
[ Vote, Vote, Vote ]
"Kalian semua yang hadir di sini pasti bisa melihatnya dengan jelas. Wajah yang cantik, penampilan yang menarik. Di antara kalian tentu tidak akan menyangka kalo dia berasal dari desa," ucap Arya seraya tersenyum mencibir.
Anan masih menatap Arya. Ingin rasanya ia menghentikannya, namun lidahnya terasa keluh.
"Dan kalian tau? Mungkin karena dia merasa dekat denganku, dia pantas menawarkan pertunangan padaku. Sungguh dia sangat percaya diri."
Arya melirik sepintas Anan kemudian melayangkan pandangnya ke setiap tamu undangan malam ini.
"Menurut kalian, apa aku yang seorang calon pewaris Wima Group ini pantas disandingkan dengannya?"
Betapa angkuhnya Arya di hadapan Anan malam ini. Betapa tidak berperasaannya dia terhadap gadis polos nan baik ini.
Para tamu undangan bersorak. Mereka menyuarakan asumsi masing-masing. Ada yang berpendapat tidak masalah, mau gadis itu dari mana, asalkan baik dan cocok, sah-sah saja.
Namun kebanyakan di antara mereka tidak setuju dan malah mencibir Anan.
Bagai dentuman palu yang menghantam dada Anan, ia sungguh merasa sakit. Dan tidak hanya itu, rasa malu yang Arya corengkang ke wajahnya menambah pedih di hatinya. Bak silet yang menyayat kulit, perih... sungguh perih.
Anan menutup matanya. Tangannya terkepal, tubuhnya bergetar, dan wajahnya memerah menahan tangis, amarah, dan malu sekaligus mendengar sahutan orang-orang yang silih berganti. Seolah saat ini mereka sedang menonton drama, mereka sungguh asyik menikmati pertunjukan yang disuguhkan oleh Arya.
"Aku pun sepenuhnya sependapat dengan kalian. Kalian tentu tau, gadis seperti apa yang layak berpasangan denganku. Tidak seperti di... ."
"Cukup!!!" pekik Anan memotong ucapan Arya.
"Kenapa Pak? Kenapa? Kenapa Bapak tega melakukan ini pada saya? Apa salah saya, Pak?" desak Anan yang tidak bisa lagi menahan gejolak emosi di hatinya.
"Kamu tanya aku, kenapa? Kamu pikir saja sendiri!" Arya mengetukkan dua kali ujung jari telunjuknya ke kepalanya di hadapan Anan.
Anan mulai berpikir. Berpikir apa maksud dari perkataan Arya. Hingga akhirnya terbesit satu peristiwa di ingatannya.
"Apa kamu sudah mengingatnya?" tanya Arya mengangkat kedua alisnya.
"Jadi karena hal itu Bapak berbuat ini pada saya? Bapak sungguh tega."
Arya mengabaikan ucapan Anan. Ia kembali menatap orang-orang yang sungguh antusias menyaksikan dirinya dan juga Anan.
"Apa kalian mau tau, apa yang gadis kampung ini katakan setelah sempat mempermalukan aku di kampus?"
__ADS_1
Arya merogoh saku celananya kemudian mengeluarkan ponselnya dari sana.
"Kalian dengarkanlah baik-baik," serunya.
Arya menekan menu play pada ponselnya lalu...
"Hm... Aku sudah pernah bilang, kalo aku sudah membuka hatiku untuk bapak. Aku mulai menyukai bapak beberapa bulan lalu. Dan aku juga jatuh cinta pada bapak."
Kedua mata Anan membola. Ia tidak percaya dengan apa yang didengarnya.
Sungguh Anan tidak menyangka, Arya telah merekamnya diam-diam. Dan sekarang, bukan hanya ia sendiri yang mendengarnya, tetapi ratusan pasang telinga juga telah mendengarnya.
Arya menyimpan kembali ponselnya ke tempat semula dengan tangan yang tetap berada bersama dengan ponsel di saku celananya.
"Aku rasa... cukup bagi kalian yang hadir di sini menyimpulkan bahwa betapa tidak tau malunya gadis udik plus norak ini."
Arya melirik Anan dan menyeringai.
"Setelah mempermalukanku, dengan percaya dirinya yang tinggi ia malah menyatakan cintanya padaku. Sungguh tidak tau malu."
"Hentikan, Pak! Tolong, tolong Bapak hentikan. Mengenai hal itu, bukankah kita berdua sepakat untuk tidak mempermasalahkannya lagi? Bahkan Bapak sendiri meminta izin padaku untuk mengerjarku. Dan setelah beberapa bulan kemudian ternyata aku pun luluh dengan segala sikap baik dan manisnya Bapak kepadaku. Apa Bapak sudah lupa?"
