Benar Kata Mamah

Benar Kata Mamah
Bab 29


__ADS_3

"Aku mau naik bus saja," ucap Rasmi begitu tahu siapa yang telah menariknya.


Tanpa berkata apapun; dengan sigap, Zidan menggedong Rasmi di bahunya. Rasmi meronta minta diturunkan karena malu dilihat orang banyak. Tapi Zidan sama sekali tidak mempedulikannya. Ia tetap menggendong Rasmi seperti orang yang memikul karung beras.


"Mas, jangan kasar-kasar dong sama cewek," tegur salah satu calon penumpang bus yang berada dekat dengan mereka.


"Istri aku bandel mbak, tidak nurut apa kata suami," ucap Zidan, lalu tersenyum ke arah gadis itu, kemudian melangkah menuju kendaraannya.


"Wahh..tamvannya si babang... Aztagfirullah, nyebut..nyebut. Dia itu suami orang," gumam lirih gadis itu melihat senyum yang terpancar dari wajah Zidan.


Zidan menutup pintu mobil setelah menyelinapkan tubuh Rasmi ke dalamnya, lalu bergegas duduk di belakang kemudi dan melajukannya.


Rasmi memperbaiki posisi duduknya, diwaktu bersamaan Zidan menoleh dan pandangannya tak sengaja tertuju ke bagian ujung rok Rasmi yang terdapat bercak darah. Zidan segera menepikan mobilnya, kemudian keluar dan mengambil kotak P3K yang selalu ia siapkan di jok belakang kendaraannya itu.


"Kakak mau ngapain?" tanya Rasmi yang masih kesal, ketika melihat Zidan berdiri di sampingnya setelah membuka pintu.


Bukannya menjawab, Zidan malah menyuruh Rasmi menghadapnya. Zidan membuka kotak obat yang ia pegang, lalu menyimpannya di pangkuan Rasmi.


Zidan pun kemudian berjongkok. Tanpa permisi, ia menarik pelan kaki kanan Rasmi dan mengoleskan obat pada lututnya. Setelah membalut luka Rasmi, ia pun melirik dan mendapati perban yang sama menutup lutut kiri Rasmi.


"Kenapa bisa begini?" tanyanya saraya menunjuk luka di lutut kiri lalu menengadah ke gadis yang lutut kanannya telah ia obati.


Rasmi menghela nafas "Ini ada karena kakak!" jawab Rasmi ketus. Membuat Zidan mengernyit.


"Kok aku?" tanya Zidan bingung.


"Iya, kalo bukan karena aku ngejar kakak, aku tidak bakal nabrak," jawab Rasmi kemudian memutar kembali tubuhnya menghadap dashboard mobil. Dengan isyarat tangan, ia menuyuruh Zidan agar bergeser sebab ia hendak menutup pintu.


Zidan buru-buru membuka pintu mobil dekat kemudi, kemudian masuk ke dalamnya.


"Oo..jadi kamu ditabrak lagi sama laki-laki itu," sangka Zidan mulai emosi.


"Namanya mas Idham kak."


Rasmi menyebutkan nama dokter yang menolongnya.


"Bagus ya, udah pakai acara kenalan rupanya," cecar Zidan dengan raut muka kesal lalu melajukan kendaraannya setelah ia nyalakan.


"Tuh dokter pasti sengaja menabrak kamu lagi," tuduhnya.


Rasmi menoleh dan mulai geram.


"Kalo tidak tau kronologi kejadiannya, tidak usah ngarang!" ketus Rasmi tidak terima.


"Dan kenapa kakak harus marah kalo aku kenal dengannya?!"


"Itu karena aku... ."


Zidan tidak melanjutkan kelimatnya. Ia tidak mau mengutarakan perasaannya disaat suasana seperti sekarang ini.


Hening...


"Aku nabrak brankar waktu menyusul kakak tadi. Kakak jalannya cepat dan aku sedikit berlari agar bisa mencapai kakak," lirih Rasmi mengungkap kejadian yang dialaminya; memecah kesunyian, lalu mengalihkan pandangannya keluar jendela.


