Benar Kata Mamah

Benar Kata Mamah
Bab 15


__ADS_3

Anan dan ketiga sahabatnya saat ini sedang berada di kantin kampus mereka. Mereka sudah janjian untuk sarapan di kampus.


"Nan, kapan rencananya kamu bertemu pak Arya untuk judul skripsimu nanti?" tanya Rara yang sarapan dengan nasi goreng.


"Sebenarnya sih hari ini," jawab Anan mengaduk jus wortelnya. Sungguh Anan tidak mau bertemu berdua saja dengan Arya. Apalagi kata-kata Arya yang ingin meluluhkan Anan, sering terngian.


"Kenapa?" tanyanya.


"Tidak kenapa-napa sih, ya kali aja kamu butuh ditemenin, gitu," usul Rara lalu meminum jus jeruk miliknya. Wajah Anan semringah dengan usulan Rara. Dengan adanya Rara, Anan tidak berdua saja dengan Arya. Itu yang dipikirannya.


"Halah...modus. Bilang aja kamu mau dekat-dekat sama paka Arya. Iya kan?" timpal Salma dan menggetok kepala Rara dengan sendok bersih yang ada di sana. Dan diiyakan oleh Adji.


"Kalian ini kenapa sih. Aku kan cuma ingin nemenin Anan, gitu aja kok. Lumayan kan buat cuci mata," cicit Rara yang disambut riuh para sahabatnya.


"Eh, tapi.. tidak apa kali, kalo Rara nemenin aku," ucap Anan.


"Tidak! Rara sahabatku yang muanizzt, Anan ketemu pak Arya itu buat konsultasi bukan acara makan-makan. Lagian tuh ya, belum tentu juga pak Arya nya mau ketemu sama kamu. Nasib baik kalo tidak dilirik, tapi kalo dilirik trus dia bilang 'Ngapain kamu ada di sini?', bisa mental kamu," tutur Adji panjang lebar


"Ya udah. Kalo babang Adji udah ngomong gitu, aku bisa apa," ucap Rara pasrah namun tetap tersenyum.


Mereka segera menghabiskan sarapan mereka kemudian memulai pelajaran mereka hari ini.


Pak Bayu membawakan materinya seperti biasa, dan para mahasiswa dan mahasiswi mengikutinya dengan baik, serta sesekali ada diantara mereka yang mengajukan pertanyaan. Setelah 45 menit, pak Bayu menutup mata kuliah untuk hari ini dan keluar dari ruangan.


Anan segera bangkit dari duduknya dan mengejar pak Bayu.


"Pak, pak Bayu," panggil Anan begitu melihat pak Bayu.


Pak Bayu menoleh, "Iya, ada apa?" tanyanya.


"Maaf pak, saya cuma mau bertanya. Bagaimana dengan materi saya pak?" tanya Anan pelan.


"Bukannya kamu sudah revisi?" selidik pak Bayu.


"Sudah pak, tapi saya tidak mau ada kesalahan lagi pak," tutur Anan.


"Begini saja, coba kamu temui pak Arya. Karena jadwal saya hari ini padat. Itulah kenapa dosen pembimbing bukan hanya satu," saran pak Bayu.


"Ya udah pak. Kalo gitu, terima kasih pak," ucap Anan dan dibalas anggukan oleh pak Bayu.


Pak Bayu pun melanjutkan langkahnya menuju ruang dosen.


"Hei... bengong aja."


Adji mengagetkan Anan yang mematung di koridor kampus sepeninggal pak Bayu.


"Adji... apaan sih, ngagetin aja," protes Anan merapikan kembali rambutnya yang diacak Adji.


"Jadi... apa kata pak Bayu?" tanya Adji.


"Aku disuruh ketemu pak Arya," jawab Anan lemas.


"Lalu, masalahnya dimana, huh?" tanya Adji mengangkat kedua alisnya.


"Mm...Ah.. udahlah," ucap Anan kemudian berlalu meninggalkan Adji.


Adji yang ditinggalkan Anan mengernyit, matanya memicing.


"Pasti ada yang tidak beres," gumamnya.


Anan baru saja tiba di perpustakaan. Ia mangedarkan pandangannya lalu manik matanya menangkap dua sosok sahabatnya sedang duduk berdua saja di sudut ruangan dengan aktivitas mereka masing-masing. Anan pun bergegas menghampiri kedua sahabatnya itu.


Baru saja Anan mendudukkan tubuhnya di kursi yang tersedia di sana, ia dikejutkan oleh suara seseorang.


"Eh, semuanya! Kalian tau tidak, kalo diantara kita nih, ada seorang sugar baby... Belagak alim, tapi ternyata maling. Kasian banget tuh istrinya si om-om," tuduh Septy mulai mengoceh yang duduk tak jauh dari tempat duduk Anan dan kedua sahabatnya, dengan nada penekanan di bagian akhir.


