Benang Merah Takdir

Benang Merah Takdir
Bab 85


__ADS_3

Saat ini Rangga sedang melawan 10 orang yang menghadangnya ketika ia selesai rapat dengan salah satu kolega di sebuah hotel.


Memang sejak ia keluar dari parkiran hotel, 4 pengawal yang mengawalnya sudah memberi laporan bahwa ada mobil hitam yang mengikuti mereka.


" Kalian kecoh mereka dibelakang, aku dan 2 pengawal yang lain akan membawa mereka ke tempat yang sepi !"


" Siap Tuan Muda."


" Tuan Muda, kita akan bawa mereka ke sebelah mana?"


" Carilah jalan ke sebuah lapangan luas sehingga kita tidak banyak membuat kekacauan di jalan raya seperti ini, bisa-bisa korbannya adalah masyarakat sipil."


" Siap."


" Ayo Erlangga kenapa kau lama sekali mengangkat telepon dariku !" ucap Rangga dengan getir di dalam mobil.


Setelah 15 menit akhirnya, ada tanggapan dari seberang telepon.


" Kenapa Kak, aku dalam perjalanan menjemput Yura dan Kinara?"


" Suruh pengawal menjaga mereka, kau bantu aku sekarang! aku diserang ditengah jalan !"


" Baiklah, kirimkan lokasimu sekarang, akan aku suruh penjagaan mereka diperketat !


Setelah mendapatkan titik lokasi keberadaan Rangga, Erlangga pun meluncur dengan banyak pengawal dan tidak lupa dia menginstruksikan kepada pengawal istrinya agar mereka mengalihkan konsentrasi Yura dan Kinara agar betah di mall.


" Tuan muda kita dikepung !" sahut salah satu pengawal yang berada diposisi kemudi mobil yang ditumpangi oleh Rangga.


" Cepat kalian bersiap, kita akan bertarung sekarang!"


" Siap."


" Keluar kau bocah ingusan, kalau kau tidak keluar maka jangan harap kau dan anak buahmu selamat !" ucap Scout.


" Kau jangan banyak menggertak", sahut Rangga yang keluar dari dalam mobil dengan senjata lengkap di tubuhnya.


" Nyalimu berani sekali melawan perkataanmu!"


" Tentu saja aku berani, kau salah mencari lawan."


" Cih ... kau jangan banyak bicara di depanku, serang mereka !"


Akhirnya pertarungan pun tidak bisa di elakkan.


" Sial, baru kali ini ada musuh yang bisa memukulku", ucap Scout dengan kesal.


" Makanya kau tidak usah sok berkuasa", jelas Rangga sambil bertarung melawan Scout.


Saat pukulan Scout sangat mudah di balas oleh Rangga, Rangga pun menghajar dan membalikkan situasi bahkan pisau lipat yang ia simpan di belakang punggungnya, kini sudah berhasil menggores lengan Scout dengan membabi buta


Sedangkan anak buah Scout sudah tumbang dihajar oleh pengawal Rangga, walaupun di tubuh para pengawal sudah banyak lebam.

__ADS_1


" Menyerahkan sekarang, siapa tuanmu hah ..?!"


" Tuan ku adalah Tuan Besar Jack. Ingatlah dia tidak akan melepaskan keluarga kalian dengan mudah, kalian pasti akan dihancurkan olehnya !"


" Seharusnya kaulah yang terlebih dahulu, menyelamatkan dirimu sendiri dari tangan ku."


Saat Rangga sudah mengarahkan pistolnya ke dahi Scout. Dari arah kiri ternyata ada peluru lain yang melesat dan menembak Scout hingga ia tewas.


" Kurang ajar", sergah Rangga dan ia pun menembak orang tersebut dari arah kiri.


Untung saja sniper Erlangga datang dan menembak orang tersebut hingga mati.


" Kak Rangga, apa kau baik-baik saja?"


" Iya, tapi beberapa pengawalku cukup terluka."


" Serahkan sisanya kepadaku Kak, sekarang kau ikut aku ke kantor. Tadi Daddy meneleponku !"


" Baiklah "


Merasa bahwa kegiatan spa mereka sudah cukup lama, akhirnya Yura dan Kinara berniat untuk pulang. Tapi para pengawal mereka berusaha menghalangi dan mencari cara agar nyonya muda mereka tetap berada di mall sebelum ada perintah dari Erlangga bahwa keadaan sudah membaik.


" Aditya, kau mau jujur padaku sekarang atau aku akan tanya langsung sama suamiku !"


" Nyonya muda kata tuan, anda dibebaskan memakai fasilitas yang ada di mall atau mau belanja apapun diperbolehkan asalkan anda dan nyonya Kinara senang."


" Tapi aku sudah bosan disini dari siang dan sekarang sudah beranjak malam hari."


