
"Ma, es krim aku sudah habis.." seru Elvan dengan senang.
Samuel dan Alenka buru-buru mengusap air mata mereka. Karena mereka tak ingin anaknya tahu apa yang membuat papa dan mamanya menangis. Mereka tersenyum menatap Elvan yang berlari mendekati mereka.
"Udah habis es krim-nya?" tanya Alenka.
"Sudah dong.." jawab Elvan dengan senang.
"Mau lagi?" tanya Samuel.
Elvan pun segera menganggukan kepalanya. Namun, Alenka menentangnya. "Udah, besok lagi! Kamu belum makan kan? Sebaiknya kita makan dulu yuk!" ajak Alenka.
"Papa diajak?" Alenka menganggukan kepalanya dengan cepat.
"Asyik.." Elvan pun melompat kegirangan.
"Pa.. Papa.. Nanti setelah makan, kita jengukin adik yuk!" ajaknya.
"Adik? Alexa maksudnya?" tanya Samuel.
"Oh, jadi nama adik aku, Alexa? Iya pa, aku pengen lihat adik.." Samuel tersenyum sembari menyentuh kepala anaknya dengan lembut.
"Iya nanti kita ke rumah sakit jenguk adik. Adik Alexa pasti seneng ketemu kamu." katanya.
Tidak menunggu sampai jam makan siang. Samuel mengajak Alenka dan anaknya makan siang di kafe favorit Samuel dan Alenka. Ia ingin menumbuhkan kembali cerita masa lalunya bersama dengan Alenka.
Demi bisa makan bersama Alenka dan anaknya. Samuel sampai membatalkan semua jadwal meetingnya. Ia ingin memiliki waktu lebih bersama Elvan dan Alenka.
Sembari menunggu pesanan. Samuel seperti biasanya maju ke tempat live music. Dia mengajak anaknya untuk maju bersama dengannya.
"Papa mau nyanyi? Emang bisa?" tanya Elvan.
"Hm.." Samuel menganggukan kepalanya.
Jika biasanya dia hanya bernyanyi. Kini Samuel juga memainkan piano yang tersedia di tempat tersebut. Elvan merasa kagum dengan kepiawaian papanya dalam memainkan alat musik tersebut. Berulang kali dia bertepuk tangan di samping papanya.
"Wah.. Papa hebat.." serunya dengan bahagia.
"Kau penerus darahku, sbagai tanda lanjutnya perjuanganku, kau penerus darahku, cinta... seumur hidupku..."
Prokk.. Prokk.. Prokk..
"Papa hebat..." pujian terus Elvan lontarkan untuk papanya.
__ADS_1
Dari tempatnya, mata Alenka berkaca-kaca saat melihat senyuman Elvan yang begitu bahagia. Baru kali ini dia melihat anaknya tersenyum sebahagia itu.
Mungkin, selama ini sebenarnya Elvan merindukan sosok ayahnya. Tapi, demi tidak membuat Alenka sedih. Anak lima tahun itu menyembunyikan keinginannya.
Samuel kembali ke tempat duduk sembari menggendong anaknya. Pada saat yang sama, makanan yang mereka pesan sudah siap disantap.
Naluri Elvan sebagai anak kecil pun mulai keluar. Dia meminta papanya untuk menyuapinya. "Aku mau disuapin papa!" katanya.
"Papa juga harus makan, El.. Makan sendiri ya, biasanya juga makan sendiri." sahut Alenka.
"Nggak mau. Aku mau disuapin papa! Kalau nggak, aku nggak mau makan!" rajuknya. Dia beneran meletakan makanannya dan tidak mau menyentuh makanan di depannya.
Tidak mau membuat anaknya sedih dan kecewa. Samuel pun menuruti apa mau anaknya. Dia memaklumi sikap kekanakan Elvan. Selain karena dia memang masih kecil, juga mungkin karena dia merindukan sosok papa selama ini.
"Hiyak.. Sini papa suapin.." Samuel mengangkat tubuh gembul anaknya ke dalam pangkuannya.
Samuel sendiri juga merindukan momen seperti itu. Momen dimana anak-anaknya akan merajuk dan bergelayutan di kakinya. Lalu ia akan mengangkat mereka dan memangkunya serta menyuapi anaknya dengan penuh kasih sayang.
Alenka membiarkan anaknya bermanja dengan papanya. Lagi-lagi dia melihat senyuman bahagia anaknya.
Namun tiba-tiba, momen bahagia itu menjadi momen mengkhawatirkan. Karena tiba-tiba keluar darah dari hidung Elvan.
Alenka yang melihat pertama kali menjadi begitu cemas. "El diem!" Alenka dengan cepat mengambil tissue kemudian membersihkan darah yang mengalir di hidung anaknya.
Sama seperti Alenka, Samuel juga menjadi panik. Dia menengadahkan kepala Elvan agar darahnya tidak mengalir terus.
