
Di kantor, Alenka kembali melamun. Dia bingung dengan apa yang harus dia lakukan. Pilihan yang begitu sulit untuk dirinya.
Dia dengan susah payah melupakan masa lalunya. Tapi kenapa dia dipertemukan lagi dengan orang itu. Lelaki yang membuatnya trauma menjalani hubungan dengan orang lain.
Tiba-tiba Alenka seperti mendengar kata-kata hinaan di masa lalunya. "Kamu tidak pantas dengan Samuel, kamu harus sadar diri. Samuel siapa dan kamu siapa. Kalian tidak akan pernah bisa bersatu. Lihat diri kamu! Kamu hanya akan membuat Samuel sengsara."
Kata demi kata kembali terngiang ditelinga Alenka. "Sadar diri! Kamu tidak pantas untuk Samuel."
"Hah..." Alenka menutup telinganya menggunakan kedua tangannya. Dia tidak lagi mau mendengar perkataan-perkataan itu.
"Kenapa Al?" tanya Sisil mendekati Alenka yang hanya diam sedari tadi. Tidak seperti biasa yang selalu cerewet.
"Heh?" Alenka menoleh. Lalu dia tersenyum kecil. "Nggak apa-apa kok Sil, mungkin cuma ngantuk aja." jawabnya berbohong.
"Nonton bola lagi pasti?" Alenka hanya nyengir saja.
Sisil menggeleng-gelengkan kepalanya. "Gimana meeting kamu kemarin?" tanya Sisil.
"Masih belum deal. Kayaknya nanti malam baru mau tanda tangan kontrak." jawab Alenka.
"Wah hebat.. Aku denger klien kita satu ini orangnya sulit dan tegas. Juga nilai kontrak ini lumayan besar. Kalau kamu bisa menangin proyek ini, pasti akan dikasih bonus besar oleh bos."
"Kalau aku dapat bonus. Nanti aku traktir."
"Serius?" Alenka menganggukan kepalanya dengan cepat.
"Yeeyy, aku doain semoga kamu berhasil." ucap Sisil kegirangan.
Akan tetapi, saat Sisil kembali ke meja kerjanya. Wajah bingung Alenka kembali nampak. "Hah.." Alenka kembali menghela nafas.
"Al, dipanggil pak Andreas." Maya kembali turun mencari Alenka.
"Hah, si bos kejam ini lagi." gumamnya.
Namun, ia tak mungkin menolak panggilan bos-nya. Ia segera bangkit dengan tersenyum paksa mengikuti Maya ke ruangan bos-nya.
Setelah mengetuk pintu beberapa kali. Maya kemudian membuka pintu ruangan bos-nya yang terbuat dari kaca. "Pak, ini Alenka." katanya.
Andreas tersenyum sembari menganggukan kepalanya. "Saya permisi dulu." pamit Maya.
"Kak.." Alenka menahan tangan Maya.
__ADS_1
"Udah sana!" kata Maya tanpa suara. Ia pun lalu meninggalkan Alenka berdua dengan bos-nya.
"Gimana?" tanya Andreas tanpa basa basi.
"Hah, tolong selesaiin kontraknya sore ini. Nanti malam saya dan pak Samuel akan ketemu untuk tanda tangan." kata Alenka.
"Aku perlu ikut nggak?"
"Ikut lebih baik bos. Nanti siapa yang tanda tangan kalau bos nggak ikut?" Alenka seperti mendapat secercah cahaya.
"Tapi nggak usah ah.. Kamu wakilkan aku saja untuk tanda tangannya." tentu saja perkataan Andreas tersebut membuat Alenka kembali kesal. Dia seperti di php oleh bos-nya.
"Bos nggak takut saya akan berkhianat?"
"Nggak. Karena kamu masih terikat kontrak dengan perusahaan aku." Andreas tidak kalah cerdik dari Alenka.
Walau sebenarnya dia tahu perkataan Alenka itu tidak sungguhan. Alenka telah bekerja selama lebih dari setahun di perusahaan tersebut. Tentu saja Andreas tahu seberapa loyal Alenka kepada perusahaannya.
"Ish..." Alenka menjadi kesal.
"Aku percaya kalau kamu bisa dapatkan proyek ini." kata Andreas.
"Kenapa nggak pak Andreas aja yang temui pak Samuel?"
Alenka paham, dia lalu keluar dari ruangan Andreas. Lalu pindah ke meja kerja Maya. Wajahnya nampak lesu. Kepalanya bersandar di kursi. "Kenapa Al?" tanya Maya yang tak biasa melihat Alenka lesu seperti itu.
"Kak, kenapa cari uang gini amat yak?" tanya Alenka balik.
Maya memicingkan matanya. Dia berhenti sejenak dari kegiatannya. Menatap Alenka yang seperti tak bersemangat sama sekali. "Pak Andreas ngajak kamu meeting lagi?" Alenka menggelengkan kepalanya.
