
Di villa tuan Kendra.
"Bi, Bibi!"
Dokter Sandra memanggil salah satu art yang ada di villa itu.
"Iya, Nyonya."
"Apa Bibi tahu papih pergi ke mana?" tanya dokter Sandra.
"Maaf, Nyonya. Bibi tidak tahu," jawab bibi.
"Ya sudah. Terima kasih."
"Iya, sama-sama, Nyonya."
Art itu pun undur diri ke dapur.
Dari arah lain, tuan Kemal datang menghampiri istrinya.
"Kita berangkat sekarang ya, Mah! Papah ada rapat siang ini," ajak tuan Kemal.
"Tapi, kita harus pamit ke papih dulu," ujar dokter Sandra.
"Biar nanti Papah yang telpon papih," ucap tuan Kemal, lalu menggandeng tangan dokter Sandra.
🍒🍒🍒
"Mamah sudah tidak marah lagi, 'kan?" tanya tuan Kemal dalam perjalanan pulang munuju kediamannya.
Dokter Sandra menoleh.
"Papah ini ngomong apa, sih? Menurut Papah, apa Mamah mau bertemu Papah kalau Mamah masih marah?" tanyanya, balik.
"Yang dikatakan papih memang benar. Masalah harus dihadapi bukan dihindari. Lagi pula, Mamah kasihan sama anak-anak."
"Kasihan gimana maksudnya, Mah?"
"Setiap hari Zidan datang ingin menemui Mamah, tapi Mamah selalu menolak. Sebenarnya, Mamah tidak mau melakukannya."
Dokter Sandra menghela nafas.
"Mamah menyesal sudah membiarkan Zidan pergi begitu saja. Ditambah lagi dengan kedatangan Anan hari ini. Mamah tak kuasa menahan tangis mendengar ceritanya. Jujur saja, Mamah merasa bersalah."
Bulir bening telah menyapu pipi halus dokter Sandra.
Hiks
Seketika tuan Kemal menoleh mendengar suara segukan istrinya. Ia pun meraih dan menggenggam tangan dokter Sandra mencoba menenangkan dan menguatkan.
"Sudah, Mah. Mamah jangan terlalu menyalahkan diri sendiri. Semua sudah kehendak-Nya," bujuk tuan Kemal sembari tetap fokus menyetir.
"Tapi Mamah benar-benar merasa bersalah Pah, karena telah memisahkan kalian."
"Itu semua sudah berlalu, Mah. Yang perlu kita lakukan sekarang adalah memperbaiki kesalahan kita agar tidak berpengaruh buruk pada masa depan anak-anak kita," tutur tuan Kemal, bijak.
"Mamah bersedia menerima Anan selayaknya putri kandung sendiri, 'kan?" tanya tuan Kemal.
"Papah tidak tahu ya, kalau Mamah lebih dekat ke Anan daripada Papah?" Dokter Sandra balik bertanya seraya menyeka air matanya.
"Syukurlah," ucap tuan Kemal, kemudian menghela nafas berat.
"Ada apa, Pah?"
"Entahlah, Mah. Tapi... sepertinya Papah akan sulit mendapatkan pengakuan dari Anan."
__ADS_1
"Papah jangan berkecil hati begitu. Mamah yakin Anan pasti mau memaafkan dan menerima Papah. Karena Anan gadis yang pemaaf dan tidak pendendam. Percayalah, Anan pasti mau membuka hatinya untuk Papah." Giliran dokter Sandra yang menyemangati suaminya.
"Lalu... apakah Mamah ikhlas menerima mamahnya Anan sebagai madu Mamah?" tanya tuan Kemal, hati-hati.
Namun, ternyata tuan Kemal mendapatkan jawaban tak terduga dari istri keduanya itu.
"Mamah harus ikhlas. Andai waktu bisa Mamah putar kembali, tidak seharusnya Mamah berada di antara Papah dan mamahnya Anan," jawab dokter Sandra, lalu tersenyum.
Tuan Kemal pun membalas senyuman dokter Sandra.
"Terima kasih, Mah."
"Alhamdulillah... terima kasih ya Allah. Semoga hamba bisa berlaku adil kepada istri-istri hamba, aamiin." Tuan Kemal berdoa dalam hati.
🍒🍒🍒
Keesokan harinya.
Kendaraan roda empat Zidan sudah terparkir sempurna di pekarangan rumah. Baru saja ia hendak menekan bel, pintu rumah tiba-tiba terbuka.
"Bukankah mamah kamu sudah kembali?" tanya tuan Kendra yang tidak mengira Zidan telah berdiri di depan pintu.
"Aku kemari bukan untuk mencari mamah, tapi mau bertemu Opa," sahut Zidan
"Tunggu, tunggu! Opa mau ke mana, rapi begini?" tanya Zidan, memicingkan matanya, memperhatikan penampilan tuan Kendra dari ujung kepala ke ujung kaki, kemudian kembali lagi ke kepala.
"Opa mau keluar. Ada urusan," jawab tuan Kendra, singkat.
"Tapi Zidan mau ngomong sesuatu sama Opa."
Tuan Kendra lalu melirik jam yang melingkar di tangan kirinya.
"Lima menit."
