Benang Merah Takdir

Benang Merah Takdir
33. Bab 33


__ADS_3

Setelah menunggu selama sembilan bulan lamanya. Akhirnya Alenka melahirkan seorang bayi laki-laki. Kelahiran anak keduanya tersebut sangat dinantikan oleh keluarga besar Samuel.


Tangisan pertama anaknya membuat tubuh Samuel bergetar. Dia melihat dengan kepalanya sendiri betapa besar pengorbanan Alenka demi melahirkan keturunannya.


Samuel kembali merasa bersalah mengingat dimana dulu Alenka harus melahirkan sendiri anaknya tanpa ia dampingi. Dan tiba-tiba air mata Samuel menetes.


Ia mengecup kening Alenka dengan cukup lama. "Terima kasih.." hanya itu kata yang bisa ia katakan untuk istrinya yang telah mengorbankan nyawanya demi melahirkan anaknya.


Pada saat itu juga para dokter mulai mengambil stem cell bayi yang baru lahir itu untuk menyembuhkan penyakit Elvan. Itu adalah tujuan awal bayi itu lahir di dunia.


Selain untuk kesembuhan Elvan. Kehadiran bayi tersebut juga melengkapi kebahagiaan Alenka dan Samuel. Terutama bagi Samuel yang memang memimpikan memiliki anak yang banyak. Ia selalu memimpikan anak-anaknya bermanja kepadanya ketika ia pulang bekerja.


Rosie merasa sangat bahagia dengan kelahiran cucu keduannya. Dia tak peduli dengan jenis kelamin anak kedua Samuel. Mau laki atau perempuan sama aja. Sama-sama adalah cucunya.


"Al, makasih ya." ucapnya ke Alenka.


Alenka hanya tersenyum dan menganggukan kepalanya. Dia terlalu bahagia dan tak bisa berkata-kata.


"Semoga Elvan juga segera sembuh." ucap Rosie lagi.


Air mata Alenka tanpa sengaja menetes. Sebagai seorang ibu, dia selalu kepikiran mengenai penyakit anaknya. Dan berharap anaknya akan benar-benar sembuh.


"Elvan dimana?" tanyanya.


"Masih di ruang perawatan." jawab Samuel.


Sudah dari beberapa hari yang lalu Elvan di rawat di rumah sakit. "Dia udah tahu kalau adiknya udah lahir?" Samuel menganggukan kepalanya.


"Arya nemenin dia disana." jawab Samuel lagi.


"Dokter sedang melakukan yang terbaik. Kita sama-sama berdoa ya!" imbuh Samuel.


Alenka menganggukan kepalanya dengan cepat. Tentunya, dia akan mendoakan kesembuhan anaknya. "Kita kesana yuk!" pinta Alenka.


"Kamu kuat?" Alenka menganggukan lagi dengan cepat.


Samuel mendorong Alenka menuju dimana anak pertama di rawat. Disana, ada Arya dan juga Yoga yang menunggu Elvan. Namun, mereka hanya menunggu di luar ruangan. Di dalam, dokter sedang melakukan yang terbaik untuk Elvan.


"Kak.." guma Arya ketika melihat Samuel datang bersama dengan Alenka dan mamanya.


"Dokter sedang berusaha. Kita berdoa ya!" kata Arya.


Samuel hanya tersenyum kecil sembari mendorong kursi roda Alenka. "Makasih ya karena udah jagain Elvan!" kata Samuel.


"El kan juga keponakan aku kak. Kakak nggak perlu bilang makasih." jawab Arya.


Selama ini, Samuel sudah begitu baik kepada dirinya juga dengan anak dan istrinya. Tentu saja apa yang Arya lakukan ini tak ada bandingannya dengan yang Samuel lakukan kepadanya.


"Kalian boleh pulang, biar aku dan Samuel yang nunggu disini! Alexa dan Rea pasti nunggu kamu." kata Alenka.


"Nggak apa Al. Mereka nanti kesini kok. Kamu nggak perlu sungkan sama aku dan Rea, kita semua kan saudara." kata Arya. Dia tahu apa yang ada dalam pikiran Alenka.

__ADS_1


"Maya bentar lagi juga mau kesini." sahut Yoga.


Alenka tersenyum senang. "Makasih ya, karena kalian begitu sangat baik ke aku anak aku." air mata Alenka sudah menumpuk di mata. Namun, dia berusaha menahannya.


Dulu, waktu dia melahirkan Elvan. Tidak ada seorang pun yang menemaninya. Bahkan Andreas pun tidak ada disampingnya karena pada waktu itu Andreas di kantor pusat. Andreas baru tahu setelah dua hari dia datang dan mengetahui jika Alenka telah melahirkan.


"Oh ya, selamat ya kak atas kelahiran adiknya Elvan. Selamat ya Al." kata Arya.


"Selamat bro, akhirnya impian kamu memiliki banyak anak terwujud." goda Yoga.


"Thanks." Samuel tersenyum kecil.


****


Setelah beberapa hari, dokter menghubungi Alenka dan Samuel untuk hasil perkembangan penyakit Elvan. Air mata tak mampu mereka bendung, saat dokter menyatakan jika usaha mereka untuk menyembuhkan Elvan telah berhasil.


Dokter memastikan Elvan telah sembuh. Alenka dan Samuel saling berpelukan. Mereka merasa bersyukur dan sangat bahagia dengan apa yang dokter katakan barusan.


"Kondisi fisik Elvan sangat bagus. Dia juga nurut, itu salah satu yang membuat usaha kita berhasil." suka cita Samuel dan Alenka menular ke dokter.


