Benang Merah Takdir

Benang Merah Takdir
Bab 42


__ADS_3

Pagi hari di kediaman keluarga Bramasta, terjadi kehebohan dari Nyonya Besar mereka, yang sebelumnya di telepon oleh putra semata wayang mereka, yang tak lain adalah Erlangga.


" Daddy ..." teriak Bunda Anisa dari lantai 3 rumahnya.


" Kenapa sayang , kok masih pagi begini kamu sudah teriak dan heboh banget ?"


" Huh ... huh, ini tentang Erlangga !" jawab Bunda Anisa yang masih terengah-engah turun ke bawah menemui suaminya.


" Coba kamu tarik nafas dulu terus hembuskan perlahan , tenanglah dulu baru mulai bercerita pada ku !"


" Begini tadi aku dapat telepon dari Erlangga, kita harus ke Desa X yang ada di Kota Bandung. Putra kita akan segera menikah Daddy ! Ah senangnya diriku ini !"


" Apa ? Aku tak salah mendengar kan !"


" Ayo sayang kita segera kesana ! Akhirnya aku punya mantu yes - yes !"


Daddy Alex pun yang mendengar kabar tersebut langsung melamun dan terdiam.


" Jangan melongo begitu Daddy !" seru Bunda Anisa.


" Maksudnya Erlangga akan menikah dengan siapa sayang?"


" Ya jelas dengan Yura ! Nanti sambil jalan kesana, aku ceritakan di mobil, pokoknya hari ini kita akan sibuk mengurus pernikahan putra tersayang kita ."


" Baiklah ", jawab Daddy Alex dengan cepat, kalau tidak entah apa yang akan terjadi jika Sang Ratu murka.


Tidak berbeda jauh dengan Kediaman Keluarga Bramasta. Di Kediaman Pradipta pun heboh. Saat Ayah Kevin memberitahu kabar pernikahan Yura dan Erlangga pada istrinya yang masih mencuci piring di dapur.


Prang ... prang.


Terdengar suara piring yang berjatuhan ke lantai dapur. Karena Ibu Hani terkejut mendengar kabar tersebut.


" Bik tolong bersihkan pecahan piringnya ! Saya yang akan membawa istri saya ke ruang tamu."


" Baik Tuan"


" Duduk dulu yang, dan minum air putihnya !


" Sayang apa aku tidak salah dengar ?"


" Tentu tidak yang, ini sungguhan kenapa kamu tidak senang ?"


" Bukan tidak senang, ini terlalu mendadak bagiku."


" Ayo bangunlah, kita harus menjadi wali pernikahan Yura disana !"


" Iya "


Sementara itu, Erlangga dan Yura yang masih berada di balai desa setempat. Sangat merasa risih oleh pandangan penduduk disana, bagaimana tidak. Mereka berdua dianggap telah berbuat hal yang bisa mencemarkan desa itu.


" Kak, bagaimana ini ?"

__ADS_1


" Tenanglah orang tua kita akan segera kesini, jangan khawatir ada aku yang selalu menjagamu !" ucap Erlangga sambil menggenggam tangan Yura.


" Perhatian para warga sekalian, orang tua kedua anak ini akan menuju kesini, untuk itu karena mereka tinggal di luar Kota Bandung jadi akan memakan waktu lama sampai di desa kita ! Untuk itu silahkan kalian semua kembali ke rumah atau terlebih dahulu berangkat kerja sesuai dengan kepentingan kalian masing-masing. Nanti jika mereka sudah tiba disini, akan saya infokan lebih lanjut. Sekian pengumuman dari saya, silahkan kalian semua bubar dari Balai Desa !"


" Kak aku lapar ."


" Tunggu sebentar aku tanya dulu kepada Ketua RT disini !"


" Permisi Pak RT, bisa kami makan sebentar karena kami belum sempat makan pagi tadi ?"


" Kalian berdua makanlah di rumah saya ! Tadi istri saya masak banyak."


Erlangga pun menoleh kebelakang dimana Yura masih duduk. " Bagaimana yang, apa kamu mau?"


" Iya aku mau Kak, sekalian kita ijin buat mandi !"


" Maaf merepotkan Pak RT, bolehkan kami berdua ijin mandi juga?"


" Silahkan nak, ayo ikut Bapak pulang ke rumah !"


Yura dan Erlangga pun mengikuti Pak RT menuju ke rumah beliau.


" Pak, mereka siapa?" tanya istri Pak RT.


