"Idih enak aja. Cantiknya kayak mamanya dong. Masa kayak kamu.." sahut Arya mendengus.


"Ye... Orang cantiknya kayak tante kok ya, Lex?" Alenka menciumi Alexa karena saking gemasnya.


"Papa kamu itu emang selalu nggak terima kalau tante ini memang cantik.." Arya kembali mendengus.


"Iya lho pa, tante tantik lho.. Tanya paman aja kalau nggak pelcaya.." kata Alenka dengan bahasa bayi seolah Alexa yang ngomong.


"Kalau itu nggak perlu di tanya. Orang emang kak Samuel dibutakan cinta ke kamu.. Huh.." Alenka tersenyum melihat Arya yang sewot.


Mereka sudah kenal lama. Jadi tahu sikap dan karakter masing-masing. Mereka tahu jika percakapan itu hanyalah candaan semata.


"Alexa buat aku aja ya, Ya? Kalian buat lagi aja.. Soalnya gemesin banget, apalagi pipinya ini loh, tembem.." Alenka terus menciumi Alexa dengan gemas. Dan bayi dua tahun itu hanya pasrah dengan perlakuan tantenya.


"Kita akan buat sendiri.." sahut Samuel yang membuat Alenka membulatkan matanya. Kenapa lelaki itu selalu tidak bisa mengontrol perkataannya. Wajah Alenka seketika memerah dengan mata melotot.

__ADS_1


__ADS_2