
"Sepertinya, aku mencium aroma kelicikan" celetuk Dimas yang melihat ekspresi wajah Arya dan mengerti maksud dari ekspresi itu.
Arya menatap Dimas, "Dan kamu akan menjadi bagian dari kelicikan itu" sergah Arya. Membuat Dimas bingung, apa maksud dari perkataan Arya tadi.
"Kamu kalo mau maksiat tidak usah ajak-ajak aku dong!" tolak Dimas.
"Siapa yang mau maksiat?" protes Arya tidak terima. "Lagian aku cuma mau kamu membantuku memuluskan rencanaku saja. Cukup lalukan sesuai instruksi jika dibutuhkan dan tidak banyak omong" dengan salah satu tangannya dimasukkan ke dalam saku celana dan tangan lainnya masih memegang ponsel.
Arya pun mulai memikirkan cara untuk mencapai tujuannya. Ia tersenyum ringan sambil manggut-manggut. Ia kembali mengetik sesuatu pada ponsel di tangannya, lalu duduk di kursinya.
***
Anan tiba di rumah sakit tempat mamahnya di rawat diantar Zidan.
"Ini kan rumah sakit?" bingung Zidan, untuk apa ke rumah sakit.
"Yang bilang ini mall, siapa?" ledek Anan dengan tersenyum tipis keluar dari mobil dan berjalan meninggalkan Zidan yang kebingungan.
"Iya, maksud aku, untuk apa kita ada di sini?" begitu keluar dari mobil menyusul Anan.
Anan menghentikan langkahnya kemudian berbalik menghadap Zidan yang berada di belakangnya.
"Mamahku dirawat di sini sejak kemarin" ucapnya lalu tersenyum namun hanya sepersekian detik, kemudian membelakangi Zidan dan kembali melanjutkan langkahnya.
Zidan yang ditinggal hanya mematung. Ia melihat banyak kesedihan di mata Anan. Dan anehnya, ia pun bisa merasakan hal itu. Entahlah, sejak bertemu dengan Anan di taman pagi tadi, ia merasakan kejanggalan di hatinya, bukan sebagai pria terhadap wanita, tapi lebih kepada seorang saudara. Ia merasa bahwa ia harus menyayangi, menjaga dan melindungi Anan. Dan sejujurnya Zidan pun tidak mengerti tentang situasinya ini.
Anan masuk ke ruang ICU, dan betapa terkejutnya dia mendapati tempat tidur yang di tempati mamah Yati kosong bahkan telah dirapikan.
Anan mulai panik dan berlari mencari siapapun yang bisa ditanyainya. Saking paniknya, ia hampir saja menabrak suster Mira yang hendak masuk ke ruangan itu. Keduanya tersentak, kaget dengan nafas memburu.
"Maaf kak Mira, saya tidak sengaja. Saya panik" Anan sungguh menyesal, hampir saja mencelakai suster Mira.
"Tidak apa nona, saya juga tidak tau di dalam ada orang" ucapnya dengan tangan kanannya mengusap dadanya pelan.
"Nona pasti mencari pasien Ny. Nurhayati" tebaknya melihat raut kecemasan di wajah Anan. Anan hanya mengangguk mengiyakan tanpa suara.
__ADS_1
"Saat ini pasien sudah dibawa ke ruang perawatan"
"Jadi mamah aku sudah baikan?" antusias Anan.
"Maaf nona, mungkin jawaban saya sedikit mengecewakan. Pasien mengalami gagal ginjal stadium akhir. Jadi, sebelum pasien mendapatkan donor ginjal yang cocok, pasien harus rutin menjalani prosedur dialisis atau cuci darah. Dan tadi baru saja dilakukan untuk yang pertama kalinya" jelas suster Mira berhati-hati.
"Apa separah itu kak?" tanya Anan dengan mata yang sudah berkaca-kaca.
"Nona yang sabar ya, serahkan semuanya pada yang Maha Kuasa" suster Mira mengelus pelan lengan Anan menenangkannya. Kemudian masuk ke ruang ICU meninggalkan Anan di depan pintu.
Anan berjalan gontai menuju ruang perawatan mamahnya. Ia sungguh merasa dunianya seakan runtuh mendengar penjelasan dari suster Mira tentang penyakit mamahnya. Betapa tidak, mamahnya, orang yang melahirkan dan membesarkannya dengan penuh kasih sayang, keluarga satu-satunya milik Anan kini terbaring lemah karena sakit parah.
Zidan yang menyaksikan Anan sejak Anan akan bertabrakan dengan suster Mira, juga merasakan kesedihan yang sama. Ia diam-diam mengikuti langkah Anan.