" Kakak ipar, kau tenanglah dulu, nanti kita akan dijemput pasti kau akan bertemu dengan Kak Rangga."


" Beginilah kalau berurusan dengan wanita hamil", gumam Aditya dalam hati.


Namun kekhawatiran Kinara apalagi ditambah dengan hormon kehamilannya membuat ia sensitif dan kini menangis karena rindu dengan suaminya. Segala bujuk rayuan dari Yura dan pengawal mereka tidak membuahkan hasil. Jadi dengan terpaksa Yura menelepon sang suami.


" Sayang, kau sedang dimana? Pokoknya aku sama kakak ipar sekarang mau pulang !"


Mendengar teriakan sang istri dari seberang telepon, apalagi mood istrinya sedang kacau. Hingga Erlangga menjauhkan telinganya dari handphone yang ia pegang.


" Aku sedang di kantor Daddy dengan Kak Rangga", jelas Erlangga.


" Kalau begitu kami akan segera kesana! Oh iya nanti bilang sama kak Rangga, bahwa kak Kinara menangis sejak tadi di mall !"


" Iya sayang hati-hati ya."


Klik.


" Huh ... begini kalau istri sedang hamil, cari alasan seribu pun ujungnya akan ketahuan ", keluh Erlangga.


" Seharusnya kita tadi menjemput mereka di mall Erlangga, malahan kita sibuk di kantor. Entah apa yang akan kita terima kalau mereka sudah disini."


" Kalau begitu Daddy pulang duluan ya, jadi kangen sama Bunda kalian."

__ADS_1


Sementara itu di mall, Yura dan Kinara akhirnya masuk ke dalam mobil dan di kawal ke perusahaan milik Bramasta Grup.


40 menit berlalu, mereka berdua sampai di depan perusahaan. Disana sudah ada beberapa bodyguard dan pengawal yang menyapa dan mengawal mereka untuk sampai di lantai atas dimana ruang CEO berada.


" Tuan, nyonya muda sudah datang !"


" Persiapkan makanan buat istri dan kakak iparnya segera !"


" Siap."


Brak.


Yura pun dengan kerasnya membuka pintu ruang kerja sang suami. Bahkan sang pemilik ruangan yang berada di dalam sampai terkejut melihat ulah sang istri.


" Jadi, apa kesibukan kalian berdua sehingga melupakan kami?" tanya Yura dengan maraton.


" Sabar sayang, sini duduk dulu ! Atur nafasmu kau tidak lupakan bahwa selama hamil jangan terlalu emosi dan marah. Nanti bisa berpengaruh sama baby kita", jawab Erlangga dengan penuh kelembutan menghadapi Yura.


Sedangkan Rangga langsung memeluk sang istri dan memangku nya di sofa.


" Kenapa menangis baby ? Cup ... Cup. Maafkan suamimu ini hmmm ..!"


" Karena kau tidak menjemputku, hiks ... hiks ... hiks."


" Sudah jangan menangis lagi, kau tidak kasihan dengan anak kita didalam sini", ucap Rangga sambil mengelus perut Kinara.


" Tentu saja aku kasihan, tapi aku nggak tau tiba-tiba aku bisa menangis lama begini, peluk !"


" Iya, ini dah sudah aku peluk yang."


Saat Kinara melihat ada noda darah di belakang baju kemeja yang dipakai oleh Rangga. Disitulah akhirnya Rangga menceritakan apa yang telah ia dan Erlangga tutupi dari istrinya.


" Bisa jelaskan kenapa ada noda darah disini?"


" Baiklah akan aku jelaskan, tapi kau dan Yura harus makan dulu ya. Sambil kalian makan kami akan menceritakan peristiwa yang aku alami tadi, sehingga aku perlu bantuan dari Erlangga."


Sambil menyuapi sang istri, Rangga pun menceritakan kejadian yang menimpanya kepada Kinara. Sedangkan Yura pun menjadi pendengar yang baik, ia pun saat ini dipangku oleh Erlangga karena bumil ini kekenyangan makan sehingga cepat sekali mengantuk dan memerlukan sandaran dari suaminya.


" Untunglah kalian berdua selamat, tapi janji kau jangan menutupi hal semacam ini lagi dikemudian hari kepadaku?"


" Iya aku janji padamu."


Setelah mereka berempat habis makan, kedua istri mereka pun tertidur dengan nyenyak nya.


" Sekarang Kinara menjadi kelemahan ku."


" Yura pun menjadi kelemahan ku kak."


" Setidaknya aku tidak ingin mereka berdua dan orang tua kita yang menjadi korban atas kebejatan Tuan Jack."


" Kau tenang saja tidak akan aku biarkan mereka menyentuhnya walau seujung rambut pun !"

__ADS_1


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


__ADS_2