
PLAKKK!!!
Satu tamparan dari tangan kanan Anan mendarat cantik di pipi kiri Adji.
Rara dan Zidan terperangah menyaksikan aksi Anan menampar Adji. Begitu pun dengan mereka yang berada di lokasi yang sama.
Sedangkan yang menerima tamparan, meringis sambil mengelus bekas tangan Anan di pipinya.
"Apa-apa sih Nan?!" Rara menoleh ke Anan, tidak terima atas tindakan yang dilakukan Anan terhadap Adji.
Sebagian orang di sekeliling mereka, berbisik-bisik tentang mereka bertiga.
"Wah, jangan-jangan si cowok itu pacarnya cewek yang nampar tadi dan ketahuan selingkuh dengan cewek yang itu." Salah seorang pengunjung bandara itu berkata kepada temannya seraya menunjuk ke arah Rara.
"Kamu tanyakan saja padanya." Tanpa menjawab Rara, Anan malah menunjuk Adji kemudian berlalu meninggalkan Rara dan Adji.
"Kamu tunggu aku di parkiran saja, aku ke toilet dulu," ucap Anan setelah berada di hadapan Zidan.
Begitu Anan berlalu, Zidan menghampiri Adji dan Rara.
"Apa kamu membenci tindakan Anan, tadi?" tanya Zidan ke Adji.
"Tidak. Justru sebaliknya. Hari ini, aku seperti kembali melihat Anan waktu pertama kali bertemu, dimana persahabatan kami dimulai beberapa tahun lalu.
"Baguslah kalo gitu. Habis ini, kalian mau kemana?" tanya Zidan lagi.
"Kami mau langsung pulang saja. Soalnya capek, dari tadi lari-larian terus." Kali ini Rara yang menjawab.
"Ya udah, aku juga mau pulang. Aku disuruh Anan nunggu di parkiran." Mereka bertiga pun beranjak dari sana.
Anan telah menyelesaikan urusannya di toilet. Anan pun bergegas menuju parkiran. Karena kurang memperhatikan jalan, tanpa sengaja ia menabrak seseorang yang juga berjalan namun dari arah berlawanan.
"Maaf, maaf," ucap Anan dengan tersenyum kecut ke arah orang yang ditabraknya.
Tanpa menyahut, orang itu melangkah dan memungut ponselnya dan juga ponsel Anan. Rupanya kejadian ini dipicu karena keduanya berjalan sambil memainkan ponsel masing-masing. Mereka tidak menyadari bahaya yang akan terjadi akibat dari keteledoran mereka ini. Alhasil, tabrakan pun tak terelakkan.
Orang itu pun menyerahkan ponsel milik Anan kepada pemiliknya.
"Sekali lagi, maaf." Anan meraih ponselnya dan hendak melenggang pergi.
"Tunggu!" cegat orang itu.
Anan menatap orang itu heran.
"Apa kata maaf tidak cukup untuk menyelesaikan hal tadi?"
Orang itu mngerutkan keningnya.
"Aku Abizhar, panggil saja Abi," katanya, mengulurkan tangan.
Anan terdiam sejenak seraya menatap uluran tangan Abi.
"Apa setiap orang yang bertemu dengan Anda tanpa sengaja, harus mengenal Anda?" tanya Anan dengan penekanan.
"Maaf, aku ada urusan." Anan pun berlalu meninggalkan Abi yang menatapnya kagum.
"Menarik! Baru kali ini aku ditolak mentah-mentah oleh seorang gadis." Abi beralih menatap tangan kanannya yang terulur di udara.
__ADS_1
"Kita pasti bertemu lagi!" teriakan Abi membuat Anan memutar bola matanya walau tetap dengan langkahnya.
"Aku suka padamu, girl." Abi bergumam, sesaat kemudian ia menelpon seseorang yang sejak tadi ingin dihubunginya.
Setiba Anan di parkiran, ia kebingungan mencari letak mobil Zidan terparkir. Ia pun merogoh ponselnya hendak menghubungi Zidan.
Dan betapa kagetnya Anan ketika melihat layar ponselnya yang retak dan mati akibat terjatuh tadi. Ia pun mencoba untuk mengaktifkannya kembali. Namun sayang, android milik Anan tidak bisa menyala sama sekali.
"Kok mati sih," keluh Anan menatap ponselnya.
"Semoga saja masih bisa diperbaiki," harap Anan kemudian lanjut mencari mobil Zidan.
Berselang beberapa menit berjalan, mencari keberadaan mobil Zidan, akhirnya kendaraan roda empat milik Zidan pun nampak oleh Anan.
Ia pun bergegas menghampiri, disaat bersamaan, Zidan juga mengakhiri panggilan pada ponselnya.
