Benar Kata Mamah

Benar Kata Mamah
Bab 101


__ADS_3

"Aku minta maaf, Kak."


"Hm?!" Zidan mengangkat kedua alisnya mendengar penuturan Rasmi yang tiba-tiba meminta maaf.


"Kenapa minta maaf? Kalaupun mamah Yati punya beban pikiran atau keluhan sakit, itu bukan salah kamu."


"Bukan itu maksud aku."


"Lalu?"


Rasmi menatap Zidan sembari berpikir. "Sudah, ah! Pokoknya aku minta maaf." Rasmi tidak enak hati mengutarakan penyebab ia meminta maaf. Belum lagi rasa malu yang melekat, jika Zidan tahu bahwa dirinya cemburu dengan kedekatan Zidan dan Anan sebelumnya. Sedang realita telah menegaskan bahwa Anan dan Zidan adalah saudara kandung.


Zidan hanya mengerutkan keningnya menyaksikan Rasmi kembali sibuk dengan adonannya.


"Kamu sudah lama, nak Zidan?" tanya mamah Yati begitu maniknya menangkap sosok Zidan duduk di dekat Rasmi.


"Belum lama juga, Mah. Tapi tidak sebentar juga." Zidan berceletuk menanggapi pertanyaan mamah Yati sambil berjalan menghampiri. Lalu merangkul wanita paruh baya yang berjilbab itu.


"Gimana kabar Mamah, baik-baik saja, kan?" Zidan telah melonggarkan pelukannya; menatap lekat pada sosok ibu yang dipanggilnya mamah itu.


Rupanya, mamah Yati pun menatap Zidan. "Kamu ini, kayak baru ketemu saja nanya-nanya kabar. Sudah! Mamah sibuk." Mamah Yati melepaskan dekapan tangan Zidan.


"Kamu kalau belum makan siang, makan sana!" titah mamah Yati, berjalan menuju tempat Atika melahap makanannya.


"Ajak Rasmi sekalian, dia pasti belum makan," lanjutnya sebelum duduk.


"Mamah, ih! Ditanya kabar malah nyuruh makan." Zidan kembali mengikis jarak. "Ya sudah, Zidan makan tapi disuap Mamah," seloroh Zidan tersenyum sambil menaik turunkan kedua alisnya.


"Dasar bayi besar!" Bersamaan dengan sendok yang ditimpukkan di kepala Zidan.


"Aww! Sakit, Mah," desis Zidan, mengusap cepat kepalanya.


Rasmi dan Atika hanya tertawa melihat kelakuan Zidan.


🍒🍒🍒


Sore harinya, Zidan sengaja menunggu jam pulang mamah Yati. Hal itu ia lakukan agar bisa lebih leluasa berbicara dengan wanita yang dipanggilnya mamah itu. Tentunya Zidan berharap mamah Yati mau lebih terbuka padanya.


"Mau langsung pulang saja, Mah?" tanyanya, setelah dirinya duduk di belakang kemudi.


"Iya, Mamah capek, mau istirahat."


Selang beberapa detik, mamah Yati menoleh Zidan.


"Kenapa belum jalan?" tanyanya.


"Eh, iya, Mah. Ini juga mau jalan," jawab Zidan sambil menyalakan mesin mobilnya.


Kini mobil Zidan melaju tenang di atas aspal yang pekat. Berbanding terbalik dengan dirinya yang saat ini tengah dilanda kebingungan. Bahkan terselip rasa takut di hatinya, kalau saja ia salah bicara. Sesekali ia bersenandung demi menghilangkan rasa itu.


Berada di samping Zidan, mamah Yati mampu mengungkap gelagat Zidan yang menurutnya tidak biasanya itu.

__ADS_1


"Kamu kenapa, Nak? Mamah merasa kamu bertingkah aneh hari ini."


Sekilas, Zidan melirik mamah Yati.


"Ah, masa sih, Mah. Zidan biasa saja," jawabnya sambil terkekeh.


"Justru yang tidak biasa itu, Mamah. Sejak di toko, aku perhatikan Mamah lebih banyak diam. Mamah baik-baik saja, kan? Kalau ada apa-apa, bicara sama Zidan. Bukankah Zidan juga anak Mamah? Zidan juga mau dengan keluh kesahnya Mamah."


