Benar Kata Mamah

Benar Kata Mamah
Bab 54


__ADS_3

[ Vote, Vote, Vote ]


"Kamu kenapa, Sayang? Kamu kedengaran aneh. Kamu baik-baik saja 'kan? Di mana Anan? " Lagi-lagi dokter Sandra mencecar Zidan.


Lama Zidan berpikir. Sampai akhirnya...


"Mah... Anan kecelakaan." Zidan mengucapkannya bersamaan dengan air matanya yang menetes.


Tak ada jawaban ataupun sanggahan dari dokter Sandra. Membuat Zidan semakin panik.


"Mah! Mamah! Mamah bisa dengar Zidan 'kan?"


Terdengar suara isakan melalui ponsel Zidan.


"Mamah... ," lirih Zidan.


"Segeralah tiba ke rumah sakit. Mamah sekarang menuju ke sana."


Dokter Sandra berusaha kuat mendengar kabar kecelakaan gadis yang sudah dianggap putri kandungnya sendiri itu.


Ia meminta sopir untuk mengantarnya ke rumah sakit. Di sepanjang jalan, tak henti air matanya mengalir bak aliran air sungai meski tak bersuara. Wajah ceria dan menggemaskan Anan senantiasa menemani setiap isakan tangisnya dalam ingatannya.


Setibanya di rumah sakit, dokter Sandra meminta beberapa dokter spesialis menunggu kedatangan Anan. Mereka tidak lagi heran, sebab mereka yang bertugas di rumah sakit Sandra Hospital telah mengetahui kedekatan antara dokter Sandra dengan Anan beserta keluarganya.


Atika yang baru saja dari kantin tak sengaja melihat dokter Sandra berdiri bersama dengan beberapa dokter lainnya. Ia pun melangkah tuk menghampiri.


"Maaf, Tante. Ini ada acara penyambutan tamu penting ya? Kok semua berkumpul di sini?" tanya Atika seraya melirik dokter dan perawat yang ada di sekitarnya.


Dokter Sandra menghela nafas. Ia memegang kedua pundak Atika dan mencoba untuk tidak meneteskan air mata di hadapan gadis yang sudah dikenalnya sejak beberapa bulan lalu itu.


"Ada apa, Tante? Kenapa wajah Tante sembab? Apa terjadi sesuatu dengan kak Zidan?"


Atika yang bingung mengira terjadi sesuatu dengan Zidan.


"Tika, kamu yang sabar ya. Sebenarnya kak An... ."


Kalimat dokter Sandra terhenti oleh kedatangan mobil Zidan.


Dokter Sandra langsung menghambur ke mobil Zidan dan membuka pintu. Zidan menggendong tubuh lemah Anan keluar dari mobil. Seketika tangis dokter Sandra pecah. Tak kuasa melihat keadaan Anan yang bersimbah darah dan sulit dikenali akibat benturan yang menyebabkan lebam pada wajah dan sebagian tubuhnya.


"Apa itu kak Anan?" tanya Atika begitu Zidan meletakkan Anan di atas brankar. Dan beberapa perawat dan dokter segera mendorongnya menuju IGD.


Atika pun berteriak histeris. Ini kali pertamanya melihat korban kecelakaan. Tubuhnya bergetar hebat. Makanan yang dibelinya dari kantin rumah sakit terlepas begitu saja dari genggamannya.


"Tenanglah, Tika." Zidan mencoba menenangkan Atika.


"Kita semua bersedih atas apa yang menimpa Anan. Kamu yang tenang ya. Kita berdoa semoga Anan bisa melewati masa kritisnya," ucap Zidan lembut.


Dokter Sandra mendekati Zidan dan Atika.

__ADS_1


"Zidan benar. Kita harus sabar. Serahkan semuanya pada Allah," tuturnya seraya membelai rambut Atika.


"Lalu, bagaimana dengan tante Yati? Apa yang harus kita katakan padanya? Apa ini tidak akan berpengaruh pada kesehatannya?"


Pertanyaan Atika membuat Zidan dan dokter Sandra terdiam.


Tak lama kemudian, dokter Sandra bersuara.


"Biar Tante yang memberitahukan tante Yati. Tante minta kamu tenang ya. Bisa 'kan?" Atika mengangguki permintaan dokter Sandra.


Sesaat kemudian, dokter Sandra menoleh ke Zidan.


"Mandilah dan ganti pakaianmu di ruang istirahat Mamah!"


Dokter Sandra pun menyusul dokter yang menangani Anan di ruang IGD.


"Ini salahku. Harusnya aku bisa menghentikan Anan agar tidak datang ke acara itu."


Zidan yang hendak mengambil pakaian ganti di mobilnya, mendadak menghentikan langkah kakinya tatkala mendengar ucapan lirih Septy.