Berkali-kali Alenka mengucapkan terima kasih kepada dokter karena telah menyembuhkan anaknya. "Terima kasih dok.." kata Alenka sembari terisak.


"Tapi, Elvan masih harus di rawat untuk beberapa hari ke depan. Karena kita masih melakukan observasi untuk memastikan penyakit Elvan benar-benar sembuh." kata dokter lagi.


"Iya dok." jawab Samuel.


Alenka dan Samuel kembali berpelukan. Air mata mereka sama-sama mengalir. Air mata kebahagiaan dan rasa syukur atas kesembuhan anak pertama mereka.


"Mama.." Elvan senang melihat mamanya datang bersama dengan papanya.


"Hai El, kangen nggak sama mama?" Elvan segera menganggukan kepalanya.


"Adik dimana ma?" tanya Elvan. Dia sangat merindukan adiknya karena belum pernah melihat adiknya setelah beberapa hari adiknya lahir.


"Ada di rumah sama oma." jawab Alenka lagi.


"Kak, makasih ya karena udah jagain Elvan. Aku nggak enak karena ngerepotin kak Maya.." kata Alenka kepada Maya.


"Hais apaan sih. Kamu kan adik aku, jadi wajar aku nunggu keponakan aku yang sedang sakit. Sebagai gantinya, kamu harus temenin aku waktu aku nikah." jawab Maya.


"Emang jadi nikah?" sahut Samuel yang langsung dipukul oleh Alenka.


"Pak Samuel..." seru Maya dengan kesal.


"Kampret ini emang anak satu nih.." timpal Yoga.


Sementara Samuel hanya cengar cengir setelah menggoda temannya. Lalu dia mendekati anaknya kemudian memeluknya. "Gimana keadaan kamu? Udah enakan?" tanyanya. Dia juga kangen dengan anak pertamanya tersebut.


"Baik pa. Kapan aku pulang pa? Aku bosen disini." rengek Elvan.


"Tunggu izin pak dokter ya! Mulai hari ini, papa yang akan nunggu kamu. Maaf kemarin papa harus temenin mama lahiran." Samuel mengecup kening Elvan dengan lembut.

__ADS_1


"Beneran pa?" Elvan merasa senang.


"Iya sayank.." jawab Samuel kembali memeluk anaknya.


"Asyik..." seru Elvan dengan bahagia.


"Pa, nama adik siapa sih?" tanya Elvan.


"Nama adik kamu, Arshaka."


"Oh adik Shaka?" Samuel menganggukan kepalanya.


****


Setelah beberapa hari Elvan di perbolehkan untuk pulang. Tentu saja dia merasa sangat bahagia. Dia tidak sabar ingin melihat adiknya yang masih bayi.


"Oma..." seru Elvan begitu sampai di rumah. Ia berlari kecil mencari nenek dan adiknya.


"Dek Shaka.." serunya.


"El, jangan lari-larian!" seru Alenka yang berjalan di belakangnya bersama dengan Samuel.


"Adek dimana pa?"


"Di kamar oma kayaknya.. Cari aja kesana." Elvan segera berlari menuju kamar oma-nya.


Dan benar saja. Oma-nya sedang menidurkan Arshaka. Rosie tersenyum senang saat melihat Elvan masuk ke kamarnya. Dia tahu bahwa cucunya akan pulang dari rumah sakit hari ini. Tapi, dia tidak bisa menjemput karena harus nungguin Arshaka.


Meskipun Samuel bisa membayar baby sister, tapi Rosie melarangnya. Dia sendiri yang akan membantu Alenka merawat Arshaka. Dulu waktu Elvan lahir, dia tidak bisa merawat Elvan kecil. Kini, ia menebusnya dengan membantu Alenka merawat Arshaka.


"Oma aku kangen.." Elvan segera memeluk Rosie yang masih menggendong Arshaka.


Rosie dengan segera meletakan bayi tersebut ke kasur. Dia kemudian memeluk Elvan dengan erat. Rosie telah menerima kabar bahwa cucunya itu telah dinyatakan sembuh. "Oma juga kangen sama kamu.." ucapnya sembari mengecup kening Elvan.


"Adik bobok?" Rosie menganggukan kepalanya.


Elvan segera mendekati adiknya. Dengan hati-hati dia menciumi adiknya yang sedang tidur. Elvan sangat senang sampai dia tidak mau berhenti mencium adiknya. Bahkan dia maunya tidur di sebelah adiknya.


Saat Alenka meminta Elvan untuk istirahat. Dia malah merengek untuk tidur di kamar oma-nya bersama dengan adiknya. "Aku mau tidur sama oma dan adik.." katanya.


"Aku kangen sama oma, aku mau ngobrol sama oma." imbuhnya.


"Tapi oma juga capek karena rawat adik."


Namun, karena Elvan terus merengek. Akhirnya Alenka membiarkan Elvan tidur dengan adik dan oma-nya.


Momen itu terasa begitu membahagiakan bagi Samuel. Dia memiliki istri yang sangat dia cintai. Memiliki anak yang membuatnya bahagia. Dan akhirnya mamanya menerima hubungannya dengan wanita yang dia cintai.


_ END_


Terima kasih untuk supportnya para readers semuanya. Terima kasih atas kesediaan kalian semua mampir di karya kami. Akhirnya, novel ini telah tamat. Tapi, jangan khawatir, kami telah menyiapkan judul baru dan akan segera rilis bulan depan. Sekali lagi terima kasih, semoga kita semua sehat dan salam sukses selalu. (Author)

__ADS_1


__ADS_2