
Andreas dan Alenka bertemu di rooftop perusahaan. Disana Alenka menjelaskan kepada Andreas tentang hubungannya dengan Samuel. Termasuk mereka yang tinggal bersama.
Andreas sempat terkejut mendengar pengakuan Alenka. Terlebih saat Alenka berkata jika mereka telah tinggal bersama selama hampir satu bulan.
"Kamu yakin dengan pak Samuel?" tanya Andreas.
"Ya." Alenka menganggukan kepalanya dengan cepat.
"Kamu udah tahu kenapa pak Samuel memesan perhiasaan yang kamu desain itu?" Alenka menggelengkan kepalanya.
Dia tidak tahu dan merasa tak perlu tak tahu. Karena dia hanya mengira jika mereka hanya kerja sama dan tidak tahu hal yang lebih juga tidak berani bertanya.
"Itu perhiasan untuk pernikahan pak Samuel." kata Andreas.
"Pernikahan?"
"Ya. Itu yang pak Samuel bilang ke aku waktu dia hubungi perusahaan kita untuk kerja sama." jawab Andreas.
Namun, Alenka bukannya marah. Tapi dia justru merasa senang. Ia mengira jika wanita yang akan Samuel nikahi adalah dirinya. Karena mereka telah tinggal bersama dan bahkan sudah seperti suami istri.
"Pak Samuel akan menikahi anak konglomerat." imbuh Andreas.
Tapi, meskipun sudah diberitahu. Alenka tetap tidak percaya dengan apa yang Andreas katakan. Dia lebih mempercayai lelaki yang ia cintai. "Pak, saya tidak tahu anda dan Samuel punya masalah pribadi apa. Tapi jangan pernah bapak fitnah kekasih saya!" kata Alenka merasa tidak terima dengan tuduhan Andreas.
"Aku nggak fitnah, itu kenyataannya."
"Udahlah pak. Meskipun bapak fitnah Samuel, saya tidak akan pernah percaya sebelum Samuel sendiri yang bilang." jawab Alenka dengan marah.
Alasan kenapa Alenka lebih percaya dengan Samuel karena selama ini Samuel selalu mencintainya. Dia bahkan tidak pernah pulang ke rumah melainkan selalu tinggal bersamanya di apartemen. Lagipula perhiasan yang dimaksud itu, Samuel berikan untuknya.
Dua hari yang lalu. Hari dimana kesepakatan antara Samuel dan Future Design terjalin. Hari itu, hari dimana perhiasan yang Samuel pesan seharusnya sudah jadi.
Andreas sendiri yang menyerahkan perhiasan itu kepada Samuel. Namun, ternyata Samuel memberikan satu set perhiasan itu untuk Alenka.
Malam itu Samuel sengaja mengajak Alenka makan malam dan menginap di salah satu hotel. Hotel itu tempat pertama kali mereka kencan dulu. Disanalah, Samuel memberikan satu set perhiasan tersebut. "Will you marry me?" kata Samuel pada malam itu.
__ADS_1
Air mata tak bisa dibendung oleh Alenka. Ia merasa senang, terharu dan juga kaget. Perhiasan yang dia desain sendiri. Dia pula yang memakainya.
On.
Alenka meninggalkan Andreas karena kesal. Dia menganggap Andreas telah memfitnah kekasihnya. "Kalau bapak masih fitnah pacar saya. Mending saya keluar dari perusahaan bapak." kata Alenka sebelum pergi meninggalkan Andreas.
Andreas terkejut dengan ancaman Alenka. Tetapi, dia lebih memilih untuk tetap diam. Ia tahu saat ini Alenka sedang dibutakan oleh cintanya kepada Samuel.
Dan tak tahu kenapa. Hati Andreas merasakan sakit saat Alenka mengakui Samuel sebagai kekasihnya. Hatinya secara tertusuk.
Ia enggan turun. Andreas menikmati pemandangan kota dari atas gedung perusahaannya sembari menenangkan pikiran.
****
Sepanjang hari Alenka terus murung. Dia masih kesal karena Andreas memfitnah Samuel. Ia bahkan mulai tak betah di kantor. Saat jam makan siang, ia meminta bertemu dengan Samuel. Dan Samuel memintanya untuk datang ke kantornya.
Tanpa pikir panjang, Alenka segera pergi ke kantor Samuel. Dengan alasan mengantar dokumen Alenka pergi ke ruangan Samuel dengan bebas. Selain Yoga dan Ardilla, tidak ada yang tahu mengenai hubungan tersembunyi Alenka dengan Samuel.
