
" Ra, hai ... kau jangan melamun! Kita harus segera balik ke tempat duduk semula, sebelum para anggota BEM yang lain tau bahwa kau sedang menatap Ketua BEM", ucap Kinara sambil melambaikan tangannya di depan Yura.
Mereka berempat pun kembali duduk ke barisan kelompok. Karena tamu undangan beserta Ketua BEM dan pengurus inti sudah lengkap berada di atas podium.
Setelah pemaparan singkat dari Ketua BEM dan tamu undangan yang dipercaya sebagai Nara sumber pada hari itu.
Kini semua Maba sudah diperbolehkan untuk pulang.
Dengan menaruh tangan di pinggang, Yura sedang mengintrogasi sang suami yang sudah berbohong atau ingin memberi kejutan tapi hasil tak sesuai harapannya.
" Bisa kakak jelaskan kepadaku, sejak kapan kau menjadi Ketua BEM yang baru?"
" Duduklah dulu sayang, dari tadi kamu mondar-mandir penuh emosi, aku akan menjawab apapun pertanyaan mu !"
Melihat situasi sudah kondusif, Kinara yang dari tadi mengawasi pasangan suami istri yang sempat bertengkar, kini ijin keluar agar mereka bisa menyelesaikan permasalahannya dengan baik dan tanpa ego.
Tanpa memberitahu sang istri, Erlangga tiba-tiba menarik tangan Yura sehingga Yura otomatis jatuh dipangkuan Erlangga.
" Nah, kalau begini kan lebih nyaman yang, betul tidak?"
" Apanya nyaman yang ada, kau ingin memanfaatkan segala kesempatan agar aku luluh?"
" Yah ketahuan ya yang, padahal aku belum ngomong !"
" Sikapmu yang menjelaskan semuanya kepada ku", ujar Yura sambil hendak berdiri dari pangkuan Erlangga.
" Jangan harap kau bisa lepas dariku sayang."
" Huh ... sudahlah ayo cepat ceritakan kepadaku dan tidak ada yang kau tutupi lagi!"
" Sebenarnya itu terjadi secara mendadak, e Tah kenapa jabatan BEM yang awalnya diganti setiap 4 tahun sekali jadi berubah menjadi setiap 1 tahun sekali. Dan kamu tau kan dalam Universitas Y terdiri dari banyak fakultas jadi mereka yang terpilih di tiap fakultas akan dipilih menjadi bagian dari pengurus inti. Ya begitulah hingga aku yang terpilih menjadi ketua BEM nya."
" Kak, kenapa kau tidak bilang kepadaku? Aku tidak ingin kau kelelahan dan melupakan kesehatanmu hanya karena tanggung jawabmu sekarang semakin bertambah. Kak kamu tidak sendiri, kita sudah menjadi suami istri. Kau tidak lupakan kita harus berbagi apapun dan berjuang bersama-sama!"
" Aku tau atas kekhawatiran mu itu sayang, tapi kau lihat kan aku bisa melaluinya. Dan juga aku punya kamu yang selalu ada."
" Gombal ... ya sudah kalau begitu, kita makan dulu ! Mungkin kakak ipar lagi menunggu kita dibawah bersama Bunda dan Daddy !"
" Ya "
Sementara itu Rangga baru saja tiba di rumahnya. Ia pun menanyakan keberadaan sang istri kepada pengawal.
" Baiklah, kalian tetap disana. Aku akan segera menyusul !"
" Nak, apa kau akan menjemput Kinara?"
" Iya Bu, lagian urusan di luar kota sudah aku selesaikan lebih cepat."
" Ya sudah, apa kau tidak makan dulu?"
" Sekalian aku numpang makan sama Bunda!"
" Benar ya lebih mau untung ketimbang rugi."
__ADS_1
" Namanya juga aku anak ibu, ya persis lah sama ibu."
Rangga pun pergi menjemput Kinara ke kediaman Bramasta.
Sedangkan di dapur kediaman Bramasta. Bunda Anisa, Yura dan Kinara sedang menyiapkan makan malam. Mereka bertiga saling bahu-membahu membuat makanan yang dimasak dengan sepenuh hati.
" Kinara, Rangga kapan pulangnya?" tanya Bunda Anisa.
" Tadi sih bilangnya hari ini Bun, kalau urusannya bisa lebih cepat selesai."
" Memangnya Kak Rangga lagi ada proyek baru lagi ya kak disana?"
