
Tepat pukul 1, siang itu, Rasmi tersadar dari pingsannya. Ia mengerjapkan kedua matanya, kemudian mengedarkan pandangannya kesetiap sudut ruangan.
"Alhamdulillah ya Allah... Kamu sudah bangun nak." Tante Ranti berdiri dari duduknya, kemudian meraih tombol untuk memanggil perawat.
Dokter Sam masuk bersama dokter Raina yang merupakan dokter spesialis saraf, serta 2 orang perawat.
"Rasmi kenapa tante?" tanya Zidan cemas, begitu tante Ranti keluar dari ruang ICU.
Disaat yang sama, Adji, Rara, dan Salma menghampiri mereka bermaksud untuk pamit.
"Rasmi udah sadar, tapi terlihat bingung. Tante khawatir." Kristal bening mulai mengalir di pipi wanita yang sehari-harinya bekerja sebagai penjahit itu.
"Tante jangan khawatir, itu biasa terjadi pada pasien yang baru saja siuman," ucap Zidan.
Atika yang masih berada di sana, menggandeng tante Ranti dan membawanya duduk di kursi.
"Rasmi sudah siuman Dan?" tanya Adji ke Zidan.
"Sudah, sekarang lagi diperiksa dokter."
Rara dan Salma berjalan mendekati tante Ranti dan duduk di sampingnya.
"Tante sabar ya, kita doakan, semoga Rasmi segera pulih kembali," ucap Salma sambil mengelus pundak tante Ranti.
Tante Ranti mengangguk, dan sesekali menghapus air matanya dengan tisu yang diberikan oleh Rara.
***
Di tempat lain.
Arya dan Dimas baru saja selesai meeting bersama para petinggi perusahaan Wima Group.
Arya berjalan menuju ruangannya bersama dengan Dimas.
"Tadi Anan kecelakaan," ucap Dimas setelah duduk di sofa ruangan itu.
"Apa?" batin Arya, terkejut mendengar Anan kecelakaan.
Arya yang masih berdiri di hadapan Dimas, bingung dengan perasaannya saat ini. Seketika ada rasa khawatir yang menyusup ke dalam hatinya. Namun, buru-buru ia menepis rasa itu.
"Lalu?" tanyanya.
"Bukankah kamu belum meminta maaf padanya? Saat ini ia sedang terbaring di rumah sakit. Kamu bisa datang padanya sekaligus membesuknya, sebagai wujud kepedulianmu," tutur Dimas.
Arya menghela nafas.
"Akan aku coba," sahut Arya dengan nada cuek, Kemudian melangkah menuju kursinya, duduk, lalu membuka laptop yang ada di atas meja kerjanya.
__ADS_1
Sedangkan Dimas, masih setia menatap atasannya itu dengan tatapan tak percaya.
"Kamu ini cowok bukan sih?!" tanyanya dengan maksud tertentu, melupakan sejenak status atasan bawahan diantara mereka.
Sejujurnya, Dimas kecewa dengan sikap Arya yang seperti ini. Ia tidak menyangka akan mendapat tanggapan yang tidak mencerminkan seorang Arya yang selama ini ia kenal.
Arya yang ia kenal mempunyai sifat yang baik, tak mudah menyerah, tidak pendendam, dan bahkan tidak pandai berbohong. Meskipun terkesan cuek, tapi dia sopan dan peduli kepada siapa saja yang terkena musibah.
Tidak seperti ini, yang seolah-olah kehilangan prinsip sebagai seorang laki-laki, yang salah satunya adalah menghormati seorang wanita, bukan mempermainkannya.
"Maksud kamu apa ngomong seperti itu?" tanya Arya mengernyit dan dengan tatapan tajam.
"Aku heran sama kamu. Kemarin-kemarin kamu menanyakan pendapatku mengenai permintaan maafmu ke Anan. Giliran aku memberimu peluang, kamu seolah tak meresponku. Apa aku ini masih sahabat kamu?!"
Lagi-lagi Arya menghela nafas, namun kali ini agak berat.
"Maaf, aku minta maaf. Baiklah, sore ini kita ke sana," ujar Arya, membuat Dimas menampilkan senyumnya, walau hanya sekilas
"Aku harap, ini pertama sekaligus yang terakhir kamu menguji persahabatan kita," tutur Dimas.
Arya memicingkan maniknya mendengar penuturan Dimas. Pria bermata cokelat itu menyadari, ada peringatan yang tersirat dalam setiap kata sahabatnya itu.
***
Saat ini, Septy telah berhasil diamankan oleh pihak berwajib. Ya, meskipun melalui rangkaian drama yang diciptakan oleh Septy yang enggan menyerahkan diri. Mamah dan papah Septy sendiri tidak bisa berbuat apa-apa, sebab semua bukti yang ada, mengarah pada putri kesayangan mereka itu.
Septy hanya menunduk dengan air mata yang menghiasi wajahnya. Hilang sudah wajah angkuh nan centil yang selama ini terpancar dari sana. Sesekali ia mengusap pipi mulusnya yang basah itu dengan tisu.
Berbeda dengan istrinya, pak Bagas hanya berdiri tak bersuara sedikitpun. Ia pun sangat menyayangi putri saru-satunya itu, tapi ia tidak menyangka putri yang dibangga-banggakannya itu menjadi seorang kriminal. Entah apa yang salah dengan didikan yang selama ini ia berikan.
