Benar Kata Mamah

Benar Kata Mamah
Bab 13


__ADS_3

"Bagaimana ideku?" tanya Arya setelah membeberkan rencananya ke Dimas.


"Kamu jangan coba-coba bermain-main dengan anak gadis orang. Kita ini pria sejati bro. Pantang bagi kita untuk mempermainkan seorang gadis."


Dimas mengingatkan sahabatnya atas ide konyol yang akan ia lakukan.


"Dia telah mempermalukanku, dia harus membayarnya dengan mahal" ucap Arya emosi. Raut mukanya tegang, rahangnya mengeras dan tangannya mengepal.


"Terserah kamu saja. Aku hanya mengingatkan, jangan sampai umpanmu termakan olehmu sendiri" tutur Dimas.


Arya yang mendengar penuturan Dimas kesal. Ia menatap sinis sahabatnya itu.


"Udahlah, aku berangkat dulu" ucap Arya dan langsung menyambar jasnya.


"Hari ini kamu ada jadwal makan malam di rumah utama bersama Lexa. Kamu tidak lupa kan?" Dimas lagi-lagi mengingatkan.


"Kamu ini udah kayak emak-emak resek tau tidak!" kata Arya kesal begitu selesai memasang kembali jasnya.


"Aku hanya tidak mau kamu membuat tante Clara marah, itu aja" tutur Dimas.


Arya tidak membalas lagi ucapan Dimas. Ia mengambil kunci mobilnya kemudian berjalan menjauhi Dimas yang hanya bengong menatap kepergian sahabatnya itu.


Arya masuk ke dalam lift, menekan angka lantai tujuannya di sana lalu keluar menuju lobi kantornya.


Ia menyelinapkan tubuhnya ke dalam mobil mewah miliknya yang telah terparkir di depan gedung kantornya. Kemudian berlalu pergi dari sana. Dalam benaknya, ia masih kepikiran dengan rencananya, dan disaat bersamaan ia juga memikirkan ucapan Dimas.


Ia mengusap kasar rambutnya ke belakang lalu ke depan. "Ahhh... ! Pokoknya, rencanaku harus berhasil" gumamnya sambil memukul-mukul kemudi mobilnya.


Selang beberapa menit berkendara, manik matanya tak sengaja menjumpai sosok yang menjadi topik pembicaraannya dengan Dimas tadi di kantor. Ia pun memelankan laju kendaraannya dan berhenti di sana.


***


"Aku menyukaimu, aku mau kamu jadi pacarku" ungka Arya.


Anan tertegun mendengar kalimat yang baru saja diungkapkan Arya. Ia sontak menoleh ke arah Arya. Ia mengernyit.


"Meskipun aku tidak pernah pacaran, tapi aku sudah pernah melihat orang yang menyatakan perasaannya kepadaku. Tapi tidak seperti ini" batin Anan.


"Bapak bercanda?"


"Apa wajahku terlihat bercanda?" tanya Arya balik.


Anan memundurkan sedikit kepalanya.

__ADS_1


"Tidak, malah terlihat sangat serius" jawab Anan sambil menggelengkan kepalanya.


"Lalu?"


"Mana ada orang yang menyatakan perasaan dengan ekspresi seperti itu pak? Saking seriusnya bapak, saya sampai melihatnya horor" tutur Anan yang ingin tertawa tapi ia tahan.


Arya mengernyit dengan penuturan Anan.


"Lalu jawaban kamu?" mengubah posisi duduknya sedikit menghadap Anan, tangan kanannya memegang kemudi sedang tangan kirinya dia letakkan di atas pahanya.


Anan menghela nafas, "Maaf pak, saya tidak bisa menerima bapak. Saya tidak mau berpacaran. Dan lagi, bukankah bapak sendiri yang bilang, bahwa hubungan kita hanya sebatas dosen dan mahasiswa bahkan bapak melarang saya untuk berfikir lebih ke bapak" ungkap Anan hati-hati.


Arya kembali menghadap ke depan. Kali ini kedua tangannya memegang kemudi dan meremasnya kuat. Ia merutuki perkataannya kemarin pada Anan sewaktu berada di apartemennya.


"Sial! pintar juga nih cewek bicara. Mana dia masih ingat lagi sama yang kemarin. Aku tidak boleh kalah. Pokoknya rencanaku harus berhasil" batin Arya.


"Kalo gitu, kita langsung nikah! seru Arya menoleh ke Anan.


"Hah!" Anan tercengang, ia sontak menoleh. Manik mata mereka bertemu.


Deg! Jantung Anan berdegup. Ia menatap bola mata milik Arya, tidak ada kebohongan di sana. (Mungkin karena memang Arya serius mengucapkannya). Ia berusaha tenang, meredam degupan jantungnya.


"Bapak masih waras kan?"


"Aku akan datang melamar ke orang tuamu". tutur Arya meyakinkan.


