
Sekitar 15 menit Anan selesai dengan ritual mandinya. Ia merasa badannya sangat lengket hari ini, makanya dijam yang belum masuk sore ini ia harus membersihkan tubuhnya.
Ia keluar dari kamar mandi dan melihat dokter Sandra yang tengah berbincang dengan mamahnya. Ia mengernyit saat melihat mamahnya menggeleng ke dokter Sandra dan dibalas anggukan oleh dokter Sandra. Seolah-oleh mereka ingin menyembunyikan sesuatu dari Anan.
Anan mencoba bersikap biasa, ia berjalan menghampiri mamahnya dan dokter Sandra serta menyapanya.
"Assalamualaikum dok."
"Waalaikumsalam Nan," dokter Sandra tersenyum.
"Oh iya, kalo gitu saya permisi dulu," lalu dokter Sandra berlalu meninggalkan mamah dan anak itu.
Kini Anan hanya tinggal berdua dengan mamahnya. Anan berdiri dekat mamahnya. "Mah, Anan izin keluar sebentar, boleh?"
Mamah Yati tersenyum, "Boleh sayang, mamah juga mau istirahat," lalu merubah posisinya senyaman mungkin.
Anan memperbaiki selimut mamahnya, dan mendaratkan kecupan di keningnya. Ia mengambil ponsel dan menaruhnya ke tas selempangnya, kemuadian berlalu pergi dari sana.
"Maaf mbak, mengganggu. Saya mau tanya.…kira-kira, biaya untuk pasien cuci darah dan ruang perawatan VVIP, berapaan ya?" tanyanya begitu tiba di bagian administrasi.
Pegawai administrasi tersebut lalu membuka komputernya dan mengetik sesuatu di sana kemudian mengklik mousenya. "Kalo untuk cuci darah, kisaran 800 sampai 1 juta rupiah per satu kali dialisis. Dan untuk ruang perawatan VVIP 8 juta rupiah per malamnya" jawab si pegawai.
"Nona punya keluarga yang dirawat di sini?" tanya si pegawai menatap Anan setelah menatap layar komputernya.
"Iya mbak."
"Atas nama?" tanyanya lagi.
"Nurhayati," jawab Anan.
Anan masih berdiri di depan meja administrasi. Ia terdiam, tampak berpikir akan sesuatu.
"Apa masih ada yang mau ditanyakan, nona?" tanya si pegawai.
Anan menatap si pegawai lalu tersenyum sekilas, "Tidak, tidak ada," jawabnya.
Kemudian meraih ponsel yang ada dalam tasnya karena berdering.
"Ya udah mbak, makasih," ucap Anan sopan dengan senyuman di wajahnya.
Ia pun berjalan menjauh dari meja adminstrasi. "Iya, Assalamualaikum Sal"
__ADS_1
"Waalaikumsalam, kamu dimana Nan?"
"Di rumah sakit," sambil berjalan menuju lobi.
"Ya udah, kita ke sana sekarang," ucap Salma lalu memutuskan sambungan telepon.
Saat ini Anan berada di taman rumah sakit tempat mamahnya dirawat. Ia duduk di kursi yang ada di sana, pandangannya hampa. Ia merenung, memikirkan biaya pengobatan mamahnya. Tadinya ia juga ingin bertanya ke bagian administrasi, apa boleh ia memindahkan ruang perawatan mamahnya, mengingat biayanya yang begitu mahal. Ia takut tak sanggup untuk membayarnya.
Namun ia urungkan, ia melihat betapa nyamannya mamahnya beristirahat di sana setelah menjalani proses cuci darah.
"Ah...udahlah, kalo uang mamah tidak cukup, aku bisa pakai tabunganku dulu. Ntar lagi aku udah bisa nyari kerja," gumamnya, melayangkan pandangnya ke langit luas.
Sepeninggal Anan di meja administrasi, Zidan yang kebetulan berjarak tak jauh dari meja administrasi melangkah mendekati meja tersebut.
"Hallo..." sapanya ke pegawai yang berjaga di sana.
Yang disapa bukannya membalas sapaan Zidan malah terpana akan ketampanannya. Meskipun ia sudah sering melihat dan mengagumi Zidan, namun ini pertama kalinya ia bertatapan langsung dan di sapa oleh Zidan.
"Hallo mbak... mbak!" Zidan melambai-lambaikan tangannya tepat di depan wajah si pegawai.
Pegawai tersebut terkesiap, ia mengerjap lalu menunduk dan kembali menatap Zidan. "Iya tuan, ada yang bisa saya bantu?" tanya si pegawai dengan perasaan malu karena kepergok menatap Zidan dengan tatapan kagum, pegawai itu tau siapa Zidan.
Zidan mengubah cara berdirinya, siku tangan kirinya ia simpan di atas meja yang mana tangan kirinya itu menggenggam ponsel, sedang tangan kanannya ia masukkan ke dalam saku celananya dan kaki kanannya menyilang kaki kirinya.
"Oo... itu... anu tuan..." si pegawai tergagap masih terpesona.
"Jawab yang benar!" potong Zidan dengan santai.
"Itu tuan, nona tadi menanyakan biaya pengobatan dan kamar perawatan VVIP tuan," jawab si pegawai cepat.
