
Semua pasang mata memandang Septy yang sedang berdiri di dekat pintu.
"Kok bengong aja di situ? Ayo, sini duduk!" Yuli menepuk kursi kosong di sebelahnya.
"Iya, tau nih Septy. Ntar karatan kamu berdiri terus. Tidak capek apa," celetuk Serli lalu memasukkan kue ke dalam mulutnya.
"Mmm... kuenya enak!" serunya.
"Ini beli di mana sih?" tanya Serli yang masih mengunyah kue dalam mulutnya.
"Di kotaknya ada kali nama tokonya," ucap Yuli, menunjuk kotak kemasan kue yang dimakan Serli.
Serli lalu membaca tulisan yang ada pada kotak kemasan kue tersebut.
"Toko kue Ananda." Serli membaca dengan pelan
"Ini kan toko kue yang lagi hits itu. Mama dan tanteku sering pesan kue-kue dari sana. Apa lagi kalo pas ada acara arisan keluarga, heehhh.. nih kue wajib ada," celetuk Serli mengenang seraya tertawa kecil.
"Iya, dan toko kue itu tokonya Anan!" seru Yuli menimpali Serli.
Serli yang hendak memasukkan potongan kue ke dalam mulutnya, terhenti.
"Serius? Jadi selama ini aku sebenarnya sudah suka sama Anan lewat kue buatan tokonya?!Cuma aku tidak sadar. Huffhh... Maaf ya Nan, maafin semua salahku," lirih Serli menyesal.
"Tapi, sumpahhh! Kue-keu tokomu enak banget Nan. Benar deh!"
"Hedeehhh...!" Yuli memutar bola matanya, heran dengan tingkah sahabatnya yang satu itu.
"Baru juga dia melankolis, sekarang udah ceriwis, benar-benar! Ternyata Rara punya teman nih! Somplak, iya... Centil, iya... aku yakin, gesreknya juga pasti sama." Anan membatin sambil memperhatikan Serli yang kembali mengunyah dan bercerita, serta sesekali tertawa kecil.
Sementara Septy berjalan menghampiri Rasmi di tempat tidurnya. Anan pun beralih melirik Septy.
"Maaf, baru sempat menjenguk Rasmi." Septy tersenyum ke Rasmi dan mamahnya.
"Tidak apa-apa." Ranti pun tersenyum kepada Septy.
"Oiya, ini ada sedikit buah. Maaf, aku tidak tau buah kesukaan Rasmi." Septy menyodorkan kantong plastik berisi bermacam buah di dalamnya ke Ranti.
"Sebenarnya tidak usah repot-repot, kamu datang menjenguk Rasmi saja, kami sudah senang," ucap Ranti.
"Tidak apa tante. Aku ikhlas kok."
__ADS_1
"Ya udah, terima kasih ya." Ranti menerima buah pemberian Septy, lalu memasukkannya ke dalam kulkas.
Septy lalu menanyakan keadaan Rasmi. Setelah itu, ia ikut bergabung duduk di samping Yuli. Mereka berbincang banyak hal, mulai dari make up sampai urusan cowok. Anan yang tidak terlalu tahu dengan topik yang dibahas, hanya menjadi pendengar setia walau sesekali menyahuti pertanyaan yang dilontarkan oleh ketiganya.
Lama mereka berbincang-bincang, sampai akhirnya ... .
"Bisa kita bicara berdua?" minta Septy ke Anan.
Anan mengangguk mengiyakan permintaan Septy.
"Kita ke taman rumah sakit ini aja," ajak Septy.
Belum sempat Anan dan Septy berdiri dari duduknya, Yuli dan Serli pamit lebih dahulu ke Ranti.
"Ya udah beib, kalo kamu mau ngomong sama Anan, ngomong aja. Kami duluan. Yuk Ser!" Yuli dan Serli melenggang pergi dari sana.
Anan dan Septy pun pamit undur diri ke Ranti dan Rasmi.
Dan di sinilah Anan dan Septy berada. Di sebuah taman yang penuh dengan rumput hijau yang tertata rapi. Berbagai macam bunga juga tumbuh subur di sana. Bukan hanya itu, di setiap sudut taman, terdapat beberapa pohon palem dan pohon mangga yang menambah keasrian taman itu. Jadi wajar saja jika banyak orang yang berkunjung ke taman itu, termasuk pasien yang dirawat di rumah sakit tersebut.