"Apa bapak yakin?" tanya Anan yang merasa ini terlalu cepat.


"Menurutmu?"


"Kita baru kenal pak, dan saya belum siap untuk nikah" ujar Anan.


Arya langsung menemukan ide baru. Ia menarik sebelah sudut bibirnya, ia tersenyum licik. Sayangnya, gelagat Arya tadi tidak terlihat oleh Anan yang sibuk dengan pemikirannya.


"Karena kita belum mengenal baik satu sama lain. Bagaimana kalo kita tunangan saja dulu" saran Arya dengan menampilkan senyum manisnya. Arya benar-banar bisa mengubah ekspresinya dalam sekejap. Yang tadinya terlihat dingin dan kesal secepat kilat merubah jadi hangat dan manis (kayak minuman cokelat panas saja).


"Tapi maaf pak, saya tidak mencintai bapak. Dan saya hanya akan menikah dengan pria yang saya cintai" ujar Anan lagi, tetap keukeh pada pendiriannya.


"Baik! Tiga bulan. Kalo sampai batas waktu tiga bulan aku tak bisa membuatmu jatuh cinta, maka aku akan mundur. Itu juga berarti, aku sudah memaafkanmu dengan caraku. Jadi selama waktu itu, jangan halangi aku meluluhkan hatimu" pungkas Arya.


Anan hanya mengangguk tak tau lagi harus ngomong apa.


"Bagus! Aku antar kamu, kamu mau kemana?" tanya Arya.

__ADS_1


"Saya mau pulang ke rumah pak" jawab Anan.


"Baik. Tunjukkan jalannya" titah Arya. Kemudian melajukan mobilnya membelah jalan.


Anan kembali memikirkan perkataan Arya. "Apa pak Arya benar menyukaiku?, tapi kenapa hatiku meragukannya. Huffh.. Ya Allah hamba memohon perlindunganmu" batin Anan.


Anan meminta Arya menurunkannya di depan gerbang kompleks. Ia lalu membuka safety belt dan keluar dari mobil Arya setelah berpamitan.


Arya melajukan mobilnya, berlalu meninggalkan gerbang kompleks.


"Kita liat saja, bagaimana nasibmu setelah ini. Apa kamu masih bisa menahan diri untuk tidak malu?" gumam Arya mencibir.


Sunggu Arya menjadikan dirinya sendiri sebagai seorang penjahat hanya karena tidak terima dipermalukan oleh Anan di depan para mahasiswa yang ada di sana.


"Kak Anan!" panggil Rasmi begitu Anan akan memasuki gerbang kompleks.


"Eh... Rasmi"


"Kakak mau ke rumah kan? Ayo naik!" Rasmi nengajak Anan naik ke motor matik miliknya.


"Bagaimana keadaan mamah Yati?" tanya Rasmi sambil menjalankan motornya.


"Mamah habis cuci darah" jawab Anan lesu


"Separah itu ya kak?" tanya Rasmi sedih.


"Iya" jawab Anan singkat.


Rasmi memberhentikan motornya tepat di depan rumah Anan.


"Rasmi, kamu tidak perlu ngomong ke siapa-siapa ya tentang penyakit mamah. Oya, mamah tidak tau kalo aku udah tau tentang penyakitnya. Mamah menyembunyikan sakitnya dari aku. Jadi kamu juga pura-pura aja tidak tau ya" tutur Anan setelah turun dari boncengan motor Rasmi.


"Iya kak. Kita sama-sama berdoa ya kak, semoga mamah Yati diberi kesembuhan oleh Allah, amin" ucap Rasmi.


"O iya, jaga toko mamah baik-baik ya, kalo ada apa-apa bilang ke kakak" tutur Anan.


"Siip kak! Kakak jangan khawatir, urusan toko serahin ke Rasmi" ucap Rasmi, kemudian kembali mengendarai motornya. Rumah Rasmi diantarai oleh tiga rumah dari rumah Anan.


Anan meraih kunci rumah yang ada di tasnya. Ia membuka pintu lalu masuk ke dalam rumah. Tiba di ruang tamu, Anan mengedarkan pandangannya. Ia menatap tiap sudut ruangan sambil melangkah pelan. Sampai akhirnya tiba di depan pintu kamar mamahnya. Ia masuk dan duduk di tepi tempat tidur mamahnya.


"Ya Allah, ampuni dosa mamah. Mamah sudah banyak menerima cobaan, jangan biarkan mamah semakin menderita. Hamba menyayanginya, tolong... izinkanlah mamah bahagia" Anan menangis terisak sambil memeluk bantal yang biasa mamahnya pakai tidur.


Anan menghapus air matanya lalu mengambil kunci motornya yang tergeletak di lantai kamar mamahnya. Ia keluar rumah dan mengunci pintu. Begitu duduk di atas kendaraannya, ia menyalakan mesinnya dan bergegas kembali ke rumah sakit.

__ADS_1


__ADS_2