
"Ntar malam Liverpool vs Chelsea, mau taruhan?" tanya Samuel. Dia tahu persis jika Alenka suka bola. Kesukaan itu sudah dari dulu bahkan saat mereka masih pacaran dulu.
"Kalau Liverpool kalah, kamu harus mau aku ajak. Kalau Chelsea kalah, terserah kamu mau minta apa aja, tapi jangan minta aku untuk berhenti ajak kamu balikan." Alenka terkejut mendengar perkataan terakhir Samuel. Secara tidak langsung Samuel sedang menyatakan niatnya.
"Pak, anda masih muda, sukses, dan tampan, pasti banyak yang suka bapak. Jadi tolong saya mohon, berhenti seperti ini! Jujur, saya tidak nyaman." kata Alenka.
"Emang sih banyak yang suka sama aku. Tapi gimana, hati aku hanya berdebar saat dekat kamu." jawab Samuel dengan santai.
Memang kenyataannya seperti itu. Selama ini Samuel sama sekali tidak pernah dekat dengan wanita lain atau menaruh suka kepada mereka. Hanya Alenka yang mampu membuatnya berdebar.
Tapi, sakit hati yang Samuel rasakan membuatnya harus melakukan misi balas dendam tersebut.
"Al, balikan yuk!" ajaknya.
Serius, saat itu hati Alenka ingin melompat. Ia kembali teringat masa lalunya saat Samuel menyatakan cinta padanya. Saat itu hatinya berdebar tak karuan. Sama seperti sekarang.
Diakui atau tidak. Cinta itu sebenarnya juga masih ada di dalam hati Alenka. Bahkan sampai saat ini pun, Alenka tidak pernah membuka hatinya untuk orang lain lagi.
Akan tetapi, ketika Alenka teringat alasan kenapa dia mutusin Samuel. Tiba-tiba hatinya berdenyut. Seperti ada sesuatu yang menusuk.
Alasan Alenka memutuskan Samuel pada saat itu karena intimidasi dari mamanya Samuel. Karena perbedaan status sosial, mamanya Samuel tidak pernah merestui hubungan mereka. Bahkan alasan kenapa Samuel dikirim ke luar negeri hanya supaya Samuel dan Alenka pisah.
Sadar jika alasan itu tak mempan untuk anaknya. Mamanya Samuel menjadikan Alenka sebagai sasaran. Dengan kekuasaannya, mamanya Samuel membuat usaha paman Alenka bangkrut. Alenka bahkan hampir di DO dari kampus dengan alasan tunggakan Alenka yang banyak. Ternyata semua adalah ulah mamanya Samuel. Alenka bahkan diculik dan dipaksa untuk mengirim pesan untuk memutuskan hubungannya dengan Samuel.
Mengingat itu semua. Hati Alenka yang semula kembali berdebar, kembali merasakan sakit. Alenka, tidak mau mengulang kejadian-kejadian buruk dimasa lalunya. Dia lebih aman dan nyaman seperti ini. Terbukti setelah dia mengirim pesan memutuskan hubungan dengan Samuel. Sampai saat ini hidupnya nyaman-nyaman saja.
Mamanya Samuel sudah tidak pernah mengganggu hidupnya lagi. Dia bisa bekerja dengan aman dan nyaman tanpa rasa khawatir.
Alenka paham, sampai saat ini kekuasaan dan kekuatan uang masih bertahta. Jadi, orang miskin seperti Alenka harus pintar mencari kenyamanan dan keamanan.
"Waktu aku balik, aku cari kamu di rumah paman kamu. Tapi kata mereka, kamu sudah tidak tinggal disana. Kenapa? Apa mereka masih memperlakukan kamu dengan tidak baik?" Samuel juga tahu seperti apa kehidupan Alenka di rumah pamannya. Sampai dia dulu pernah berjanji akan memberikan Alenka sebuah rumah sehingga dia tidak akan tersiksa lagi di rumah pamannya.
Samuel meraih tangan Alenka. "Ijinkan aku menjadi pelindung kamu. Aku punya uang dan kekuasaan sekarang. Aku bisa lindungi kamu dari apapun." kata Samuel.
__ADS_1
Jujur, hati Alenka kembali berdebar. Dia menatap Samuel. Mungkin, setelah pertemuannya kembali dengan Samuel beberapa hari yang lalu. Baru kali ini Alenka berani menatap Samuel.
Mereka saling berpandangan cukup lama. Kisah masa lalu mereka terlintas di dalam benak keduanya. Masa-masa indah yang sampai sekarang tidak pernah mereka lupakan.
Namun, sesaat kemudian Alenka mulai tersadar. Dia mulai menarik tangannya lalu mengalihkan pandangannya. "Maaf pak, cari wanita lain saja!" kata Alenka tanpa berani menatap Samuel lagi.
