Benang Merah Takdir

Benang Merah Takdir
7. Bab 7


__ADS_3

Setelah konflik batin yang cukup lama. Akhirnya Alenka memutuskan untuk pergi ke kafe Bintang. Tempat yang penuh dengan kenangan masa lalunya. Tempat favoritnya bersama Samuel dulu.


Langkah demi langkah memasuki kafe tersebut mengingatkan dia pada masa lalunya. Semenjak Samuel kuliah di luar negeri. Alenka sudah tidak pernah pergi ke kafe tersebut. Namun, ia masih ingat betul setiap sudut dari kafe yang tak banyak berubah itu.


Alenka menuju tempat yang dulu biasa menjadi langganannya. Ia sangat yakin bahwa Samuel juga memilih tempat tersebut untuk meeting malam ini. Tempat duduk yang berada paling pojok dekat dengan taman, tapi dari tempat tersebut penampilan live music terlihat sangat jelas. Live music yang sejak dulu telah menjadi cirikhas kafe bernuansa anak muda gaul tersebut.


Dan benar saja, Samuel sudah menunggu dirinya disana. Senyuman Samuel mengembang saat melihat Alenka berjalan ke arahnya.


"Selamat malam pak.." sapa Alenka dengan sopan.


"Kamu masih ingat tempat favorit kita? Apakah selama aku pergi, kamu juga sering kesini bersama laki-laki lain?" tanya Samuel sembari menatap Alenka dengan tajam. Ada rasa cemburu yang sulit di jelaskan disudut hatinya.


Alenka tidak mau menjawab pertanyaan Samuel karena tidak ada sangkut pautnya dengan pekerjaan. Ia kemudian mengeluarkan kontrak kerja yang ia bawa. Lalu menyerahkannya kepada Samuel.


"Bapak janji akan tanda tangan!" kata Alenka. Dia takut Samuel akan mempersulitnya lagi.


"Iya. Tapi kita makan dulu!" jawab Samuel dengan lembut.


Meja di depannya, telah tersaji makanan kesukaan Alenka semua. Samuel sengaja memesan makanan tersebut untuk Alenka.


"Silahkan!" kata Samuel.


Ah, makan ya makan aja. Lumayan makan malam gratis lagi. Yang penting perut kenyang dulu.


Alenka mulai makan dan dia menikmati makanan tersebut. Rasa yang masih sama dengan yang dulu. Ia melahap satu per satu makanan yang tersaji tanpa jaim sama sekali.


"Pelan-pelan, nggak akan ada yang minta!" kata Samuel sembari mengusap sisa makanan di bibir Alenka. Kemudian ia mengecup ibu jarinya yang terkena sisa makanan Alenka.


Sama seperti waktu mereka masih pacaran dulu. Samuel memperlakukan Alenka seolah-olah mereka masih pacaran.


Deg. Hati Alenka berdebar tak karuan. Sama seperti dulu saat Samuel melakukan hal yang sama seperti itu.


Menyadari perasaannya, Alenka segera mengelap bibirnya dengan tissue. Dia tidak melanjutkan makannya. "Pak, silahkan tanda tangan kontrak ini! Saya masih ada urusan lain." katanya.


Namun Samuel bukannya menandatangani kontrak kerja tersebut, malah beranjak meninggalkan Alenka. Samuel berjalan menuju tempat untuk live music.

__ADS_1


Kembali, ingatan masa lalu memenuhi pikiran Alenka. Seolah ia kembali ke masa beberapa tahun silam saat dia dan Samuel menjalin kasih.


"Waktu pertama kali, ku lihat dirimu hadir, rasa hati ini inginkan dirimu..."


Alenka menghela nafasnya. Hatinya berdegup kencang mendengar lagu yang dibawakan oleh Samuel. Lagu itu, lagu yang sering Samuel nyanyikan untuk dia dulu.


Rasanya Alenka ingin kabur dari tempat itu. Tapi dia ingat tujuannya datang adalah untuk meminta tanda tangan Samuel. Maka, Alenka tetap berusaha kuat. Meskipun pikirannya dipenuhi dengan masa-masa indah itu.


Samuel begitu menghayati lagu yang ia nyanyikan. Matanya juga tak lepas dari Alenka. Wanita yang membuatnya jatuh cinta untuk pertama kalinya. Wanita yang membuatnya tak mau lagi menjalin hubungan kasih dengan wanita lain.


"Meskipun kita udah lama berpisah. Tapi hati dan perasaan ini masih tetap sama, seperti saat pertama melihat kamu." diakhir lagu, Samuel mengungkapkan isi hatinya yang cukup membuat heboh para pengunjung.