Wajah Alenka masih saja murung meskipun telah bertemu dengan Samuel. "Kenapa mukanya ditekuk gitu?" tanya Samuel. Saat itu Alenka duduk dipangkuannya.
Samuel membulatkan matanya. Ia bertanya-tanya, kenapa Alenka bertanya seperti itu. Apakah dia curiga sesuatu.
"Kenapa nanya gitu? Kamu ragu dengan cintaku?" tanya Samuel.
"Nggak, aku cuma tanya aja. Tapi udahlah, itu dah nggak penting." Alenka memeluk Samuel. Tidak seharusnya dia bertanya seperti itu. Apalagi kalau Samuel tahu jika Andreas telah memfitnahnya. Demi menghindari amarah Samuel. Alenka lebih baik tidak menanyakan hal itu lagi.
Setelah merasa lebih tenang. Alenka kemudian berpamitan. "Biar aku anter!"
"Nggak usah."
"Kalau gitu hati-hati!" Alenka menganggukan kepalanya. Dia segera keluar dari ruangan Samuel.
****
Dua menit setelah Alenka keluar dari ruangannya. Tiba-tiba seseorang datang ke ruangannya. "Samuel, aku kangen sama kamu." seorang wanita tiba-tiba masuk ke ruangan Samuel kemudian memeluk Samuel yang sedang berdiri di depan kaca belakang kursi kerjanya.
__ADS_1
Samuel yang kaget kemudian berbalik. Betapa terkejutnya dia ketika melihat Rea telah sampai di kantornya. "Kenapa kamu pulang cepat?" tanyanya agak dingin.
"Dua minggu lagi pernikahan kita. Aku mau ikut mempersiapkan semuanya." jawab Rea.
Samuel pun melihat ke arah kalender di meja kerjanya. Ya, ternyata tinggal dua minggu lagi dia akan menikah dengan Rea. Tidak terasa lebih dari sebulan dia tinggal bersama dengan Alenka. Hari-hari yang ia lalui terasa sangat menyenangkan. Sehingga dia lupa waktu dan hari.
"Kapan kamu tiba?"
"Baru aja, terus aku kesini." Rea kembali memeluk Samuel karena dia merasa kangen dengan calon suaminya tersebut.
"Kalau gitu kamu pulang istirahat aja dulu! Kamu pasti capek habis perjalanan jauh." pinta Samuel. Entah kenapa dia risi jika ada Rea di kantornya.
"Iya sih capek. Tapi setelah ketemu kamu, udah nggak capek lagi." jawab Rea enggan meninggalkan kantor Samuel.
"Sam, makan yuk! Aku belum makan!" ajak Rea.
"Aku masih banyak kerjaan. Kamu ditemeni Ardilla atau Yoga aja ya!" Samuel menolak ajakan Rea dengan alasan dia masih punya banyak pekerjaan.
"Calon suamiku itu kamu, bukan Yoga.." seru Rea merasa kesal.
"Tapi aku beneran sibuk."
"Ya udah kalau gitu aku bilang ke mama kamu aja." Rea mengancam Samuel menggunakan mamanya.
"Ya udah ayo!" Samuel hanya tidak mau mendengar ceramahan mamanya yang panjang kali lebar. Ia akhirnya menyerah, dia menuruti kemauan Rea untuk makan siang bersama.
Rea merasa senang karena ancamannya selalu berhasil. Samuel tidak akan pernah nolak ketika dia mengancam menggunakan mamanya. Dengan senang dan berbunga-bunga, Rea menggandeng tangan Samuel di depan para karyawannya.
Namun terlihat jelas jika Samuel merasa risi. Berulang kali dia melepaskan tangannya. Tapi Rea akan semakin mempererat gandengannya.
Ardilla dan Yoga hanya menatap mereka dari kejauhan. "Pak Samuel tak seceria saat bersama nona Alenka." gumam Ardilla.
Dan itu dibenarkan oleh Yoga. Saat bersama dengan Alenka. Samuel berubah menjadi begitu perhatian dan posesif. Berbeda dengan saat bersama Rea. Dia nampak tertekan dan dingin.
Yoga pun menebak jika Samuel memang masih mencintai Alenka, mantan pacarnya. Karena perbedaan itu sangat jelas terlihat oleh orang awam sekalipun.
__ADS_1