
Kendaraan yang dikemudikan Raka terparkir di depan gedung Grissham Company. Ia lalu turun dan membukakan pintu untuk tuan Kemal. Setelahnya, Raka dan atasannya itu berjalan menuju lift. Semua karyawan membungkuk dan menyapa orang nomor satu di perusahaan itu.
"Apa jadwalku hari ini?" tanya tuan Kemal ke asistennya, setelah duduk di kursi kebesarannya.
"Hari ini tuan ada meeting dengan Permata Advertising, untuk membahas pengiklanan gedung hotel yang ada di kota S, sekaligus makan siang, tuan," jawab Raka.
"Baik. Persiapkan semuanya."
"Oiya tuan, 5 hari ke depan akan diadakan pesta ulang tahun perusahaan Wima Group. Undangannya juga sudah saya terima. Tapi tuan .... ." Raka menghentikan kalimatnya.
Tuan Kemal menatap Raka sambil mengerutkan keningnya.
"Bukankah sehari sebelumnya kita akan berangkat ke Jepang?" tanya Raka, menyambung ucapannya.
Tuan Kemal mengangguk-angguk pelan.
"Kita tetap fokus ke Jepang. Untuk perayaan Wima Group, biar aku yang pikirkan," tukas tuan Kemal.
"Baik tuan," sahut Raka.
***
Di ruang rawat mamah Yati.
"Mah, tadi aku ketemu Septy. Dia ngajak aku ke pesta ulang tahun perusahaan Wima Group. Mamah tidak tau kan siapa pemilik Wima Group?" tutur Anan, lalu bertanya.
Mamah Yati hanya menggeleng.
"Jadi, Wima Group itu adalah perusahaan milik orangtua pak Arya. Mamah masih ingat kan dengan apa yang pernah pak Arya katakan tempo hari?" beber Anan, lalu bertanya lagi.
Kali ini mamah Yati mengangguk.
"Sebaiknya Anan gimana mah?" Anan meminta saran mamahnya.
Mamah Yati tersenyum. "Ikuti kata hatimu sayang. Yakinlah, pada dasarnya hati akan selalu menuntun kita pada yang baik."
"Jujur mah, Anan ragu pada pak Arya. Tapi melihat keseriusannya tempo hari, Anan jadi takut. Takut mengecewakan pak Arya. Apa sebaiknya Anan menerima pak Arya kembali mah?"
"Jika kamu menerima Arya kembali itu artinya kamu berangkat ke pesta itu sebagai tunangan Arya. Tapi jika tidak dan kamu tetap ada di sana, itu artinya kamu berangkat sebagai teman Septy."
Mamah Yati menatap lekat Anan. "Boleh mamah tanya sesuatu?"
Anan mengangguk ragu.
"Bagaimana perasaan kamu pada Arya? Apa kamu masih menyukai atau bahkan masih mencintainya?" tanya mamah Yati lembut.
Anan menghela nafas dan memperbaiki letak kacamatanya.
"Sebenarnya, Anan masih menyukai dan mencintai pak Arya, mah. Walau Anan sudah berusaha menepis rasa ini, tapi rasa ini tetap selalu ada," jawab Anan kikuk.
"Mamah mengerti sayang. Mamah hanya tidak mau putri mamah kecewa lagi. Mamah tidak mau kamu tersakiti sayang. Mamah berharap, kali ini Arya benar-benar serius."
Sejujurnya, banyak hal yang dirisaukan mamah Yati, mengenai hubungan Anan dengan Arya. Anan dan Arya tak sepadan. Ibarat langit dan bumi. Mamah Yati takut Arya tidak terbiasa nantinya. Belum lagi Arya yang pernah mengecewakan putrinya. Sungguh hati mamah Yati cemas dibuatnya.
"Oiya mah, Anan berangkat ke toko dulu. Hari ini banyak pesanan." Anan mendaratkan kecupan di kening mamahnya. Lalu meraih tas, ponsel, dan kunci motornya.
"Mamah tidah usah khawatir. InsyaAllah, Anan akan baik-baik saja," tutur Anan menenangkan mamahnya, kemudian mengucapkan salam, dan berlalu dari sana.
Mamah menatap kepergian putrinya hingga menghilang di balik pintu.
