Benar Kata Mamah

Benar Kata Mamah
Bab 97


__ADS_3

"Opa Ken?" tanya mamah Yati, bingung.


"Iya, opa Ken, mertua Mamah."


"Bagaimana kamu bisa mengenal tuan Kendra? Kapan kalian bertemu?" cecar mamah Yati.


Lalu Anan pun mulai mengisahkan kapan dan bagaimana ia bertemu dengan tuan Kendra. Tak lupa, Anan juga membeberkan pertemuannya di villa tuan Kendra saat ingin menemui dokter Sandra.


"Oh iya, opa juga memberi Anan sebuah gelang giok. Tapi Anan tidak tahu ada di mana sekarang," lanjutnya, sedih.


"Jadi gelang giok itu dari tuan Kendra? Kamu jangan sedih. Gelang itu Mamah simpan. Hari itu Zidan yang memberikannya ke Mamah," ungkap mamah.


"Alhamdulillah, syukurlah kalau gelangnya ada sama Mamah." Anan kembali semangat.


"Entah mengapa Anan merasa gelang itu sangat berarti bagi Anan," lirih Anan.


"Mungkin karena yang memberi adalah orang yang berkesan di hati kamu, Nak. Atau mungkin saja, ada kisah penting di balik gelang giok itu."


🍒🍒🍒


Seminggu kemudian.


Sudah tiga hari Anan, mamah Yati, tante Yani, dan Awan, menempati rumah pemberian tuan Kendra. Seperti mamah Yati, Anan pun tidak mengira bahwa ia bertetangga dengan Zidan. Ia sangat senang, karena setiap malam Zidan selalu menyempatkan diri menemani Anan. Entah itu hanya ngobrol ringan, atau pun menemani Anan menonton film kesukaannya.


Di kediaman dokter Sandra.


"Mah, kapan papah pulang?" tanya Zidan disela acara nonton tv di ruang keluarga.


"Mamah juga kurang tahu. Waktu Mamah telepon minggu lalu, katanya minggu depan. Seharusnya kan hari ini? Tapi belum ada kabar juga kalau papah akan tiba hari ini," sahut dokter Sandra panjang lebar.


Dokter Sandra mengernyit menatap putranya.


"Kamu kenapa khawatir begitu?" tanyanya.


"Ya, bagaimana Zidan tidak khawatir, Mah. Lusa kan acara ulang tahunnya Anan!"


"Astagfirullah... iya ya. Mamah lupa. Ini gara-gara papah yang perginya kelamaan."


Di belahan bumi lain.


Tuan Kemal mengalami bersin-bersin sejak tadi. Ia jadi bingung sendiri. Pasalnya, ia merasa baik-baik saja, tapi seolah kena flu.


"Apa Tuan tidak enak badan?" tanya Raka, risau.


"Entahlah, Raka. Saya merasa sehat, tapi bersin-bersin."


"Apa Tuan butuh obat?" tanya Raka, lagi.


"Tidak perlu. Mungkin saya hanya butuh istirahat. Bagaimana laporannya, apa sudah rampung?"


"Sebentar lagi rampung, Tuan. Saya juga sudah menghubungi pihak terkait dan pihak kepolisian setempat," sahut Raka.


"Bagus! Semoga semuanya berjalan lancar. Saya tidak mau ketinggalan ulang tahun putri saya." Tuan Kemal membayangkan raut wajah Anan yang ceria.


"Syukurlah, tuan. Tuan telah dipersatukan kembali dengan nyonya Yati dan putri tuan. Saya turut senang menjadi saksi kebahagiaan tuan." Raka membatin.


"Ada apa?" tanya tuan Kemal yang melihat perubahan air muka Raka.


"Eh, tidak, Tuan. Tidak ada apa-apa. Saya hanya turut gembira karena Tuan telah bertemu dengan nyonya Yati dan putri Tuan."


"Iya, Raka. Saya sungguh bahagia akan hal itu. Hanya saja... ." Tersirat kekhawatiran yang mendalam dari wajah tuan Kemal.


"Hanya saja apa, Tuan?" Raka pun ikut cemas.

