
Samuel mencari Alenka ke kantornya. Dia bahkan tidak bisa tidur semalam. Dia sengaja menunggu pagi di depan kantor Alenka.
"May, Alenka dimana?" tanyanya saat bertemu dengan Maya.
Maya terdiam, wajahnya terlihat sedih. Matanya pun berkaca-kaca hendak menangis. Tentu saja itu membuat Samuel kebingungan. "Alenka dimana? Udah datang belum?" ia mengulangi pertanyaannya.
"Udah dua hari Alenka nggak masuk. Nomernya dihubungi juga nggak bisa." jawab Maya dengan sedih. Dia merasa kesal juga sedih karena Alenka pergi tanpa berpamitan.
Apa yang Maya alami. Sama dengan yang Samuel alami. Dia mencari Alenka kemanapun tapi tidak menemukan. Juga nomer teleponnya sudah tidak aktif.
Akan tetapi, Samuel tetap tidak menyerah. Dia pergi ke ruangan Andreas. "Kamu sembunyiin Alenka dimana?" tanyanya tidak sopan.
Awalnya Andreas terkejut. Dia merasa bahwa dirinya telah ketahuan. Tapi, Andreas bersikap biasa saja agar tidak membuat curiga. "Bukannya Alenka istri anda? Kenapa tanya ke saya?" Andreas bertanya dengan sopan.
Samuel mendengus. Ia menatap Andreas dengan tajam. Entah kenapa dia merasa Andreas tidak sesederhan kelihatannya.
"Sejak kapan Alenka tidak masuk?" tanya Samuel lagi.
"Saya tidak tahu pas-nya kapan. Tapi biasanya kalau kayak gini, dia sedang sakit." jawab Andreas dengan santai. Dia tidak ingin membuat Samuel lebih curiga.
"Seharusnya anda sebagai suaminya bisa lebih menjaga Alenka. Dia tidak punya siapa-siapa selain anda." imbuh Andreas.
Perkataan tersebut tepat mengenai hati Samuel. Hatinya berdenyut. "Bukan urusan kamu!" ucap Samuel dengan kesal.
"Aku mohon kerja samanya! Jika tahu keberadaan Alenka, tolong kasih tahu aku. Jika aku menemukannya, aku juga akan kasih kabar ke kamu!" ujar Samuel.
Kemudian dia pergi meninggalkan kantor Andreas. Ia tidak tahu jika Andreas yang membantu Alenka melarikan diri.
Samuel mencari kesana kemari. Namun, ia tidak dapat menemukan Alenka. Dia semakin terpuruk dan menyesal. Bahkan sama sekali tidak peduli dengan pernikahannya yang tinggal sehari lagi.
Mengingat pernikahannya yang tinggal sehari tapi Samuel bahkan tidak pulang sama sekali. Mamanya Samuel mencari Samuel sampai ke kantornya. Ia memarahi Samuel yang seenaknya sendiri. Padahal pernikahannya tinggal besok.
"Samuel, kamu benar-benar keterlaluan ya!" seru mamanya begitu masuk ke ruangan Samuel. Saat itu Samuel sedang menelepon seseorang untuk memberinya bantuan mencari Alenka.
"Ya nanti kalau ketemu atau ada petunjuk, tolong kabari aku!" kata Samuel kemudian mematikan teleponnya.
"Ada apa ma?" tanyanya.
"Ada apa? Kamu nanya ada apa?" mamanya semakin kesal.
"Besok kamu nikah. Tapi lihat, kamu malah masih bekerja." omel mamanya.
"Aku nggak mau nikah ma." tentunya perkataan Samuel itu membuat mamanya semakin geram dan marah.
__ADS_1
Mata mamanya terbelalak mendengar perkataan Samuel yang tak masuk akal itu. Undangan sudah disebar, persiapan sudah seratus persen. Tapi Samuel bilang kalau dia tidak mau menikah.
"Samuel!!" seru mamanya sembari menggebrak meja kerjanya.
"Kamu sadar apa yang kamu katakan?"
"Ya. Sadar seratus persen." jawab Samuel dengan cepat.
"Ma, aku udah berusaha untuk memantapkan hatiku menikahi Rea. Tapi, hatiku mengatakan tidak bisa ma. Hatiku masih sangat mencintai Alenka." imbuh Samuel.
"Alenka?" mamanya melotot mendengar nama yang sudah lama tidak pernah ia dengar setelah kejadian waktu itu.
"Pacar kamu itu?" Samuel menganggukan kepalanya dengan cepat.
"Dia masih berani deketin kamu? Jadi pelajaran waktu itu tidak membuatnya jera?" gumam mamanya Samuel yang membuat Samuel memicingkan matanya.
"Pelajaran apa ma? Apa yang udah mama lakuin ke Alenka?" tanya Samuel.