"Terus?"
"Pak Andreas minta aku mewakili dia." jawab Alenka masih tanpa semangat.
"Bagus dong. Itu artinya pak Andreas percaya sama kamu. Semangat dong!" kata Maya memberi semangat kepada Alenka.
Alenka hanya diam tanpa berkata apapun. Namun dalam hatinya dia merasa kesal. "Bagus apanya? Kalau itu orang lain mungkin aku akan semaksimal mungkin. Lah ini mantan pacarku. Mantan pacar yang membuat tak mau punya pacar lagi." gumamnya dalam hati.
"Iya bagus. Kalau gitu buruan selesaiin kontraknya kak!" pinta Alenka.
"Oke. Tinggal dikit lagi selesai. Tunggu bentar ya!" Maya kemudian kembali melanjutkan pekerjaannya.
__ADS_1
"Besok kalau aku dapat bonus dari pak Andreas, aku traktir kak Maya makan siang." ucap Alenka.
"Jangan suka menebar janji! Berat loh hukumnya." kata Maya tanpa menoleh.
"Kan aku bilang kalau dapat bonus. Kalau nggak ya nggak lah. Kalau nggak dikasih bonus aku ledakin nih kantor." ucap Alenka yang membuat Maya tersenyum kecil.
****
Samuel baru pulang dari kantor. Mamanya mendekat dan bertanya. "Pernikahan kamu tinggal dua bulan lagi, kenapa kamu masih kerja aja?" tanya mamanya.
"Pekerjaanku masih banyak ma, lagipula aku harus beresin pekerjaan beberapa hari setelah menikah kan, agar pekerjaanku tidak menganggu acara pernikahanku." jawab Samuel tanpa menghentikan langkahnya membuat mamanya harus ngikut sampai ke kamarnya.
"Malam ini kita akan malam dengan orang tua Rea." kata mamanya lagi.
"Tolong sampaikan maaf aku ma, karena masih harus meeting dengan klien."
"Samuel, kamu lebih penting pekerjaan kamu daripada ketemu sama calon mertua kamu?" mamanya menjadi marah.
"Karena meeting ini sangat penting ma."
"Sepenting apa? Papa dan mamanya Rea disini cuma malam ini, besok mereka harus terbang lagi untuk pekerjaannya. Ayo lah nak."
"Maaf ma. Aku beneran nggak bisa. Meeting aku ini juga sangat penting. Orang tua Rea pasti paham kok, mereka juga pebisnis." Samuel lebih memilih bertemu dengan Alenka dibanding makan malam bersama calon mertuanya.
"Ma, aku udah nurutin mau mama untuk menikahi Rea. Tapi please, jangan ganggu pekerjaan aku!" imbuhnya.
"Cuma makan malam aja.."
"Nggak bisa mama. Sampaiin maaf aku ke mereka aja. Aku mau mandi!" Samuel mendorong mamanya keluar dari kamarnya.
"Cuma makan malam aja.." mamanya masih belum terima dengan penolakan Samuel.
"Nggak bisa ma. Aku mau mandi." Samuel segera menutup pintu kamarnya.
Samuel segera bersiap bertemu dengan Alenka. Pikirannya melayang ke masa silam. Dimana dia dan Alenka masih menjalin hubungan. Mereka sering sekali pergi ke kafe bernama Bintang. Samuel teringat masa indah bersama dengan Alenka.
Saat itu, dia merasa menjadi manusia yang paling bahagia. Alenka merupakan pacar pertamanya. Perasaannya ke Alenka sangat tulus. Walaupun dia tahu status sosial Alenka. Tapi Samuel tidak peduli. Dia sangat mencintai Alenka, bahkan memiliki rencana untuk menikahi Alenka setelah lulus kuliah.
Buk..
Namun tiba-tiba Samuel meninju tembok di depannya. Hatinya terasa nyeri saat teringat pesan Alenka yang mutusin dia saat dia masih kuliah di luar negeri. Padahal, sebelumnya Alenka berjanji untuk menunggunya sampai lulus dan kembali. Mereka juga tidak bertengkar. Tapi tiba-tiba Alenka mengirim pesan meminta putus.
__ADS_1
Sampai detik ini pun, Samuel masih merasakan sakit dalam hatinya. Dia bahkan tidak mau dekat dengan wanita manapun. Pernikahannya ini karena dia dijodohin oleh mamanya.
Tanpa sengaja tangannya mengepal dibawah guyuran air shower. Emosinya kembali tak terkendali. Dan tanpa sadar air matanya jatuh dibawah guyuran air. Sampai saat ini, dia masih belum melupakan Alenka. Kenangan bersama dengan Alenka masih tertata rapi di dalam lubuk hatinya. Pacar pertama dan cinta pertamanya.