Anan yang mengetahui bahwa orang yang dituduh Septy adalah dirinya, meradang. Salma dan Rara yang ada di sana pun geram.

__ADS_1


Rara berdiri dan menggebrak meja.


"Eh, Septy si ulet keket! Ini perpustakaan, jadi jangan buat kegaduhan."


Rara duduk kembali namun manik matanya tetap mengarah ke Septy dengan sinis.


"Lah.. emang benar kok. Kita semua kan tau, kalo Anan itu gadis kampung yang miskin. Kok bisa ya mamahnya sakit dirawat di ruangan kelas atas. Kalo bukan dipelihara sama om-om, trus dapat duit dari mana coba. Iya kan?!" hasut Septy dengan bersedekap.


"Wah.. om-omnya cakep tidak? Kalo cakep aku juga mau dong," sahut Yuli dengan gaya centilnya kemudian tertawa ringan.


"Namanya juga om-om, mana ada yang cakep. Tua, iya!" seru Serli yang juga teman dari Septy.


Anan menggelengkan kepalanya ketika Rara hendak membalas Septy dan teman-temannya.


"Ini perpustakaan, bukan tempat jual beli barang," tukas Arya yang menghampiri mereka.


Arya tiba di perpustakaan sejak Rara menggebrak meja, ia juga sedikit terkejut. Ia berjalan pelan sambil menyimak. Sampai akhirnya ia tiba di belakang mereka.


"Eh, pak Arya. Kebetulan bapak ada di sini. Saya mau nunjukin materi saya ke bapak," ucap Septy girang.


"Maaf, saya sibuk!" tegas Arya. Kemudian menghampiri Anan di tempat duduknya.


"Ikut saya!" titah Arya ke Anan lalu berbalik dan melangkah keluar dari perpustakaan.


"Aku duluan ya," pamit Anan ke sahabatnya dan diangguki oleh keduanya.


Anan pun melenggang berlalu dari sana. Septy dan teman-temannya yang melihat kepergian Anan menatapnya sinis. Apalagi Septy yang merasa malu karena ditolak oleh Arya. Septy mengepalkan kedua tangannya dan menggeretukkan giginya.


"Dasar gadis kampung! Tunggu aja, akan kubuat kamu menyesal ada di kota ini," geram Septy dalam hati.


Anan dan Arya berjalan menuju parkiran. Arya menekan remote pada kunci mobilnya.


"Masuk!" titah Arya. Kemudian membuka pintu mobil dan duduk di belakan kemudi. Arya menyalakan mesin mobilnya, dan bergegas meninggalkan parkiran kampus.


Hari ini tibalah jadwal pertemuannya dengan tuan Kemal. Seperti yang telah disepakati, mereka akan menandatangani kontrak kerjasama antara perusahaan Wima Group dan Grissham Company.


Tak ada obrolan dalam perjalan mereka. Sampai akhirnya mereka tiba di pelataran gedung kantor Grissham Company.


"Turun!" Arya turun dari mobil lalu membuka pintu belakang dan mengambil tasnya.


Bak diremote, Anan pun turun dan menghampiri Arya.


"Kita mau ngapain disini pak?"


"Ikut saja," sahut Arya.


Mereka melanggang memasuki gedung kantor tersebut, menuju receptionist.


"Selamat siang!" sapa Arya setelah bareda di bagian receptionist.


"Selamat siang tuan, ada yang bisa saya bantu?" tanya si karyawati dengan menyampirkan helaian rambutnya dan tersenyum.


"Saya Arya dari Wima Group, minggu lalu saya sudah buat janji dengan tuan Kemal," ucap Arya.


Belum sempat si karyawati menyahuti ucapan Arya, Raka, asisten tuan Kemal datang.


"Maaf tuan Arya, silahkan," ucap Raka asisten tuan Kemal. Lalu melangkah mendekati karyawati tadi.


"Lain kali, kalo tuan Arya datang, langsung persilakan ke ruang tuan Kemal," ucapnya yang diangguki oleh si karyawati. Kemudian mendampingi Arya menemui atasannya.


Karyawan yang ada di sana menatap kedatangan Arya dan Anan. Sepanjang jalan menuju lift, kaum hawa sibuk merapikan pakaian dan riasannya, lalu tersenyum semanis mungkin. Tentu dengan harapan agar bisa menarik perhatian Arya.


Siapapun yang melihat Arya pasti berdecak kagum. Tubuh tinggi dan atletis. Kulit putih dan bersih. Serta wajah yang tampan dan rupawan. Sungguh idaman para wanita.


