
Alenka mulai membereskan barang-barangnya yang ada di apartemen Samuel. Namun, dia meninggalkan semua perhiasan yang Samuel berikan beserta kartu kredit pemberian Samuel.
Alenka telah memantapkan hatinya untuk meninggalkan kota tersebut. Meskipun begitu banyak kenangan yang terlintas di dalam pikiran. Tapi, sakit hatinya telah menghapus kenangan indah di tempat itu.
Lagi-lagi ia tidak kuat. Alenka kembali menangis sesegukan. Kembali menyesali kenapa dia mau kembali dengan Samuel. Pada akhrinya dia terluka seperti ini.
"Ah..." Alenka mencoba berteriak untuk melepaskan semua kesesakan di dalam dadanya. Semuanya telah berakhir.
Pada saat itu janji-janji dan kata cinta Samuel masih terngiang ditelinganya. Membuat dadanya terasa begitu sakit dan sesak.
Malam itu Alenka tertidur sembari memegangi dadanya yang sakit. Malam itu dia lewati dengan penuh kegelapan. Berharap besok ia bangun dengan banyak cahaya yang menyinari.
Tiba saatnya Alenka pergi. Ia dijemput oleh Andreas dan diantar secara langsung oleh Andreas. Perjalanan menuju kota A memakan waktu hampir 5 jam. Kota itu berada di tempat terpencil.
"Kenapa muka kamu pucat sekali? Kamu sakit?" tanya Andreas.
"Cuma agak pusing aja pak. Tapi nggak apa kok."
"Kamu menyesal?"
"Nggak. Aku tidak akan pernah menyesal." jawab Alenka dengan cepat. Dia telah memutuskan meninggalkan kota kelahirannya. Dia tidak akan pernah menyesal selama bersama dengan anaknya.
"Bentar lagi sampai. Tapi kita ke dokter dulu aja!" Andreas membelokan mobilnya di rumah sakit terdekat. Dia khawatir karena wajah Alenka terlihat sangat pucat bahkan hampir pingsan. Sehingga Andreas harus membopongnya ke ruang pemeriksaan.
Dari dokter rumah sakit itu lah, Andreas tahu bahwa Alenka sedang hamil. "Selamat bapak, karena bapak akan menjadi ayah." kata sang dokter.
Tentu saja Andreas terkejut dengan perkataan dokter tersebut yang mengira jika Alenka adalah istrinya. "Oh, benarkah?" namun Andreas berpura-pura tersenyum senang.
"Iya, sudah memasuki minggu ke lima. Mohon dijaga kandungannya, jangan bekerja yang terlalu berat!" pesan sang dokter.
"Oh, ya makasih dok." jawab Andreas.
Setengah jam kemudian, Alenka baru siuman. Dia terkejut mendapati dirinya ada di rumah sakit. "Saya kenapa pak?" tanya Alenka.
__ADS_1
"Kamu kurang makan, harusnya kamu banyak makan karena di dalam tubuh kamu bukan hanya kamu, tapi juga anak kamu!" omel Andreas.
".. Pak Andreas tahu kalau aku sedang hamil?" Alenka terlihat pasrah.
"Ya. Itu alasan kamu pergi?" Alenka menganggukan kepalanya.
"Pak Samuel tahu tentang kehamilan kamu?" Alenka menggelengkan kepalanya.
"Anak ini, anak saya sendiri, tidak ada hubungannya dengan dia." ucap Alenka dengan marah begitu mengingat Samuel.
"Aku tidak tahu apa yang terjadi. Tapi, pak Samuel wajib tahu jika ini adalah anaknya." kata Andreas.
"Saya mohon pak, jangan kasih tahu dia mengenai anak ini. Saya tidak mau merusak hari bahagianya. Saya tidak mau anak saya dalam bahaya." sebisa mungkin Alenka ingin melindungi anaknya. Karena jika mamanya Samuel tahu mengenai anak tersebut. Ia akan melakukan apapun untuk mencelakai anak itu.
Karena Alenka yang memohon dengan menangis. Akhirnya Andreas pun luluh. Dia berjanji untuk merahasiakan mengenai anak yang Alenka kandung.
****
"Ini untuk tempat tinggal kamu! Kalau butuh apa-apa kamu bisa hubungi aku! Aku akan kesini setiap seminggu sekali. Kamu harus jaga anak kamu baik-baik!" kata Andreas sembari menunjukan tempat yang akan ditinggali oleh Alenka.