"Ya ampun, Opa. Sejak kapan percakapan kita ditakar. Biasanya juga sampai Zidan bosan," protes Zidan.
"Baiklah, kita bicara di teras belakang," ajak tuan Kendra, mengalah.
"Bicaralah!" Tuan Kendra memulai percakapan setelah duduk di kursi.
"Ini tentang Anan, Opa," beber Zidan. Membuat tuan Kendra mengerutkan keningnya.
"Mengenai penculikan Anan waktu itu, aku rasa Opa tidak perlu membahasnya lagi. Kepada siapapun, terutama kepada Anan. Aku khawatir hasilnya tidak akan baik. Bisa saja hubungan Opa dengan Anan jadi renggang. Atau kemungkinan terburuknya, Anan jadi benci sama Opa. Opa tentu tidak mau itu terjadi. Jadi saran Zidan, lebih baik Opa tidak mengungkitnya. Tidak semua fakta harus diungkap. Jika kenyataan itu hanya akan membawa keburukan, maka sudah pasti lebih baik disimpan saja. Terkadang fakta hanya bisa jadi kenangan, bukan keterangan."
Tuan Kendra yang tampak serius mendengarkan, mencermati setiap kata demi kata yang diucapkan oleh cucunya itu. Dan semua yang dikatakan oleh Zidan dibenarkannya.
"Baiklah. Opa mengikuti saran kamu. Sebagai gantinya, buat Opa selalu dekat dan menyenangkan Anan."
"Itu mah gampang, Opa."
"Kamu tidak cemburu?" tanya tuan Kendra, meledek.
"Untuk apa juga aku cemburu sama saudara sendiri."
Merasa sudah agak lama, tuan Kendra kembali melirik jamnya.
"Gara-gara ngobrol dengan kamu, waktu Opa jadi terbuang banyak," ujar tuan Kendra, lalu bangkit dari duduknya.
"Tapi 'kan tidak percuma juga, Opa," sanggah Zidan, tidak terima.
"Sudah, Opa berangkat dulu."
Tuan Kendra masuk ke dalam rumah lalu memanggil Jojon, meninggalkan Zidan yang masih duduk di kursinya.
"Opa! Kok Zidan ditinggal? Dasar opa-opa tidak tahu terima kasih," gerutu Zidan.
__ADS_1
🍒🍒🍒
Kini tuan Kendra tengah dalam perjalanan menuju rumah mamah Yati.
"Jon, bagaimana dengan yang saya minta dicek kemarin?" tanya tuan Kendra.
"Sudah, Tuan. Semuanya ada di dalam amplop di samping Tuan."
Tuan Kendra pun meraih amplop tersebut, lalu mengeluarkan isinya.
🍒
🍒
🍒
Pintu rumah mamah Yati terketuk. Dengan berjalan cepat, tante Yani menuju pintu. Setelah pintu terbuka, tante Yani mengamati orang yang berdiri di hadapannya saat ini.
"Yati, ada?" tanya tuan Kendra.
Sedang yang ditanya masih diam termangu tanpa melepaskan tatapannya.
"Saya tanya, apa Nurhayati ada?" Tuan Kendra kembali bertanya.
Seketika tante Yani pun tersadar. Namun belum sempat ia menjawab, mamah Yati muncul dari belakang.
"Loh, Papih!" serunya.
"Papih?" lirih tante Yani.
"Mari, silakan masuk, Pih!" ajak mamah Yati.
"Perkenalkan, Pih, ini adik kandung saya, namanya Yani.
Tuan Kendra lalu mengulurkan tangannya.
"Saya Kendra. Saya ayah mertua dari kakak kamu," sebutnya.
Tante Yani tak sanggup berkata apapun. Lidahnya terasa kelu. Dalam hati, tante Yani mengucap syukur. Akhirnya, penantian kakaknya usai juga.
Seperti yang diceritakan mamah Yati kepadanya kemarin sore, tuan Kendra memang sosok yang baik.
Mamah Yati tidak menceritakan seluruhnya. Ia hanya memberitahukan yang baik-baik saja tentang mertuanya itu. Alasannya sederhana, ia tak mau adik kandungnya itu membenci mertuanya.
"Yani?!"
Mamah Yati membuyarkan pikiran tante Yani. Sangking tenggelamnya, sampai-sampai tante Yani tidak membalas uluran tangan tuan Kendra.
"Eh, maaf, Tuan."
"Panggil 'papih' saja. Sama seperti Yati memanggilku." Tangan tuan Kendra tidak lagi mengambang di udara.
"Tidak, Tuan. Bagaimana kalau saya panggil 'bapak' saja," tolak tante Yani, sopan.
"Senyaman kamu saja." Tuan Kendra tidak mempermasalahkan penolakan tante Yani.
"Oh iya, Bapak mau minum apa?" tawar tante Yani.
"Tidak, tidak usah. Saya ke sini mau mengajak Yati jalan-jalan. Kamu tidak sibuk 'kan, Yati?"
"Hari ini saya tidak sibuk, Pih. Memangnya kita mau ke mana?"
"Kamu ikut saja dulu. Nanti juga tahu sendiri."
"Baiklah. Kalau begitu, saya siap-siap dulu."
__ADS_1
🍒🍒🍒
Tbc...