Benar Kata Mamah

Benar Kata Mamah
Bab 88


__ADS_3

Zidan berjalan menuju sofa. Sambil berjalan, ia tak henti meraba dan memeriksa kantong celananya.


"Kamu lagi nyari apa?" tanya tuan Kemal yang bingung dengan tingkah putranya.


"Zidan lagi nyari ponsel Zidan, Pah," sahut Zidan, lalu duduk di sofa.


"Mungkin saja tertinggal di suatu tempat. Kamu datang tadi juga tidak membawa apa-apa, Papah lihat."


"Iya, Pah, mungkin saja. Kalau begitu, Zidan coba cari di mobil dulu."


Zidan pun keluar dari ruang kerja tuan Kemal menuju parkiran. Begitu membuka pintu mobil, tampaklah ponsel miliknya tergeletak di atas jok kemudi.


"Rupanya mamah habis nelpon, kenapa, ya?" gumamnya, lalu mencoba menghubungi kembali nomor dokter Sandra. Namun, kini giliran ponsel dokter Sandra yang tidak dapat dihubungi.


"Mungkin mamah lagi sibuk. Biar nanti saja aku tanyakan," ucap Zidan, lalu kembali ke ruangan papahnya.


Di villa tuan Kendra.


Raka yang diberi tugas menjaga dan melaporkan keadaan tuan Kendra oleh tuan Kemal, kini sedang berdiri di hadapan tuan Kendra di dalam sebuah kamar.


Seusai insiden penculikan Anan, tuan Kemal memerintahkannya untuk kembali, namun dengan tugas yang berbeda.


Tuan Kendra pun tidak lagi membenci Raka. Malah, tuan Kendra terlihat akrab. Terbukti, untuk urusan makan pun, tuan Kendra lebih menyukai makanan yang diolah dan dimasak oleh Raka.


Dan untuk Jojon yang merupakan tangan kanan tuan Kendra pun, sangat bersyukur dengan kehadiran Raka di tengah-tengah mereka. Apalagi, dengan kedatangan Raka, ia lebih leluasa menjalankan pekerjaannya yang lain.


Sebelum kehadiran Raka, tuan Kendra tidak mau makan dan terus mengurung diri. Hingga membuatnya tumbang dan harus di infus. Hal ini membuat Jojon sangat khawatir dengan kesehatan tuannya, dan mengadukannya ke tuan Kemal.


Mengingat, dulu Raka pernah dekat dengan tuan Kendra, maka diutuslah Raka untuk membantu merawat tuan Kendra. Alhasil, kesehatan tuan Kendra pun berangsur pulih.


"Apa tuan masih mau nambah?" tanya Raka yang melihat piring tuan Kendra telah kosong.


"Tidak, Raka. Saya sudah kenyang," jawab tuan Kendra, menyerahkan piring makannya ke Raka.


"Kalau begitu, saya permisi dulu, Tuan."


Ketika Raka hendak berbalik, tuan Kendra menghentikannya.


"Tunggu, Raka!"


"Iya, Tuan?"


"Duduklah!"


Raka menyimpan piring yang dipegangnya di atas meja, lalu mengambil kursi dan meletakkannya di samping tempat tidur tuan Kendra.


"Terima kasih, Raka. Mungkin ucapan terima kasihku ini aneh menurutmu. Tapi, saya bersungguh-sungguh mengatakannya."


Tampak Raka bingung sendiri dengan perkataan pria tua di hadapannya itu.


"Siapa yang menyangka, keputusanmu berdiri di belakang Kemal adalah benar. Egoku telah memisahkan saya dengan putra kandungku sendiri bertahun-tahun. Rupanya, saya sendirilah yang membangun tembok pemisah di antara kami. Saya pikir, apa yang saya lakukan adalah sesuatu yang ku mau. Akan tetapi, saya salah, karena pada akhirnya saya jugalah yang menyesal."

__ADS_1


Raka hanya mendengarkan dengan khidmat.


"Kau tahu, Raka? Ternyata saya mempunyai cucu perempuan. Sejak bertemu, saya sudah sangat menyayanginya. Tapi, saya terlalu bodoh ingin mencelakainya."


Manik tuan Kendra mulai berkaca-kaca.


"Saya ini seseorang yang kejam, Raka. Saya tidak pantas dipanggil 'opah' olehnya. Dia layak membenci saya. Saya tidak harus mendapatkan maaf darinya."


Cairan bening telah mengalir membasahi wajah tuan Kendra.


"Tidak, Tuan. Itu tidak benar. Dari yang saya tahu, nona Anan adalah gadis yang baik dan pemaaf. Jadi, dia pasti akan memaafkan Tuan," sanggah Raka, menenangkan tuan Kendra.


Raka sendiri sangat kasihan melihat tuan Kendra. Ia pun berusaha menghibur dan menenangkannya.


"Apa Tuan tahu? Selain cerdas, nona Anan pun dikenal sebagai seorang yang pemaaf. Bahkan dengan orang yang memusuhinya sekalipun. Dulu, ada beberapa orang teman kampusnya yang sering menjahili sampai membuat nona Anan celaka. Namun, nona Anan tetap memaafkan mereka dan menjadikan seolah tidak terjadi apa-apa."


Mendengar kisah Anan, air mata tuan Kendra semakin bercucuran.


"Ternyata, cucuku tidak hidup bahagia," lirihnya.


