
"Apa benar kamu sudah bertunangan dengan orang lain?" tanya Adji, berharap apa yang didengarnya semalam tidak benar.
"Kamu dengar dari siapa, kalo aku udah tunangan?" tanya Rara mengernyit.
"Semalam aku nelpon, yang angkat cowok. Katanya, dia adalah calon suami kamu. Dan karena ucapan dia juga hingga tekadku bulat untuk pergi," jelas Adji.
Rara semakin mengerutkan keningnya, berpikir.
"Pasti ulah salah satu dari mereka. Dasar sepupu kurang ajar!" Rara membatin.
Ia meyakini salah satu dari si kembar sepupunya telah mengerjai Adji. Tak lama Rara pun tersenyum geli. Membuat Adji meliriknya kesal.
"Kelihatannya kamu senang banget dikejar banyak cowok," sindir Adji.
"Hahahaha... ."Rara terbahak melihat raut wajah Adji.
"Kamu cemburu?" tanya Rara.
Seketika tawa Rara terhenti mendapat tatapan tajam dari Adji.
"Apa aku masih pria terbahagia di dunia ini saat ini?" tanya Adji menuntut jawaban Rara atas pertanyaan sebelumnya.
Rara menghela nafas ringan.
"Kamu masih ingat sepupu aku si kembar yang pernah kamu lihat di rumahku, tidak?" Adji mengangguki pertanyaan Rara.
"Aku pikir salah satu dari mereka telah berhasil mengerjai kamu." Rara memegang punggung tangan Adji.
"Jangan diambil hati ya. Mereka memang suka usil. Tapi mereka sebenarnya baik kok. Mereka hanya berniat melindungi aku. Kamu tidak marah kan?" jelas Rara kemudian bertanya.
"Tidak. Hanya saja, andai kata mang Karsa tidak segera menyampaikan pesan dari bibi dan mas Idham, kalo kamu mencariku, aku pasti udah berangkat. Lalu, apakah masih mungkin kita berada di sini hari ini?"
Rara menatap Adji, lembut. Ia pun membenarkan perkataan Adji barusan.
"Ya udah, atas nama sepupu aku, aku mewakilinya meminta maaf padamu. Kamu mau kan maafin dia?"
Adji tersenyum dan menempatkan tangannya di atas tangan Rara yang sejak tadi memegangnya.
"Aku sama sekali tidak marah, apalagi dendam pada orang lain. Aku pasti memaafkan sepupu kamu," tutur Adji, membuat Rara tersenyum bahagia.
"Yang penting sekarang, apapun yang terjadi dalam hubungan harus ada kepercayaan dan tanggung jawab. Tidak boleh ada kebohongan apalagi perselingkuhan," imbuh Adji.
"Baiklah. Karena kamu sudah berkomitmen, aku juga harus demikian," sahut Rara yang merasa lucu dengan ekspresi wajah Adji.
Adji lalu melajukan kembali kendaraannya menuju rumah Rara.
***
Di rumah sakit Sandra Hospital, Anan duduk selonjoran di atas sofa sambil menikmati kue brownis dan segelas air putih.
"Nan," panggil mamah Yati yang duduk di atas tempat tidur dengan jarum sulam di tangan kanannya.
Menyulam adalah obat lain yang mampu mengusir rasa jenuh mamah Yati selama berada di rumah sakit.
Anan mengalihkan pandangannya dari tv ke mamahnya.
"Iya, Mah," sahut Anan.
__ADS_1
Mamah Yati menyimpan peralatan menyulamnya pada kotak khusus.
"Kemari, Sayang. Duduk di dekat Mamah," minta mamah seraya menepuk tepi tempat tidur untuk Anan duduki.
Anan beranjak dari duduknya dan berjalan mendekati mamahnya.
"Ada apa Mah?" tanyanya, setelah duduk di tepi tempat tidur, menghadap mamahnya.
"Tidak ada apa-apa, Sayang. Mamah hanya kangen sama anak Mamah yang cantik ini," celetuk mamah Yati yang menekan dagu Anan dengan jari jempol dan telunjuknya.
"Anan juga kangen sama Mamah," timpal Anan kemudian meraih tangan mamahnya yang memegang dagunya.
"Makanya, Mamah harus selalu semangat ya, berobatnya. Biar Mamah selalu bisa menemani Anan. InsyaAllah, kita berdua akan selalu bersama."
Anan mendekap tubuh mamahnya yang lebih kurus dari sebelum dirawat di rumah sakit itu.
Sebenarnya, ada perasaan cemas yang melanda hati mamah Yati. Akhir-akhir ini, ia sering bermimpi buruk tentang putri yang sangat disayanginya itu. Ia resah dan gundah gulana. Ia tak tau harus bercerita kepada siapa. Ia juga tidak mau menceritakan keresahannya kepada Anan, sebab ia tak mau membuat putrinya itu memikirkannya.
"Nan... manusia memiliki batas kehidupan. Yang artinya, kelak, cepat atau lambat akan tiba waktunya mereka berpisah dengan kehidupan itu, juga segala yang berkaitan di dalamnya. Entah itu hubungannya dengan alam, manusia, bahkan dengan diri manusia itu sendiri."