__ADS_1


"Saya takut putriku akan selamanya tidak dapat melihat, Raka. Mamahnya Zidan sudah mengupayakan agar bisa mendapatkan donor mata yang cocok, namun masih nihil. Saya juga sudah menghubungi dokter Arnold di Jerman, tapi belum ada kabar." Tuan Kemal menghela nafas berat.


"Maaf, Tuan. Bukan maksud saya menggurui Tuan. Tapi, bukankah tuan dan nyonya Sandra telah mengupayakan yang terbaik untuk nona Anan. Saya yakin Allah pasti akan memberi jalan untuk nona Anan bisa melihat kembali. Yang penting Tuan jangan pernah menyerah dan senantiasa berdoa kepada Allah."


Tuan Kemal tampak mengangguk-anggukkan kepalanya.


"Apalagi, nona Anan adalah gadis yang baik dan penyabar. Semoga dengan kebaikan dan kesabarannya, Allah segera menyembuhkan nona Anan," tambah Raka.


"Kamu benar, Raka. Terima kasih. Perkataanmu membuatku jauh lebih tenang sekarang."


🍒🍒🍒


"Kamu mau kemana?" tanya dokter Sandra, melihat Zidan bangkit dari duduknya.


"Biasa, ke rumah mamah Yati. Zidan mau ketemu Anan."


"Panggil 'kak Anan' dia itu kakakmu!" Dokter Sandra sedikit berteriak sebab Zidan telah menjauh darinya.


"Bawakan juga camilan buat kak... ." ucapan dokter Sandra menggantung karena tak nampak lagi bayangan Zidan.


"Dasar anak itu!" serunya, kesal.


Di kediaman mamah Yati.


Sambil menikmati suara air yang mengalir, Anan duduk di kursi yang terletak tepat di depan sebuah kolam ikan yang memanjakan ikan-ikan hias yang umumnya dipelihara.


Sesekali, Anan menggigit buah pear yang ada di genggamannya.


"Seperti ini rupanya tinggal di rumah gedongan. Bukan cuma itu, aku yang dulu biasanya membantu mamah di dapur, sekarang di ambil alih sama art. Aku benar-benar merasa seperti patung yang tidak bisa apa-apa. Semua serba dilarang. Bisa-bisa badanku jadi kaku kalau begini terus." Anan mengisahkan dirinya sendiri tanpa ia tahu Zidan sudah berdiri di belakangnya dan mendengar semua ucapannya.


"Ayo! Ngomong apa barusan?!" Sengaja Zidan mengagetkan Anan dengan mengetarkan badan Anan.


"Zidan!" seru Anan yang terkejut.


"Iya-iya, maaf. Siapa suruh, ngobrolnya seru sendiri. Ngomongin apa, sih?"


"Bukan apa-apa. Ngapain kamu ke sini lagi?" tanya Anan yang masih sebal.


"Idih! Sekalinya tinggal di rumah mewah, bawaannya sombong." Zidan terkekeh.


"Memangnya kenapa? Lagi pula aku sombongnya cuma sama kamu," ucap Anan.


Mamah Yati yang baru saja keluar dari kamarnya, samar-samar mendengar suara Anan. Ia pun berjalan ke arah kolam ikan di teras samping.


"Ada Zidan rupanya," ujarnya setelah melihat keberadaan Zidan.


"Iya, Mah," sahut Zidan, tersenyum.


"Mamah Sandra baik-baik saja, kan?" tanya mamah Yati.


Belum sempat Zidan menjawab, terdengar dokter Sandra mengucapkan salam dari pintu utama yang sedang terbuka. Ketiganya pun menjawab salam dokter Sandra.


"Baru juga dibicarakan, orangnya sudah nongol," celetuk Zidan, terkekeh.


"Bicara tentang apa?" tanya dokter Sandra.


"Bukan tentang apa-apa. Cuma tanyakan kabar kamu," sahut mamah Yati. Membuat dokter Sandra membulatkan mulutnya.


"Ini camilan buat Anan dan Awan. Zidan lupa bawa." Dokter Sandra menyerahkan kantong plastik berukuran agak besar ke mamah Yati.