"Bahkan, bukan hanya pertunangan yang Bapak tawarkan ke saya pada awalnya, tetapi pernikahan."
Prok...prok...prok
Arya bertepuk tangan. Arya menatap tajam Anan yang juga menatapnya tak kalah tajam. Lalu beralih menatap orang-orang di hadapannya.
"Kalian dengar apa yang gadis kampung ini katakan? Sungguh luar biasa dia memfitnah aku."
"Saya tidak memfitnah Bapak!" pekik Anan membela diri.
Plak...!
Satu tamparan tepat mengenai pipi kiri Anan.
Tanpa Anan duga, dari arah belakang muncul mamih Clara yang membalikkan badannya dan menampar pipinya.
Anan mengusap pipinya yang telah memerah akibat pukulan telapak tangan dari mamihnya Arya.
__ADS_1
Lagi-lagi ia harus sekuat tenaga menahan tangisnya agar tidak pecah di hadapan orang-orang yang telah merendahkannya.
"Berani kamu merusak nama baik putraku! Kamu pikir, kamu siapa, hah? Seujung kuku pun kamu tidak ada pantas-pantasnya bersanding dengan anakku, Arya," sengak mamih Clara ke Anan.
"Aku kira kamu itu gadis baik-baik, tapi ternyata kamu itu seorang peliharaan. Dasar perempuan jalang!" hina mamih Clara yang termakan omongan Lexa.
"Hentikan, Tante. Saya mohon hentikan," teriak Anan, namun diabaikan.
"Yang aku katakan memang benar 'kan? Secara kamu itu perempuan kampung yang miskin. Mana mampu kamu membeli diamond. Bukan cuma satu, tapi beberapa. Kalo bukan karena kamu ini peliharaan om-om, dapat uang dari mana kamu bisa membeli itu semua? Dan sekarang, mungkin orang yang memeliharamu sudah bosan, makanya kamu segera mencari mangsa baru. Untung saja putraku cepat tau kebusukanmu," cibir mamih Clara yang bersedekap.
"Cukup, Tante!" Lagi-lagi Anan memekik dengan mata yang memerah menahan malu dan amarah.
"Tante sudah terlalu menghina saya. Asal Tante tau, meskipun saya berasal dari kampung dan miskin. Tapi saya masih punya harga diri. Saya doakan, kelak Tante mendapatkan menantu yang sesuai dengan keinginan Tante."
Anan beralih menatap Arya. Ia berusaha tegar di hadapan Arya. Ia tak mau tampak lemah.
"Bapak Arya yang terhormat. Saya tidak menyangka begini akhir dari hubungan kita. Meskipun saya kecewa dan sakit hati, saya masih bersyukur. Bersyukur karena Tuhan menunjukkan siapa Bapak yang sesungguhnya. Bapak mungkin lupa akan satu hal. Jodoh kita adalah cerminan dari diri kita. Karena Bapak seorang dosen, Bapak pasti paham maksudnya."
Arya dan mamihnya hanya terdiam mencerna kata demi kata yang diucapkan Anan.
Anan menghela nafas panjang.
"Saya ucapkan selamat untuk pak Arya. Bapak telah berhasil membalaskan dendam Bapak."
Akhirnya, cairan bening yang sedari tadi dengan sekuat tenaga Anan tahan, jatuh juga membasahi pipinya.
Deg!
Siapa sangka, seketika Arya merasakan sesuatu yang aneh melihat air mata yang menetes di pipi Anan. Ingin rasanya ia memeluk dan menghapus air mata itu beserta jejaknya agar dapat menenangkan gadis di hadapannya itu.
"Terima kasih atas undangan Bapak. Juga gaun yang indah ini." Anan menunjuk gaun yang ia pakai ke Arya dengan tersenyum seolah tidak terjadi apa-apa.
Deg!
Sekali lagi, Arya merasakan hatinya tergelitik. Sesuatu yang aneh telah merasukinya menatap wajah polos gadis yang telah ia permalukan dengan sengaja ini. Sungguh ia ingin memeluk dan berkata 'maafkan aku', agar gadis yang dikatainya kampung itu lega.
Namun Arya tetaplah Arya. Dendam dan kebencian telah mendarah daging di hatinya. Walaupun ia merasakan sesuatu yang lain di hatinya, tapi amarah pula yang berkuasa.
Sebagian di antara yang hadir merasa iba terhadap Anan. Tak terkecuali Septy dan Dimas.
__ADS_1
Tbc...