
Ibu Hani pun membawa menantunya ke dapur meninggalkan putranya yang masih terdiam.
" Malam ini Ibu mau masak apa?"
" Ibu mau masak menu kesukaan mu dan Rangga."
" Memangnya Kak Rangga suka makan apa Bu?"
" Dia itu suka sambal goreng kentang hati ampela, sama ikan bakar. Itu favoritnya ."
" Baiklah ayo kita mulai masak sekarang !"
Dengan bantuan dari Ibu mertuanya, akhirnya 1 jam sudah berkutat di dapur. Menu masakan yang semuanya di masak oleh Kinara, kini sudah tersaji di atas meja makan.
" Ibu jamin Kinara, suamimu pasti akan ketagihan", ucap Ibu Hani sambil mengacungkan jempol tangannya.
" Semoga saja Bu, kalau begitu aku ke atas dulu ya sekalian memberi tau Kak Rangga kalau menu makanan untuk makan malam hari ini sudah siap !"
" Ya sudah nak, Ibu disini saja sambil menunggu Ayah mertuamu pulang."
Hati Kinara kian gundah gulana, sambil ia menaiki anak tangga menuju kamar mereka.
" Kalau aku tidak marah, ia pasti akan menyakiti hati ku kembali, aku ingin lihat bagaimana usaha Kak Rangga kalau memang dia sudah mulai mencintaiku ", gumam Kinara.
Baru saja akan membuka pintu, tiba-tiba dari arah dalam pintu terbuka lebih dulu. Siapa lagi yang membukanya. Tentu saja Rangga.
Sungguh kebetulan yang bisa membuat mereka terdiam sesaat. Untuk mencairkan suasana akhirnya Rangga mulai duluan.
" Hem ... hem , apa kau sudah selesai masak bersama Ibu?"
" Iya."
" Masuklah ke dalam, tidak baik kalau pembicaraan urusan rumah tangga kita di dengar oleh orang rumah !"
Saat Kinara masuk ke dalam kamar, ia pun langsung mengambil handuk , tanpa menghiraukan keberadaan sang suami.
" Sepertinya aku harus berusaha ekstra kalau mau mendapatkan maaf darinya."
Sampai akhirnya Kinara selesai mandi, ia pun tidak menyapa Rangga yang masih duduk di pinggiran ranjang hanya untuk menunggu Kinara.
" Sampai kapan kau akan cuek dan marah padaku ?"
Kinara pun menjawab sambil mengambil pakaian yang ingin ia gunakan. " Sampai usahamu mampu membuat hatiku memberi maaf."
" Hah ... Aku tidak menyangka ia akan marah seperti ini ", gumam Rangga dalam hati.
" Aku sudah selesai, ayo kita keluar dan makan di bawah sama Ayah dan Ibu !"
__ADS_1
Seperti anak yang menurut dengan induknya. Rangga pun tanpa protes mengikuti kemana istrinya pergi.
" Nah baru saja kalian kami bicarakan, eh ... sudah nongol. Kalau begitu kita mulai saja makan malam hari ini yang semua makanan disini dimasak oleh Kinara ", ucap Ibu Hani dengan girang.
Seperti biasa, walaupun dalam keadaan masih marah dengan suaminya. Kinara tetap bersikap hormat, itu terlihat dari cara ia mengambilkan nasi beserta lauk pauk untuk Rangga.
Merasa bahwa piring makanannya sudah cukup penuh. Rangga pun memegang tangan Kinara.
" Segitu saja , ayo kau juga harus makan !"
Mereka semua pun makan dengan lahap, karena masakan Kinara sangatlah lezat. Walaupun itu menu sederhana tapi rasanya sudah seperti masakan hotel bintang lima.
" Sangat enak, baru pertama kali aku merasakan makanan sederhana seperti ini rasa makanannya melebihi masakan Ibu. Ternyata ada juga kelebihan yang dimiliki oleh istri kecilku ini", gumam Rangga dalam hati.
" Rangga kenapa kamu tersenyum? Apa masakan istrimu enak? Kalau ia kira-kira nilainya berapa ?"
" Menurutku ini nilainya 85 Bu."
" Kau dengarkan nak, masakanmu disukai oleh suamimu sendiri."
" Iya Bu."
" Besok kalian berdua harus sediakan waktu, kita akan berkunjung ke rumah kediaman Bramasta."