"Apa maksud dari perkataanmu?" tanya Zidan, berjalan mendekati Septy.


"Eh?" Septy yang menunduk seketika mendongak, mendengar pertanyaan Zidan.


"Jelaskan apa maksud dari perkataanmu tadi!" desak Zidan.


"Oh... aku tau. Ini pasti bagian dari rencana licik kamu 'kan? Kamu pasti masih dendam 'kan sama Anan?" cecar Zidan, emosi.


Septy yang dicecar Zidan hanya menggeleng dengan air mata yang membanjiri wajah cantiknya. Ingin menyanggah tuduhan Zidan, namun lidahnya terasa keluh untuk berucap.


"Hentikan, Dan! Hentikan!" pekik Abhizar berusaha memisahkan Zidan dari Septy.


Namun Zidan tak memperdulikan teriakan Abhizar.


"Kali ini dengan siapa lagi kamu bersekongkol, huh? Ayo jawab!" Lagi-lagi Septy hanya menggeleng, tak kuasa berkata sepatah kata pun.


Dan tak disangka, Zidan mendorong tubuh Septy hingga terjerembab ke lantai.


"Kalau sampai kamu terlibat, kamu tau sendiri akibatnya!"


Zidan melangkah meninggalkan Septy yang terisak di lantai.


Atika yang sejak tadi menyaksikan kemarahan Zidan terhadap Septy hanya mampu menangis tersedu. Ia sendiri bingung harus kemana.


Jika ia kembali ke kamar rawat Rasmi, Rasmi tentu mempertanyakan sebab ia menangis. Dan hal serupa pun akan terjadi jika ia ke kamar rawat mamah Yati. Ia sungguh tak mau ambil resiko atas apa yang akan terjadi pada mamah Yati.


Untuk itu ia masih di sini, menunggu dokter Sandra.


Setelah kepergian Zidan, Atika menghampiri dan meraih tangan Septy untuk berdiri dibantu Abhizar.

__ADS_1


"Kak Septy tidak apa-apa?" tanya Atika dan dijawab gelengan kepala oleh Septy.


"Ayo! Kita menunggu di depan IGD saja," ajak Abhizar seraya memapah Septy bersama Atika.


Zidan telah membersihkan tubuhnya. Setelan tuxedo yang ia kenakan tadi telah ia masukkan ke dalam kantong plastik lalu membuangnya ke tong sampah.


Ia duduk di sofa sambil mencari nomor kontak pada ponselnya. Begitu ia menemukannya, ia pun segera menghubunginya.


"Halo," ucap Adji setelah mengangkat telponnya.


"Adji, kamu di mana?" tanya Zidan.


"Aku di rumah. Ada apa?" tanya Adji, balik.


Zidan menghela nafas berat.


"Adji... Anan kecelakaan."


"Apa!!! Bagaimana bisa? Di mana tempat kejadiannya?"


"Ceritanya panjang. Nanti kita ketemu, aku ceritakan kronologi kejadiannya. Dan untuk tempat kejadiannya, nanti aku kirim lewat chat. Kamu sampaikan ke yang lainnya. Dan tolong, kamu urus ke pihak yang berwajib."


"Kamu ngomong apa, Dan. Anan sahabatku. Sudah seperti saudara bagiku. Tidak minta tolong pun aku pasti akan melakukan yang terbaik untuknya."


"Baiklah. Kalo semua sudah selesai. Aku menunggumu di rumah sakit."


Panggilan pun terputus.


Seperti yang dikatakan Zidan, Adji mulai menghubungi satu per satu sahabatnya. Tak lupa ia pun mengabarkannya ke Idham, kakaknya.


"Aku temani kamu ke kantor polisi," tawar Idham.


Ketika Adji dan Idham hendak melewati ruang tamu kediaman mereka, mereka berpapasan dengan papah mereka.


"Kalian berdua mau kemana buru-buru gitu?" tanya papah Adji dan Idham.


"Kami mau ke kantor polisi, Pah." Jawaban Adji membuat papahnya mengernyit.


"Anan kecelakaan, Pah. Dan aku akan melaporkan kejadian ini pada pihak yang berwajib." Penjelasan Adji membuat papahnya terkejut.


Kedua orangtua Adji mengenal baik sosok Anan yang baik, ramah, dan sopan terhadap yang lebih tua. Selain itu, Anan yang cantik, pintar, dan menggemaskan itu, membuat mamah Adji ingin sekali punya anak perempuan. Sehingga kedua orangtua Adji pun sangat sayang kepada Anan.


"Cepatlah berangkat! Dan jangan lupa kabari Papah keadaan Anan."


"Baik, Pah," sahut Adji.


Mereka pun menuju kantor polisi.


Tbc...

__ADS_1


__ADS_2