" Mereka berdua adalah pengunjung Desa yang sedang berlibur kesini, tapi malahan ada kejadian yang tidak mengenakan. Ya berujung adanya salah paham dari penduduk kita. Mau gak mau mereka akan menikah hari ini."


" Oalah mari nak, silahkan kalian berdua masuk ke dalam."


" Sepertinya ada Pak, kalian tunggu dulu disini ya, akan saya carikan !"


Melihat rumah disana sangat sederhana dan tertata rapi. Yura yang dari tadi merasa cemas sudah mulai tenang semenjak mendapatkan perlakuan baik dari keluarga Pak RT.


" Nah ini handuk dan pakaian gantinya, silahkan kalian bergantian untuk mandi ya, maaf kalau kamar mandi kami kecil tidak sebesar di kota !"


" Gapapa Bu, kalau begitu kami mandi dulu."


" Iya nak"


" Bu kalau anak ke dua kita tidak meninggal dunia, mungkin akan sebesar mereka berdua ya?"


" Iya Pak, hari ini rumah kita sedikit ramai dengan adanya mereka. Setidaknya rumah ini tidak sepi lagi, entah kapan Tomi pulang ke desa dari mencari kerja di kota?"


" Kau doakan saja anakmu disana bisa hidup dengan baik, mendapatkan kerjaan yang halal, dan bisa mengirimi kita uang !"


" Ibu selalu mendoakan dia."


Setelah 35 menit berlalu, Yura dan Erlangga akhirnya selesai mandi dan menghampiri kembali Pak RT dan istrinya di ruang tamu.


" Ayo nak silahkan duduk disini, Ibu siapkan dulu makanannya, semoga kalian bisa makan masakan ala kampung !"


" Jangan merasa tidak enakan seperti itu Bu, malahan saya sangat bersyukur dan berterima kasih bisa numpang mandi dan makan disini ", ujar Yura.

__ADS_1


Mereka berempat pun makan dengan lahap walaupun menu sarapan paginya sederhana dan sangat nikmat di lidah.


" Aku kenyang ", ucap Erlangga.


" Apa Kakak mau pisang goreng, ini juga enak?"


" Boleh, tapi kamu yang suapi aku ya?"


" Iya, gini nih kalau manjanya lagi kumat ", ucap Yura sambil tersenyum ke arah Erlangga.


" Kalian berdua sangat romantis ya? Saya jadi iri dengan kalian ", sahut Bu RT seakan menyindir ke arah suaminya yang cuek bebek itu.


" Makasih Bu"


Saat mereka sedang asyik mengobrol, tiba-tiba dari depan terdengar pintu rumah yang diketuk oleh orang diluar.


" Siapa ya yang bertamu pagi begini?"


" Mungkin itu orang tua kedua anak remaja ini Bu !"


" Oalah, kalau begitu Ibu ke depan dulu bukain pintu !"


Dan benar saja, yang datang kesana adalah orang tua Erlangga dan Yura.


" Apa ini rumahnya Pak RT? tanya Daddy Alex.


" Iya pak benar, ada perlu apa kalian mencari suami saya?"


" Kami ingin bertemu dengan anak kami, namanya Erlangga dan Yura ", jawab Bunda Anisa.


" Silahkan masuk ke dalam mereka ada disana bersama suami saya."


" Daddy , ayah ", ucap Erlangga dan Yura bersamaan.


" Ya ampun kalian berdua manggil aja bisa kompakan begitu, iya kan Nisa ? Anak kita memang berjodoh ", ucap Ibu Hani.


" Baiklah karena kalian sudah datang, mari kita ke balai desa sekarang !"


" Baiklah "


Ketika mereka semua keluar dari rumah Ketua RT, mereka pun dikejutkan dengan banyaknya perlengkapan yang dibawa orang tua Erlangga dan Yura ke desa tersebut.


Yura pun menahan lengan Erlangga. " Kak apa ini tidak terlalu berlebihan ?"


" Kamu kayak tidak tau Bunda sama Ibu saja, biarpun kita mintanya sederhana tapi akan tetap terlihat berlebihan juga."


" Ya juga sih ", ucap Yura sambil nyengir ke arah Erlangga.


Setibanya di Balai Desa, bapak penghulu pun sudah disediakan di balai desa tempat akan berlangsungnya pernikahan Yura dan Erlangga.


Dan tidak menunggu waktu lama, akhirnya acara pernikahan dadakan Yura dan Erlangga pun terlaksana dan sah di mata hukum dan agama.

__ADS_1


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


__ADS_2