"Ya Allah, entah mengapa perasaanku jadi tidak enak setiap putriku mengatakan 'baik-baik saja'. Dan mengapa aku merasa ada sesuatu yang buruk yang akan terjadi. Ya Allah... hamba selalu memohon perlindunganmu. Jagalah putriku untukku, amin."
Anan mengendarai motor matiknya seperti biasa. Tidak pelan, tidak juga cepat. Lampu rambu lalu lintas berwarna merah, Anan berhenti tepat di belakang garis zebra cross. Disaat yang sama, sebuah mobil sedan Toyota Camry berhenti tepat di sampingnya.
__ADS_1
Mamih dari Arya, Clara, yang berada dalam mobil sedan itu, sambil berbicara dengan Lexa melalui ponselnya, tidak sengaja melihat Anan.
"Anan? Itu Anan kan?" gumamnya, namun dapat terdengar oleh telinga Lexa.
"Halo tante. Siapa maksud tante? Anan? Bukannya tante mau ketemu om di restoran untuk lunch?"
Perkataan Lexa di telpon tidak dihiraukan oleh Clara. Clara sibuk memperhatikan penampilan Anan.
"Halo... halo tante." Lexa terus memanggil Clara di sambungan telepon.
"I-iya Lexa."
"Tante baik-baik saja kan?"
"Iya, tante baik kok."
"Lalu, kenapa tante diam aja? Tadi juga Lexa sempat dengar tante nyebut Anan. Anan yang mana?" Lexa mulai curiga, Anan yang dimaksud Clara adalah Anan yang sama dengan yang ada di pikirannya.
"Itu. Anan mahasiswi Arya dulu."
Tidak salah lagi.
"Tante kenal dengannya juga?"
"Loh, kamu juga kenal dia?"
Bukannya menjawab pertanyaan Lexa, Clara malah bertanya balik.
"Iya tante. Sumpah, tuh cewek kampung nyebelin banget," umpat Lexa.
"Apa maksudmu ngatain dia kampung?"
"Itu karena memang dia cewek kampung."
"Benar tante. Bukan cuma kampung, dia bahkan miskin. Buktinya, dia kuliah dengan beasiswa. Apa bukan miskin namanya kalo kuliah aja dibayarin?" umpat Lexa dengan angkuhnya.
"Ya udah ya Lexa, tante tutup dulu."
Clara mengernyit memikirkan perkataan Lexa. Ia belum memalingkan pandangannya dari Anan. Sampai akhirnya kendaraannya dan kendaraan Anan melaju karena nyala lampu rambu lalu lintas berwarna hijau. Dan mereka berpisah di perempatan jalan.
"Apa benar yang dikatakan Lexa? Tapi waktu itu aku bertemu dengan Anan di Sandra's Jewerly. Dan di sana dia bukan sebagai pelayan toko, tapi pembeli. Bahkan waktu itu dia membeli dua buah berlian sekaligus. Kalo dia miskin, dapat uang dari mana dia bisa membeli diamond? Kecuali, kalo dia itu simpanan laki-laki kaya raya yang hidung belang. Iiihhh...!"
Clara bergidik ngeri membayangkan gumamannya sendiri.
***
Di restoran Ananda.
Tuan Wijaya yang sedang menunggu kedatangan istrinya, tak sengaja melihat kedatangan tuan Kemal di pintu masuk. Ia lalu berdiri dan menghampiri tuan Kemal yang ditemani asisten sekaligus sopirnya itu.
"Wah...! Mimpi apa aku semalam bisa bertemu dengan tuan Kemal hari ini," sapa tuan Wijaya tersenyum sambil menjabat tangan tuan Kemal.
"Tuan Wijaya bisa saja," sahut tuan Kemal, yang juga tersenyum.
"Lagi mau makan siang juga?" tanya tuan Wijaya.
"Ya begitulah. Tapi sebelumnya kami akan meeting dulu."
"Oh, ya sudah. Silahkan, silahkan tuan," ucap tuan Wijaya.
"Tuan juga, selamat menikmati makan siangnya," ucap tuan Kemal.
Tuan Wijaya kembali ke tempat duduknya semula. Sedangkan tuan Kemal dan Raka berjalan munuju ruang khusus yang memang diperuntukkan bagi pengusaha yang ingin mengadakan meeting di luar kantor sekaligus makan siang.