"Terima kasih, San. Kamu jadi repot."


"Tidak repot kok, Mbak," sanggah dokter Sandra, tersenyum.

__ADS_1


"Ya sudah, kita ngobrol di dalam saja, yuk! Biarkan mereka berdua di sini," ajak mamah Yati, menggaet tangan dokter Sandra.


"Senangnya hatiku, melihat mamah-mamahku akur," ucap Zidan seraya tersenyum menyaksikan keakraban mamah Yati dan dokter Sandra.


"Iya, aku juga senang. Meski aku tidak melihatnya, tapi aku bisa merasakannya."


"Nah, jadi sedih, kan?" ledek Zidan.


"Siapa juga yang sedih. Orang tadi bilangnya senang. Nyebelin!!!"


Sontak saja Zidan terbahak melihat ekspresi kesal Anan.


🍒🍒🍒


Hari ini, tibalah hari ulang tahun Anan. Mungkin karena sudah terbiasa tanpa adanya pesta perayaan, Anan sama sekali tidak menyadari bahwa hari ini adalah tepat hari lahirnya.


Semua rencana telah tersusun rapi. Tak ketinggalan Rasmi, Atika, dan Septy, yang turut membantu dalam persiapan pesta ulang tahun Anan.


Jarum jam tepat menunjuk pukul 4 sore. Semua berkumpul di satu titik dalam ballroom tempat acara akan diselenggarakan.


"Ayo semuanya minum dulu!" seru Adji.


"Wah! Kebetulan aku haus," ujar Rara yang segera menghampiri Adji.


Tak lupa, Adji juga membagikan minuman dingin ke beberapa orang dari pihak EO yang ikut membantu.


"Melihat ini semua, aku juga mau ulang tahunku dirayakan," celetuk Atika yang tidak berhenti memandangi setiap sudut dengan ekspresi memelas.


"Mimpi saja kamu," timpal Rasmi, mengusap wajah Atika.


"Loh, kok mimpi. Kak Anan saja bisa. Atika pasti juga bisa. Iya kan, kak Rara?" Atika beralih ke Rara yang duduk di depannya.


"Au ah, gelap," ucap Rara, datar. Lalu terkekeh.


"Kak Rara nyebelin!" kesal Atika. Kemudian tak sengaja beralih menatap Abhizar yang duduk di samping Zidan.


"MasyaAllah... so sexy!" guman Atika ketika melihat Abhizar meneguk minuman kemasan botol. Jakung Abhizar yang bergerak membuat Atika terpana.


Rasmi yang menyadari tatapan Atika, lagi-lagi mengusap wajah adik sepupunya itu.


"Istigfar!" serunya.


Sontak Atika jadi menunduk karena bukan cuma Zidan yang meliriknya, tetapi Abhizar juga yang meliriknya tanpa ekspresi.


"Astagfirullah... ya Allah... kak Abhi pasti melihat ke arahku. Aku malu," batin Atika.


Atika memang menyukai Abhizar dalam diam. Pesona Abhizar memiliki daya tarik tersendiri bagi Atika. Namun sayang, Abhizar sama sekali tidak menganggap Atika. Meskipun begitu, Atika tidak mempermasalahkannya.


"Kapan kamu menjemput Anan?" tanya Abhizar.


"Sebentar lagi," sahut Zidan.


"Aku sudah mengirim penata rias ke rumah mamah Yati," tambah Zidan.


"Anan tidak curiga, kan?" tanya Septy.


"Kata mamah Yati sih, Anan cuma bertanya. Dan setelah mamah Yati menjelaskan kalau aku ingin mengajaknya jalan-jalan, Anan pun tidak bertanya lagi," jelas Zidan.


"Baiklah, sudah saatnya aku menjemput Anan. Kalian juga, bersiaplah," pamit Zidan seraya melirik jam di tangannya.


Mereka pun akhirnya meninggalkan ballroom hotel, pulang ke rumah masing-masing untuk bersiap-siap.


🍒🍒🍒

__ADS_1


Tbc


__ADS_2