Sementara Alenka hanya terdiam. Ia tak bisa berkata-kata lagi. Hanya merasakan hatinya berdebar tak menentu.


Sebenarnya, Alenka sendiri juga menyayangkan perpisahan mereka. Akan tetapi, itu yang lebih baik untuk mereka berdua. Alenka sadar akan perbedaan mereka berdua, bak langit dan bumi.


Samuel kembali ke mejanya. Dia menatap Alenka yang tertunduk diam saat dia bernyanyi tadi. "Kamu ingat lagu tadi? Lagu yang aku pakai untuk menyatakan cintaku ke kamu." tanya Samuel sekaligus mengingatkan Alenka pada momen membahagiakan itu.


"Tolong bapak segera tanda tangani kontrak kerja kita!" hanya itu yang bisa Alenka katakan. Dia ingin segera pergi menjauh agar Samuel tak mendengar detak jantungnya yang berdegup kencang saat ini.


"Kasih aku nomer telepon kamu! Lalu aku akan tanda tangan." Samuel menyodorkan ponselnya ke Alenka.


"Ulang tahun kamu." jawab Samuel dengan santai sembari memasukan makanan ke dalam mulutnya.


Alenka sempat membeku. Namun, dia mencoba memasukan tanggal ulang tahunnya. Ternyata benar. Samuel memakai tanggal ulang tahunnya sebagai kata sandi diponselnya.


Alenka memasukan nomer teleponnya ke ponsel Samuel. Lalu mengembalikan ponsel Samuel lagi. "Nih.."


Samuel yang tidak mau tertipu mencoba menelepon nomer tersebut. Dan ternyata Alenka memberikan nomernya sungguhan. "Itu nomer aku. Nomer pribadi aku. Kalau butuh apa-apa kamu hubungi aja nomer itu!" katanya.


Samuel kemudian menandatangani kontrak kerja tersebut. "Bilang ke pak Andreas bahwa nilai kontrak ini naik dua kali lipat." katanya lagi.


"Ya. Terima kasih."


"Cuma makasih doang?" tanya Samuel.

__ADS_1


"Terus?"


"Aku udah bayar ratusan juta hanya untuk nomer telepon dan makan malam sama kamu. Cuma terima kasih doang yang aku dapat?" tanya Samuel menggeleng-gelengkan kepalanya.


"Lalu pak Samuel mau apa?" tanya Alenka balik.


"Mau saya traktir balik?"


"Boleh. Kapan? Secepatnya lebih baik." sahut Samuel dengan cepat.


"Tapi saya tidak bisa traktir bapak di tempat mewah."


"Nggak masalah, asal sama kamu, di warung pinggir jalan juga mau." jawab Samuel lagi.


"Saya cari waktu dulu." jawab Alenka. Dia lalu bersiap untuk pulang.


"Aku anter pulang!"


"Nggak usah pak. Saya bawa motor kok." jawab Alenka sembari tersenyum.


Namun, Samuel terus mengikuti Alenka sampai ke parkiran. Dia memaksa Alenka untuk pulang bareng. Tetapi Alenka tetap menolak. Sampai akhirnya Samuel yang bonceng Alenka.


Samuel duduk di jok belakang motor matic butut Alenka. "Pak Samuel apa-apaan sih? Turun pak!" pinta Alenka.


"Nggak. Aku ikut kamu." Samuel tidak mau turun dari motor Alenka.


Bahkan sampai beberapa lama, Samuel tetap tidak mau turun. Dia malah melingkarkan tangannya diperut Alenka. Tentu saja Alenka menjadi risi. "Pak Samuel!" serunya.


"Kalau bapak nggak lepasin tangan bapak. Saya akan teriak." ancam Alenka.


"Teriak aja!" Samuel justru menantang Alenka.


"Aku kangen naik motor berdua sama kamu." ucap Samuel.


Alenka terdiam sejenak. Kemudian dia melajukan motornya dengan Samuel yang masih jok belakang. Namun, Alenka tidak pulang ke kontrakannya. Dia muter-muter dulu sampai Samuel merasa bosan. Karena Alenka tidak ingin Samuel tahu dimana tempat tinggalnya.

__ADS_1


"Al, kenapa sih kamu mutusin aku? Emang aku punya salah apa?" tanya Samuel pelan. Dari nada bicaranya, jelas terdengar jika dia sedih.


Akan tetapi, Alenka tidak menjawab. Dia lebih memilih untuk diam. Sehingga Samuel mengira jika dia tidak mendengar pertanyaannya.


__ADS_2