
Kini pasangan suami istri, Yura dan Erlangga sudah berada di halaman parkir mahasiswa di Universitas Y.
" Wow ... ternyata di dalamnya luas sekali ya Kak, disini ada berapa fakultas sih ?"
" Ada 6 fakultas sayang, diantaranya : Fakultas Kedokteran, Fakultas Hukum, Fakultas Ekonomi, Fakultas MIPA, Fakultas Teknis Sipil dan Hubungan Internasional serta Universitas Bahasa."
" Kira-kira tahun depan aku akan mengambil jurusan apa ya?"
" Santai saja yang, hal itu bisa kau pikirkan dari sekarang, apapun keputusanmu aku sebagai suami akan selalu mendukung. Ayo kita ke arah sana, melihat nama calon mahasiswa yang diterima di Universitas Y !"
Hiruk pikuk kesibukan di dalam Universitas terasa oleh calon mahasiswa baru yang sedang melihat info kelulusan mereka masuk disana.
Pasangan Malik lebih dulu sampai di depan papan pengumuman disusul oleh pasangan Hendra dan tentunya pasangan Yura dan Erlangga.
" Kak, kamu dan Kak Hendra lulus, ini lihat nama kalian ada di sebelah sini ! Wah kalian masuk 10 besar dari 100 mahasiswa baru yang lulus diterima di jurusan ekonomi manajemen bisnis", teriak Mila yang sedang membantu sang kekasih melihat di papan pengumuman.
Mendengar panggilan Mila, Malik pun segera berbalik ke arah pacarnya, karena mereka berdua mencari di dua papan pengumuman yang berbeda yang terletak di depan Auditorium Universitas Y.
" Ah ... syukurlah aku keterima, terima kasih Tuhan ", ujar Malik.
" Malik, apa lo sudah lihat pengumumannya? Bagaimana apa kita berdua lulus?" tanya Hendra yang baru datang bersama Diah.
" Yoi bro kita berdua lulus ."
" Syukurlah."
" Selamat ya yang, selamat juga buat Kak Malik ."
" Makasih ya Diah."
Setelah kedua pasangan itu melihat pengumuman, mereka menjauh dari kerumunan dan mencari keberadaan Yura dan Erlangga.
Sementara itu, Erlangga dan Yura sedang berjalan dan berpegangan tangan menuju ke papan pengumuman yang lulus di jurusan kedokteran.
" Kau duduk dulu yang disini ! Aku akan kesana sebentar !"
" Baiklah, jangan lama !"
" Hmmm ..."
Saat Erlangga sedang berdesakan ingin mencari namanya di jurusan kedokteran. Tidak sengaja ada seorang cewek anggota BEM yang memandang Erlangga sejak tadi.
" Gila, tampan sekali cowok itu, kalau lo keterima di kampus ini ! Itu memudahkan gue untuk dekat dengan lo ", ucap Meta.
" Hai Meta, gue dari tadi nyariin Lo ternyata melamun disini ! Lagi lihat apaan sih ?" tanya Rani.
" Lo coba lihat ke papan pengumuman mahasiswa baru jurusan kedokteran, ada cowok pake kemeja navy yang tadi menarik perhatian gue !"
" OMG ..." Rani pun berdecak kagum atas paras Erlangga yang tiada duanya.
Meta yang melihat rekan 1 BEM nya pun terpaksa membekap mulut Rani, yang mengganggap.
" Ran, tutup mulut lo biar nggak ada lalat yang masuk ke dalam !"
" Sudah ... lepas jugalah tangan lo !"
__ADS_1
Erlangga yang sudah mendapatkan namanya yang lulus di jurusan kedokteran. Langsung keluar dari kerumunan orang-orang yang masih mencari nama mereka.
" Yang, aku lulus di jurusan kedokteran."
" Ah ... senangnya , selamat yang ", dengan kegirangan Yura pun memeluk Erlangga.
" Tunggu dulu, itu yang meluk cowok tadi siapanya?"
" Gue juga belum tau, yang jelas dia jadi target gue berikutnya ", ucap Meta dengan senyuman licik.
" Melihat kemesraan mereka gue jadi muak ya, Meta ayo kita balik ke ruangan BEM !"
" Ayo ."
Saat Erlangga melepaskan pelukannya kepada Yura. Dari arah belakang teman mereka datang menghampiri.
" Dari muka kalian, pasti kalian juga lulus ya?"