Mamah Santi masih sibuk menenangkan putrinya. Dari arah belakang, Zidan, Adji, Idham Salma, dan Rara berjalan menghampiri mereka.
Begitu Septy berhasil digiring ke kantor polisi, pihak polisi menghubungi Adji, dan memintanya segera ke kantor polisi.
"Bisa nangis juga kamu, ulet keket!" seru Rara yang terbakar emosi, setelah melihat Septy.
"Maaf dek, ini kantor polisi. Harap tidak menimbulkan kericuhan," tegur pak polisi ramah.
"Sabar dong Ra! Kamu mau ikutan dipenjara juga, karena mengganggu ketenangan pak polisi?" ucap Salma sambil menoel pinggang Rara.
"Ihh... amit-amit!" Rara membantin.
"Maaf ya pak, aku emosi tadi," kata Rara yang tersenyum kecut.
"Aku mau dia mendapat ganjaran yang sesuai dengan hukum yang berlaku, tanpa ada pengurangan sedikitpun," tutur Zidan melirik sepintas ke arah Septy.
"Maaf nak. Apa kami bisa bertemu dengan korban?" tanya pak Bagas memohon.
__ADS_1
"Maaf pak, kalo bapak niatnya bertemu untuk melihat keadaan korban, aku mengizinkan. Tapi kalo niat bapak menemui korban meminta agar korban meringankan atau mencabut tuntutan, aku sama sekali tidak mengizinkan," tukas Adji.
Idham yang sejak tadi hanya diam saja pun, kini mulai angkta bicara.
"Begini saja, aku rasa tidak ada salahnya jika keluarga pelaku ingin menemui korban. Kalau pun korban bersedia memaafkan pelaku, kita tetap merujuk pada aturan yang berlaku. Bila hukumannya diringankan, paling tidak, kita telah memberi efek jera bagi pelaku untuk tidak mengulanginya lagi, kepada siapapun juga," papar Idham yang sebenarnya merasa iba melihat keadaan Septy.
"MasyaAllah, mas Idham sungguh bijaksana. Makin kagum aku padamu mas." Salma hanya mampu memuji dalam diam.
Setelah perundingan mereka dirasa cukup, mereka pun beranjak dari sana.
"Mas Idham pulang sama Salma dan Rara ya, aku ikut sama Zidan ke rumah sakit, mobil aku masih di sana soalnya." Adji lalu menyelinapkan tubuhnya ke dalam kendaraan milik Zidan.
Salma dan Rara pun masuk ke dalam mobil Idham. Karena Salma satu kompleks perumahan dengan Idham, jadi Idham terlebih dahulu mengantar Rara ke rumahnya.
"Pingin deh, aku olesi muka si ulet keket dengan masker jengkol," celetuk Rara dalam perjalanan menuju rumahnya.
"Pake acara nangis bawang segala, sok polos!" imbuhnya.
Salma yang duduk di samping Idham yang sedang mengemudi, menoleh ke arah Rara yang duduk di kursi belakang.
"Udah, kamu tidak kasian apa, dia seperti itu? Kita doakan saja, semoga dia segera taubat, menyadari kesalahannya. Bukan malah dicibirin seperti itu," tutur gadis berhijab dan berwajah arab itu.
Beberapa menit kemudian, kendaraan Idham berhenti di depan rumah Rara. Rara pun keluar dari mobil Idham. Lalu Idham melajukan kembali kendaraannya menuju kompleks perumahannya.
Tinggallah kini Salma dan Idham dalam mobil yang sedang melaju itu.
Sesekali Salma melirik Idham yang fokus mengemudi. Entah mengapa, jantungnya berdebar kuat setiap kali melihat wajah tampan itu.
Selama ini, ia memang mengagumi Idham. Mengagumi apapun yang ada pada diri pria bermata sipit dan berkulit putih itu. Apalagi sikap dan sifat yang dimilikinya. Membuat Salma tidak pernah mengalihkan perasaan yang dimilikinya ke pria manapun.
Kini, pria yang dikaguminya selama ini telah kembali setelah menimbah ilmu di negeri orang. Tak dipungkiri, Salma benar-benar bahagia. Sang pujaan hati kini ada di depan mata.
Tak ada seorang pun yang tau tentang perasaan yang dimiliki Salma terhadap Idham. Walaupun demikian, ia tidak memaksakan keadaan, agar Idham harus membalas perasaannya.
"Apa kamu baik-baik saja?" tanya Idham membuyarkan lamunan Salma.
"Eh, iya mas?"
"Mas nanya, apa kamu baik-baik saja? Mas perhatikan muka kamu pucat."
"Apa katanya? Perhatikan? Jadi, sejak tadi mas Idham liatin aku?"
"Hey! Apa kamu sakit?" tanya Idham, lagi-lagi meleburkan pikirannya.
"Tidak mas, aku baik-baik saja," jawab Salma gugup, kemudian memainkan ponselnya.
Bersamaan dengan itu, ponsel milik Idham yang tergeletak dekat personelin, menyala karena menerima notifikasi.
__ADS_1
Salma yang menunduk sambil memainkan ponselnya, tidak sengaja melihat gambar tampilan pada layar tersebut.
Dahinya mengkerut, pupilnya melebar, dan mulutnya sedikit membuka, tatkala ia mengetahui foto yang merupakan wallpaper android milik Idham itu.