Mamah Yati melonggarkan dekapannya dan memegang kedua pundak Anan.
"Di dunia ini, manusia bukan hanya satu, tapi ada banyak. Oleh karenanya, kita harus selalu pandai menempatkan diri. Agar kita tidak salah dalam melangkah, yang dapat mendatangkan penyesalan pada akhirnya."
Anan menatap kedua manik mamahnya.
"Apa maksud Mamah berkata seperti ini?" Anan bingung dengan kalimat-kalimat yang diucapkan mamahnya.
Sambil tersenyum, mamah Yati menjelaskan.
"Kamu pasti bingung kan, karena kamu berpikir kalimat Mamah agak tidak nyambung."
"Sayang, Mamah sudah tua, tidak menutup kemungkinan umur Mamah juga tidak lama lagi."
Manik Anan mulai berembun.
"Tidak, tidak Mah," sanggah Anan seraya menggelengkan kepala. Tidak terima dengan penuturan mamahnya.
"InsyaAllah, Mamah panjang umur. Anan selalu berdoa seperti itu. Juga mendoakan kesembuhan Mamah. Anan minta, Mamah jangan berkata seperti itu lagi. Ya, Mah?"
Mamah Yati mengusap air bening yang membasahi pipi Anan.
"Sayang, dengarkan perkataan Mamah dulu."
Mamah Yati merapikan anak rambut yang jatuh ke wajah tirus Anan.
"Jika kelak Mamah sudah tidak bisa lagi menemani kamu, Mamah berharap kamu bisa bersama dengan seseorang yang mampu menjaga serta melindungimu. Untuk itu, kamu harus bijak dalam memilih pasangan. Ini bukan untuk orang lain, tapi untuk dirimu dan masa depanmu."
Anan kembali menggeleng dengan air mata yang menghiasi wajah mulusnya.
Mamah Yati menggenggam tangan putri semata wayangnya itu.
"Sayang, bukankah Mamah sudah pernah bilang, bahwa alur kehidupan manusia itu berbeda-beda. Bahkan, kehidupan yang bereinkarnasi pun tidak semuanya sama dengan kehidupan yang dijalani sebelumnya."
Lagi-lagi mamah Yati menghapus air mata yang menetes dari mata indah milik Anan.
"Kamu mengerti kan, Sayang?"
__ADS_1
Anan pun mengangguk.
"Kehidupan pernikahan Mamah memang jauh dari kata 'baik'. Tapi bukan berarti ini juga akan berlaku pada pernikahan yang akan kamu tempuh. Walau bagaimana pun, hidup tetap harus dijalani. Dengan siapapun kamu bersama, dialah jodohmu. Jodoh yang dipilihkan Allah untuk mendampingimu, menjaga, serta melindungimu."
Mamah Yati menghela nafas panjang.
"Jadi, pilihlah seseorang yang kamu anggap baik. Yang bisa menuntunmu pada ridho-Nya. Sebab, Mamah tidak selamanya bisa bersamamu, Sayang. Ingatlah, pilihanmu akan menentukan kehidupanmu selanjutnya."
Senyum mamah Yati semakin mengembang.
"Bagaimana hubunganmu dengan Arya?" tanyanya, lembut.
Anan yang mendapat pertanyaan dari mamahnya, kelabakan. Bingung harus menjawab apa.
"Apa ada masalah, Sayang?" tanya mamah Yati, mengangkat kedua alisnya melihat ekspresi yang ditunjukkan Anan.
"Anan juga sebenarnya tidak tau, Mah. Anan bingung harus bagaimana dengan pak Arya," sahut Anan mengalihkan pandangannya tak tentu arah, kemudian kembali menatap mamahnya yang tetap setia menatapnya sejak tadi.
"Jujur, Anan masih mencintai pak Arya, walau tidak sebesar sebelumnya," ungkap Anan, sedikit tersipu malu meskipun cuma di hadapan mamahnya.
Mamah Yati mengerti akan sikap malu yang ditangkap dari putrinya itu.
"Ikuti kata hatimu, Sayang. Sebab, hati adalah bagian tersuci dari tubuh kita. Baik dan buruknya hati seseorang sesungguhnya karena akal pikiran. Jika akal pikiran kita baik, maka kesucian hati kita akan selalu terjaga. Dan mengenai jodoh, jodoh kita adalah cerminan diri kita. Jika kita baik, maka akan mendapatkan jodoh yang baik pula. Begitu pun sebaliknya."
Anan tersenyum dan mengiyakan perkataan mamahnya.
Tiba-tiba pintu terketuk dari luar. Anan dan mamah Yati menoleh ke arah pintu bersamaan, kemudian kembali saling menatap.
"Biar Anan buka pintu dulu."
Anan beranjak dari hadapan mamahnya dan membuka pintu.
Dan alangkah terkejutnya Anan ketika melihat orang yang berdiri di balik pintu tersebut.
Yeyy...!
Tebak! Siapa hayooo...!
Buat pembaca setiaku, Luv U Full😘😘😘
Baca juga karya author lainnya 'Jiwaku bukan Jiwaku'. Meski masih sedikit, semoga kalian suka. Sehingga membuat author semakin semangat melanjutkan kisahnya.
Terima kasih
__ADS_1
Ig @Fhujikha Adzkia