__ADS_1
Tidak lama berselang, utusan dari Permata Advertising dan Clara tiba di restoran itu.
"Aduh, maaf ya pih. Mamih bikin papih menunggu lama," ucap Clara begitu duduk di kursi di hadapan suaminya.
"Belum lama kok mih."
Tuan Wijaya mengangkat tangannya ke udara, memanggil palayan yang ada di sana.
"Mamih mau pesan apa?" tanya tuan Wijaya ke istrinya.
"Samakan saja dengan pesanan papih."
"Baiklah, kalo begitu."
Pelayan restoran itu pun mencatat semua pesanan tuan Wijaya, kemudian berlalu dari sana menuju dapur.
"Tadi papih bertemu dengan tuan Kemal." Tuan Wijaya mulai membuka topik.
"Tuan Kemal, pemilik Grissham Company?" tanya Clara membulatkan matanya.
"Iya, siapa lagi."
"Tapi papih sapa tuan Kemal kan?"
"Ya iyalah mih. Tuan Kemal kan rekan bisnis papih juga."
"Coba ya pih, kalo seandainya tuan Kemal punya satu saja anak perempuan. Mamih akan menjodohkannya dengan Arya. Mamih pasti akan jadi mertua paling bahagia di dunia. Dan dia pasti sangat cocok bersanding dengan putra kita Arya. Kebayang kan pih?"
"Iya, sayangnya tuan Kemal hanya punya seorang putra, jadi mamih jangan ngehalu," tutur tuan Wijaya mengingatkan seraya tertawa kecil.
"Ada atau tidak adanya hubungan kerabat dengan tuan Kemal, papih akan selalu berusaha mempertahankan pertemanan papih dengan tuan Kemal. Karena walau bagaimana pun perusahaan Grissham Company adalah penyumbang laba terbanyak di perusahaan kita," paparnya menambahkan.
Beberapa menit berlalu. Tuan Wijaya beserta istri telah selesai bersantap siang. Tidak berbeda dengan tuan Kemal, Raka, dan utusan dari Pertama Advertising tersebut.
"Kalo begitu, saya ucapakan terima kasih atas kepercayaan yang tuan Kemal berikan kepada perusahaan kecil kami, juga untuk makan siang hari ini. Saya permisi tuan, pak Raka." Utusan Permata Advertising itu pun berlalu meninggalkan tuan Kemal dan Raka di ruang tersebut.
"Apa masih ada jadwal hari ini?" tanya tuan Kemal ke Raka.
"Tidak ada lagi tuan. Tuan bisa pulang dan beristirahat," sahut Raka.
"Bagus. Kalo begitu kita pulang sekarang."
Tuan Kemal dan Raka pun keluar dari ruangan itu.
Begitu berada di luar ruangan, manik tuan Kemal melihat tuan Wijaya masih duduk bersama istrinya di restoran itu.
"Raka, kita ke sana dulu," ajak tuan Kemal menunjuk tujuannya.
"Maaf, tuan Wijaya, nyonya." Raka terlebih dahulu menyapa.
Tuan Wijaya menoleh. "Tuan Kemal! Mari tuan silahkan duduk."
Tuan Kemal duduk, sedangkan Raka berdiri di samping atasannya.
"Ada apa tuan?" tanya tuan Wijaya.
"Sebelumnya saya berterima kasih atas undangan yang diberikan kepada Grissham Company. Tapi saya juga meminta maaf, karena saya tidak bisa menghadiri acara tersebut. Sehari sebelumnya, saya harus terbang ke Jepang. Mungkin anak saya Zidan yang akan mewakili saya di acara itu. Tidak apa kan?"
Ada raut kecewa di wajah tuan Wijaya, namun ia tetap berusaha tersenyum di hadapan rekan bisnisnya itu, dan tidak mempermasalahkannya.
"Tidak apa-apa tuan Kemal. Zidan kan putra tuan, jadi akan kuanggap dia sebagai tuan Kemal."
"Baguslah kalo begitu. Saya senang mendengarnya. Maaf, saya tidak bisa berlama-lama, saya permisi tuan Wijaya, nyonya." Tuan Kemal dan Raka pun melangkah menjauh dari meja tempat tuan Wijaya dan istrinya makan siang.
__ADS_1