"Kalau aku bisa mencintai wanita lain. Apa mungkin aku akan kejar kamu? Meskipun kamu udah hancurkan hatiku?" Alenka tertunduk. Dia menyadari betapa sakit hati Samuel saat dia mengirim pesan itu. Tapi, dia juga tidak berbuat apa-apa. Dia melakukan semua itu di bawah kendali mamanya.
"Maaf." lirih Alenka.
"Aku selalu memaafkan kamu. Bahkan jika alasan kamu mutusin kamu karena kamu selingkuh, aku akan tetap maafin kamu, Al." ujar Samuel.
Mendengar perkataan Samuel tersebut justru memantik amarah Alenka. Dia tidak terima dengan tuduhan Samuel mengenai perselingkuhan. Karena dia memang tidak pernah berselingkuh ataupun berkhianat.
"Aku tidak pernah selingkuhi kamu.." seru Alenka. Dia bahkan sudah tidak memanggil dengan sopan seperti sebelumnya.
Tatapannya begitu tajam ke Samuel. Tidak terima dengan tuduhan Samuel. Mata Samuel juga menatap Alenka dengan lekat. Dia benar-benar merindukan wanita di depannya itu.
"Aku justru lebih suka kamu seperti tadi. Jangan terlalu kaku dengan aku. Ingat, aku adalah lelaki yang pernah kamu cintai." jawab Samuel sedikit bercanda. Dia melihat ketegangan Alenka.
"Al, kamu belum punya pacar. Aku juga belum. Kenapa kita nggak balikan aja? Lagipula perasaan kita juga masih sama seperti dulu." tanya Samuel.
"Siapa bilang saya belum punya pacar?"
"Jadi kamu sudah punya pacar? Siapa? Orang mana? Apa pekerjaannya? Dia lebih kaya dari aku?" cerocos Samuel. Dia tidak terima dengan perkataan Alenka. Samuel cemburu.
Sementara Alenka hanya memutar bola matanya. Dia tidak mau menjawab pertanyaan Samuel dan lebih memilih untuk makan. Sayang jika makanan yang sudah ia pesan dianggurin begitu saja.
Di meja sebelah. Yoga dan Maya sempat memperhatikan Samuel dan Alenka. Maya bertanya-tanya kenapa Alenka bisa terlihat begitu akrab dengan Samuel. Padahal mereka baru pertama kali menjalin kerja sama.
"Mereka teman sekolah dulu." kata Yoga saat melihat wajah penasaran Maya.
"Oh, pantes. Tapi kayaknya bukan sekedar teman sekolah. Cara mereka menatap beda." gumam Maya masih memperhatikan Alenka dan Samuel.
__ADS_1
"Mereka dulu pacaran."
"Pacaran?" Yoga menganggukan kepalanya.
"Aku juga baru tahu. Selama kuliah aku sama sekali belum pernah lihat Samuel dekat dengan wanita. Mungkin mereka pacaran sebelum Samuel kuliah ke luar negeri." Yoga mencoba menebak-nebak. Tapi, tebakannya tetap sekali.
"Jadi ceritanya pak Samuel ingin ngajak Alenka balikan?"
"Sepertinya gitu." Yoga kembali menganggukan kepalanya.
"Mereka udah mau balikan. Jadi kapan kita pacaran?" seketika Maya menatap Yoga.
Apa maksud Yoga. Apakah itu artinya Yoga sedang nembak Maya. Kalau iya, ajakan itu terbilang unik karena tanpa aba-aba dan peringatan.
"Aku bukan tipe lelaki yang setengah-tengah. Kalau aku suka yang aku langsung bilang. Aku suka sama kamu. Kamu mau jadi pacar aku?" Yoga mengulangi pertanyaannya lagi.
Maya hanya tersenyum kecil mendengar penyataan Yoga. Mereka baru aja kenal, masa iya sudah bilang suka. Tapi, Maya justru suka dengan laki-laki seperti itu. Das des tanpa basa basi.
"Gimana mau nggak? Malah senyum aja bikin, ih.."
"Yakin suka sama aku? Nggak nyesel? Aku tidak sebaik yang kamu pikir loh?"
"Menyukai kamu itu pilihanku, kalaupun aku menyesal, itu juga kemauanku. Tugasmu hanya membuktikan kalau aku tidak akan pernah menyesal karena sudah menyukai kamu." jawaban Yoga yang begitu menyentuh hati Maya.
"Oke, kita pacaran. Jangan nyesel kalau aku ternyata tidak seperti yang kamu pikirkan!" jawab Maya.
Dia juga tipe orang yang tak suka basa basi. Kalau suka ya bilang suka, kalau nggak ya tolak.
"Jadi.. Jadi.. Jadi kita?" Yoga kegirangan mendengar jawaban Maya.
"Ya." Maya menganggukan kepalanya sembari tersenyum kecil.
"Horee... Aku udah nggak jomblo lagi.." seru Yoga yang terdengar cukup keras dan mampu di dengar oleh beberapa pengunjung kafe tersebut termasuk Samuel dan Alenka.
__ADS_1