
"Asal Nyonya tahu, gadis yang Nyonya katakan kampung dan miskin ini adalah PUTRI KANDUNG SAYA!"
Kedua bola mata nyonya Clara membelalak mendengar pengakuan tuan Kemal. Kaget, dan tentu saja tidak percaya. Nafasnya tidak karu-karuan, begitupun dengan perasaannya yang campur aduk. Seakan tergelitik dengan semua yang telah dia lakukan terhadap Anan. Sebab ia tahu betapa besar peranan tuan Kemal dalam membesarkan bisnis keluarganya. Dan kini, ia harus menelan kenyataan bahwa gadis yang telah ia hina dan benci setengah mati adalah putri kandung dari seseorang yang turut andil dalam membesarkan perusahaan suaminya.
Lalu bagaimana dengan Anan?
Dibela dan dilindungi oleh seseorang yang bergelar ayah adalah pertama kali baginya. Air mata yang sadari tadi menggenang, kini merembes membasahi pipinya. Ia sangat tersentuh dengan ucapan tuan Kemal.
"Seperti ini rupanya dibela oleh seorang ayah. Aku merasa lebih aman dan terlindungi. Aku juga merasa istimewa dan berharga. Merasa dicintai dan juga disayangi." Anan bergumam dalam hati.
Arya melirik Anan dan menangkap setetes bulir bening yang jatuh dari pelupuk mata Anan.
"Lagi-lagi aku membuatnya menangis. Apakah aku benar-benar tidak layak untuknya? Betapa tidak berdayanya diriku saat ini. Sungguh aku ingin sekali menghapus air matanya. Oh Tuhan... selemah inikah diriku di hadapannya?" pilu Arya dalam hati.
Kemudian mengalihkan tatapannya ke nyonya Clara. Amarahnya kembali merongrong, memaksa untuk diledakkan. Ia pun tidak mengira bahwa ibunya yang akan datang ke acara tersebut.
Namun, apalah hendak dikata. Nasi sudah menjadi bubur. Yang perlu Arya pikirkan adalah bagaimana cara agar ia berhasil memperbaiki hubungannya dengan tuan Kemal. Karena bukan hanya hubungan pribadi, tetapi juga kelangsungan perusahaannya akan terkena imbas.
Jengah melihat keadaan yang ada, tuan Kendra maju dan angkat bicara.
"Aku Kendra Kartadiningrat, pendiri perusahaan Grissham Company. Aku umumkan kepada semua hadirin beserta tamu undangan bahwa yang akan menjadi pemimpin Grissham Company selanjutnya menggantikan putra saya Kemal Kartadiningrat adalah cucu saya yang bernama Ananda Larasathi Kartadiningrat, yang hari ini tepat berusia 22 tahun."
Mamah Yati yang menyaksikan hal itu sungguh sangat terharu. Dokter Sandra lalu merengkuhnya.
"Hapus air matamu, Mbak. Mbak tidak seharusnya menangis dihari bahagia putri kita."
Dokter Sandra melonggarkan pelukannya, lalu menghapus jejak air mata mamah Yati.
"Kamu benar, Sandra. Tapi air mata ini bukan karena bersedih, tapi karena bahagia dan haru. Anan yang selama ini hidup tanpa dampingan seorang ayah, dihari ulang tahunnya ini dapat merasakan hal yang belum pernah dia rasakan sebelumnya. Diperjuangkan oleh seorang ayah adalah hal yang baru bagi Anan. Ditambah lagi, dia memiliki seorang kakek yang juga sangat menyayanginya. Tentu ini semakin membuatnya bahagia."
"Tentu saja putri kita harus bahagia. Tak ada seorang pun yang boleh mengacaukan kebahagiaannya." Dokter Sandra pun menimpali sembari tersenyum.
Tuan Kendra dan tuan Kemal mengajak Anan naik ke podium. Bersamaan dengan itu, Zidan yang diikuti oleh Adji, berjalan mendekati Arya.
__ADS_1
"Sepertinya kamu tidak lagi diharapkan ada di acara ini. Jadi sebelum aku bertindak kasar, tolong tinggalkan tempat ini!" Zidan berusaha meredam amarahnya. Ia sadar bahwa tak sepatutnya ia membuat suasana semakin kalut.
"Baiklah, Zidan. Maafkan aku, karena telah merusak acara ini. Tapi ketahuilah, aku bukan lagi Arya yang ibuku katakan tadi. Kali ini aku benar-benar tulus kepada Anan. Permisi."
Lalu Arya mengajak maminya pergi meninggalkan acara tersebut.
"Lho, aku bagaimana, Tante?!" Sedikit pun, tak ada tanda-tanda perduli dari nyonya Clara. Hal ini membuat Maya kesal setengah mati.
"Ngapain kamu masih di sini? Nunggu dilempari telur busuk, ya?" Rara mengusir Maya dengan bersedekap.