Zidan menoleh sekilas, ia menyesal atas perlakuannya ke Rasmi. Ia merutuki kebodohannya hari ini. Ia ingin meminta maaf, tapi melihat sikap Rasmi yang seolah enggan menatapnya, ia jadi bingung sendiri.


Zidan memarkirkan mobilnya di depan toko kue mamah Yati. Rasmi keluar lebih dahulu. Melihat Rasmi berjalan pincang, ia semakin menyesal. Ia segera turun lalu menghampiri.


Seketika Zidan telah mengangkat tubuh mungil Rasmi dan membawanya masuk ke dalam toko.


Rasmi yang terkejut, hanya bisa menatap Zidan. Ia ingin menolak, tapi tak mampu. Ia pun pasrah dengan perlakuan Zidan.

__ADS_1


Begitu tiba, mereka disambut ramah oleh Atika, adik sepupu Rasmi yang masih kelas 11.


Sebulan sejak mamah Yati dirawat di rumah sakit, Rasmi menyarankan agar toko mamah Yati ditambah satu karyawan lagi. Saran Rasmi pun disetujui. Namun bukan orang lain yang dimau Anan, melainkan Atika adik sepupu Rasmi yang sudah Anan kenal.


"Dia Atika, adik sepupu aku," tutur Rasmi memperkenalkan, karena melihat raut wajah Zidan yang seolah bertanya.


"Halo kak, aku Atika. Kakak pasti pacarnya kak Rasmi, iya kan?" cerocos Atika asal menebak.


"Adek ngomong apa sih?!" sergah Rasmi memelototkan matanya ke Atika.


"Tidak usah ditanggapi kak, anak ini emang suka nyelonong aja, kayak jalan di trotoar," ucap Rasmi ke Zidan dengan tersenyum kecut.


"Tapi aku suka kok, dia nebak seperti itu," ucap Zidan tersenyum. Perkataan Zidan membuat Rasmi menatapnya dengan mengernyit.


"Ada yang salah?" tanya Zidan, memajukan sedikit tubuhnya.


Namun tak mendapat jawaban. Rasmi malah melangkah menjauh menuju dapur.


"Baru aja uwu-uwu gendong-gendongan, kok sekarang cuek-cuekan. Kakak marahan ya?" celetuk Atika, menggoda Zidan.


Zidan hanya mengedikkan bahunya menjawab pertanyaan Atika, kemudian menyusul Rasmi ke dapur yang terletak di bagian belakang.


Zidan menatap punggung Rasmi yang sibuk membuat adonan kue yang belum selesai dikerjakan Atika. Ia lalu berjalan mendekat dan duduk di kursi yang ada di sana.


"Soal tadi, aku minta maaf," ucap Zidan, namun tak dihiraukan Rasmi.


"Kamu mau kan maafin aku?" imbuhnya bertanya.


Rasmi yang sibuk dengan adonannya, seketika menghentikan kegiatannya. Ia menoleh ke arah Zidan yang menanti kata maaf darinya.


"Aku paling tidak bisa berada dalam tekanan kak. Kakak tidak ada hak sama sekali untuk membatasi pertemanan aku. Aku bebas berteman dengan siapa saja yang menurutku baik," papar Rasmi.


"Baiklah, kali ini aku memaafkan kakak," ucap Rasmi seraya mengangguk dan tersenyum manis, kemudian kembali fokus pada adonannya.


"Aku boleh tanya, tidak?" minta Zidan bertanya.


"Tanya apa?" tanya Rasmi memperbolehkan.


"Aku melihat mata Anan yang sembab, dia pasti habis nangis. Mamah Yati juga kelihatan sedih. Sebenarnya, apa yang telah terjadi?"


Rasmi yang ditanya sejenak berpikir. Ia ragu, memberitahukan atau tidak. Ia tak mau orang lain tau apa yang telah dialami oleh gadis yang sudah dianggapnya saudara itu. Ia tidak mau Anan semakin sedih.


"Apa kamu menganggapku orang lain? Aku sudah menganggap Anan saudaraku, dan mamah Yati, mamahku. Apa kamu tidak mau menceritakannya padaku?"


"Mm..bisa aku ceritakan disaat hanya ada kita berdua saja?" izin Rasmi, bersedia menjawab pertanyaan Zidan.


