
"Tadi pak Samuel?" bisik Maya. Samuel tidak memperhatikan keadaan sekitar. Dia langsung ke ruang rawat bersama dengan wanita yang bersama dengan dia.
"Sebenarnya pak Sam-"
Belum selesai Maya bicara. Dokter yang merawat Elvan keluar dari ruang pemeriksaan. Alenka tidak peduli dengan apapin. Yang dia pedulikan hanya anaknya.
"Gimana keadaan anak saya, dok?" tanya Alenka.
"Anak ibu sudah membaik. Tidak apa-apa. Tapi kita perlu pemeriksaan lebih lanjut. Untuk sementara bisa pulang, saya tuliskan resep obatnya dulu!" Alenka merasa sangat lega. Setelah dokter dan suster meninggalkan tempat tersebut. Ia segera masuk untuk melihat anaknya.
"El..."
"Ma.." Elvan tersenyum setelah melihat mamanya.
"Gimana, apa yang kamu rasakan? Mana yang sakit?" tanya Alenka.
"Enggak sakit kok ma. Maafin aku karena udah buat mama cemas." kata Elvan dengan lembut.
Alenka langsung memeluk anaknya dengan erat. Satu-satunya alasannya untuk bertahan hidup. "Aku sayang mama." lirih Elvan.
"Mama juga sayang sama Elvan. Kamu adalah nyawa mama." jawab Alenka tidak melepaskan pelukan. Justru semakin erat memeluk anaknya.
"Maafin aku ya tante, karena udah bikin tante khawatir!" kata Elvan kepada Maya.
Maya tersenyum kecil kemudian berjalan mendekati lelaki kecil itu. Dengan lembut menyentuh kepala Elvan. "Nggak apa-apa. Yang penting kamu baik-baik saja, tante udah lega." jawab Maya.
"Kalau gitu pulang yuk! Istirahat!" ajak Maya.
"Ayok.." Elvan segera turun dari ranjangnya.
"Bentar, nunggu resep dari dokter dulu!" kata Alenka.
Sepuluh menit kemudian suster kembali untuk menyerahkan resep kepada Alenka. "Permisi ibu, ini resep anak Elvan, silahkan tebus di apotik!"
"Makasih sus."
"Kamu nunggu disini dulu sama tante Maya! Mama ambil obat kamu dulu!" Alenka bergegas ke apotik untuk menebus resep obat milik anaknya.
Tak butuh waktu lama karena kebetulan tidak antri. Alenka segera kembali ke ruangan dimana anaknya sedang menunggunya. Ketika sampai di depan ruang IGD, dia melihat Samuel yang sedang menelepon.
Alenka sengaja menundukan kepalanya agar Samuel tidak melihatnya. Bahkan sedikit menutup wajahnya.
Tapi, begitu Samuel menoleh. Dia melihat sosok wanita yang selama ini ia rindukan. Matanya terbelalak karena kaget. Ia segera mematikan teleponnya. "Alenka!" panggilnya dengan cepat dia menahan tangan Alenka yang hendak masuk ke ruangan.
Alenka enggan berbalik. Dia tidak ingin ketemu dengan Samuel lagi. Luka yang Samuel berikan masih sangat terasa sakitnya.
__ADS_1
Akan tetapi, Samuel menarik dan membalik badan Alenka. Benar saja, di depannya itu adalah wanita yang selama ini memenuhi pikirannya. Sosok wanita yang selalu ada di dalam hatinya. Wanita yang selalu ia rindukan.
Mata Samuel berkaca-kaca. Dia tak menyangka akan bertemu dengan wanita yang selama enam tahun pergi darinya. Tangan Samuel terangkat, menyentuh wajah Alenka. Dengan cepat Alenka menghindar. Dia segera berbalik badan.
"Ini beneran kamu. Al, aku kangen.." Samuel segera memeluk Alenka dari belakang.
"Aku kangen banget sama kamu." lirihnya dengan suara terisak. Alenka mencoba meronta, tapi Samuel tidak mau melepaskannya.
"Gimana keadaan anak kita?" tanya Samuel yang membuat Alenka membulatkan matanya. Jadi selama ini Samuel mengetahui tentang kehamilannya waktu itu.
"Siapa yang sakit? Dimana anak kita?" tanya Samuel lagi mulai panik.
"... Ada di dalam." kata Alenka.
Samuel segera membuka pintu ruang perawatan tersebut. Klek..
"Mama udah ambil obatnya?" tiba-tiba mata Elvan membulat. Ternyata yang membuka pintu bukanlah mamanya melainkan seorang laki-laki yang wajah hampir mirip dengannya.
"Om siapa?" tanya Elvan.
"Om ini siapa ma? Temennya mama?" tanya Elvan ketika melihat mamanya berjalan di belakang lelaki yang tak ia kenal tersebut.