Mendapat pelototan dari Maya, Rara malah tersenyum. Ia memang senang dengan adegan yang seperti ini. Di mana kemenangan berpihak padanya.
Maya beranjak dengan perasaan dongkol. Berulang kali ia menghentakkan heels yang dikenakannya ke lantai sambil berjalan.
"Dasar Lexa kedua!" celetuk Rara.
Walau surprise party untuk Anan tidak berjalan sesuai rencana, Zidan beserta yang lainnya tak masalah. Kendati mereka ingin sekali membuat Anan bahagia, namun paling tidak, Anan mendapatkan kebahagiaan yang lebih dari mereka duga.
Hingga detik ini, Adji, Rara, Salma, serta orang-orang yang tidak mengetahui hubungan Anan dengan tuan Kemal, masih shock. Mereka benar-benar tidak menyangka akan hal itu.
Tak terasa bulir bening meleleh membasahi pipi Anan tatkala lagu 'Selamat ulang tahun' dinyanyikan. Mamah Yati mengusap dengan tisu air mata putrinya sembari menyemangati. Mamah Yati tahu betul, mengapa Anan menangis.
"Berbahagialah, Nak," bisiknya di telinga Anan.
Ketika lagu berakhir, host yang memimpin jalannya acara, meminta Anan meniup lilin yang berjumlah 22 batang itu. Namun sebelum dia lakukan hal itu, dokter Sandra meminta Anan berdoa terlebih dahulu.
Anan menundukkan kepala sembari berdoa dalam hati.
"Ya Allah, beribu syukur mungkin tidak akan cukup untuk mengungkapkan terima kasihku pada-Mu. Alhamdulillah ya Allah, Engkau telah berkenan menyatukan keluarga ini. Hamba tidak meminta banyak. Cukuplah Engkau bahagiakan mamahku yang selama ini berusaha membuatku bahagia, Aamiin."
Setelah berdoa, Anan memegang tangan mamahnya. Bersama-sama mereka meniup lilin. Potongan kue pertama, Anan meraih sendok lalu menyuapkannya kepada mamah Yati. Suapan kedua ia berikan kepada dokter Sandra. Dan disuapan ketiga barulah tuan Kemal.
"Aku juga mau dong, Nan. Disuap kamu," celetuk Zidan yang berdiri di samping tuan Kemal.
__ADS_1
"Disuap sama Rasmi saja," balas Anan. Membuat wajah Rasmi bersemu merah.
"Wah! Muka kak Rasmi merah, kayak tomat," ledek Atika.
"Terima kasih."
Ucapan Anan yang tiba-tiba, membuat orang-orang di sekitarnya terdiam dan menghentikan aktivitasnya sejenak.
Dengan sigap, Adji meraih mic si MC untuk diberikan ke Anan.
"Terima kasih sudah repot-repot menyiapkan acara ini untuk aku. Jujur saja, aku lupa kalau hari ini adalah hari ulang tahun aku. Mungkin karena aku sudah terbiasa. Dihari jadi aku tidak ada yang spesial."
Anan terkekeh kecil diakhir kalimatnya.
"Teruntuk Papah. Terima kasih untuk yang Papah lakukan hari ini. Betapa dulu aku ingin hal seperti itu terjadi. Tapi aku takut berharap. Tapi, sekarang aku pun merasakannya. Merasakan yang namanya dibela oleh seorang ayah. Terima kasih, Pah."
Tuan Kemal menghampiri putrinya, kemudian mendekapnya. Air mata bahagia jatuh di wajah tuan Kemal. Kebahagiaan yang ia rasakan saat ini sungguh tak dapat dirangkai dengan kata-kata. Betapa tidak, akhirnya, ia pun mendapat pengakuan dari Anan yang selama ini menganggapnya orang asing.
Beberapa menit pun berlalu. Kini semuanya tengah menikmati makan malam mereka.
Rupanya, kebiasaan Zidan tidak berubah. Meski sedang makan ia tetap saja menjahili Anan.
"Zidan, cukup! Auw... ish... ." Anan mengeluh sakit di bagian pinggang yang digelitik oleh Zidan.
"Kamu kenapa?" tanya Zidan.
"Maaf. Aku tidak bermaksud membuat kamu sakit," lanjutnya.
"Tidak. Tidak apa-apa," sahut Anan seraya menggeleng.
Akibat terdorong oleh Maya tadi, hingga saat ini Anan masih merasakan sakit di bagian bekas operasi ginjalnya. Namun ia berusaha menahan rasa sakitnya. Ia tidak mau mamah Yati tahu yang sebenarnya.
Beruntung, Anan duduk tidak bersama dengan mamahnya. Sehingga mamah Yati tidak perlu mencemaskan keadaan Anan saat ini.
__ADS_1
Namun, tidak dengan tante Yani. Dari jarak beberapa meter, ia dapat melihat Anan sedang meringis sambil memegang pinggangnya. Tentunya ia curiga. Kondisi Anan tersebut ada kaitannya dengan operasi ginjalnya.