Rasmi tak mau ceritanya didengar oleh Atika. Sebab sepupunya itu tidak gampang menyimpan informasi.


"Baiklah," setuju Zidan.


"Bukankah kamu akan mengantar pesanan kue jam 10?" tanyanya, dan diangguki oleh Rasmi.


"Kita berangkat bersama saja, bisa?" pinta Zidan, lalu keluar dari ruangan itu.


***


Anan melenguh dan menggeliat di tempatnya berbaring saat ini. Ketika hendak bangun, ia merasa pusing. Sehingga ia kembali meletakkan kepalanya di bantal.


"Kamu baik-baik saja sayang?" tanya dokter Sandra yang menyaksikan Anan hendak bangun, tapi batal, dan berjalan ke arak Anan.


"Anan merasa pusing mah," jawab Anan seraya menekan-nekan pangkal hidungnya.

__ADS_1


Jawaban Anan membuat mamah Yati khawatir.


"Kamu demam sayang," ucap dokter Sandra yang menempelkan punggung tangannya ke dahi Anan.


"Suster Mira, tolong ambilkan obat penurun panas!"


"Baik nyonya," sahut suster Mira, lalu beranjak menuju apotik yang masih dalam gedung yang sama.


"Kok bisa demam sih sayang?"


Dokter Sandra mengambil termometer yang ada di saku jas putihnya, kemudian meletakkannya di ketiak Anan.


"Semalam dia kehujanan dok," jawab mamah Yati mewakili anaknya.


"Oo.., sudah sarapan belum?" tanya dokter Sandra lagi.


Anan bermaksud menggelengkan kepalanya, namun dengan sempoyongan, ia berlari ke arah wastafel.


Huuweekk..


Huuweekk..


Dokter Sandra dan suster Mira yang baru saja tiba, segera menghampiri Anan dan memijit pelan tengkuk Anan.


Mamah Yati yang juga hendak menghampiri Anan, diberi kode oleh dokter Sandra agar tetap berada di tempatnya.


Ia sungguh mencemaskan kondisi anaknya saat ini.


"Apa semalam kamu tidak makan malam nak?" tanya mamah Yati setelah Anan duduk di sofa ditemani dokter Sandra di sampingnya.


"Maaf mah, Anan lupa," jawab Anan. Menyesal, telah membuat mamahnya khawatir.


Mamah Yati menghela nafas.


"Suster, bisa buatkan semangkuk bubur untuk anak saya?" tanya mamah Yati meminta.


Suster Mira mengangguk dan berlalu dari sana.


"Kok makan malam bisa lupa sih, sayang?" Dokter Sandra menatap Anan intens.


"Ini juga, kenapa mata kamu bengkak gini?"


Anan hanya menghela nafas, lalu menyandarkan kepalanya yang terasa pusing pada sandaran sofa. Bukan tidak mau menjawab, tapi ia benar-benar berusaha menahan rasa sakit kepala dan nyeri pada ulu hatinya.


Mamah Yati mengangguk sekali sambil tersenyum ketika dokter Sandra menoleh ke arahnya. Mamah Yati tahu, dokter Sandra butuh jawaban. Dan dokter Sandra pun dapat mengerti akan ekspresi yang diberikan padanya.


Suster Mira tiba dengan semangkuk bubur di tangannya lalu meletakkannya di atas meja.


"Biar aku suapin ya." Dokter Sandra mengarahkan sendok berisi bubur ke mulut Anan.


Suster Mira tersenyum menyaksikan dokter Sandra dan Anan. Mereka layaknya ibu dan anak, pikirnya.


Begitupun mamah Yati, ia bersyukur, karena banyak yang menyayangi putrinya.


***


"Begitulah ceritanya kak," ucap Rasmi setelah menceritakan apa yang dialami Anan semalam, dimana saat ini mereka telah berada di ruang kerja Zidan di restoran, setelah mengantar pesanan kue.


Zidan mengepalkan tangannya karena marah. Ia tidak terima Anan mendapat perlakuan seperti itu. Ada perasaan bersalah di hatinya, ia merasa gagal dalam melindungi Anan.


"Aku akan buat perhitungan denganmu. Siapapun dirimu, aku tidak peduli," batin Zidan merujuk ke Arya.

__ADS_1


__ADS_2