" Iya Bu", ucap Kinara dan Rangga bersamaan.
Erlangga seperti rutinitas pagi, selalu mengantar Yura terlebih dahulu ke sekolah.
" Sayang aku duluan ya, semangat OSPEKnya !"
" Iya, kamu tenang saja pasti OSPEK ini akan segera berlalu, tapi ... " , Erlangga menggantungkan kalimatnya.
" Tapi apa hmmm ..."
" Mendekat lah yang !"
" Sudah, lalu Kak Erlangga mau apa?"
Karena ia tau kaca mobilnya tidak akan membuat orang luar melihat apa yang ingin ia lakukan kepada sang istri. Erlangga pun mencondongkan tubuhnya saat sang istri mendekat padanya.
" Aku perlu asupan tenaga ekstra yang, jadi kau nikmati saja apa yang aku mau darimu !"
Erlangga lalu meraih tengkuk Yura, dan memangku Yura diatas pahanya.
Yura yang merasa tubuhnya berpindah tempat, ia tentu saja butuh pegangan. Tentu saja Yura kedua tangan Yura memegang pundak Erlangga.
Merasa Yura sudah nyaman berada dalam pangkuannya. Erlangga pun menjalankan aksinya yang sudah tidak bisa ia tahan.
__ADS_1
S** kilat pun terjadi dari awalnya ciuman lembut dan hangat berubah menjadi kegiatan panas yang memacu adrenalin mereka berdua.
**SKIP**
Erlangga yang sudah puas dengan apa yang ia mau, kemudian ia memungut helaian pakaian seragam Yura yang ia lemparkan di dalam mobil. Dan tentu saja ia membantu sang istri untuk memakainya kembali, tidak lupa membersihkan c****n cinta mereka yang berceceran di jok mobil.
" Terima kasih banyak ya yang."
Cup.
" Kak ..."
" Kenapa hmmm ...?"
" Kenapa kau memberi kiss mark banyak banget di sekitar leherku? Kalau ada yang lihat dan bertanya macam-macam bagaimana ?" kesal Yura karena mereka pagi ini sudah kebablasan di lingkungan sekolah.
" Sini Kakak bantu menutupinya, kau tidak lupa kan ada kotak make up mu yang kau taruh di mobil !"
"Oh iya, kenapa aku bisa melupakannya?"
Dengan penuh cinta, Erlangga pun membantu Yura dengan memakai foundation untuk menutupi bekas kiss mark.
" Sudah kan yang, lihatlah semua sudah tertutupi, maaf aku selalu membuatmu terpacu."
Yura pun mengecup sang suami dan pamit keluar dari dalam mobil. Karena lagi 10 menit bel masuk akan segera berbunyi.
Saat Yura berjalan disepanjang koridor sekolah, ia melihat ada gerombolan siswa yang sedang mengganggu siswa lain. Hingga siswa yang mendapatkan bullying tersebut mendapatkan banyak memar di wajahnya.
" Hentikan, apa yang kalian lakukan kepadanya !" teriak Yura sambil berlari menghampiri merek.
" Kakak kelas sebaiknya kau tidak ikut campur dengan urusan kami."
" Seharusnya kalian jangan melakukan bullying kepada anak baru, apalagi dia masih adik kelas kalian di sekolah ini."
" Jangan ikut campur dengan urusan kami !"
" Tentu saja aku harus ikut campur, karena kalian melakukan hal yang bersifat kriminal di lingkungan sekolah."
" Kau kira jika kau seorang perempuan maka kami akan takut dengan ancamanmu ! Cih ... kau kira kau siapa hah ...! Aku lebih berkuasa dari apa yang kau kira."
" Berkuasa kau bilang ? Aku sudah memperingati kalian dari awal tapi jika kalian tidak mau menurut jangan salahkan aku jika kalian akan menanggung konsekuensi yang lebih fatal dari sekedar skorsing."
Ketua geng adik kelas itu pun maju kehadapan Yura. Saat ia ingin meraih kunciran rambut Yura. Tangannya digenggam dengan erat oleh siswa lain yang datang.
" Jika kau sayang nyawamu, maka kau jangan berharap bisa menyentuh sehelai rambut dari nona muda kami ", ujar Aditya serta Ishi yang datang melindungi Yura.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
__ADS_1