Samuel menatap Elvan dengan lembut. Air mata menumpuk disudut matanya. Perlahan ia berjalan mendekati anak kecil berusia lima tahun tersebut. Langkah demi langkah, hatinya merasa bersemangat. Kehidupannya yang telah hilang enam tahun yang lalu. Kini mulai bangkit kembali.
Matanya, bibirnya, alisnya serta hidungnya sangat mirip dengan Samuel. Samuel tak berhenti menyentuh wajah mungil itu.
"Om siapa?" tanya Elvan yang juga bingung kenapa Samuel terus menyentuh wajahnya dengan mata berkaca-kaca.
Samuel kembali tak menjawab. Tapi dia langsung memeluk Elvan dengan erat. Air matanya mulai pecah. "Terima kasih, terima kasih.." lirih Samuel.
"Maafin papa.. Maafin papa yang tak menyadari keberadaan kamu dulu. Maafin papa." kata Samuel semakin erat memeluk Elvan.
Elvan membulatkan matanya. Dia menatap mamanya dan mamanya hanya menganggukan kepalanya. Itu sebagai jawaban jika lelaki yang memeluknya itu benar adalah papanya.
"Jadi kamu papa aku?" tanya Elvan.
Samuel menganggukan kepalanya dengan cepat. Tapi, dia tetap tidak mau melepaskan pelukannya.
"Kenapa papa ngggak sayang aku?" tanya Elvan. Seketika Samuel melepaskan pelukannya. Dia menatap anaknya dengan lekat.
"Papa sayang sama kamu. Sayang banget. Bahkan lebih daripada hidup papa sendiri." jawab Samuel.
"Kalau gitu kenapa papa nggak nyari aku? Kenapa papa punya keluarga lain?" tanya Elvan dengan sengit.
Padahal, awalnya ia hanya ingin ketemu papanya dan menerima kenyataan yang ada. Tapi, nalurinya sebagai anak-anak tidak bisa dibohongi. Tetap saja dia merasa cemburu.
__ADS_1
"Papa nyariin kamu dan mama kamu, tapi jejak kalian tidak papa dapat. Maafin papa! Papa tahu kamu kecewa dengan papa. Tapi yang harus kamu tahu. Selama enam tahun ini papa tersiksa oleh rindu kepada kamu dan mama kamu." Samuel kembali memeluk anaknya erat.
"Kamu boleh minta apa aja yang kamu mau, sebagai ucapan permintaan maaf papa ke kamu." imbuhnya.
Diam-diam Elvan tersenyum bahagia. Momen seperti inilah yang selama ini ia rindukan. Bisa bertemu dengan papanya, dipeluk serta dimanja oleh papanya.
"Kamu sakit apa?" tanya Samuel dengan sangat lembut.
"Tadi aku jatuh pa, hidungku keluar darah." jawab Elvan.
Hati Samuel melompat kegirangan ketika mendengar Elvan memanggilnya 'papa'. Sama seperti Elvan, dia juga merindukan momen tersebut selama enam tahun terakhir saat dia tahu dia akan memiliki anak.
"Terus gimana keadaan kamu?" tanya Samuel dengan cemas.
"Kata dokter udah boleh pulang."
"Syukurlah. Nama kamu siapa?"
"Elvan, pa."
"Elvan? Papa sayang banget sama kamu. Papa bahagia sekali bisa ketemu kamu. Jangan tinggalin papa lagi ya!" kata Samuel sembari menatap mata anaknya yang jernih.
"Pulang sama papa ya, nak!" ajak Samuel.
"Aku pulang sama mama aja. Aku nggak mau pisah sama mama." jawab Elvan dengan cepat. Dia tidak mau meninggalkan mamanya. Meskipun sudah bertemu dengan papanya.
"Mama diajak! Nanti kita tinggal bersama. Papa, kamu dan mama kamu!"
"Nggak. Aku nggak setuju." sahut Alenka.
"El, yuk kita pulang!" Alenka mengajak anaknya agar segera pulang.
"Iya ma."
"Maaf pa, aku mau pulang dulu!" Elvan melompat dari ranjang. Kemudian menggandeng tangan mamanya. Lalu meninggalkan tempat tersebut.
"Al, tunggu! Kenapa kamu nggak mau pulang sama aku? Kita akan tinggal bersama, dan bahagia bersama." Samuel menahan tangan Alenka.
"Lebih baik kamu urus keluarga kamu! Aku dan Elvan sudah terbiasa tanpa orang lain." Alenka mempercepat langkahnya sembari menggendong anaknya.
Samuel hendak mengejar Alenka dan anaknya. Tapi, ia tertahan oleh panggilan Rea. "Kak, Alexa semakin parah!" seru Rea sembari menangis.
Samuel akhirnya menghentikan langkahnya yang ingin mengejar Alenka dan anaknya. Ia masuk ke ruangan dimana Alexa di rawat.
"Kalau kalian tidak bisa selamatin Alexa. Aku akan ratakan tempat ini!" seru Samuel dengan marah. Saat ini emosionalnya tidak terkendali.
__ADS_1