"Nggak perlu dipikirin. Tugas kamu hanya membantu kantor cabang supaya menjadi lebih besar!" jawab Andreas.
"Terima kasih pak." tidak ada kata yang mampu Alenka katakan selain ucapan terima kasih.
"Al, jika suatu saat kamu ingin kembali. Aku akan membawa kamu kembali." kata Andreas. Sementara Alenka hanya terdiam. Untuk saat ini, dia tidak memikirkan untuk kembali. Dia hanya ingin memulai hidupnya barunya di tempat itu.
****
Setelah memutuskan hubungannya dengan Alenka. Samuel tidak pernah pulang ke rumah. Dia tinggal di kantornya untuk menenangkan diri. Bahkan dia harus mabuk untuk melupakan kenangannya bersama Alenka.
Dia akan menangis ketika teringat Alenka. Kini, sudah tiga hari dia tidak bertemu dengan Alenka. Penyesalan mulai tumbuh di dalam hatinya.
Dua hari lagi dia akan menikah dengan wanita lain. Tapi wajah Alenka tidak pernah bisa ia lupakan.
__ADS_1
"Sam, dua hari lagi kamu akan menikah. Sebaiknya kamu jangan sering mabuk seperti ini!" pinta Yoga yang merasa iba dengan sahabatnya itu.
"Kalau aku tidak mabuk, aku tidak bisa melupakan Alenka. Aku cinta sama dia." katanya dalam keadaan mabuk.
Ya, Yoga telah menduga sebelumnya. Meskipun Samuel berdalih jika dia hanya ingin membalas dendam. Tapi tatapan Samuel ke Alenka tidak bisa berbohong. Samuel masih sangat mencintai Alenka.
"Kamu bilang kamu hanya ingin balas dendam. Sekarang kamu nyesel?"
"Kamu nggak tahu sorot matanya waktu itu. Dia sangat membenci aku." kata Samuel dengan berteriak.
"Semuanya berakhir. Benar-benar berakhir." Samuel menangis sesegukan.
"Tapi itu kan yang kamu mau?"
"Mau bagaimanapun, kamu harus mempertanggung jawabkan perbuatan kamu. Dua hari lagi kamu akan menjadi suami dari Rea. Kamu harus melupakan Alenka. Kasihan Rea tidak tahu apa-apa mengenai dendam kamu kepada Alenka." Yoga kembali mengingatkan Samuel.
Samuel segera bangkit. Dia pergi meninggalkan kantornya. Lalu melajukan mobilnya ke apartemennya. Sejak putus, Samuel belum pernah melihat apartemennya lagi.
Sebelumnya, dia mendapat kabar jika Alenka telah pindah dari apartemen tersebut. Samuel memasuki apartemen tersebut dengan langkah pelan. Setiap langkahnya dia teringat akan kenangan indah selama tinggal bersama dengan Alenka.
Dia pergi ke kamar tidur. Disana dia juga teringat kemesraannya dengan Alenka. Dia membuka laci meja samping tempat tidur. Dan menemukan kartu kredit yang ia berikan ke Alenka, juga kotak perhiasan yang ia berikan untuk Alenka.
Pergi ke ruang tamu juga sama. Dia teringat saat memutuskan hubungannya dengan Alenka. Air mata kembali menetes. Dia benar-benar tidak bisa melupakan Alenka. Samuel terduduk di lantai sembari menangis. Dia melihat sebuah kertas yang telah diremas di bawah meja makan.
Karena penasaran, Samuel pun mengambil kertas tersebut. Kemudian dia membukanya dan membaca.
"Jadi..." matanya terbelalak melihat isi kertas tersebut. Hatinya melonjak, tapi air matanya semakin mengalir.
"Jadi Alenka hamil??" gumamnya.
"Aku mau jadi ayah?" hatinya bersemangat saat mengetahui hasil pemeriksaan Alenka.
Samuel segera menghubungi Alenka kembali. Namun, nomer Alenka tidak bisa dihubungi. Samuel pergi rumah kontrakan Alenka dulu. Tapi kata pemilik kontrakan, Alenka sudah tidak pernah kembali.
__ADS_1
Samuel memutuskan untuk mencari Alenka keesokan harinya. Hatinya diselimuti dengan penyesalan. Seandainya dia tahu jika Alenka sedang hamil anaknya. Samuel pasti akan melupakan balas dendamnya.