Dari jarak beberapa meter, ia melihat Anan telah sampai di depan pintu ruang perawatan mamah Anan. Ia juga menyaksikan bagaimana Anan mencoba terlihat tegar sebelum menekan gagang pintu. Mulai dari Anan menghapus air matanya, memperbaiki letak kacamatanya, merapikan helaian rambutnya, tersenyum lalu mendehem kemudian membuka pintu. Sampai akhirnya Anan tak terlihat lagi.
Hatinya benar-benar bagai teriris belati melihat tingkah Anan yang seolah tidak terjadi apa-apa padanya sebelum menemui mamahnya. Dan satu hal yang tertanam dalam hatinya dan entah mengapa, iapun tak tau. Ia berjanji pada dirinya sendiri untuk bisa membuat Anan tersenyum bahagia.
"Assalamualaikum" salam Anan begitu membuka pintu, lalu berjalan ke arah pembaringan mamahnya.
"Waalaikumsalam" mamah Yati menoleh dan menerima kecupan di punggung tangan dan keningnya.
"Alhamdulillah, mamah udah mendingan sayang" jawab mamah Yati tetap memegang jemari Anan.
"Bagaimana kuliahmu hari ini nak?" tanya mamah Yati dengan mengulas senyum di wajahnya.
Anan yang tak pandai berbohong di hadapan mamahnya pun gelagapan, tidak tau harus menjawab apa.
Kening mamah Yati mengernyit, saat mendapati anaknya tak menjawab.
"Apa ada masalah?" tanya mamah Yati lagi, tidak hanya menggenggam jemari Anan, namun juga mengusap rambut Anan lalu menyampirkannya ke belakan telinga.
Anan yang pada dasarnya memang tidak bisa berbohong pun, mulai bercerita. Menceritakan semuanya lalu meminta solusi kepada mamahnya.
"Temui dosenmu itu nak, minta maaflah. Biar bagaimanapun, kamu tetap salah. Apalagi sampai memukulnya seperti itu, pasti membuatnya sangat malu. Ingat, meminta maaf bukan berarti menujukkan betapa rendahnya seseorang, tapi memperlihatkan betapa besar dan luasnya hati orang tersebut" nasihat mamah yang sedari tadi memperlihatkan senyum di sana.
__ADS_1
"Iya mah, Anan akan mencoba menghubungi dosen Anan untuk minta maaf".
Lalu Anan meraih ponselnya di dalam tas, kemudian mengirim pesan chat berisi permintaan maaf ke Arya.
Ting!..
Ponsel Anan bunyi, menandakan ada notif pesan chat masuk. Segera Anan membukanya.
"Minta maaflah yang benar"
Membuat alis Anan hampir bertemu. Anan bingung, apa maksud dari balasan pesan chat Arya kepadanya. Belum selesai Anan berada pada kebingungannya, ia lagi-lagi menerima pesan chat dari Arya.
"Tunggu kita bertemu, aku akan memberitaumu cara meminta maaf yang benar".
Anan semakin mengerutkan alisnya, ia sedikit mendengus kesal atas balasan yang diterimanya. Rasa kesalnya terbaca oleh mamah Yati.
"Apa dosenmu itu menolak permintaan maafmu nak?" mamah mencoba meraih gelas yang berisi air putih karena marasa haus.
"Biar Anan aja mah" meraih gelas yang ada di atas meja nakas di samping mamah Yati.
"Nih" ucap Anan lembut dan membantu mamahnya minum. "Mamah kalo mau apa-apa bilang sama Anan, Anan tidak mau mamah kenapa-napa"
"Mamah tidak sakit parah kok sayang, mamah cuma kecapekan" mamah Yati mencoba menyembunyikan sakitnya.
Anan tersenyum dan mengelus lengan atas mamahnya. "Iya, Anan tau. Untuk itu, mamah harus patuh apa kata dokter dan perawat agar mamah cepat sembuh dan kita bisa segera pulang ke rumah". Anan berpura-pura tidak tau perihal penyakit mamahnya. Ia menyimpan kembali gelas air putih itu ke tempatnya semula.
"Lalu apa kata dosenmu nak?" mamah menatap teduh Anan yang duduk di kursi samping tidurnya.
"Dosen Anan orangnya baik mah. Dia mau memaafkan Anan" tukas Anan yang tidak mau membuat mamahnya cemas.
Anan beranjak dari duduknya, "Apa mamah butuh sesuatu?" tanya Anan dan dibalas gelangan kepala oleh mamahnya. Lalu berjalan menuju kamar mandi.
…………………………………………………………………………………
Aku berharap, ada reader yang baik hati mampir membaca karyaku.
__ADS_1
Semoga para readers sehat selalu, amin.
Terima kasih😘