
Setelah menunggu selama satu setengah bulan. Akhirnya Alenka mengandung juga. Tentu saja itu membuat dia dan Samuel serta keluarga Samuel sangat bahagia. Selain bertambahnya anggota baru dalam keluarga mereka. Kehadiran anak kedua Samuel diharapkan bisa menjadi obat untuk penyakit Elvan, anak pertamanya.
"Asyik aku mau punya adik.." seru Elvan sembari berlari kesana kemari. Dia sangat bahagia karena akan memiliki teman bermain.
"Akhirnya mama akan punya cucu lagi.. Dijaga kandungannya ya Al!" kata Rosie kepada menantunya.
Namun, Rea nampak agak sedih. Bukan karena dia tidak bahagia akan memiliki keponakan baru. Tapi, karena dia teringat akan dirinya yang tak bisa lagi memiliki anak setelah rahimnya diangkat. Memiliki Alexa adalah perjuangan yang luar biasa untuk Rea dan Arya. Rea yang di vonis memiliki kista dalam rahimnya harus berusaha untuk bisa memiliki anak.
Arya menggenggam tangan istrinya. Ia tahu apa yang membuat istrinya itu bersedih. Senyuman hangat Arya membuat Rea kembali tersenyum.
Ya, dia tidak boleh bersedih disaat kakaknya akan memiliki anak lagi. Lagi pula anak itulah nanti yang diharapkan bisa memberi kesembuhan untuk keponakannya.
Rea kembali tersenyum. "Selamat ya kak, Al.." katanya.
Sementara Samuel tidak berkata apapun. Dia hanya menggenggam dan sesekali mencium tangan Alenka. Ia juga menatap Alenka dengan dalam. Seperti ingin mengatakan terima kasih.
****
Sejak saat itu, Alenka tidak diperbolehkan melakukan aktifitas apapun. Bahkan saat dia ingin memasak pun juga tidak boleh.
"Ada bibi yang memasak untuk kita. Kamu istirahat aja!" kata Rosie.
"Tapi aku kepengen masak untuk Muel, ma..." rengek Alenka. Ia sudah terbiasa masak untuk suaminya. Jadi seperti tidak rela jika orang lain yang masak untuk Samuel.
"Nanti kalau anak kamu udah lahir, kamu bisa masak lagi untuk Muel." kata Rosie tetap menolak permintaan menantunya meskipun Alenka selalu merengek.
"Ya udah kalau gitu aku mau suapin Elvan."
__ADS_1
"Eits nggak boleh. Tugas momong Elvan adalah tugas mama. Kamu diem aja dan banyak istirahat." Rosie melarang Alenka menyuapi anaknya.
Semenjak tinggal di rumah itu. Semua kegiatan dan kebutuhan Elvan, mama mertuanya yang melakukan. Elvan juga terlihat begitu dekat dengan oma-nya. Bahkan dia sudah terbiasa dengan oma-nya. Kini, mamanya menjadi nomer kesekian bagi Elvan.
"Al, mama bukannya melarang kamu dekat dengan anak kamu. Mama cuma ingin kamu jaga kandungan kamu, jaga kesehatan kamu selama hamil. Karena anak itu yang kita nantikan." kata Rosie sembari meraih tangan Alenka.
Melihat wajah Alenka yang sedih. Rosie pun menjelaskan maksud dan tujuannya melarang Alenka melakukan aktifitas berlebih. Ia ingin anak menantunya itu fokus menjaga kesehatan kandungannya.
Alenka pun kembali tersenyum. "Iya ma. Aku tahu kok. Makasih ya ma karena udah begitu baik sama aku dan Elvan.." katanya.
"Kamu ngomong apa sih? Sudah sewajarnya mama baik ke kamu dan Elvan. Kamu menantu mama, juga anak mama. Elvan cucu mama." kata Rosie.
"Mama aja bisa sayang sama Alexa masa mama nggak sayang sama Elvan, cucu kandung mama sendiri." lanjutnya.
"Mama tahu sih, apa yang mama lakukan dulu memang sangat kejam terhadap kamu. Tapi, mama tetaplah mama yang memiliki kasih sayang besar untuk anak mama. Karena melihat Samuel yang begitu mencintai kamu, mama pun tersentuh." katanya lagi.
"Mama mohon ke kamu supaya jangan pernah tinggalin Samuel apapun yang terjadi! Samuel sangat mencintai kamu, Alenka. Mama tidak pernah melihat dia seperti ini kepada wanita lain, bahkan kepada mama sekalipun." imbuh Rosie.
****
Sore hari.
Samuel pulang lebih cepat dari biasanya. Semenjak istri dan anaknya kembali Samuel tidak pernah lagi betah lama-lama di kantor. Dia ingin selalu cepat pulang supaya bisa ketemu dengan anak dan istrinya.
"Papa..." seperti biasa, anak kecil berusia lima tahun itu berlari menyambut papanya yang baru pulang dari bekerja.
"Akh... Anak papa.." Samuel mengangkat anak itu kemudian menciuminya dengan gemas.
__ADS_1
"Mama dimana?" tanya Samuel.
"Di kamar pa.. Seharian cuma rebahan aja di kamar.." jawab Elvan.
"Iya nggak apa-apa, kan biar adik bayinya sehat.." Samuel kembali mencium anaknya.
"Kamu main sama adik Alexa dulu ya, papa mau mandi." Samuel menurunkan anaknya dari gendongannya.
Kemudian dia bergegas ke kamar untuk melihat apa yang dilakukan istrinya. Ternyata, Alenka sedang membaca novel online melalui laptop. Dari belakang, Samuel mengecup pipi istrinya. Cup. Mengagetkan Alenka.
"Eh,, udah pulang?" tanya Alenka saat melihat suaminya ada di belakangnya.
"Baca apa sih serius banget?" tanya Samuel.
"Nih novel di salah satu aplikasi, bagus banget loh yank, banyak sekali pilihan bacaannya, bukan hanya novel, tapi juga ada komiknya, pokoknya seru deh. Lumayan kan untuk mengisi waktu senggang, karena selama hamil ini aku tidak boleh ngapa-ngapain." jawab Alenka.
"Kamu hanya perlu fokus menjaga kesehatan kamu dan anak dalam kandungan kamu!" kata Samuel.
"Tapi agak jenuh juga sih. Dulu waktu hamil Elvan, aku masih bekerja, masih melakukan aktifitas lainnya. Ya karena waktu itu memang harus sih.." kata Alenka sembari terkekeh.
Namun, sesaat kemudian dia sadar kalau perkataannya tersebut bisa membuat Samuel kembali merasa bersalah. "Sekarang aku bersyukur, kamu sangat perhatian ke aku dan anakku. Makasih ya yank.." Alenka segera memeluk Samuel yang sudah mulai berubah raut wajahnya.
"Maafin aku. Aku janji akan menebus semua kesalahanku dengan sisa hidupku." Samuel juga memeluk Alenka kemudian mengecup puncak kepala Alenka.
"Janji?" Alenka mendongakan kepalanya. Sehingga ia bisa menatap wajah suaminya dengan jarak yang cukup dekat.
"Iya.." Samuel menganggukan kepalanya.
__ADS_1
"Aku juga nggak akan melarikan diri lagi meskipun kamu mengusirku. Aku akan tetap disini, mendampingi kamu, menyayangi kamu dan menemani kamu melewati semuanya dalam keadaan apapun." ucap Alenka yang membuat Samuel tersenyum bahagia.
Dia tersenyum kecil kemudian semakin erat memeluk Alenka dan mengecup kening Alenka dengan lembut. Berharap kebahagiaan itu akan selamanya.