"Kenapa lama?" tanya Zidan, setelah Anan duduk di sampingnya.
"Ada kecelakaan kecil." Anan meraih tasnya kemudian manaruh ponsel miliknya ke dalamnya.
Zidan mengernyit mendengar jawaban Anan.
"Itu handphone kamu, kanapa?" Zidan sempat melihat ponsel Anan ketika hendak dimasukkan ke dalam tas tadi.
"Inilah hasil accident tadi." Anan menjawab sekenanya.
Sejenak, Zidan mengingat kembali apa yang dikatakan Abi sewaktu menelponnya tadi.
"Apa mungkin gadis yang dimaksud Abi adalah Anan?" gumamnya membatin.
Zidan masih memperhatikan Anan seraya bergumam.
"Semua ciri-ciri yang disebutkan Abi tadi, sama persis dengan yang ada pada diri Anan. Tapi... masak iya, Anan berlaku seperti itu? Hmm... tapi, kalo dipikir-pikir bisa jadi sih. Anan kan lagi kesal sama Adji. Kalo emang benar, kasian juga Abi, kena imbas."
"Zidan!" pekik Anan. Dan ini adalah panggilan ketiga.
"Ada apa sih, teriak-teriak?"
"Ada apa, ada apa. Ini kita jadi pulang, tidak."
"Hehehehehe..." Zidan cengengesan.
"Hehehehehe..." Anan menirukan dengan nada kesal.
"Iya-iya, sorry. Aku cuma lamunin cewek yang nolak diajak kenalan." Zidan pun melajukan kendaraannya membelah jalanan menuju rumah sakit. Anan memicingkan maniknya mendengar kalimat terakhir Zidan.
Di tempat terpisah.
"Kenapa kamu tidak ngomong, kalo kamu mau ke Amerika?" tanya Rara sedikit kesal.
"Kalo aku ngomong, apa mungkin kamu melarang aku pergi?" Adji balik bertanya.
"Pastilah," sahut Rara antusias.
"Kenapa?" Adji melirik Rara sekilas.
"Ya karena aku tidak mau kamu pergi."
__ADS_1
"Kenapa?"Adji mengangkat kedua sudut bibirnya.
"Apa masih perlu aku jawab?" Rara menatap Adji.
Merasa ditatap oleh sang pujaan hati, Adji seketika menghentikan laju kendaraannya.
Adji menoleh dan menggenggam tangan Rara.
"Sudah lama aku memendam perasaan ini. Apa kamu tau? Mungkin akulah pria terbahagia di dunia ini saat ini. Kenapa? ... ."
Adji meletakkan tangan Rara di dadanya.
"Karena cinta yang bersarang di sini tersambut oleh pemiliknya."
"Dji ... ."
"Ya," sahut Adji lembut.
"Boleh aku tanya sesuatu?" Kedua manik mereka mengunci satu sama lain.
"Hmm," sahut Adji lagi seraya mengangguk.
Hening...
"Kenapa kamu tidak jadi berangkat?"
"Nih cewek, benar-benar dah. Kirain mau nanya apa, eh... malah nanya hal ini. Timing nya kurang Pas. Orang sedang berusaha romantis, malah ambyar. Tapi, sudahlah, daripada anak gadis orang jadi ngambek, mending aku jawab aja. Hitung-hitung buat dia senang."
"Dji, kok tidak dijawab?"
"Baiklah, aku jawab." Adji menghela nafas.
"Jadi, waktu nunggu pemberangkatanku, aku mencoba mengaktifkan ponselku. Ternyata ada banyak sekali notif yang masuk. Aku pun membuka satu per satu notif yang masuk itu. Salah satunya ada beberapa panggilan dari kamu. Tapi aku abaikan." Adji beralih menatap ke jalan di hadapannya.
"Kenapa kamu abaikan?" tanya Rara, protes.
"Karena aku tidak mau mengganggu calon istri orang." Kening Adji mengerut lalu beralih menatap Rara. Anggapan inilah yang ada di benak Adji sebelum mendengar langsung semua ungkapan hati Rara di bandara tadi.
Rara yang mendengar ucapan Adji, membelalakkan mata, tak percaya dengan apa yang didengarnya.
Rara ingin menyanggah, namun suara Adji terdengar kembali memecah keheningan.
"Apa benar kamu sudah bertunangan dengan orang lain?" tanya Adji, berharap apa yang didengarnya semalam tidak benar.
Kira-kira apa yang akan menjafi jawaban Rara?
Ikuti terus ceritanya ya readers ku yang baik hati dan tidak sombong.
Love u😘😘😘
__ADS_1