Benang Merah Takdir

Benang Merah Takdir
Bab 87


__ADS_3

" Apa ...? Tidak mungkin !"


" Jika kau tidak percaya silahkan cari di sosial media tentangku."


Langsung saja Ibu Sandra dan Selvi searching tentang Rangga Pradipta sang pewaris dari perusahaan Pradipta Grup.


" Ibu ... coba kau tampar pipiku apa aku sekarang hanya bermimpi !"


Plak.


" Aduh ... sakit ", jawab Selvi sampai memegang pipinya.


" Jelas kau tidak bermimpi, bagaimana ini?" cicit Bu Sandra dengan was-was.


Sedangkan sang menantu hanya bisa menelan air liurnya yang membasahi kerongkongan.


Betapa tidak, karena ikut dalam tindakan ibu mertua dan istrinya. Sehingga dia bisa berurusan dengan orang penting di dunia bisnis.


Apalagi mereka semua sudah menghina istri dari Rangga Pradipta. Alamak pasti karirnya tidak akan selamat nanti.


" Kenapa kalian semua diam hah?" Rangga pun mendekat dan ingin memukul orang yang sudah merendahkan istrinya.


Tentu saja ketiga orang tersebut memundurkan langkah kebelakang dan hendak melarikan diri tapi naas. Sepatu hak yang dipakai oleh Selvi tersandung batu di dekat kolam , sewaktu mereka bertiga memundurkan langkah.


Dan brak .. bruk ... byur.


Mereka bertiga pun jatuh ke dalam kolam dekat taman itu.


Mendengar kegaduhan tersebut. Kinara yang asyik makan langsung berlari menghampiri suaminya dan melihat sendiri nasib yang menimpa ketiga orang tersebut. Tercebur ke kolam dengan pakaian yang basah. Apalagi malu dilihat oleh para pengunjung taman tersebut.


Kinara pun tertawa saking lucunya melihat nasib mereka.


" Hahaha ... rasakan karma kalian."


Bukan hanya Kinara yang tertawa bahkan orang lain yang melihat itu pun tergelak terpingkal-pingkal melihat nasib dari Bu Sandra , Selvi beserta suaminya.


Rangga hanya bisa memeluk sang istri dan tersenyum. Tentu saja ia sudah menyuruh anak buahnya memecat suami Selvi dari perusahaannya.


Dengan susah payah ketiga orang tersebut berenang ke tepian kolam, hingga saat suami Selvi mengambil handphone yang ia taruh di dalam tas kerjanya. Seketika kabar buruk yang ia dapat dalam 1 hari itu. Iya kabar pemecatannya dari perusahaan dimana selama ini ia bekerja.


" Pak, dengarkan penjelasan saya, saya tidak melakukan kesalahan tapi mengapa saya dipecat ? Apa?"


Seketika ia memandang sang istri dan menampar Selvi. " Ini semua gara-gara kamu, lihat sekarang aku dipecat !"


" Kenapa kau menyalahi aku?"


Pertengkaran suami istri pun tidak bisa dielakkan dan menjadi konsumsi publik.


Sedangkan Rangga menuntun sang istri untuk pergi meninggalkan taman tersebut.

__ADS_1


" Ayo sayang kita pulang, hari sudah beranjak sore dan kau ingat kan , aku harus dapat imbalan yang setimpal", bisik Rangga di telinga Kinara.


" Sayang, aku."


" Tak ada bantahan, kau mengerti!"


Sesampainya di kediaman Pradipta. Rangga langsung menggendong Kinara menuju kamar mereka dan memerintahkan orang yang ada di rumah bahwa ia tidak bisa diganggu.


Dan mau tidak mau. Kinara memberikan hak suaminya yaitu urusan ranjang.


Rangga pun berusaha memuaskan istrinya dan juga dia tanpa menyakiti calon anak mereka yang masih dalam kandungan.


"Kak pelan-pelan ... ahh!"


" Percayakan padaku yang, aku jamin kau akan puas dan akan memohon padaku."


Ahh ... ahh ...


                                    SKIP


Pagi ini Yura sudah berdandan dengan cantik. Tentu saja Erlangga sangat posesif, selama kehamilan penampilan istrinya biar tidak memakai make up dan berhias pun sudah sangat cantik. Apalagi dia berdandan, sangat membuat seorang Erlangga Bramasta cemburu.


" Sayang, sepagi ini kamu mau kemana?"


" Tentu saja, aku mau ikut bersama kakak ke kantor."


" Jadi, kau menyuruh aku dirumah tanpa ada yang menemani, lalu kau bisa bersama wanita lain begitu!"