Mamanya seketika menyadari kesalahan. Ia menjadi gugup karena takut ketahuan bahwa dialah yang memaksa Alenka untuk memutuskan hubungannya dengan Samuel.
"E.. E.."
"Jawab ma!! Apa yang udah mama lakuin ke Alenka??" bentak Samuel. Dia tidak sabar mendengar jawaban mamanya.
"Cuma apa ma?" Samuel tidak sabar. Dia menatap mamanya dengan sangat mengerikan.
"Apa ma?"
Brakk..
Samuel menggebrak meja di depannya membuat mamanya kaget dan ketakutan. Tatapan Samuel bahkan begitu mengerikan.
"Mama cuma minta dia buat putusin kamu." jawab mamanya dengan cepat. Ia sangat tahu seperti apa anaknya. Jadi mau tak mau dia harus jujur kepada Samuel terlebih dulu.
"Tapi mama lakuin semua itu demi kamu. Mama ingin kamu mendapat kebahagiaan yang semestinya." imbuh mamanya menjelaskan sebelum Samuel semakin marah.
"Kebahagiaan yang semestinya?" Samuel tersenyum sinis.
"Asal mama tahu, kebahagiaanku itu hidup bersama dengan Alenka." imbuhnya.
"Tapi dia tidak sebanding dengan keluarga kita."
"Aku tidak peduli. Karena kebahagiaan itu bukan hanya sekedar uang. Aku bisa kehilangan semuanya, tapi tidak untuk kehilangan Alenka. Itu yang mama katakan demi kebaikan aku?"
__ADS_1
"Mama tahu nggak aku hampir membunuh diriku sendiri saat Alenka mutusin aku tanpa penjelasan. Aku merasa tak ada gunanya aku hidup. Kalau saja aku tidak keinget mama dan nenek, mungkin saat ini aku udah nggak ada di dunia ini."
"Muel.." mamanya Samuel menangis mendengar perkataan anaknya.
"Nak, maafin mama. Tapi semuanya telah berlalu. Sekarang kamu pulang ya! Besok kamu akan nikah." pinta mamanya.
"Aku nggak akan nikahi wanita lain ma. Aku hanya akan menikahi Alenka." jawab Samuel dengan tegas.
"Tapi nak, tolong jangan buat malu mama!" mamanya terus memohon.
Brukk.
Mamanya Samuel bahkan berlutut di depan Samuel. Memohon agar supaya Samuel mau pulang dan melangsungkan pernikahannya.
Samuel terdiam. Dia tidak tega melihat mamanya seperti itu. Meskipun mamanya sudah sangat keterlaluan. Tapi biar bagaimanapun dia tetaplah orang tuanya.
"Bangun ma!"
"Nggak. Mama nggak akan bangun sebelum kamu berjanji akan menikahi Rea. Tinggal besok nak, mama mohon!" mamanya terus memohon sembari menangis.
****
Keesokan harinya.
Sebuah gedung dihias dengan indah dan megah. Hari ini pernikahan Samuel dengan Rea akan diselenggarakan. Para tamu undangan telah berdatangan untuk menjadi saksi pernikahan tersebut.
Senyuman kebahagiaan terlukis di wajah kedua orang tua Rea dan juga wajah mamanya Samuel. Hubungan mereka kini akan terikat dan semakin kuat dengan pernikahan putra dan putri mereka.
Di dalam sebuah ruangan make up. Wajah bahagia juga terlukis di wajah Rea. Hari ini, dia akan menjadi istri dari Samuel Ryan Sasmito. Seorang lelaki tampan dan sukses. Yang tentunya menjadi rebutan banyak wanita.
"Nona Rea cantik sekali." puji make up artist tersebut.
"Selamat ya nona Rea atas pernikahannya." imbuh make up artist itu lagi.
Rea hanya tersenyum kecil. Wajahnya yang kecil dengan make up yang sesuai dengan karakternya menambah kecantikannya. Ia juga sangat puas dengan hasil make up nya.
Sementara di ruangan lain. Samuel merenung seorang diri. Dia sebenarnya masih enggan menikahi wanita lain. Tapi dia tidak bisa berbuat apa-apa. Undangan sudah terlanjur menyebar.
"Kak, udah waktunya!" kata Arya memanggil kakaknya.
Samuel memantapkan hatinya. Kemudian dia membenahi bajunya. Samuel terlihat tampan dengan jas berwarna hitam. "Kamu yakin?" tanyanya kepada Arya.
"Ya, kak."
__ADS_1
Mereka berdua kemudian keluar dari ruangan tersebut kemudian berjalan bersama menuju aula pernikahan. Disana, orang tua mereka, orang tua Rea dan para hadirin menunggu sang mempelai.