Sedangkan Anan? Secara tampilan, Anan jauh dari kata modis. Stylenya biasa saja, malah cenderung tidak menarik, membuat para wanita yang ada disana membandingkan dirinya dengan Anan.


"Itu pembantu kok bisa jalan sama majikannya sih?!" umpat salah satu dari mereka.

__ADS_1


"Iya, masih mending aku yang ada di sana. Berdampingan dengan si tampan," sahut yang lainnya.


Lift terbuka di lantai 19. Lalu mereka bertiga keluar dan melangkah menuju ruang presdir di sana.


"Tuan Arya sudah tiba tuan," kata Raka menginfokan setelah berada di dalam ruangan atasannya.


"Persilakan masuk!" titah tuan Kemal.


Raka pun mempersilakan Arya masuk, Anan yang enggan masuk terpaksa mengikuti Arya karena mendapat tatapan memerintah dari Arya. Jadilah mereka meeting berempat.


"Selamat siang tuan Kema," sapa Arya.


"Selamat siang tuan Arya," sahut tuan Kemal. Kemudian mengalihkan pandangannya ke arah Anan. Disaat yang sama, Anan pun menatap tuan Kemal.


Ada desiran aneh yang menghujam jantung tuan Kemal begitu menatap sosok Anan yang berdiri tak jauh darinya. Ia merasakan kerinduan, kesedihan dan kebahagian dalam satu waktu. Sungguh aneh, namun itulah nyatanya.


Tak jauh beda dengan Anan. Anan pun merasa kalo sosok tuan Kemal adalah orang yang dekat dengannya. Namun Anan segera menepis perasaannya itu.


"Mungkin karena perasaanku sangat merindukan sosok seorang ayah," Anan membatin.


Arya dan Raka menyaksikan kejadian ini, aneh menurut mereka. Arya lalu mendehem, membuyarkan pikiran mereka masing-masing.


"Oh..iya, ini Anan. Dia sekretaris saya."


Anan seketika melongo mendengar Arya memperkenalkannya sebagai sekretarisnya. Anan ingin protes tapi tidak diberi kesempatan.


"Ayo, silahkan duduk."


Tuan Kemal mempesilakan mereka duduk.


Mereka pun langsung pada inti pertemuan mereka. Dan dilanjutkan dengan makan siang yang dipesan melalui catering di ruangan yang sama.


Di atas meja panjang yang memiliki 8 buah kursi, telah tersaji menu beraneka ragam. Tuan Kemal pun mempersilakan mereka untuk menyantapnya. Sesekali tuan Kemal melirik ke arah Anan disela makannya.


"Kenapa cuma makan ayam kecap?" tanya Arya yang melihat isi piring Anan.


"Saya sangat menyukai ayam kecap pak," jawab Anan sambil menyunggingkan senyuman.


Tuan Kemal yang mendengarnya pun melirik ke piring milik Anan.


Deg!! Tuan Kemal terenyuh, pikirannya menjelajah ke beberapa tahun silam.


"Maaf tuan. Apa tuan baik-baik saja?" tanya Raka yang sejak tadi memperhatikan atasannya itu melamun.


Arya dan Anan yang duduk di sana pun ikut menoleh ke arah pemilik Grissham Company tersebut. Arya mengernyit, "Sebenarnya, ada apa dengan Anan dan tuan Kemal?" batinnya.


"Kok aku jadi sedih ya melihat tuan Kemal seperti itu. Ingin rasanya aku memeluknya. Astagfirullah..apa yang kupikirkan. Ntar orang-orang pada salah sangka lagi. Tidak..tidak.. tapi, aku kasian pada tuan Kemal. Aku merasa kalo tuan Kemal ada hubungannya denganku. Ah.. tidak mungkin," batin Anan.


"Tidak..tidak.. saya tidak apa-apa Raka," sahut tuan Kemal tersadar dari pemikirannya. Kemudian melanjutkan kembali makan siangnya.


Setelah makan siang, Arya dan Anan pun pamit undur diri dan meninggalkan gedung Grissham Company.


"Kamu ada hubungan apa sama tuan Kemal?" tanya Arya di tengah perjalanan mereka.


Arya mencurigai Anan ada hubungan dengan tuan Kemal. Apalagi ia mengingat perkataan Septy waktu di perpustakaan. Arya mencurigai, apa yang dikatakan Septy adalah benar.


"Maksud bapak?" tanya Anan bingung.


"Apa kamu tidak lihat, bagaimana raut muka tuan Kemal memandangmu?" tanya Arya memperjelas.


Belum sempat Anan menjawab, Arya kembali bertanya, "Kamu.. tidak melakukan apa yang temanmu itu tuduhkan kan?"


…………………………………………………………………………


Jangan lupa tuk selalu dukung author.


Vote, like dan komen selalu author nantikan.

__ADS_1


Terima kasih😘


__ADS_2