
"Elvan nggak boleh nakal ya selama mama dan papa pergi!" pesan Alenka untuk anaknya. Sebenarnya dia tidak rela meninggalkan anaknya. Tapi, semua juga demi supaya dia dan Samuel bisa fokus memiliki bayi lagi.
"Iya ma.. Aku akan nurut sama nenek dan oma Arya juga tante Rea. Kalian jaga kesehatan ya!" kata Elvan sembari memeluk mamanya.
"Kalau mau apa-apa bisa bilang ke om Arya atau om Yoga, ya!" Samuel berjongkok sembari memeluk anaknya. Dia juga tak rela berpisah dengan anaknya. Tapi semua juga demi anaknya.
"Iya pa.. Jagain mama ya pa! Semoga kalian pulang dengan selamat, dan aku bisa segera punya adik.." kata Elvan yang membuat Alenka semakin berat meninggalkan anaknya.
Selama ini dia belum pernah berpisah sama sekali dengan anaknya. Apalagi ini mereka berpisah selama kurang lebih seminggu.
"Mama jangan khawatir! Aku baik-baik saja kok.." tangan mungil Elvan menyentuh wajah Alenka yang nampak sedih.
"Jangan khawatir Al, mama akan jagain Elvan. Ada Arya dan Rea juga." sahut mamanya Samuel.
"Iya kak. Jangan khawatir! Kalian hanya perlu fokus dengan tujuan kalian!" timpal Rea.
"Nitip Elvan ya, Re, ma!" Rea dan Rosie menganggukan kepalanya secara bersamaan.
Alenka dan Samuel segera berangkat karena pesawat juga sudah siap. Tangan kecil Elvan melambai ke arah papa dan mamanya.
"Papa.. Mama.. Hati-hati!" seru Elvan.
Alenka tersenyum menatap anaknya. Dia juga melambaikan tangannya. "Mama akan pulang dengan membawa kesembuhan untuk kamu, nak.." gumamnya dengan sedih.
Samuel merangkul Alenka. Dia tahu apa yang istrinya rasakan. Karena dia juga merasakan hal yang sama ketika melihat anaknya.
****
Samuel dan Alenka bulan madu di pulau Dewata. Selama seminggu mereka akan menikmati liburan mereka dan fokus pada tujuan mereka untuk memiliki bayi lagi.
Keduanya merasa sangat bahagia dengan liburan sekaligus bulan madu mereka. Samuel memperlakukan Alenka dengan sangat baik. Dia bahkan sering bersikap romantis.
__ADS_1
"Kamu ingat hotel dan kamar ini nggak?" tanya Samuel sembari memeluk Alenka.
"Hmm.." Alenka menganggukan kepalanya sembari tersenyum.
Bagaimana bisa lupa?
Hotel dan kamar itu adalah tempat dimana pertama kali mereka liburan bersama dan pertama kalinya mereka melakukan hubungan suami istri, dulu.
Alenka tak pernah menyangka jika dia akan kembali ke kamar itu. Bersama dengan Samuel juga.
"Di kamar ini, kita mulai terikat satu sama lain. Seperti benang merah takdir yang mengikat jemari kita. Meskipun menjauh, tapi pada akhirnya akan kembali lagi. Semua karena benang merah takdir yang mengikat kita." ucap Samuel.
"Al, makasih karena sudah mau menyerahkan seluruh hidup kamu untuk mendampingi aku. Terima kasih karena telah melahirkan penerusku. Aku cinta kamu, dulu, sekarang dan selamanya.." imbuh Samuel semakin erat memeluk Alenka.
Alenka tersenyum bahagia. Akhirnya, perjalanan cintanya dengan Samuel sampai pada bahtera yang mereka impikan. Alenka berharap semoga mereka selalu bisa bergandengan tangan untuk menghadapi semua ombak yang akan terjadi ke depannya.
"Kita mulai sekarang atau nanti?" bisik Samuel.
"Lebih cepat lebih baik." imbuhnya.
Mereka kemudian melakukan misi mereka agar segera memiliki bayi. Semalaman Samuel tak berhenti. Dengan dalih supaya segera mendapat bayi. Dia membuat Alenka tak bisa menolak sama sekali.
****
"Oma, telepon papa sama mama dong! Aku kangen." pinta Elvan.
Sudah tiga hari dia berpisah dengan mama dan papanya. Elvan sudah merasa kangen dengan papa dan mamanya.
"Elvan kangen sama papa dan mama?" Elvan menganggukan kepalanya pelan.
Namun, tak lama kemudian Arya datang membawa hape. Ternyata dia sudah melakukan panggilan video dengan kakaknya.
__ADS_1
"Gimana keadaan Elvan?" tanya Samuel.
"El, dicari papa kamu!" Arya memberikan ponselnya kepada Elvan.
Dengan cepat Elvan menerima ponsel om-nya. Dia senang karena bisa melihat papa dan mamanya walau hanya lewat video call. "Hallo pa..." katanya.
"Hallo El, udah makan belum? Jaga kesehatan kamu ya! Dua hari lagi papa sama mama pulang.." kata Samuel menyapa anaknya. Sebenarnya dia juga kangen dengan anaknya.
"Siapa?" terdengar suara Alenka.
"Mama..." seru Elvan memanggil mamanya. Dia sudah kangen sekali dengan mamanya.
"Hai El, kamu lagi apa? Kangen nggak sama mama? Kamu nakal nggak?" tanya Alenka. Dia juga sudah sangat merindukan anaknya.
"Nggak ma.. Aku nggak nakal. Aku juga kangen banget sama mama." jawab Elvan.
"Ma.. Alenka keramas.." kata Arya pelan.
Rosie pun segera melihat video call tersebut. Dia tersenyum kecil melihat Alenka dengan rambut basah dan masih berantakan.
Namun seperti Alenka tidak memperhatikan maksud mama mertuanya yang ikutan nimbrung bersama dengan Elvan.
"Hallo ma.." sapa Alenka ketika melihat mama mertuanya nimbrung.
"El nakal nggak ma?" tanyanya lagi.
"Hai Al.. Enggak kok, Elvan nggak nakal. Dia pinter banget.." Rosie mengecup kepala Elvan dengan lembut.
"Kalian have fun disana aja, biar Elvan cepat punya adik.." kata Rosie sembari tersenyum.
"Mama ih.." Alenka tersenyum malu-malu.
__ADS_1
"El jangan nakal lho! Nurut sama oma dan om Arya juga tante Rea!" kata Alenka lagi.
"Siap ma..." Elvan termasuk anak yang penurut. Dia juga anak yang mandiri dan pintar. Jadi dia tidak menyusahkan oma dan om serta tantenya sejauh ini.