" Tebakan lo 100 benar Ra, kami lulus ", jawab Malik.
" Apa Kak Erlangga juga lulus?" tanya Mila.
" Iya " , jawab Erlangga dengan singkat.
" Hah ... pelit banget suaranya, untung hari ini ada pawangnya ya ?" cibir Diah.
" Hem ... hem , sudahlah yang kayak nggak tau Erlangga saja, Eh gue punya ide ! Bagaimana kalau kita berkeliling kampus ini sebentar sebelum kita pulang!"
" Oke", sahut yang lain.
Ketika Yura dan Erlangga akan masuk ke dalam mobil. Ada seorang pengawal yang datang dan berbisik suatu hal penting di telinga Erlangga.
" Baiklah, aku mengerti ! Sekarang lakukan tugas kalian dengan baik !" titah Erlangga.
" Ada apa Kak ?"
" Hanya urusan kecil sayang", seketika raut muka Erlangga yang tadi serius berubah tersenyum menjawab pertanyaan sang istri.
" Habis dari sini, aku akan ke pergi ke perusahaan, apa kau mau ikut !"
" Tentu, aku bosan dirumah, apalagi Bunda sama Daddy masih di Jerman."
" Ya sudah kita makan dulu, ini sudah siang !"
" Oke "
Sementara itu di rumah keluarga Pradipta.
" Apa kamu sudah memberi ijin buat Kinara yang akan melanjutkan pendidikannya ke jenjang perkuliahan ?" tanya Ibu Hani kepada Rangga.
" Sudah Bu, biar sekalian saja berbarengan sama Yura tahun depan."
" Apa kamu sudah memikirkan Kinara, akan masuk ke jurusan apa ?"
" Aku mau masuk ke jurusan Manajemen Bisnis Bu, dan juga ingin private class pastry."
__ADS_1
" Ibu setuju, sebagai menantu kamu akan jadi penerus usaha Ibu kelak nak ."
" Makasih Ibu dan Kak Rangga atas dukungannya."
" Tidak perlu berterima kasih nak, kamu selain sebagai menantu kamu juga Ibu anggap seperti anak kandung Ibu sendiri, jadi jangan sungkan."
" Ayah juga setuju kok, asal kamu bisa mengatur waktu antara kuliah dan urusan rumah tangga."
" Tentu Ayah, aku akan melakukannya dengan sebaik mungkin dan tidak akan mengecewakan kalian semua."
" Tapi ada lo Kinara, yang sering kebakaran jenggot ! Hahaha ... "
" Maksud Ayah apa?"
" Jangan kau tanggapi dengan serius perkataan Ayah tadi", sela Rangga dengan cepat.
" Tapi Kak ."
" Ingat kamu harus menurut apa kata suami."
" Selalu saja ancamannya seperti itu."
" Apa, kau mau protes ?"
" Tidak , tapi yang berkata lebih baik bercermin dulu !"
Mendengar perkataan sang istri, Rangga sedikit tersindir.
" Kalian ini pada kenapa sih semua, kalau sudah selesai makan jangan membahas hal yang bisa menyulut emosi. Kan percuma makanan yang tadi masuk ke dalam perut yang menjadi tenaga bisa terkuras habis !"
" Wah ... Istriku memang selalu bijak ", sanjung Ayah Kevin.
" Kalau aku tidak bijak, maka kamu juga tidak akan jinak ."
Melihat Ayahnya terkena sindiran halus dari Ibu. Rangga dan Kinara pun tak bisa menahan tawanya. Bagaimana tidak melihat Ayahnya yang dari awal sudah merasa di atas angin tiba-tiba dihempaskan mendadak kebawah.
" Hahaha"
Kret.
Seketika Ayah berdiri dari tempat duduk dan pergi menuju ruang kerjanya.
" Ah ... Kalian berdua ini. Lihat Ayah kalian jadi ngambek sama Ibu !"
" Loh kok kami Bu, orang yang memberi sindiran kan Ibu sendiri."
" Ya kan Ibu hanya berpendapat dan jadi ikut membelamu nak."
" Lebih baik Ibu kesana saja, rayu suami !"
" Kau mengusir Ibu begitu? Bilang saja kalian mau bermesraan!"
" Mesra apanya Bu, Kinara tidak mengerti."
" Alamak, memang susah kalau punya mantu yang telat berpikir " , keluh Ibu Hani dalam hati.
__ADS_1
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...