Dengan cepat ia melajukan mobilnya ke rumah sakit. Samuel terus panik, apalagi ketika melihat Alenka yang menangis sembari memeluk anaknya.
"Papa sama mama jangan sedih! Aku nggak apa-apa kok. Biasanya kalau aku capek juga sering keluar darah seperti ini." kata Elvan ikut sedih ketika melihat papa dan mamanya panik serta sedih.
"Biasa?" Alenka bertanya-tanya. Kenapa dia tidak tahu kalau anaknya terbiasa mimisan.
"Ia ma. Kalau aku capek biasanya aku mimisan. Tapi aku sengaja sembunyiin itu dari mama karena tidak mau melihat mama khawatir dan sedih." jawab Elvan yang semakin membuat Alenka menangis. Ia semakin erat memeluk anaknya.
Sampai di rumah sakit, Samuel segera menggendong anaknya ke ruang gawat darurat. "Silahkan bapak dan ibu nunggu di luar!" perintah suster.
Samuel mondar mandir menunggu dokter memeriksa anaknya. Dia tidak sabar dan cemas. Sedangkan Alenka lebih ke diem sembari menggumamkan doa untuk keselamatan anaknya.
"Jangan khawatir! Anak kita pasti akan baik-baik saja." ucap Samuel berjongkok di depan Alenka.
"Aku takut, Muel.. Aku tidak punya siapa-siapa lagi selain dia." Alenka sudah mulai menangis.
Samuel kemudian duduk disamping Alenka sembari memeluknya. "Anak kita kuat, dia pasti bisa lalui semua ini!" katanya menenangkan Alenka.
__ADS_1
Padahal sebenarnya hatinya juga khawatir dan cemas. Takut terjadi apa-apa dengan anaknya. Mereka baru saja bertemu.
Tak lama kemudian. Dokter keluar dan meminta mereka berdua untuk ke ruangannya. "Gimana anak saya dok?" tanya Samuel.
"Bapak orang tua kandungnya?" Samuel menganggukan kepalanya dengan cepat.
"Anak bapak mengidap kanker darah. Dan kondisinya semakin hari semakin lemah."
"Saya mau donorkan sumsum tulang belakang saya untuk anak saya!"
"Bapak yakin? Tapi kita harus cek lebih dulu, apakah cocok atau tidak."
"Saya siap." jawab Samuel dengan yakin.
Setelah memenuhi prosedur. Samuel mulai di periksa. Akan tetapi, sumsum tulang belakang Samuel juga tidak cocok untuk anaknya.
Brakk...
"Bagaimana bisa nggak cocok? Saya papa kandungnya?" Samuel marah dan menggebrak meja dokter.
"Muel tenang dulu! Kita dengerin saran dokter dulu!" Alenka memegang tangan Samuel agar Samuel bisa lebih sabar.
"Tapi bagaimana mungkin Al? Aku papanya.." Samuel nampak kecewa karena dia gagal menyelamatkan anaknya.
Alenka menganggukan kepalanya kecil. "Kita denger saran dokter dulu!" ucapnya.
"Silahkan dok!" ucap Alenka.
"Sebenarnya ada satu cara yang bisa dibilang ampuh untuk penyembuhan kanker darah, yaitu dengan darah tali pusar bayi.. Jadi bapak dan ibu bisa menolong anak kalian, dengan darah tali pusar adiknya Elvan." kata dokter.
Samuel dan Alenka saling bertatapan. Tentu saja itu menjadi dilema untuk Alenka. Mana mungkin dia memiliki anak lagi dengan Samuel. Sedangkan Samuel sudah memiliki istri.
"Sejauh ini, darah dari tali pusar cukup ampuh untuk pengobatan kanker darah." imbuh dokter.
"Terima kasih sarannya dok. Kami akan memikirkannya lagi." Alenka segera keluar dari ruangan dokter.
Samuel dengan segera menyusul Alenka. "Al, kenapa kita harus mikirin lagi? Kalau itu cara agar Elvan sembuh, kenapa kita nggak punya bayi lagi?" tanya Samuel.
Alenka langsung menatap Samuel dengan tajam. Dia tak mengerti lagi dengan apa yang Samuel pikirkan. Kenapa dia tidak memikirkan perasaan istrinya sama sekali.
"Aku nggak nyangka kamu ternyata lelaki yang tak punya hati." kata Alenka dengan kesal.
"Maksud kamu apa?"
__ADS_1
"Kamu sudah punya istri, dan anak kamu sedang di rawat di rumah sakit ini juga. Bisa-bisanya kamu kepikiran untuk memiliki bayi lagi dengan aku? Dimana hati kamu sebagai suami?" Alenka marah dan bahkan mendorong Samuel.
"Aku tidak akan pernah rusak rumah tangga kamu demi alasan apapun. Aku tidak akan bersenang-senang diatas duka wanita lain." kata Alenka.