
Pagi ini Yura sudah diijinkan untuk pulang setelah kondisinya mulai membaik. Tapi tetap harus banyak beristirahat di rumah sebelum ia akan melanjutkan perkuliahannya.
Sedangkan kesehatan kandungan Yura sudah sangat membaik. Para calon anak mereka tidak rewel , mungkin mereka mengerti tentang kondisi bundanya.
Setelah selesai mengemasi pakaian Yura ke dalam tas, Erlangga pun menemani sang istri untuk makan.
" Sayang, nanti setelah tiba di rumah mertua. Jangan banyak merepotkan mereka ya?"
" Bukankah ada Kak Erlangga yang juga akan menginap disana?"
" Ia tapi 3 hari lagi aku harus pergi keluarga kota mengecek pembangunan hotel disana !"
" Aku ikut !" rengek Yura.
" Maunya aku mengajakmu , tapi sekarang kondisimu belum 100 % pulih sayang, bolehkan aku pergi ?"
" Janji ya hanya 3 hari doang disana ?"
" Paling lama 3 hari sayang, kalau bisa sehari akan aku selesaikan. Jangan cemberut begitu hmm ... Kepalamu terkadang masih nyeri jika ingin mengingat memori yang sudah kau lupakan !"
" Iya kak."
Setelah acara makan selesai, Bunda Anisa pun datang ke ruang ranap Yura. Mereka semua akan meninggalkan rumah sakit menuju kediaman Pradipta.
Sementara itu, Kinara dan Rangga sangat bersemangat menyambut Yura yang akan tinggal sementara dirumah. Kamar Yura yang dulu pun sudah dibersihkan bahkan tidak ada satupun yang berubah semenjak ditinggal Yura menikah.
" Apa ada yang kurang kak?" tanya Kinara kepada Rangga yang baru saja mengganti korden di kamar Yura.
" Tidak yang, semua sudah siap. Ayo kita tunggu mereka datang di bawah !"
" Iya."
40 menit perjalanan, akhirnya rombongan Erlangga dan Yura pun tiba.
" Selamat datang nak", ucap Ibu Hani.
" Ibu", panggil Yura sambil memeluk ibunya.
" Erlangga, nanti barang-barang kalian serahkan saja pada pelayan biar mereka yang akan membawanya ke kamar Yura !"
" Iya Bu."
Setelah Bunda Anisa pulang, sekarang di ruang tamu hanya tersisa Yura, Erlangga, Rangga dan Kinara. Sedangkan Ibu Hani, beliau sudah pergi mengecek restorannya.
__ADS_1
" Begini Ra, dan Kinara. Aku dan Erlangga sepakat agar kalian berdua melakukan check up ke psikolog. Agar trauma yang kalian alami juga akan sembuh, bagaimana?"
Yura dan Kinara pun saling melirik, dan mereka pun mengiyakan dan setuju dengan keputusan para suaminya.
" Kalau begitu, kami duluan ke kamar ya, Yura harus istirahat dan meminum obatnya !"
" Iya, kami pun juga akan balik ke kamar."
Di dalam kamar, Yura pun berkeliling melihat isi kamarnya sejenak. Sungguh ia merasa ada banyak kenangan di kamar ini. Saat ia membuka tirai yang menuju ke balkon. Hawa sejuk menyambutnya dengan perlahan.
" Sayang, pakai jaket mu jangan terlalu lama disini, aku tidak mau kau sakit", ujar Erlangga dari belakang punggung Yura sambil melampirkan jaket ke tubuh istrinya.
" Terima kasih kak, kau sangat sabar menghadapi aku yang amnesia ini."
Erlangga pun tak kuasa menahan hasratnya, ia pun mencium bibir sang istri.
" Kau ini bicara apa hmmm ..., kita sudah menjadi sepasang suami istri tentu saja kita berdua harus saling membantu dan melengkapi satu sama lain. Kita mulai dari awal ya, apalagi 3 bulan ke depan anak kita akan segera lahir sayang."
" Iya."
Erlangga pun menuntun sang istri untuk meminum obatnya dan merebahkan tubuhnya di atas ranjang. Tidak lupa ia pun memeluk sang istri agar Yura segera terlelap.
Sambil mengelus kepala sang istri. Erlangga pun juga ikut tertidur.
