Benar Kata Mamah

Benar Kata Mamah
Bab 10


__ADS_3

Arya yang niatnya bertolak ke perusahaan Wima Group setelah dari kampus, berbalik arah menuju tempat meeting yang telah dijadwalkan sebelumnya. Sewaktu di perjalanan, ia menelpon Dimas menanyakan waktu dan tempat pertemuan dengan klien hari ini. Dan di sinilah Arya, di tempat yang sama dengan Anan berada.


Ia menyaksikan kepergian Anan dan Zidan. Tangannya mengepal, pandangannya sinis, giginya menggeretak dan rahangnya mengeras. Ia benar-benar murka dengan tindakan Anan di kampus hari ini. Andai Anan seorang laki-laki, pastilah Arya akan melayangkan bogem mentahnya.


Arya tiba 30 menit lebih awal dari yang di jadwalkan, ia pun menunggu Dimas membawa berkas kerjasama danjuga menunggu kliennya.


Sedang asyik memainkan ponselnya, Arya dikejutkan oleh suara seseorang.


"Arya?" sapanya.


Arya mendongak dan tau siapa yang baru saja menyapanya. "hm.. Hai" lalu kembali fokus pada ponselnya.


"Sendirian?" tanya Lexa lalu duduk di hadapan Arya.


"Aku menunggung klien" tanpa menatap Lexa.


Lexa kesal atas sikap dingin Arya terhadapnya. Ia selalu mencoba bersikap manis di hadapan Arya, tapi Arya seolah tak melihat itu dan tak menanggapinya. Tanpa malu, Lexa memegang punggung tangan Arya yang Arya biarkan di atas meja lalu mengelusnya.


"Aku ke rumah tante Clara ntar malam, kebetulan tante mengundangku makan malam. Aku ha.."


Belum selesai Lexa bicara, Arya mengangkat panggilan di ponselnya dan menarik tangannya menjauhi tangan Lexa. "Iya mah"


"Pulang nanti kamu ke rumah ya sayang, mamah juga udah ngundang Lexa, kita makan malam bersama" ucap mamah Clara merayu.


"Iya mah" tanpa protes namun malas. Lalu panggilan terputus.


"Ya udah, kalo gitu aku ke sana dulu ya" Lexa berdiri hendak menyentuhkan pipinya ke pipi Arya, namun Arya mengelak. Ada gurat kekecewaan di wajah Lexa, tapi ia berusaha tetap tenang dan tersenyum. Ia pun melenggang berlalu dari hadapan Arya menemui teman-temannya yang duduk beberapa meja dari Arya.


Dimas datang dengan membawa berkas-berkas yang dibutuhkan untuk kerjasama dengan Abraham Company.


"Tumben, biasanya ke kantor dulu" celetuk Dimas yang mengeluarkan berkas dari dalam tas dan memberikannya ke Arya.


"Udah berapa lama di sini?" melihat gelas americano yang hampir tak bersisa dan desert yang tinggal separuhnya.


"Menurutmu?" kesalnya balik bertanya.


"Bukankah itu Lexa?" tanya Dimas yang tak sengaja manik matanya menemukan.


"Hm" sibuk menatap lembar demi lembar berkas di depannya.

__ADS_1


"Apa dia melihatmu?" Dimas penasaran.


"Hm" masih fokus pada lembaran tadi.


"Lalu dia menyapamu?" tanyanya lagi.


"Hm"


"Apa kamu ada masalah?" selidik Dimas.


"Hm"


"Tapi bukan dengan Lexa?" desak Dimas.


"Hm" Arya tersentak dengan jawabannya sendiri. Ia menatap sinis Dimas.


Dan yang ditatap menyeringai sambil menaik turunkan alisnya bangga karena berhasil menjebak Arya, bos sekaligus sahabatnya itu.


"Aku jadi penasaran, cewek mana yang membuat seorang Arya Teguh Wijaya kesel sampai ke ubun-ubun" celetuknya dengan senyum mengejek.


Arya semakin kesal dibuatnya, "Ini masih jam kerja, kalo kamu masih kurang kerjaan di sini, silahkan kembali ke kantor".


Beberapa saat kemudian, klien yang ditunggu pun tiba. Tuan Abraham datang bersama sekretarisnya. Mereka berbincang membicarakan tentang kerjasama mereka mendatang. Tuan Abraham sangat senang bisa memulai kerjasamanya dengan Wima Group karena tau bahwa Arya anak dari pemilik Wima Group adalah seorang yang kompeten di bidangnya.