" Iya Ra, sekalian katanya memeriksa laporan bulanan hotel."
" Oh iya Bunda sampai lupa, nah bagaimana hari pertama ospek kalian?"
" Lumayan Bunda, dan Bunda pasti tau bahwa suamiku sendiri yang jadi Ketua BEM nya."
Bunda pun tersenyum mendengar tebakan tepat dari Yura. Bagaimana tidak dari awal dia ingin memberitahu kan Yura, tapi karena sudah terlanjur berjanji pada Erlangga. Ya dia selama ini berpura-pura saja.
" Ya Ra, habis Bunda sudah berjanji sama Erlangga, tapi sekarang kamu sudah tau kan?"
" Iya Bun baru saja baikan sama kak Erlangga."
Sedangkan dari arah pintu masuk dapur. Muncullah Rangga yang membawa banyak paper bag sebagai oleh-oleh kepulangannya dari luar kota.
" Apa tidak ada sambutan buatku?"
" Sayang", ucap Kinara sambil berlari memeluk suaminya.
" Apa sudah makan?"
" Belum, ini mau nebeng sama Bunda sekalian jemput kamu buat pulang."
" Hem ... hem, berasa Bunda sama Yura jadi nyamuk disini ! Padahal baru saja selesai masak !"
" Bun, Yura selamat malam, ini terimalah sedikit oleh-oleh dari luar kota !"
" Terima kasih ya Kak."
" Makasih ya Rangga."
" Sama-sama."
" Baiklah kita ke ruang makan saja, nanti pelayan yang akan menyajikannya di ruang makan !"
Daddy Alex dan Erlangga pun turun dari tangga, dan menyusul ke dalam ruang makan.
" Wah Kak Rangga kapan pulangnya?"
" Baru saja aku sampai Erlangga, sekalian kesini jemput bini "
" Cie yang bucin akut."
__ADS_1
" Biarin, kan juga sama kayak kamu."
" Sudahlah ayo kita mulai makan malam", perintah Bunda Anisa.
Setelah pulang dari kediaman Bramasta. Rangga membawa sang istri pergi ke sebuah kafe yang ada di pinggir danau.
Kafe tersebut bernama " Blue Sky Kafe", kafe yang sangat minimalis dan baru opening seminggu ini. Bahkan menjadi tempat nongkrong anak remaja dari menengah ke bawah.
" Ayo yang kita turun !"
Kinara pun menyambut tangan suaminya. Mereka pun bergandengan tangan masuk ke dalam kafe.
" Sayang kamu mau pesan apa?"
" Aku mau cake slice cokelat dan es krim vanila."
" Samakan pesannya dengan yang tadi dipesan sama istriku !"
" Baik tuan muda, kalau begitu saya permisi."
" Jadi kafe ini punya Kak Rangga?"
" Bukan tapi kafe ini punya mu sayang."
" Apa? Kenapa harus aku kak?"
" Ya kan kamu istriku sayang, jadi hal seperti ini belum seberapa, jadi mohon kerjasamanya untuk mengelola kafe ini, dibawah pimpinan mu."
" Makasih Kak, aku akan selalu belajar dan berjuang agar kafe ini bisa semakin maju", ucap Kinara sambil tersenyum ke arah sang suami.
" Sial, kenapa selalu saja jantung ini berdebar cepat dihadapan Kinara, apalagi senyumannya sungguh membuatku bertekuk lutut", bathin Rangga.
" Habis kita makan, aku akan mengumpulkan semua pegawai dan manager kafe untuk memperkenalkan mu sebagai pemilik kafe ini!"
" Baiklah"
" Hai Rangga, ternyata lo kesini juga ya", teriak Helmi.
" Mau apa ketua Helmi bisa datang ke kafe ini?"
" Hahaha ... Tentu saja aku, habis memenangkan balapan liar. Eh ada wanita cantik disini."
" Jangan sentuh dia ! Bersikaplah lebih sopan !"
" Wow aku takut, hahaha ...."
" Sana pergilah, ngapain kau berlama-lama disini !"
" Baik-baik gue akan pergi, tapi nanti pasti aku akan tau siapa wanita yang bersamamu ini."
Setelah Helmi pergi, kemarahan Rangga sudah sangat terpancar dari raut wajahnya yang berubah.
" Sayang tenanglah, ayo kita makan dulu !"
__ADS_1
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...