Setelah menghubungi seorang psikolog dari rumah sakit yang terpercaya. Kini Yura dan Kinara sangatlah tegang dan cemas. Kedua bumil ini dari tadi berangkat sampai tiba di rumah sakit yang telah direkomendasikan oleh teman Rangga.
" Sayang, tenanglah hmmm ... Jangan banyak berpikir cobalah narik nafas perlahan dan hembuskan, atau apa kau mau roti ini tadi bunda yang buatkan?"
" Iya kak, aku mau, suapi ya !"
Erlangga pun dengan telaten menyuapi sang istri. Siapa yang bisa membuat seorang Erlangga Bramasta bertekuk lutut, kecuali sang istri tercinta yaitu Yura Pradipta.
Sedangkan Kinara sampai mengelus perutnya saking cemas dan tegang. Rangga pun mencoba memberikan kelembutan bagi sang istri sambil menunggu nama mereka di panggil sesuai nomor antrian.
" Ibu Yura dan Kinara, silahkan masuk ke dalam !" instruksi salah satu perawat yang menjadi asisten psikolog tersebut.
Setelah masuk ke dalam kedua bumil tersebut diajak berbincang ringan sebelum psikolog tersebut memberi beberapa pertanyaan dan beberapa teknik psikolog agar para pasiennya sedikit demi sedikit bisa menjelaskan kejadian yang menyakitkan sehingga memberikan trauma berat bagi pasiennya.
Hampir 1 jam, Yura dan Kinara ada di dalam. Erlangga dan Rangga pun juga melihat dengan seksama cara psikolog tersebut mencoba menelisik trauma kedua istri mereka.
" Silahkan buka mata ibu, hari ini sekian treatment dari saya, bagaimana rasanya?"
" Sedikit lebih ringan dok dari sebelumnya ", jawab Yura dan Kinara bersamaan.
__ADS_1
" Syukurlah, minggu depan kalian kesini ya kita lanjutkan sesi berikutnya !"
" Iya."
" Baiklah Tuan Erlangga dan Tuan Rangga, nanti hasil pemeriksaannya akan saya kirimkan kepada kalian ! Untuk saat ini kondisi mental kedua Nyonya muda sudah lebih baik !"
" Baiklah, kalau begitu kami permisi dulu !"
Setelah selesai dari rumah sakit, Erlangga langsung membawa Yura ke pasar malam. Sedangkan Rangga dan istrinya langsung pulang.
" Kak, apa pasar malamnya bukan jam 18.00 sore?"
" Iya, tentu saja apa yang tidak bisa aku lakukan untukmu sayang."
" Jadi kau reservasi pasar malam itu hanya buat aku ?"
" Benar, kau tidak lupa kan besok aku haru pergi keluar kota."
Seketika raut muka Yura yang tadinya ceria mendadak kembali murung.
" Ayo kita sudah sampai sayang !"
Mau tak mau Yura pun menerima tangan suaminya yang membantunya keluar dari mobil.
" Nah hari ini, khusus buatmu!"
" Tapi kak, kalau aku sendiri, mubasir stand makanan sebanyak ini yang menyambut ku !"
" Lalu maumu apa sayang ?"
" Hari ini biarkan para pengawal ikut menikmati pasar malam ini."
" Iya sayangku, apapun yang kau mau akan aku kabulkan ."
Yura pun tanpa sadar memeluk suaminya dengan erat dan tidak lupa memberinya banyak ciuman.
Aksi kemesraan sepasang suami istri tersebut, banyak membuat para pengawal mereka yang sebagian besar masih jomblo. Hanya bisa memalingkan wajah ke arah lain.
" Let's go !"
Segala wahana sudah dicoba oleh Yura, tentu saja semuanya aman bagi bumil tersebut, sampai-sampai Tampa sepengetahuan Yura. Erlangga menyiapkan satu ambulance beserta tim medis untuk berjaga-jaga. Jika ada masalah dengan kesehatan sang istri.
Sedangkan para pengawal mereka sangat berterima kasih kepada nyonya mudanya. Mereka jelas menerima banyak rejeki hari ini, karena semuanya serba gratis tanpa harus dibayar.
__ADS_1
Tak lupa mereka selalu memanjatkan doa kepada Tuhan. Semoga kelak proses kelahiran calon pewaris itu berjalan aman tanpa hambatan.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...