"Saya sangat tertarik dengan proposal yang tuan Arya ajukan. Saya harap kedepannya, kita bisa bekerja sama yang saling menguntungkan" lugas tuan Abrahan tanpa berbelit-belit.


"Jadi kapan bisa penandatanganan kontrak?" tanya tuan Abraham.


"Secepatnya, silahkan hubungi asisten saya, kapanpun anda siap" tegas Arya.


Arya menjulurkan tangannya tanda sepakat bekerja sama dengan perusahaan milik tuan Abraham. Lalu pamit undur diri tanpa menunggu makan siang di restoran tersebut.


"Kamu ini sebenarnya kenapa sih Arya?" tanya Dimas begitu mereka berada di dalam mobil. Dan Dimas bersiap melajukannya dengan kecepatan normal.


Yang ditanya hanya diam seribu bahasa namun dengan raut muka tegang.


"Aku bingung sendiri, kamu yang tadinya mau ke kantor, mendadak nelpon dan langsung menuju tempat meeting tanpa aku. Kamu ditawari makan siang oleh tuan Abraham, kamu tolak dengan alasan yang abu-abu tak jelas. Malah tadi aku disuruh naik ojek lagi" omel Dimas.


"Bisa diam kan?" Arya menoleh sekilas ke arah spion tengah yang menampakkan pantulan wajah Dimas di sana.

__ADS_1


"Kamu masih ingat dengan gadis yang datang ke apartemenku kemarin?" tanya Arya memperbaiki posisi sandarnya.


Dimas mengangguk antusias "Bukankah dia mahasiswi di kampus tempatmu mengajar?"


"Benar. Dan dia telah mempermalukanku hari ini di kampus" terang Arya bersamaan dengan menyampirkan paha kanannya ke paha kiri dan melipat kedua lengannya ke dada.


"Apa! Gimana ceritanya?" tanya Dimas mengernyitkan dahinya menatap sekilas Arya dari spion tengah.


Arya lalu menceritakan sedetail-detailnya apa yang terjadi. Yang mendengar sontak tercengang di akhir cerita.


"Hebat tuh cewek!" seru Dimas dan langsung dihadiahi tatapan mematikan dari Arya. Dan yang dihadiahi malah cengengesan.


"Terus, mau kamu apa sekarang?" tanya Dimas pelan mencoba melunakkan kekesalan Arya yang membatu.


"Aku mau membalas perlakuannya" tegas Arya


"Maksudmu?" tanya Dimas memicingkan matanya.


"Dia harus membayar mahal apa yang telah ia lakukan".


"Maaf bro.. bukan maksudku lancang, tapi ingat, dia itu cewek. Yang aku khawatirkan, kamu malah terjebak di dalamnya" Dimas mengingatkan sahabatnya itu.


"Terkadang benci dan cinta itu hanya di batasi oleh dinding yang sangat tipis. Jadi hati-hati" lanjutnya.


Mereka tiba di perusahaan Wima Group. Seperti biasa jika sudah berada di lingkungan kantor, maka Dimas benar-benar memposisikan dirinya sebagai bawahan Arya.


Dimas turun terlebih dahulu dan membukakan pintu untuk Arya. Mereka berjalan beriringan menuju lift untuk tiba di ruang kerja mereka. Setiap karyawan yang berpapasan, menyapa dan membungkukkan badan. Lalu memuji ketampanan keduanya.


Begitu tiba di lantai 7 gedung Wima Group, Arya langsung masuk ke dalam ruang kerjanya di susul Dimas. Ia lalu membuka jasnya dan melonggarkan dasinya.


Disaat ia ingin meneguk air yang diraihnya dari atas meja, manik matanya melirik ponsel yang ia letakkan dekat gelas air tadi. Ia pun mengetik sandi ponselnya kemudian membuka pesan chat yang masuk.


Keningnya mengernyit, matanya menyipit, sudut bibirnya terangkat sebelah, dan jarinya mengetik balasan untuk pesan chat yang baru saja ia baca.


…………………………………………………………………………………


Wahai pembacaku yang budiman, jangan lupa vote, like dan komen ya.


Aku berterima kasih atas segala apresiasi yang kalian berikan untuk penulis. Bukan hanya kepadaku, tapi juga kepada penulis lainnya.

__ADS_1


Terima kasih😘


__ADS_2