"Tidak, Tuan. Meskipun hidup sederhana, tetapi nona Anan dikelilingi oleh orang-orang yang sayang dan peduli padanya. Maksud saya membahas peristiwa tadi, orang yang bukan siapa-siapa bagi nona Anan saja dia maafkan, apalagi Tuan yang merupakan kakek kandungnya," terang Raka.


Sedikit demi sedikit perasaan tuan Kendra mulai tenang. Sesekali ia menghela nafas panjang.


"Apa kau yakin cucuku pasti memaafkanku?" tanya tuan Kendra.


"Saya yakin, Tuan," sahut Raka.


Sore hari.


Zidan dan tuan Kemal telah sampai di depan rumah Anan. Karena mobil tuan Kemal sedang diservis, maka mereka menggunakan kendaraan milik Zidan.


"Papah baik-baik saja?" tanya Zidan yang melihat reaksi papahnya setelah tiba di tempat tujuan.


"Jujur, Papah grogi dan pastinya ada rasa takut," sahut tuan Kemal, pelan.


"Tidak kusangka, orang nomor satu perusahaan ternama dan disegani banyak orang, ternyata takut menemui istri pertamanya," celetuk Zidan, terkekeh. Ia bermaksud mengurangi ketakutan yang dirasakan oleh papahnya.


"Hustt! Kamu ini! Papah juga manusia biasa." Tuan Kemal merapikan dasi dan jas yang dikenakannya.


"Santai sedikit, Pah. Tenang, ada Zidan yang selalu mendukung Papah." Zidan tersenyum menyaksikan tingkah papahnya.


"Semoga semuanya lancar, Pah," batin Zidan, berharap.


Tentunya, Zidan berharap tidak ada kendala dalam pertemuan ini. Sehingga rencana berikutnya dapat terlaksana. Dan semuanya menerima dengan ikhlas serta lapang dada.


"Ya sudah, kita turun!" ajak tuan Kemal, lalu membuka pintu mobil.


Di setiap langkah kaki tuan Kemal, senantiasa teriring untaian doa kepada sang pencipta di hatinya. Baginya, ini sungguh ujian terberat dalam hidupnya.


Derap langkah kakinya pun seiring dengan degupan jantungnya yang kian menggebu, tatkala ia telah melewati pintu pagar yang dibuka oleh Zidan.

__ADS_1


Setelah menaiki anak tangga teras rumah tersebut, kini tuan Kemal telah berdiri tepat di depan pintu rumah wanita yang pernah mengisi hari-harinya dulu.


Dengan perasaan campur aduk, tuan Kemal memberanikan diri mengetuk daun pintu berwarna cokelat itu.


Tok!


Tok!


Tok!


Di dalam rumah, mamah Yati sedang khusyuk memandangi foto-foto Anan dari masa ke masa.


Ketika hendak meletakkan pakaian Anan ke dalam lemari, tak sengaja maniknya menangkap kotak yang berisikan barang-barang pribadi Anan, termasuk album foto itu.


Disaat ia mendengar suara pintu diketuk,


mamah Yati pun menyimpan kembali album foto tersebut di tempatnya.


Karena jarak tante Yani lebih dekat dengan pintu utama, maka ia pun segera membuka pintu.


Setelah pintu terbuka, tante Yani terdiam sembari mengingat-ingat pria yang tengah berdiri di hadapannya saat ini.


"Siapa, Yan?" tanya mamah Yati yang belum sempat melihat tamu yang berkunjung ke rumahnya itu.


Dan alangkah terkejutnya ia, manakala ia melihat tamunya sore itu, dan mengenali sosoknya.


Matanya berembun; perasaannya tak karuan. Ingatannya seakan mengajaknya kembali ke masa silam. Di mana ia memulai hidup baru bersama dengan seseorang yang dicintainya dalam ikatan suci pernikahan yang membuatnya bahagia waktu itu. Sampai ke saat di mana ia harus menelan pil pahit ditinggal oleh suami terkasih tanpa kabar sedikit pun, dalam keadaan hamil muda.


Benci? Pasti.


Marah? Tentu.


Hatinya meronta ingin mengamuk saat ini juga. Perempuan mana yang rela ditinggal dalam keadaan hamil. Perempuan mana yang tidak mengkhawatirkan suaminya pergi dan tak kunjung kembali.


Tak mudah bagi mamah Yati menjalani hidup sebagai ibu sekaligus ayah untuk Anan. Belum lagi kata-kata menyakitkan dari orang sekitar, yang tidak pantas diperdengarkan ke anak seusia Anan kala itu.


Namun, ia juga merasa lega. Sebab pria yang pernah dikhawatirkan keberadaannya itu ternyata baik-baik saja. Dan sekarang tengah berdiri tepat di depan matanya.


Sangking larutnya mamah Yati dalam pikirannya, tiba-tiba saja ia tak kuasa menahan bobot tubuhnya.


"M-Mas, Mas Kemal!" serunya, lemah.


Beruntung, Zidan bergegas maju dan menopang tubuh mamah Yati.


🍁🍁🍁🍁🍁


Selalu dinantikan Vote dan Like nya, oke!


Terima kasih atas dukungan dari kakak-kakak yang telah bersedia membaca kisah Anan.


Semoga kakak-kakak sehat dan bahagia selalu, amin.

__ADS_1


__ADS_2