"Oo... terima kasih," ucap Zidan dan berlalu dari sana.
Si pegawai yang ditinggal menatap kepergian Zidan sampai tak terlihat oleh pandangan matanya. Ia juga mengelus dadanya yang berdegup takjub akan ketampanan Zidan.
Zidan berjalan menuju parkiran dan tak sengaja manik matanya menangkap sosok Anan tengan duduk di taman. Baru saja ia akan menghampiri Anan, ia melihat dua orang gadis dan seorang pria mendekati Anan di sana. Ia pun urung ke sana. Ia melanjutkan langkahnya ke parkiran dan masuk ke dalam mobilnya. Dari kejauhan manik matanya menyaksikan Anan dan ketiga orang yang dilihatnya tadi berbincang.
Karena jauh, apalagi berada dalam mobil, Zidan tak dapat mendengar apa yang mereka bicarakan. Namun dari ekspresi wajah yang mereka tunjukkan, Zidan dapat mengetahui bahwa Anan saat ini sedang bingung dan sedih dan ketiga orang lainnya berusaha menenangkan dan menyemangatinya.
Puas menyaksikan mereka, Zidan pun menyalakan mesin mobilnya dan berlalu dari parkiran.
Anan telah meninggalkan mamahnya selama sejam. Ia ingin kembali ke ruangan mamahnya meminta izin pulang ke rumah untuk membawa serta motor maticnya menginap di rumah sakit. Agar mudah baginya untuk kemana-mana, tapi ia urungkan. Ia pun bergegas meninggalkan rumah sakit agar ia bisa secepatnya tiba di rumah dan kembali sesegera mungkin ke rumah sakit.
__ADS_1
Ia berjalan menuju halte yang berada di seberang jalan depan rumah sakit. Saat sedang menunggu bus, tiba-tiba sedan mewah berwarna hitam berhenti tepat di hadapannya. Lalu membunyikan klakson. Anan cuek, ia menoleh ke sembarang arah sambil menata letak kacamata di hidungnya. Ia tak tau kalau yang berada dalam mobil itu adalah Arya, dan bunyi klakson tadi kode untuk dirinya mendekat ke sumber suara, karena kali ini Arya menggunakan mobil yang berbeda.
Arya yang kesal karena tak dipedulikan oleh Anan, akhirnya turun dari mobil lalu menarik lengan Anan, membuka pintu mobil dan menyelinapkan tubuh Anan kemudian menutupnya kembali.
Anan yang telah duduk di dalam mobil masih merasa syok atas kejadian yang dialaminya. Ia mengarahkan pandangannya keluar jendela dan menemukan Arya yang berjalan memutari mobil kemudian membuka pintu sebelahnya dan duduk di belakang kemudi.
"Apa yang bapak lakukan?" pekik Anan
"Diam!" bentak Arya. Arya nenyalakan mesin mobilnya kemudian berlalu dari sana.
Anan hanya terdiam sepanjang jalan. Sesekali ia mencuri pandang ke Arya yang sedang fokus menyetir. Sebenarnya Anan kesal atas perlakuan Arya di halte tadi. Ia ingin meluapkannya, namun ia tidak berani, mengingat perlakuannya yang memukul Arya tadi pagi di kampus.
Anan mencoba mengendalikan dirinya, menetralisir kekesalannya. Ia lalu menghela nafas ringan.
"Huufff". Membuat Arya menoleh sekilas ke arahny.
"Maaf pak. Kita mau kemana?" tanya Anan hati-hati.
Arya hanya diam, seolah tak mendengar apa-apa. Apa jangan-jangan Arya lupa ya, kalau ada orang di dekatnya, entahlah.
"Pak, saya mau pulang," desak Anan.
Bukannya menjawab, Arya malah menaikkan kecepatan mobilnya.
Anan yang tak mendapatkan jawaban dari Arya semakin kesal. Belum lagi, ia takut akan laju mobil yang semakin cepat.
"PAAAKKKK!!! lantang Anan. Membuat Arya menginjak pedal rem secara mendadak. Beruntung, jalan lagi sepi kendaraan sehingga tidak terjadi kecelakaan di sana
"Auuuhh!" ringis Anan sambil menyentuh jidatnya yang terbentur oleh dashboard di depannya.
Anan menoleh, menyerongkan sedikit tubuhnya, masih memegang jidatnya yang sakit. Dan disaat bersamaan, Arya juga menoleh ke arahnya.
"Pak! Bapak ingin kita mati? Kalo bapak ingin mati, mati aja sendiri. Tidak usah ajak saya " tutur Anan kesal. Lalu kembali ke posisi duduknya semula.
Arya menatap lurus ke depan, "Bukankah kamu mau meminta maaf?" tanya Arya dingin.
Anan menoleh sekilas kemudian menunduk.
"Aku menyukaimu, aku mau kamu jadi pacarku" ungkap Arya.
………………………………………………………………………………
__ADS_1
Maaf.. karena kali ini aku tidak pakai judul 🙏. Dan mulai sekarang, aku hanya akan menggunakan Bab diikuti angka episodenya 🤗.
Dukung author dengan vote, like dan komeng ya.. makasih 😘.