" Sepertinya hari ini hormon bumil lagi naik", batin Erlangga.


" Tidak sayang, mana ada aku dekat dengan wanita."


" Kalau begitu aku ikut denganmu ke kantor, dari kantor aku ingin ke taman bermain habis itu aku mau ke pantai !" sahut Yura dengan gemasnya.


" Mana bisa suamimu ini menolak sayang."


Erlangga dan Yura pun menghabiskan sarapan paginya dengan tenang. Bahkan Bunda Anisa, sangat heran dengan menantunya yang berdandan sangat rapi.


" Ra, kamu mau kemana pagi ini? Nggak jadi ikut Bunda arisan ?"


" Maaf Bun, aku lagi pengin ke kantor bersama Kak Erlangga."


" Ya sudah nak, jangan kelelahan ya."


Sesampainya di depan perusahaan. Erlangga langsung memeluk dan memegang pinggang sang istri sejak baru turun dari mobil hingga mereka berdua memasuki lift khusus petinggi perusahaan.


Karyawan laki-laki dan perempuan pun berdecak kagum melihat ketampanan dan kecantikan pasangan tersebut, karena beruntung bisa melihat dari dekat, anak pewaris Bramasta Grup hari ini membawa sang istri ikut kerja, biasanya mereka tidak diperkenalkan melihat wajah menantu keluarga tersebut.


" Kak."

__ADS_1


" Kenapa hmmm ...?"


" Nanti aku ingin ikut rapat ya, plis !"


" Iya, apapun hanya untuk mu my wife."


Erlangga sudah pasti tidak bisa membantah keinginan istrinya, dan disana dia harus menahan emosi akan ada banyak kolega bisnis yang pasti tertarik dengan istrinya.


" Riko, apa persiapan rapat sudah lengkap?"


" Sudah tuan muda, kita akan mulai rapat 10 menit lagi."


" Baiklah, kita kesana sekarang !"


Erlangga pun mengandeng sang istri, hingga pintu rapat pun terbuka. Disana sudah banyak perwakilan dan kolega bisnis perusahaan yang ingin bekerja sama dengan Bramasta Grup.


Tentu saja, Yura duduk di belakang sang suami dengan asistennya. Sedangkan Erlangga sudah mulai memimpin dan memulai rapat.


Banyak presentasi produk yang dipaparkan selama rapat, bahkan hampir semua penghuni rapat melirik Yura yang saat ini sedang makan sandwich dengan lahapnya, sungguh bumil ini mengundang banyak biaya darat.


Erlangga tentu sangat paham tentang arti lirikan tersebut. Dia sudah sangat menahan emosi yang sudah mencapai batas. Tak ayal ia berbalik menghadap sang istri dan memakan sisa sandwich yang ada di tangan Yura. Agar para kolega tidak terus melihat istrinya.


" Sayang, pergilah ke ruang private room di ruangan ku bersama Ishi!"


" Tapi ..."


Erlangga pun berubah menatap Yura dengan aura mencekam.


Melihat akan ada badai setelah ini, ia pun menurut dengan perintah sang suami.


" Mohon maaf, kalau selama rapat kalian terganggu oleh istrinya yang lagi hamil."


" Tidak masalah Tuan, saya tidak menyangka bahwa istri anda sangat cantik. Pantas saja selama ini selalu disembunyikan dari publik."


" Kami kira anda belum menikah, sangat disayangkan harapan saya pupus."


Dan banyak sekali tanggapan dari para perwakilan dan kolega bisnis tentang istrinya hampir 99 % menyatakan ketertarikan pada Yura.


" Terima kasih atas pujian kalian, tapi yang harus kalian ingat dia adalah milikku dan aku tidak akan pernah melepaskannya, jika ada yang ingin merebutnya. Kalian akan tinggal nama ! Sekian rapat kali ini , produk yang kami sepakati akan dihubungi kembali oleh asisten saya. Sampai jumpa !"


" Kejam sekali ya ."


" Tentu saja, makanya jangan ngomong sembarangan", ucap salah satu pemimpin perusahaan yang sudah lama bekerja sama dengan Bramasta Grup.


" Tapi, kalian harus tau, kita cukup beruntung bisa bekerja sama dengan perusahaan besar ini. Punya pimpinan yang tegas, berwibawa dan sangat respek dengan kesejahteraan karyawannya."


" Tapi yang harus kalian ingat, jangan mencoba berbuat curang dibelakang, apalagi mengusik keluarganya, maka apa yang pernah kalian dengar di luar, memang itu kenyataan yang paling kejam."


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

__ADS_1


__ADS_2