"Nan, aku secara pribadi meminta maaf atas kesalahanku selama ini. Aku tau kesalahanku fatal. Tapi kamu mau kan maafin aku?" Septy memulai obrolannya dengan Anan.
Anan menatap Septy dan tersenyum. "Aku hanya manusia biasa, juga tak luput dari salah. Jika seseorang tulus meminta maaf, maka sudah kewajiban kita memaafkannya. Allah saja maha pemaaf, apa lagi kita yang hanya manusia biasa." Anan menghela nafas.
Septy menatap Anan lekat. Ada perasaan tidak tega di hati Septy. Entah apa yang akan direncanakan Lexa, Septy pun tak tahu. Namun Septy terlanjur sudah berjanji untuk membantu Lexa.
"Nan, sebentar lagi akan diadakan perayaan ulang tahun salah satu perusahaan besar di kota ini. Wima Group, kamu pernah dengar tidak?"
"Oo..." Anan hanya membulatkan mulutnya tanpa semangat.
Septy mengkerutkan keningnya. "Kamu sudah tau?"
"Iya. Itu perusahaan milik orangtua pak Arya." Anan memandang lurus ke depan.
"Pak Arya, dosen kita itu?" tanya Septy.
Anan menoleh ke arah Septy. "Iya. Kamu tidak tau?"
Septy menggeleng pelan.
"Aku kenal dengan tuan Wijaya dan istrinya, tapi aku tidak tau kalo pak Arya adalah putra mereka," ungkap Septy.
__ADS_1
"Lalu, untuk apa kita membahas ini?" tanya Anan.
"Aku bermaksud mengajakmu ke acara itu." Septy mengalihkan pandangannya ke arah orang-orang yang ada di sekitar mereka. Kemudian kembali menatap Anan.
"Tapi kalo kamu tidak bersedia, aku tidak memaksa," tutur Septy seraya tersenyum.
Awalnya, Septy berencana memaksa Anan agar mau menghadiri acara yang dimaksud. Dengan cara merayu atau menghasut, apa pun itu. Namun, mengenal Anan lebih dalam, membuatnya khawatir dengan apa yang direncanakan Lexa terhadap Anan. Hal ini menimbulkan dilema baginya. Dan jujur saja, Septy mulai menyukai pertemanannya dengan Anan.
"Aku akan menghubungimu. Semoga aja aku bisa hadir," ucap Anan.
"Ya udah, kalo gitu aku pulang dulu." Septy bangkit dari duduknya, kemudian melangkah meninggalkan Anan sendiri di bangku taman itu.
Entah mengapa, Septy merasa dirasuki rasa takut dan cemas.
"Semoga aja Anan tidak bisa menghadiri acara itu," gumam Septy membatin di sepanjang jalan menuju parkiran.
Anan terus memperhatikan langkah Septy hingga tenggelam di keramaian orang yang berlalu lalang.
"Woii!!!" Rara yang berteriak dan memukul pundak Anan membuat Anan terkaget dan mengusap dadanya.
Anan menoleh. "Raraaa!" pekik Anan kesal.
"Lagian, kamu bengong sih. Mikirin apa?" tanya Salma.
"Tidak ada," sahut Anan, menggeleng.
Rara dan Salma duduk di sebalah kiri dan kanan Anan. Mereka bernostalgia mengenang masa-masa kuliah mereka.
Di pelataran rumah sakit yang tak jauh dari taman. Seorang pria paruh baya memperhatikan Anan. Ia baru saja mengantar sang istri yang bekerja di sana.
"Sebenarnya, siapa gadis itu? Mengapa aku merasa tidak asing dengannya? Dan, mengapa aku merasakan kerinduan yang besar jika melihatnya?" batinnya.
Raka yang juga berada di tempat yang sama dengan pria paruh baya itu, mengikuti arah pandangnya.
"Ada apa dengan tuan? Apa tuan menyukai gadis itu? Ah, tidak. Itu tidak mungkin. Tuan adalah pria yang setia terhadap nyonya, dan sangat menyayangi keluarganya" gumam Raka membatin.
"Maaf tuan, apa kita bisa berangkat sekarang?" tanya Raka.
"Oh, iya. Kita berangkat sekarang."
Raka melajukan kendaraannya meninggalkan rumah sakit Sandrs Hospital, namun manik tuannya tak henti menatap Anan yang berada di taman itu. Dan hal itu tak lepas dari pantauan Raka.
__ADS_1
"Semoga saja pikiranku salah." Raka kembali membatin.