Mamah Yati tidak langsung menanggapi ucapan Zidan. Ia hanya menatap lurus jalan raya. Tak lama, ia menghela nafas panjang.


"Kamu tidak usah khawatir, Nak. Mamah cuma capek, itu saja." Mamah Yati tersenyum seraya mengusap lengan kokoh Zidan.


Zidan tetaplah Zidan. Ia tidak mudah percaya begitu saja dengan apa yang dikatakan mamah Yati. Sebab itu sangat berbanding terbalik dengan apa yang dilihatnya. Malah, saat ini dirinya semakin curiga.


"Mamah pasti menyembunyikan sesuatu," ucapnya, namun hanya dalam hati.


"Aku harus mencari tahu. Aku tidak mungkin diam saja membiarkan sesuatu yang buruk akan terjadi," lanjutnya, membatin.


Sesampainya di rumah, mamah Yati langsung menuju kamar untuk beristirahat. Ia benar-benar capek. Bukan hanya capek fisik, tetapi juga capek berpikir.


"Zidan!" panggil tante Yani yang melihat Zidan berdiri di ruang tamu sambil menatap khawatir mamah Yati sampai menghilang di balik pintu.


Zidan menoleh, " Iya, Tante," sahutnya.


Segera tante Yani menghampiri lalu menarik lembut lengah Zidan menuju teras belakang.


"Tante mau bertanya. Apa kamu tidak melihat mamah Yati bertingkah aneh hari ini?" tanya tante Yani setelah mereka duduk.


Ada nada khawatir yang tersirat dari pertanyaan tante Yani. Zidan pun sadar akan hal itu.


Bukannya menjawab, Zidan malah balik bertanya. Membuat tante Yani mengerutkan keningnya.


"Baiklah, Tante juga tidak mungkin menutupi hal ini dari kamu," sahut tante Yani. Kemudian menjelaskan serinci-rincinya apa yang terjadi tadi pagi.


"Pantas saja mamah terlihat seperti ada beban pikiran yang berat begitu. Bisa jadi apa yang Tante cemaskan sudah terjadi."


Tante Yani khawatir kalau sampai mamah Yati berpikir bahwa ginjal yang berada di tubuhnya saat ini adalah pemberian dari Anan.


"Taruhlah seperti itu, Tante, lalu apa yang harus kita lakukan? Mungkin kita tidak harus menyembunyikan ini selamanya. Mamah Yati juga berhak tahu, meskipun berat. Mungkin itu cuma diawal, tapi Zidan yakin mamah pasti mengerti dan mau menerima."


"Kamu benar, Nak. Tante juga tidak yakin kita bisa menutup ini rapat-rapat selamanya."


"Iya, Tante. Akan lebih baik mamah mengetahuinya dari kita, dari pada mamah mencari tahunya sendiri. Zidan tidak bisa terima kalau sampai mamah sakit lagi karena masalah ini."


"Iya, Nak. Tante juga tidak mau hal itu terjadi."


Hening beberapa saat.


"Oh iya, kamu harus menyampaikan hal ini ke mamah Sandra, agar mamah Sandra ada persiapan kalau seumpamanya besok atau lusa mamah Yati bertanya padanya."


"Iya, Tante. Lalu bagaimana dengan Anan? Apa kita harus meminta persetujuan darinya sebelum kita membahas ini ke mamah Yati?" tanya Zidan yang sebenarnya kurang yakin Anan akan setuju. Mengingat, Anan lah orang pertama yang tidak mengizinkan siapapun memberitahukan tentang ginjalnya yang didonorkan ke mamah Yati.

__ADS_1


Sejenak tante Yani pun mulai memikirkannya. Tampak jelas dari ekspresi wajahnya yang sesekali menautkan kedua alisnya bahwa ia sedang menimbang-nimbang sesuatu.


"Bagaimana, Tante?" Pertanyaan Zidan membuat segala yang terpikirkan oleh tante Yani saat ini menguap entah kemana.


Zidan menatap lekat, menanti jawaban dari tante Yani.


"Setelah Tante pikir-pikir, Anan harus setuju," jawan tante Yani, tegas.


"Tidak, Tante. Anan tidak mau setuju."


Tiba-tiba saja Anan berujar menyela perkataan adik dari ibunya itu.


Ia yang hendak ke dapur, tanpa sengaja mendengar percakapan tante Yani bersama dengan Zidan. Perlahan ia mendekat sampai akhirnya ia tahu topik yang tengah mereka bahas.


"Anan... ," lirih tante Yani.


"Sampai kapanpun mamah tidak boleh tahu, Tante." Setelahnya, Anan berusaha meraih tangan Zidan. "Aku mohon, Zidan. Mamah tidak boleh tahu. Lagi pula, mamah juga tidak perlu tahu tentang donor itu, kan? Jadi aku mohon, biarkan begini saja."


"Tapi, Nan. Mau sampai kapan kita menyembunyikan ini dari mamah. Kamu tidak mau kan terjadi sesuatu pada mamah. Apalagi menurut tante Yani, mamah sudah mulai curiga. Akan lebih baik jika kita memberitahu mamah secepatnya." Dengan lembut Zidan menyakinkan kakak yang sangat disayanginya itu.


"Lalu, bagaimana jika mamah tidak mau menerima kenyataan? Aku khawatir mamah kenapa-kenapa!" Raut wajah Anan begitu tampak cemas dan maniknya mulai berembun.


"Kamu jangan cemas. Mungkin diawal mamah menentang, tapi lambat laun mamah pasti bersedia menerima dengan ikhlas. Percayalah."


Zidan merangkul Anan agar bisa lebih tenang dan tidak berpikir yang macam-macam.


"Baiklah, Anan setuju," ucap Anan setelah rangkulan Zidan terlepas dari tubuhnya.


🍒🍒🍒


Malam hari pun tiba. Entah mengapa, Anan merasa begitu merindukan mamahnya. Ia pun berjalan menyusuri ruang demi ruang yang ia lewati. Sampai pada akhirnya ia berhenti tepat di depan sebuah pintu.


Anan hendak mengetuk pintu tersebut, namun ia urungkan. Ia tidak mau mengganggu mamahnya yang terlelap di dalam sana.


Perlahan ia menekan gagang pintu itu dan membukanya dengan pelan. Setelah pintu itu terbuka separuh, dapat ia ketahui jika mamahnya saat ini sedang melaksanakan ibadah shalat sunnah. Hal itu terbukti dengan bacaan surah Al-Fatihah yang dibaca lirih oleh mamah Yati.


Anan berjalan menuju tempat tidur setelah ia menutup pintu. Ia pun duduk di tepinya sambil menunggu mamah Yati selesai shalat malam. Walaupun sebenarnya ia khawatir jika saja kedatangannya mengganggu kekhusukan ibadah mamahnya.


Agak lama Anan menunggu mamahnya. Namun ia tetap sabar dan berusaha menahan rasa kantuk yang mulai menyerang.


"Seumur hidupku, baru kali ini aku mendapati mamah shalatnya lama," batinnya.


Empat puluh menit sudah Anan duduk tanpa melakukan apa-apa. Ia hanya duduk dan tentu saja mendengarkan dengan khidmat setiap lantunan ayat suci Al-Qur'an yang dibaca pelan oleh mamah Yati disetiap rakaat shalatnya.


Jarum jam menunjukkan pukul 03.10 dini hari. Anan masih apik di tempatnya. Sampai akhirnya mamah Yati usai memanjatkan doa dan harapannya kepada sang Khalid.


"Kamu kok di sini, Nak? Kenapa belum tidur?" tanya mamah Yati begitu mengetahui keberadaan Anan di dalam kamarnya. Ia pun sempat kaget melihat Anan duduk di tepi tempat tidurnya.


"Anan kangen sama Mamah. Anan ingin tidur bersama Mamah. Boleh, ya?"


Mamah Yati bangkit dari duduknya, lalu melepaskan mukenahnya. Setelah menyimpannya pada tempatnya, ia segera menghampiri Anan dan duduk di sebelahnya.

__ADS_1


🍒🍒🍒🍒🍒


Walau agak terlambat, author ingin mengucapkan, "Selamat Hari Raya Idul Fitri 1443 H, taqabbalallahu minna wa minkum maaf lahir batin."🙏


__ADS_2